
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Dua hari berlalu, hari ini, adalah hari dimana pernikahan Sabilla dan Farrel di laksanakan.
Semua dekorasi gedung dan juga catering sudah dipersiapkan dengan matang oleh Yasmin. Apalagi tamu undangan, Farrel dan Sabilla yang awalnya tidak ingin mengundang teman-teman di kampus mereka? tidak bisa berbuat apa-apa setelah Yasmin dan Faris lebih dulu telah mengantar undangan ke sana dengan begitu bahagianya.
Saat ini Sabilla baru saja selesai di di rias, ia tengah duduk di sebuah kursi menatap dirinya di balik pantulan kaca besar yang ada di salah satu kamar Hotel tempat dirinya akan melangsungkan pernikahan. Karena semalam, berhubung acara dilaksanakan di sebuah Hotel milik teman Yasmin. Jadi mereka semua memutuskan untuk menginap di hotel tersebut dari semalam karena tidak ingin repot-repot pagi-pagi berangkat menuju hotel.
Tak lama kemudian, Yasmin yang baru saja datang, berdiri di ambang pintu kamar Hotel, menatap Sabilla dari kejauhan sambil tersenyum kecil. Perlahan, Yasmin mulai melangkahkan kakinya ke arah Sabilla. Ia memegang pundak gadis yang saat ini sudah terlihat sangat cantik dengan kebaya pernikahan berwarna putih yang begitu anggun dan indah tersebut dari belakang, hingga kini Sabilla telah melirik Yasmin dari pantulan kaca yang ada di depannya.
"Kamu udah siap sayang?" tanya Yasmin tersenyum pada pantulan kaca yang ada di depan mereka. Sabilla mengangguk, kemudian berdiri yang dibantu oleh Yasmin menuju keluar kamar hotel.
***
Dua jam yang lalu, ijab qobul telah selesai di laksanakan. Saat ini, Farrel dan Sabilla tengah berdiri di atas pelaminan menyambut tamu-tamu yang datang memberi selamat kepada mereka. Tidak ada raut wajah bahagia sedikitpun yang terpancar dari wajah Sabilla maupun Farrel.
Jika biasanya pasangan pengantin bergandengan mesra di atas pelaminan, namun tidak dengan Sabilla dan Farrel, mereka sangat acuh satu sama lain. Bahkan untuk saling menoleh pun mereka enggan, terutama Farrel.
Kekecewaan jelas Sabilla rasakan, setelah dirinya terpaksa menerima perjodohan ini, namun laki-laki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu juga sempat salah saat mengucapkan ijab qobul hingga berulang sampai dua kali. Segitu tidak menginginkannya Farrel dengan pernikahan ini, itulah yang ada di benak Sabilla.
Namun, suasana sedikit berubah saat Aura yang sedari tadi ditunggu Sabilla, datang berteriak dengan suara cemprengnya tanpa memperdulikan tamu-tamu lain yang ada di sana.
"Sabilllll Sabillll" Sorak Aura dari kejauhan, melambaikan tangannya ke arah Sabilla yang sedang bersanding di pelaminan. Kemudian, ia ikut mengantri untuk memberikan selamat pada sahabatnya tersebut. Gadis yang saat ini terlihat begitu cantik dengan dress se lutut yang berwarna peach serta pita kecil di kepala yang menambah kecantikan dirinya, dengan sabar mengantri untuk sekedar hanya memberikan ucapan selamat pada sahabatnya.
__ADS_1
Sebenarnya, Aura ingin datang lebih awal, ia ingin menyaksikan bagaimana Farrel mengucapkan ijab qabul dengan lantang dan tegas di hadapan semua orang. Namun, karena adanya sedikit drama keluarga, membuat Aura datang agak terlambat.
Setelah sedikit lama mengantri, akhirnya Aura berada tepat di depan Sabilla. Ia segera memeluk Sabilla dengan begitu girang, bersorak histeris hingga tamu yang ada di sana tak berhenti menoleh ke arahnya. Namun, seorang Aura mana pernah peduli dengan hal seperti itu. Bodoamat apapun penilaian orang tentang dirinya.
"Selamat pengantin baru, do'ain gue cepat nyusul" bisik Aura di telinga Sabilla di sela pelukannya. Namun, tidak mendapatkan respon apapun dari sahabatnya itu.
Aura hendak melepaskan pelukannya dari Sabilla, namun Sabilla malah semakin mengeratkan pelukan itu, membuat Aura merasa sedikit bingung.
"Bil, lo kenapa sih? masih banyak yang ngantri tuh lepasin gue. Nanti aja sama kak Farrel peluk-peluknya." Goda Aura berbisik di telinga Sabilla. Namun, tak membuat gadis tersebut melepaskan pelukannya.
"Eh, lo ngapain sih? tamu masih banyak yang ngantri, lo pikir ini acara reunian yang bisa seenaknya?" Farrel berucap seraya menatap Sabilla dengan tatapan yang begitu kesal, membuat Sabilla segera melepaskan pelukannya dari Aura.
"Sekali lagi selamat ya Bil, semoga nular sama gue pernikahannya. Gue ke bawah dulu ya. Laki lo galak soalnya" Aura melirik sinis ke arah Farrel. Padahal pria itu telah menolong dirinya tiga hari yang lalu. Namun, tetap saja Aura tidak memperdulikan.
Aura melotot tajam ke arah Farrel, memberikan ancaman yang sama sekali tidak membuat Farrel takut.
"Apaan sih, cepat ah pergi masih banyak yang ngantri" seru Farrel melirik Aura dengan tatapan yang begitu malas.
"Daa Sabil sayang, nanti gue samperin lo lagi" Aura berjalan sembari mengedipkan satu matanya pada Sabilla dan segera dibalas dengan senyuman oleh gadis cantik yang saat ini sedang memakai gaun pengantin mewah yang berwarna putih dengan begitu indah yang ia cobakan saat pergi ke butik Sari bersama Farrel beberapa hari minggu yang lalu.
"Awas kalo nanti lo sampe nyusahin gue" ancam Farrel berbisik di telingan Sabilla, membuat gadis tersebut menunduk ciut.
Tak lama kemudian, Kevin baru saja datang seorang diri. Setelah mengantri tidak terlalu lama, Kevin saat ini telah berdiri tepat di hadapan Sabilla dan Farrel.
__ADS_1
"Selamat ya Bil, semoga kamu bisa bahagia sama suami kamu. Semoga dia bisa membimbing kamu, semoga dia bisa menyayangi dan membahagiakan kamu dengan sepenuh hati dia. Jika dia sampe nyakitin kamu, kamu nggak perlu segan-segan untuk hubungi aku. Karena aku akan siap dan selalu ada buat kamu."
Kevin berbicara seraya melirik Farrel. Ia memang sengaja melontarkan sindiran tersebut pada Farrel. Sedangkan Farrel yang sudah mengerti dan paham bahwa sindiran tersebut jelas tertuju pada dirinya, menatap Kevin dengan tatapan yang tidak begitu ramah. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Makasih ya kak" Hanya itu yang dapat Sabilla ucapkan, meskipun hatinya terasa begitu remuk. Karena sejujurnya ia merasakan kenyamanan dan kehangatan saat bersama Kevin, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kevin tersenyum. "Oiya, kalo dia udah nggak sanggup jadi suami kamu lagi, suruh dia cepat-cepat bilang sama aku. Aku siap menerima gimanapun kamu. Aku akan membuat kamu bahagia"
Sindiran kembali Kevin lontarkan dan jelas masih tertuju pada Farrel. Rasanya Farrel benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya. Namun, karena tidak ingin membuat Mama, Papa dan keluarganya malu, Farrel sebisa mungkin masih menahan amarah yang saat ini tangah meronta-ronta untuk di lampiaskan. Namun, untung saja Kevin dengan segera pergi dari sana. Hingga terhindarlah kekacauan yang mungkin saja akan terjadi.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukung author dengan like, komen, dan Vote nya ya. Terimakasih💙
__ADS_1