My Poor Wife

My Poor Wife
Extra Part 4


__ADS_3

"Boleh sih, tapi aneh aja sih kamu nggak kayak biasanya"


"Kak Farrel, mumpung hari ini kak Farrel nggak pergi ke kantor, gimana kalo kita jalan-jalan?" Usul Sabilla antusias menunggu jawaban Farrel.


"Jalan-jalan?" Kening Farrel tertaut melirik Sabilla yang ia rasa bersikap tidak seperti biasanya. Karena sebelumnya gadis itu sangat tidak suka di ajak keluar jika tidak ada keperluan.


"Iya. jalan-jalan." Sabilla menganggukkan kepalanya penuh semangat.


"Hm yaudah ayok"


"Aduh baik banget sih. Terimakasih suamiku sayang" Sabilla bangkit dari tidurnya, gadis itu memeluk Farrel dengan penuh semangat hingga Farrel sedikit dibuat bingung. Sabilla tak berhenti menghujani wajah Farrel dengan ciuman penuh semangat.


Farrel terheran. "Kamu kenapa sih sayang?" Tanya Farrel.


"Kenapa kenapa?" Tanya Sabilla balik bertanya.


"Iya, aneh aja, nggak biasa banget kamu kayak gini" Sahut Farrel.


"Apaan sih biasa aja deh" Ucap Sabilla acuh. Gadis itu bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Farrel.


Sementara Farrel, pria itu menggeleng-gelengkan kepala menatap Sabilla yang tengah berjalan menuju kamar mandi. "Aneh" lirih pria itu pelan.


"Apa? Barusan kak Farrel bilang apa?" Sabilla tiba-tiba memutar tubuhnya ke areh belakang.


"Kak Farrel bilang aku aneh? Kak Farrel nggak mau jalan-jalan sama aku?" Sambung gadis itu kemudian.


"Kamu dengar barusan aku bilang apa?" Sahut Farrel dengan polos.


"Ya dengar lah, kak Farrel kira aku budeg?" Sahut Sabilla memanyun-manyunkan bibirnya manja.


Farrel tersenyum, pria itu bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekat pada Sabilla. Farrel memeluk Sabilla serta mengecup puncak kepala gadis itu gemas.


Sabilla tersenyum membalas pelukan Farrel. Beberapa saat kemudian, gadis itu berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berisap-siap.


***


Farrel dan Sabilla sudah berada di dalam mobil. Sedari tadi, bibir Sabilla tak henti tersenyum senang. Hingga Farrel yang menyadari akan hal itu benar benar dibuat bingung oleh gadis yang sudah berusia 22 tahun tersebut.


Hingga saat di lampu merah, sembari menunggu lampu kembali hijau, Sabilla tanpa aba-aba menyandarkan kepalanya di bahu Farrel dengan manja. Gadis itu juga sedari tadi tak berhenti menghujani wajah Farrel dengan ciuman.

__ADS_1


Farrel terdiam, keningnya berkerut merasa benar-benar heran dengan sikap Sabilla yang ia rasa tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa sih sayang?" Tanya Farrel.


"Kenapa nanyanya kenapa terus sih? Salah ya aku cium suami sendiri?" Sahut Sabilla cemberut memanyun-manyunkan bibirnya dengan pandangan ke depan, gadis itu melipat kedua tangannya di dada.


"Ya nggak salah sih, tapi aneh aja. Karena nggak biasanya lo kamu kaya gini."


"Terus kak Farrel nggak suka kalo aku kayak gini?"


"Bukan gitu..."


"Yaudah, kalo nggak suka ya nggak papa. Aku cukup tau diri dan akan jauh-jauh dari kak Farrel. Biar sekalian cari suami baru aja yang mau di cium setiap saat" Ucap Sabilla cemberut memalingkan pandangan ke samping. Gadis Itu bercara tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Apaan sih nggak boleh ngomong gitu ih. Kata-kata adalah do'a sayang!" Ucap Farrel mencubit kedua pipi Sabilla gemas. Namun gadis itu masih belum menghiraukannya. Sabilla masih setia memalingkan pandangan tanpa ingin menoleh ke arah Farrel.


Setelah lampu kembali hijau, Farrel kembali menancapkan gas mobilnya untuk pergi dari sana. Namun, pandangan pria itu masih tak terlepas dari Sabilla.


Farrel meraih tangan Sabilla dari atas pahanya. Pria itu mengenggam tangan istrinya itu erat.


"Jangan ngambek dong. Sebenarnya aku justu senang kalo kamu kaya gini. Tapi aku kan cuma nanya karena biasanya kamu nggak pernah kaya gini. Aku nanya bukan berarti aku nggak suka" Farrel mencoba membujuk Sabilla.


"Tau ah" Sabilla masih enggan memalingkan pandangan pada suaminya itu.


"Oiya, kita berangkat liburan minggu depan ya sayang" Sambung Farrel kemudian.


Dengan cepat, Sabilla menoleh. "Nggak, kita nggak jadi berangkat" Sahutnya.


"Lah kenapa? kamu marah sama aku sampe segitunya?"


"Bukan, bukan itu, pokoknya kita nggak usah berangkat. Aku lagi nggak mau liburan kak Farrel." Sahut Sabilla.


Farrel melirik Sabilla bingung. Kening pria itu tertaut menatap istrinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Farrel tidak tahu harus berbuat apa dengan sikap Sabilla saat ini. Ia merasa serba salah dengan Sabilla yang tiba-tiba berubah entah kenapa.


"Bukannya kemaren kamu seneng banget aku ajak liburan?" Farrel kembali membuka suara.


"Iya, tapi sekarang udah enggak"


Farrel hanya diam, pria itu kembali fokus mengemudikan mobilnya. Farrel tidak ingin melawan istrinya itu lagi karena Farrel sadar apapun yang akan dia katakan akan selalu salah oleh Sabilla dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


***


Farrel dan Sabilla telah sampai di Mall. Benar, tempat tujuan mereka jalan-jalan kali ini adalah Mall. Dan itu atas permintaan Sabilla. Dan Farrel hanya bisa mengikuti keinginan istrinya itu.


Kedua pasangat suami istri itu berjalan bergandengan tangan mesra. Benar, Farrel sudah berhasil membujuk Sabilla sebelum mereka sampai di Mall. Itulah sebabnya gadis itu sudah kembali bersemangat.


Sambil berjalan, Sabilla tampak memperhatikan suasana sekitar. Gadis itu juga melihat beberapa pasang manusia yang berjalan bergandengan mesra sama seperti mereka. Hingga pandangan Sabilla tertuju pada sepasang suami istri yang tengah berjalan sambil menggendong anak mereka.


Tubuh Sabilla mengikuti gerak gerik pasangan suami istri itu. Hingga Farrel yang menyadari akan hal itu kembali mengernyit bingung. Pria itu ikut memperhatikan pandangan yang saat ini diperhatikan oleh istrinya.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Tanya Farrel.


"Lucu ya" Sahut Sabilla tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari sepasang suami istri dan anaknya yang tidak jauh dari mereka itu.


"Apanya?" Sahut Farrel bingung.


"Itu mereka lucu ya, jalan bareng sama anaknya" Sahut Sabilla masih belum memalingkan pandangan pada Farrel.


Farrel mengacak-acak rambut Sabilla gemas. Pria itu ikut tersenyum melirik pemandangan yang sedari tadi diperhatikan oleh Sabilla.


"Yaudah ayok ah. Kamu mau kemana dulu? mau beli apa?" Tanya Farrel sembari merangkul pundak Sabilla.


"Eh bentar. Kak Farrel tunggu disini bentar ya. Aku mau ke toilet" Pamit Sabilla meninggalkan suaminya itu di tengah-tengah keriuhan Mall sendirian.


"Kamu nggak mau aku temenin" Sorak Farrel.


"Nggak usah"


Farrel menghembuskan nafas pelan sembari memperhatikan langkah Sabilla yang semakin lama semakin tak terjangkau oleh pandangan matanya.


Sejenak, Farrel kembali menoleh ke arah sepasang suami istri yang tampak tengah tertawa bersama anak mereka yang masih berusia sekitar satu tahu. Tanpa Farrel sadari, bibir pria itu melengkung membentuk sebuah senyuman disana.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, dan vote. Kalau ada kesalahan mohon di kasih tau baik-baik di kolom komentar ya. Terimakasih :)


__ADS_2