My Poor Wife

My Poor Wife
Farrel Penggoda


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Sabilla tengah duduk di tepi ranjang, melamun menatap sebuah foto yang ada di tangannya. Farrel yang baru saja pulang dari kampus, masuk ke dalam kamar. Ia memperhatikan Sabilla dari ambang pintu.


Setelah pulang dari KMB dua hari yang lalu, sikap Farrel sedikit demi sedikit sudah berubah. Ia sudah mulai bersikap baik pada Sabilla.


"Ngapain lo?"


"Astaga kak Farrel" seru Sabilla kaget dengan keberadaan Farrel yang tiba-tiba saja muncul di belakang dirinya. Sabilla dengan segera menyembunyikan sebuah foto yang ada di tangannya.


"Kenapa lo jadi tegang gitu?"


"Nggak nggak kok, nggak tegang" Sabilla bangkit dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Sedangkan Farrel, menatap punggung Sabilla yang tengah berjalan dengan cepat menuju wc itu dengan tatapan bingung.


Di kamar mandi, Sabilla berdiri di depan wastafel, menatap pantulan wajahnya dari kaca. Menghela nafas, Sabilla menatap wajahnya sendiri sejenak, sebelum dirinya membasuh muka.


Setelah selesai, Sabilla segera keluar dari kamar mandi. Namun, matanya melotot sempurna dan kaget saat dirinya melihat Farrel tengah berbaring di atas ranjang dengan santai seraya memainkan ponsel di tangannya.


Hal itu tentu saja membuat Sabilla bingung, heran dan sebagainya. Karena ia benar-benar merasa sikap Farrel berubah drastis saat setelah acara KMB. Dan meskipun memang beberapa hari ini Farrel tidak kasar seperti biasanya, namun tetap saja Farrel memilih tidur di atas sofa yang seharusnya untuk duduk bersantai malah jadi pengganti ranjang Farrel.


Sabilla melangkah perlahan, mengerutkan keningnya bingung dengan Farrel yang masih saja tak bergeming dan duduk santai di sana.


"K-kkak Farrel ngapain disini?" Tanya Sabilla gugup. Saat ini ia telah berdiri di tepi ranjang.


"Ya mau istirahat lah" Jawab Farrel dengan santainya tanpa memalingkan wajahnya pada Sabilla. Pria itu masih saja sibuk dengan ponsel miliknya.


"Aishhhhhh kalah" Umpat Farrel dengan heboh karena kalah bermain game. Entah game apa yang ia mainkan, karena Sabilla memang tidak pernah ingin tahu dengan game.


Farrel, mendongakkan kepalanya menoleh pada Sabilla yang masih setia berdiri di tepi ranjang. "Kenapa lo?" tanya Farrel.


"Nggak kenapa kenapa kak"


"Terus ngapain lo masih berdiri disitu?"


"Hmm aku, anu hmm anu kak"


"Ana, anu, ana, anu. Mau ana kek, ani kek, ano kek. Mau ngapain lo sama mereka?"


"Hmmm" Sabilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dengan cepat, Farrel menarik tangannya hingga gadis itu terjatuh ke atas kasur. Sabilla membulatkan matanya, ia benar-benar merasa kaget saat Farrel tiba-tiba saja menarik tangannya.


"Kenapa? lo takut gue tidur disini? Lo takut tidur sama gue?" Apa lo lupa kemaren pas acara KBM lo tidur sama siapa?" Farrel menatap lekat mata Sabilla. Ia tahu gadis tersebut saat ini benar-benar merasa gugup.

__ADS_1


"Nggak kok kak" Sabilla menepis tangan Farrel dan segera mendudukkan tubuhnya hingga membuat sebuah sudut bibir Farrel terangkat.


Sabilla masih diam mematung duduk di atas ranjang dengan Farrel yang berbaring kembali memainkan game di tangannya. Farrel sesekali melirik Sabilla, membuat bibir pria itu tak berhenti tertawa kecil.


***


Di sebuah mini market, Aura tengah berbelanja dengan Maminya. Gadis itu terlihat tengah memilik apa saja bahan makanan yang sekiranya ia butuhkan dan akan ia beli. Namun, saat hendak memilih satu ice cream, mata Aura membulat seketika, ia kaget saat melihat Kevin yang saat ini berada di sampingnya. Jantung Aura berdetak begitu kencang dan benar-benar tidak karuan. Saat ini mulutnya masih terbuka dengan sempurna membentuk huruf O.


"Astaga Kak Kevin, ini dunia yang memang sempit apa emang kita yang berjodoh sih?" Aura tersenyum centil menatap Kevin. Sedangkan Kevin, berdecak kesal dan mengumpat sendiri di dalam hati. Kenapa ia harus bertemu dengan wanita gila itu di kampus, di perkemahan, di kantin, dan dimana mana.


Tak ingin berurusan dengan Aura, Kevin segera pergi dari sana tanpa membalas satu kata pun ucapan Aura.


"Kak Kevin, mau kemana? tunggu ih" Aura mengejar Kevin dan menghentikan langkah pria pujaan hatinya itu.


"Lo bisa nggak sih, berhenti ganggu gue?" Gertak Kevin sontak membuat Aura kaget. Karena sebelumnya ia tidak pernah melihat Kevin se kasar itu.


"Kak kevin" Suara Aura terdengar berat. Ia perlahan mundur ke belakang hingga brukk, Aura menyenggol maminya.


"Eh anak nakal. Dari tadi dicariin rupanya disini?" Anita, yang tidak lain adalah Mami Aura menjitak kepala anak gadisnya itu.


Aura berdengus, memegang kepala yang baru saja di jitak oleh Anita. "Aduhh Mami apaan sih, sakit tau!" celetuk Aura cemberut dengan manja.


"Iya lo Mi, sabar kenapa sih?" gerutu Aura memanyun-manyunkan bibirnya.


Anita menarik tangan Aura. Namun, gadis itu masih saja seolah enggan untuk berjalan, ia tak henti menatap Kevin yang sedari tadi masih berada di sana menyaksikan perdebatan ibu dan anak tersebut. Anita menoleh ke arah belakang, melirik seorang pria yang sepertinya sedari tadi diperhatikan oleh putrinya.


Anita menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah Kevin yang masih setia berdiri tidak jauh dari sana. "Kamu kenal dia?" tanya Anita pada Aura seraya melirik ke arah Kevin.


Aura mengngguk tak bersemangat. Sedangkan Kevin, tersenyum pada Anita. "Pacar kamu?" tanya Anita lagi. Dan hal itu sukses membuat Aura mendongakkan kepalanya. Ia menatap Anita dan Kevin secara bergantian, kemudian menggeleng.


Anita menarik tangan Aura berjalan melangkahkan kaki kearah Kevin. " Kamu pacar Aura?" tanya Anita tanpa basa basi sedikitpun.


"Ck! kambuh deh jiwa bar-bar emak gue" gumam Aura dalam hati. Kevin menatap Aura bingung. "Hmmm hmmm"


"Ha hm ha hm. Iya atau enggak?" tanya Anita lagi.


Kevin mengulurkan tangannya. "Saya Kevin tante, senior Aura di kampus"


"Kamu suka sama anak saya?" tanya Anita yang benar-benar membuat Aura merasa malu. Sedangkan Kevin justru terpelongo kebingungan.


"Ih Mami apa apaan sih! Aura menarik tangan Maminya agar menjauh dari sana. Rasanya ia benar-benar merasa malu pada Kevin. Karena sebenarnya dirinya lah yang menyukai Kevin.

__ADS_1


***


"Sabil, besok kita pindah rumah"


Mendengar ucapan Farrel, Sabilla menoleh ke arah belakang. "Kata siapa kak?" Sabilla mengerutkan keningnya bingung


"Yang ngomong barusan siapa" Farrel bertanya balik.


"Kak Farrel."


"Berarti kata siapa?"


"Hmm kak Farrel" Jawab Sabilla.


"Itu lo tau, kenapa masih nanya?"


"Ck!" Celetuk Sabilla kembali memalingkan wajahnya ke depan.


"Kenapa kita nggak tinggal disini aja sih kak?" Sabilla bertanya tanpa memalingkan wajahnya pada Farrel.


"Tinggal disini lo mah enak tidurnya di ranjang. Lah, gue di sofa mulu" gerutu Farrel memperhatikan Sabilla yang saat ini duduk didepannya dengan ponsel yang masih di tangannya.


"Yaudah kalo gitu biar aku aja yang tidur di sofa" Tawar Sabilla dengan penuh semangat.


"Daripada itu, mending kita tidur disini aja berdua" Goda Farrel yang sukses membuat pipi Sabilla merah merona seketika menahan malunya.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like ya. Terimakasih :)

__ADS_1


__ADS_2