My Poor Wife

My Poor Wife
Farrel Genit


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


"Ih, kak Farrel apaan sih? genit banget jadi cowok" Sabilla bangkit dari duduknya, menatap sinis ke arah Farrel sembari memanyun-manyunkan bibirnya.


"Pala lo genit, tadi lo ketakutan, udah untung gue tolongin."


"Nolong nya nggak usah meluk-meluk juga kali"


"Terus kalo nggak dipeluk maunya lo diapain, gue tidur di sofa aja lo masih takut. Cara satu-satunya ya gue peluk lah biar lo nggak ketakutan lagi. Dibantuin bukannya malah berterimakasih. Lagian gue peluk pun juga lo istri gue"


"Lah, kakak mengakui aku sebagai istri?" Ucap Sabilla terkekeh. Namun, tak ada respon dari Farrel.


"Kakak aneh banget sih, kadang-kadang baik, kadang galak nya minta ampun kayak mau makan orang" Sabilla memutar bola matanya malas, melipat kedua tangan di dadanya.


"Lo pikir lo juga nggak aneh? kadang-kadang sok pemberani, sok nantangin gue. Kadang-kadang ciut ketakutan aja lo sama gue." Balas Farrel dengan sombongnya.


"Emang iya aku kayak gitu?" tanya Sabilla dengan begitu angkuh.


"Lah, lo liat aja sekarang, udah berani banget sama gue."


"Udah ah, nyesel juga gue punya niat baik sama lo. Dasar perempuan aneh" Farrel hendak bangkit dari sana, namun Sabilla dengan cepat menarik tangannya.


"Kakak tidur disini aja, tapi nggak usah pake peluk-peluk juga" Tutur Sabilla dengan begitu manja. Entah apa yang membuat rasa takutnya pada Farrel hilang seketika.


"Kalo lo mau gue tidur disini, gue nggak bisa jamin kalo tiba-tiba aja tengah malam gue khilaf" Goda Farrel mengedipkan satu matanya.


Mendengar ucapan Farrel, mata Sabilla melotot tajam. Fikiran kotornya mulai melayang kemana-mana. Sabilla benar-benar merasa geli membayangkan itu semua.


"Jadi gimana?" tanya Farrel kembali melayangkan tatapan menggodanya menjahili Sabilla.


"Hmm, terimakasih kak Farrel anaknya Mama Yasmin yang super duper aneh. Kadang baik kadang entahlah. Tapi lebih baik kak Farrel kembali ke sofa aja. Aku nggak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Seru Sabilla melebarkan senyuman ke Arah Farrel. Ia berani berkata seperti itu karena hujan memang sudah mulai reda.


Melotot tajam, Farrel segera bangkit dari atas ranjang tersebut. Melangkahkan kakinya kembali menuju sofa dengan membawa selimut dan bantal di tangannya.


Hening


Hening

__ADS_1


Hening


"Kak Farrel"


"Mau apa lagi lo?"


"Kak, waktu itu aku belum selesai ngomong"


"Ngomong apa? kapan?"


"Waktu pulang dari butik kakak marah-marah sama aku. Sebenarnya waktu itu aku mau nanya. Hubungan kakak sama Kak Diara gimana? kenapa kakak nggak batalin aja.pernikahan ini.


Sabilla masih berbaring di ranjangnya, sedangkan Farrel juga berbaring di sebuah sofa yang tidak begitu jauh dari sana.


"Gue sama dia udah putus!" jawab Farrel singkat.


Sabilla kaget mendengar ucapan Farrel. Ia refleks mendudukkan dirinya, menatap Farrel dengan mulut yang masih terbuka saking kagetnya.


"Kenapa kakak bisa putus, apa gara-gara pernikahan ini?" Sabilla menundukkan pandangannya, merasa bersalah telah merusak hubungan Diara dan Farrel.


Farrel mengangguk "Iya, gue putus gara-gara pernikahan ini. Gue sangat mencintai Diara. Tapi demi orang tua gue, gue rela ninggalin dia hanya untuk menikahi gadis seperti lo"


"Udah ah, gue mau tidur!" Farrel menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, mengalihkan pembicaraan yang membahas tentang mantan kekasihnya itu.


Sedangkan Sabilla, ia masih menatap Farrel dari kejauhan. Dirinya benar-benar merasa bersalah dengan semua ini. Namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Pantas aja kak Diara sampe labrak-labrak gue" gumam Sabilla dalam hati sebelum melanjutkan tidurnya kembali.


***


Pagi harinya, berbeda dari hari-hari sebelumnya. Saat ini Sabilla telah berada di dapur menyiapkan sarapan untuk Ayah dan juga suaminya. Tidak ada yang menyuruh dan mengajarkan memang, karena itu murni keinginan Sabilla karena pada saat dirinya masih kecil ia sering melihat sang Bunda setiap pagi menyiapkan sarapan untuk sang Ayah.


Sebenarnya, itulah alasan Sabilla menolak perjodohan ini. Dia sudah tau jika menjadi istri kewajibannya akan bertambah. Namun memberontak pun hanya hal sia-sia. Saat ini Sabilla hanya berusaha membiasakan kehidupan barunya sebagai seorang istri, mengurus suami, dan semacamnya.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, Sabilla meminta tolong pada Bi Mirna untuk menata makanan tersebut di meja makan. Sedangkan dirinya, kembali ke kamar untuk segera membersihkan diri sebelum berangkat kuliah.


Saat Sabilla baru saja sampai di kamarnya, ia melihat Farrel yang sudah rapi dan akan pergi ke kampus.

__ADS_1


"Lah, kak Farrel udah bangun?" tanya Sabilla yang masih di ambang pintu kamar.


"Menurut lo?" Jawab Farrel sinis tanpa menoleh ke arah Sabilla, ia masih sibuk merapikan pakaiannya di depan kaca.


"Hmmm" Sabilla berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan segera.


Tidak begitu lama, setelah selesai membersihkan diri, Sabilla segera keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengaan handuk.


Mata Sabilla menjelajah seisi kamar mencari sesuatu. Benar, ia mencari Farrel. Saat Sabilla baru saja keluar dari kamar mandi ia tidak lagi mendapati suaminya itu di dalam kamar.


Tanpa berfikir panjang, Sabilla segera merapikan rambutnya dan memolesi sedikit make up di wajahnya. Setelah itu, Sabilla segera melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dari kamarnya menuju meja makan.


Sesampainya disana, raut wajah Sabilla terlihat cemberut, ia segera mencari bi Mirna yang sedang berada di taman belakang.


"Bi, Bibik liat Ayah sama Farrel nggak?" tanya Sabilla yang tidak mendapati Ayah dan suaminya di meja makan.


"Oiya Non, bibik nyampein sama Non. Tadi bapak perpesan kalau bapak hari ini ada meeting Non. Jadi bapak buru-buru ke kantor. Dan bapak tadi berpesan pada saya untuk menyampaikan pada Non."


"Kalau kak Farrel bibik liat nggak?" tanya Sabilla.


"Kalau Den Farrel belum lama bapak pergi ia juga pergi Non. Tadi saya udah suruh den Farrel nunggu Non untuk sarapan. Tapi kata Den Farrel dia juga ada urusan penting di kampus Non.


"Oo gitu ya Bik. Oke bik makasih ya" Sabilla tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan Bi Mirna dan kembali ke meja makan.


Perlahan, Sabilla mendudukkan tubuhnya di meja makan tersebut seorang diri. Matanya tak teralih memperhatikan masakan yang ia masak dari pagi yang tidak tersentuh sedikitpun.


Menghela nafas, Sabilla segera menyanduk nasi dan memasukkan beberapa lauk ke dalam piring. Ia segera melahap makanan tersebut seorang diri.


Setelah selesai sarapan, Sabilla segera menemui Pak Jonet yang lagi duduk santai di teras rumahnya untuk meminta diantarkan ke kampus.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa, like, komen, dan love ya. Terimakasih. Maaf jika belum memuaskan🤗


__ADS_2