My Poor Wife

My Poor Wife
Aneh


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


"Kak Farrel" gumam Aura pelan, ia merasa kaget bahwa pria yang menolong dirinya tersebut adalah Farrel dan bukan Kevin.


"Ayok" Farrel menggoyangkan sedikit tangannya yang terulur menyuruh Aura memegang tangan tersebut. Namun, gadis itu hanya diam tak bergeming, menundukkan pandangannya kembali, ia menatap kosong ke sembarnag arah.


Tiba-tiba, lamunan Aura buyar saat Farrel sudah lebih dulu mengangkat dirinya. Membuat Aura begitu kaget, tak terkecuali dengan Diara dan juga Nayla. Mereka semua membulatkan matanya tidak percaya. Apalagi mahasiswa lain yang sudah mengetahui tentang Farrel yang akan menikah dengan Sabilla.


"Gue yang bodoh apa gimana ya? Aneh nggak sih menurut lo? pacaran sama Diara, undangan pernikahannya sama Sabilla, eh


yang ditolong perempuan lain lagi." Ucap mahasiswa yang ada di sekitar kantin tersebut, menatap Farrel yang tengah menggendong Aura yang semakin lama semakin menjauh dari mereka.


Sedangkan Diara, sudah sangat merasa geram, ia mengepalkan kedua tangannya menatap kepergian Farrel dengan tatapan yang begitu tajam serta amarah sudah jelas juga terpancar dari sana.


"Sebenarnya lo ada masalah apa sih Ra sama Farrel? Kenapa dia nggak belain lo?" tanya salah satu mahasiswa yang mengenal Diara. Dan juga jelas sangat mengetahui hubungan sepasang manusia tersebut. Mengingat betapa romantisnya Farrel dan Diara dulu.


Sebenarnya, semua mahasiswa yang mendapatkan undangan dari Yasmin memang merasa kaget, karena sepertu yang ia tahu selama ini kekasih Farrel adalah Diara. Namun, hanya saja mereka tidak ingin bertanya karena tidak mau dianggap terlalu mencampuri urusan orang.


"Tau ah" geram Diara yang kemudian pergi dari sana, diikuti oleh Nayla di belakangnya.


***


Di klinik kampus, Kevin baru saja selesai mengobati luka Sabilla yang sebenarnya memang tidak terlalu serius. Ia telah memberikan plaster luka tepat pada kaki Sabilla yang sudah dibersihkan sebelumnya dengan air mengalir.


"Udah" Kevin tersenyum pada Sabilla seraya bangkit dari posisi sebelumnya yang berjongkok di bawah Sabilla yang tengah duduk di tepi kasur yang ada di klinik. Kemudian, pria itu mendudukkan pantatnya tepat di sebelah Sabilla.


"Makasih ya kak" Seru Sabilla melebarkan senyumannya ke arah Kevin.


"Sama-sama" Kevin tersenyum sembari mengacak-acak rambut Sabilla.


Tak lama kemudian, mata Kevin dan Sabilla tak bergeming menatap Farrel yang baru saja datang bersama Aura. Farrel yang baru saja datang berjalan melalui mereka berdua tanpa menoleh sedikitpun. Sedangkan Aura, gadis itu masih saja menatap Kevin yang tengah duduk bersama Sabilla. Hingga mata mereka saling beradu pandang sejenak, sebelum Aura kembali mengalihkan pandangannya.


Farrel mendudukkan Aura di tepi ranjang klinik tersebut. Matanya berputar seolah mencari sesuatu.


"Perawatnya lagi keluar sebentar" Kata Kevin yang mengetahui bahwa pria tersebut tengah mencari perawat yang biasanya ada di klinik. Namun, Farrel tak memperdulikan, pria itu hanya diam seolah tak mendengar ucapan Kevin.

__ADS_1


Tak lama kemudian, perawat yang dicari Farrel tersebut datang dari arah pintu masuk. Ia pun segera berjalan menuju Farrel dan Aura.


"Kenapa ini?" tanya Perawat tersebut.


"Ini Sus, tadi saya habis jatuh sama Sabilla, kaki saya nggak ada yang luka tapi kok rasanya ngilu bgt ya ?" tanya Aura yang masih memegangi pergelangan kakinya. Sementara Sabilla dan Kevin hanya melirik Aura yang saat ini duduk di sebelah Farrel.


"Oo gitu, biar saya lihat dulu ya" Perawat tersebut segera memegang pergelangan kaki Aura, membuat gadis tersebut sedikit meringis kesakitan.


"Ini kayaknya cuma kesleo deh, kalo bisa secepatnya di urut, takut nanti makin bengkak jadi tambah susah jalannya" Ujar perawat tersebut tersenyum pada Aura.


"Oo gitu ya sus, yaudah makasih ya sus" Aura tersenyum berterimakasih pada perawat tersebut.


"Iya sama-sama" Perawat tersebut tersenyum, kemudian permisi pergi dari sana.


Sabilla tak henti-hentinya menatap Farrel dan Aura, membuat Aura yang memang sedari tadi mengetahui bahwa sahabatnya itu tengah memperhatikan dirinya, menjadi sungkan dan segera meminta maaf.


"Bil, maafin gue, kak Farrel cuma..."


Belum selesai Aura melanjutkan ucapannya, Farrel justru lebih dulu memotong pembicaraan gadis tersebut.


Tapi kak, aku..."


"Nggak usah pake tapi-tapi deh, lo mau gue antar kemana?" tanya Farrel lagi.


Aura melirik sungkan ke arah Sabilla, sedangkan Sabilla tersenyum lebar ke arah sahabatnya tersebut, mengangguk perlahan mengisyaratkan bahwa Aura harus menerima tawaran Farrel dan tidak perlu sungkan pada dirinya.


Karena justru saat ini Sabilla lah yang merasa tidak enak pada Aura. Pasalnya, jika bukan karena membela dirinya, Aura tidak akan terluka seperti saat ini.


"Yaudah deh kak, kakak anterin aku ke depan aja kak, sekalian aku mau nunggu Pak Agung jemput" Kata Aura dengan sedikit gugup dan benar-benar merasa sungkan.


"Rumah lo dimana?" tanya Farrel.


"Hah?" Aura melirik Farrel bingung.


"Iya, rumah lo dimana?" tanya Farrrel lagi, Aura pun menyebutkan alamat rumahnya.

__ADS_1


"Yaudah biar gue antar pulang aja" Farrel segera turun dari ranjang kecil tersebut, berdiri di depan Aura menyuruh perempuan itu segera naik ke punggungnya.


Aura benar-benar masih merasa sungkan, ia kembali merlirik Sabilla. Setelah kembali mendapat anggukan serta senyuman dari sahabatnya itu, barulah Aura mengulurkan tangannya merangkul pundak Farrel.


Farrel segera berjalan keluar dari klinik tersebut dengan menggendong Aura di belakangnya. Ia tak hentinya melotot tajam kearah Kevin yang saat ini tengah duduk di sebelah Sabilla.


Saat baru saja mereka keluar dari klinik, mahasiswa yang berada disekitar klinik tersebut, melongo tidak percaya, pria tampan idola kampus terutama fakultas teknik tersebut, yang ia tahu adalah kekasih Diara, namun saat ini tengah menggendong mahasiswa baru yang bernama Aura.


"Astaga kak Farrel, mau juga dong digendong"


"Itu kan si Farrel? bukannya dia pacarnya si Diara?"


"Lah, si Farrel embat siapa lagi tuh? kemaren pacarannya sama Diara, terus emaknya ngasih undangan nikahan sama si Sabilla mahasiswa baru, lah sekarang siapa lagi itu?"


Farrel jelas mendengar semua kata-kata yang memang dilontarkan pada dirinya oleh semua mahasiswa tersebut. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Ia terus berjalan menggendong Aura menuju parkiran untuk mengambil mobil. Sedangkan Aura yang benar-benar merasa malu, menyembunyikan wajahnya di punggung Farrel.


"Kak Farrel, beneran nggak papa nih? kalo nggak aku nunggu pak Agung disini aja" Kata Aura yang saat ini sudah duduk di dalam mobil lebih tepatnya di sebelah Farrel.


"Nggak papa" Farrel membalas ucapan Aura dengan ekspresi wajah yang begitu dingin tanpa melirik ke arah Aura sedikitpun. Sedangkan Aura, ia hanya bisa pasrah dan menerima tawaran senior yang sebentar lagi akan menjadi suami dari sahabatnya itu. Farrel pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Aura.


***


Di dalam klinik, Sabilla dan Kevin masih terlihat duduk seperti tadi, posisi mereka belum berubah sedikitpun. Kevin tak Henti-hentinya melirik Sabilla yang saat ini tengah melamun menatap kosong ke sembarang arah.


"Kamu kenapa Bil?" tanya Kevin menepuk pundak Sabilla, menyadarkan perempuan tersebut dari lamunannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen dan vote nya ya kakak-kakak. Karena satu like, dan vote dari kalian sangat berarti bagi author. Terimakasih semoga suka💙


__ADS_2