My Poor Wife

My Poor Wife
Kedatangan Tasya


__ADS_3

Pagi hari yang begitu cerah, matahari yang sudah sedari tadi menampakkan diri, membangunkan Sabilla dari tidur nyenyaknya karena silau yang berhasil menembus celah-celah fentilasi kamar Farrel di kediaman Yasmin. Saat membuka mata, pandangan pertama yang Sabilla lihat adalah wajah Farrel, pria yang sudah hampir satu tahun menjadi suaminya.


Saat ini Farrel masih terlelap dengan posisi menghadap pada Sabilla. Sabilla sejenak menatap lekat wajah Farrel yang kala itu masih tertidur pulas, gadis itu terdiam seoalah memikirkan sesuatu.


"Bunda, apa Bunda bisa lihat Sabil dari atas sana? Sekarang Sabil udah nggak sendiri lagi Bunda. Sabil udah memiliki suami dalam usia sekarang ini. Saat Sabil membuka mata, pemandangan yang selalu Sabil lihat adalah wajah pria ini."


"Bunda, apa Sabil boleh merasakan kebahagiaan ini? apa Gilang nggak akan marah sama Sabil? Jika boleh berkata jujur, saat ini Sabil sudah lebih merasa bahagia Bunda, karena saat ini Sabil memiliki orang-orang yang sayang sama Sabil. Sabil punya mertua dan kakak ipar yang baik, punya sahabat, hal yang sebelumnya nggak pernah Sabil miliki. Harusnya Sabil berterimakasih pada Ayah, tapi dulu Sabil justru membenci Ayah Bunda."


"Bunda, apa disana Bunda udah ketemu sama Ayah? apa Ayah marah sama Sabil? Maafin Sabil Bunda. Sekarang Sabil akan hidup lebih baik, semoga kelak kita disatukan kembali di surga sana. Bunda tunggu Sabil ya"


Mata Sabilla terlihat berkaca-kaca membayangkan orang-orang tersayang yang sudah pergi untuk selama-lamanya dari hidupnya. Orang-orang yang tidak akan mungkin kembali dan tidak akan mungkin Sabilla temui lagi.


Meskipun Sabilla memang sudah bisa merelakan kepergian mereka, namun sebuah hal manusiawi jika ia masih merasakan kerinduan pada Bunda, Ayah, Kakak, dan mantan kekasihnya Gilang. Namun Sabilla tetap akan lebih bersyukur dengan apa yang ia punya saat ini seperti apa yang sudah pernah dikatakan Aura pada dirinya.


"Selamat pagi kak Farrel" Sabilla tersenyum saat melihat Farrel yang baru saja terbangun dari tidurnya. Pria itu mengerjap beberapa kali sebelum membuka mata dengan sempurna dan menatap Sabilla.


"Selamat pagi" Ucapnya tersenyum bahagia saat melihat wajah cantik istinya dipagi hari.


Seperti permintaan Yasmin dua hari yang lalu, Saat ini Sabilla dan Farrel sudah pindah untuk sementara waktu ke kediaman Yasmin. Mereka hari ini akan menunggu kedatangan Nesya dan Dandi papanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Farrel saat menyadari ada yang berbeda dari Sabilla.


"Kenapa apanya?" tanya Sabilla pura-pura tidak tahu.


"Nggak usah boong, ada apa? Kamu udah janji lo nggak akan memendam apapun sendiri lagi"


"Ya nggak ada apa-apa kak Farrellll"


"Hmmm cuma kak Farrel aja?"


"Lah terus?" tanya Sabilla dengan polosnya, tidak peka dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


"Ck! Pura-pura nggak tau lagi!" Gerutu Farrel merubah posisi tubuhnya menjadi membelakangi Sabilla.


"Kak Farrel kenapa sih? Aku nggak ngerti lo kak" Rengek Sabilla dengan manja.

__ADS_1


Farrel tersenyum, ia kembali memutar tubuhnya menghadap pada Sabilla.


"Panggil aku sayang!"


"Hah?"


"Iya, panggil aku sayang!"


"Mesti kali ya?" Jawab Sabilla dengan sedikit gugup.


"Milih panggil sayang apa cium aku?"


"Ihh apaan sih" Celetuk Sabilla dan hendak bangkit dari tidurnya, namun Farrel justru menarik tangannya dan memeluk gadis cantik itu dengan sangat erat.


"Aduh kak Farrel lepasin, nafas aku sesak" Teriak Sabilla meronta-ronta mencoba melepaskan pelukan Farrel. Namun, tetap saja tenaga dirinya tidak sebanding dengan suaminya itu.


"Yaudah cepat panggil aku sayang dulu" Paksa Farrel tersenyum melihat wajah Sabilla yang sudah kesal.


"Iya kak Farrel sayanggggggggg" Kata Sabilla dengan penuh keterpaksaan"


"Ihhh apaan sih, dikasih hati malah mintak jantung! Nggak mau!" Celetuk Sabilla masih berusaha melepaskan pelukan Farrel.


"Yaudah kalo kamu nggak mau biar aku aja"


Cup. Satu kecupan mendarat di kening Sabilla.


"Udah kan, lepasin ah kak Farrel, aku mau mandi"


"Mandi bareng aja gimana?" Tanya Farrel menggoda Sabilla.


"Ih ogah!" Sabilla bangkit dari ranjang setelah dilepaskan oleh Farrel. Gadis itu bergegas ke kamar mandi sementara Farrel tersenyum penuh kemenangan dari atas tempat tidur karena merasa puas menjahili Sabilla.


***


"Selamat pagi Ma" Sapa Sabilla saat dirinya baru saja sampai di dapur. Disana, terlihat Yasmin tengah sibuk memasak sarapan untuk pagi ini.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang" Yasmin menoleh ke arah belakang, tersenyum senang dengan keberadaan Sabilla di sana. Bagaimana tidak, selama ini dirinya tidak pernah merasakan kehadiran sosok putri perempuan dalam hidupnya. Namun sekarang ia memiliki Sabilla yang sudah dirinya anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Kamu kenapa kesini? Kalian kan udah libur semester, harusnya di kamar aja, tenangin fikiran karena bebas dari tugas dan tugas. Nanti kalau sarapannya udah siap biar Mama yang panggil"


"Hmmm aku mau bantu Mama nyiapin sarapan. Hehehe" Sabilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mama bisa sendiri kok sayang" Tolak Yasmin masih sibuk dengan memanaskan ini dan itu.


"Hmm tapi tetap aja kan aku juga seorang istri Ma" Balas Sabilla sedikit malu. Yasmin tersenyum, mencuci tangannya dan mengusap kepala Sabilla dengan lembut setelah mengelap terlebih dahulu dengan tisyu.


"Yaudah deh"


"Selamat pagi sayang, selamat pagi Sabil" Sapa Asep yang baru saja datang dan segera duduk di meja makan yang tidak berada jauh dari sana.


"Selamat pagi Pa" Balas sabilla tersenyum dengan tangan masih sibuk mengiris daun bawang untuk membantu Yasmin.


***


Sabilla dan Farrel baru saja keluar dari kamar mereka. Setelah selesai sarapan pagi tadi, pasangan istri muda itu memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di sejenak di dalam kamar. Namun, saat waktu beranjak siang kebosanan justru melanda mereka dihari libur ini. Farrel dan Sabilla memilih untuk keluar dari kamar hendak menuju taman belakang rumahnya. Namun, tiba-tiba saja seseorang datang merengkuh memeluk Farrel dengan begitu semangat secara tiba-tiba saat dirinya baru saja keluar dari kamar.


"Kak Farrel" Sorak seorang gadis cantik dengan rambut terurai sebahu yang baru saja datang dari arah ruang tamu rumahnya. Ia juga tidak segan-segan memeluk Farrel di depan Sabilla hingga membuat Sabilla terpelongo kaget. Gadis itu hanya diam tanpa membuka suara dengan tatapan bingung pada Farrel dan gadis cantik yang tidak lain adalah Tasya.


"Kak Farrel kenapa makin ganteng aja sih" Tasya mencubit pipi Farrel dengan begitu gemas, sementara Farrel hanya diam tanpa menolak maupun merespon.


"Kamu juga makin cantik" Balas Farrel yang sontak membuat Sabilla kaget. Gadis itu menatap Farrel dengan tatapan penuh tanda tanya.


Tasya yang menyadari adanya Sabilla di belakang Farrel, melirik gadis cantik yang saat ini hanya menggunakan piyama tersebut dari atas sampai ke bawah.


"Itu siapa kak?" Tanya Tasnya dengan tatapan tertuju pada Sabilla. Sabilla hanya diam tanpa suara menundukkan pandangannya. Farrel memalingkan pandangannya ke arah belakang. Ia perlahan melangkahkan kaki mendekati Sabilla. Farrel merangkul pundak Sabilla, tersenyum sambil berkata "Dia istri aku"


"What? Istri? Kak Farrel udah menikah? Bukannya kak Farrel juga kuliah kata tante Yasmin? Kak Farrel nggak lagi becanda kan sama aku?"


Tasya melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Ia merasa kaget dan tidak percaya bahwa Farrel sudah menikah di usia yang masih semuda itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2