
Mata Sabilla sudah terlihat berkaca-kaca, sungguh ia merasa begitu sedih dengan perlakuan suami, mertua dan kakak iparnya tersebut.
Bil, lo yang sabar ya" Aura mengusap punggung Sabilla dengan lembut. "Percaya deh sama gue, nggak ada yang sia-sia di dunia ini. Gue yakin, dibalik kesedihan dan kesusahan yang lo hadapi saat ini, pasti lo akan merasakan kebahagiaan setelahnya. Karena setiap kesusahan yang kita hadapi akan selalu ada hikmahnya dibalik itu semua. Besok biar gue yang tanyain deh sama kak Farrel biar hati lo bisa lebih tenang. Sekarang, lo mau nggak temenin gue ke pesta ulang tahun sahabat gue semasa SMA?"
Sabilla mengangguk paham mendengarkan nasehat Aura. Ia merasa begitu tenang saat ada yang memahami dan selalu mendukung dirinya. Sabilla sebenarnya juga tidak ingin berfikiran buruk pada mertua dan suaminya itu.
"Pesta ulang tahun sahabat lo?"
"Iya, tiga hari yang lalu dia hubungin gue untuk datang ke sana, dan barusan dia telfon lagi, katanya untuk memastikan bahwa gue harus datang ke sana, soalnya udah setahun semenjak haru kelulusan gue udah nggak ketemu lagi sama dia. Lo mau kan Bil temanin gue? Daripada lo mikirin kak Farrel mulu mending lo tenangin fikiran lo terlebuh dahulu. Kali aja lo lupa sama masalah lo ketika udah sampai di sana." Kata Aura tersenyum dengan penuh semangat.
"Hmmmm" Sabilla tampak berfikir keras.
"Udah, nggak usah pake mikir, pokoknya lo harus ikut. Biar nanti gue kenalin sekalian sama teman-teman gue. Banyak yang ganteng-ganteng juga lo Bil, nyesal lo nanti kalo nggak ikut!" Goda Aura mengedipkan matanya genit pada Sabilla sebelum dirinya bangkit dari tempat tidur untuk memilih baju ganti yang akan ia kenakan ke pesta tersebut.
Sabilla meraih tas miliknya yang ada di meja kecil yang ada di samping ranjang aura. Ia meraih sesuatu dari dalam sana. Sabilla tak henti menatap benda tersebut hingga tanpa ia sadari air mata telah menetes di pipi mungilnya.
"Bil, lo pake baju gue yang ini aja ya" Aura membalikkan tubuhnya ke arah Sabilla setelah selesai memilih drees yang cantik untuk sahabatnya dan dirinya.
"Lah, lo nangis Bil?" Mendengar ucapan Aura, Sabilla kembali memasukkan benda yang semua ia tatap tersebut ke dalam tas. Gadis cantik itu menyerka air mata yang saat ini membasahi pipinya..
"Enggak kok Wa, gue nggak nangis" Elak Sabilla.
"Hmm lo pake baju ini ya, masih baru. Kemaren baru gue beli tapi sepertinya gue nggak cocok make yang beginian. Cocokan di lo, cantik, lo kan suka benget make dress-dress se lutut gini" Puji Aura.
"Apaan sih nggak mau ah, masak iya baju lo baru gue yang make" Tolak Sabilla.
"Yaelah, gapapa kali. Lebay banget sih lo. Buruan pegang dulu bajunya" Aura memberikan dress tersebut pada Sabilla.
💦💦💦
__ADS_1
Setelah sesesai mengganti baju, Sabilla saat ini tengah duduk di meja rias milik sahabatnya tersebut. Ia hendak memulai memolesi wajahnya dengan make up. Namun, Aura dengen cepat mencegahnya, karena ia tahu bahwa sahabatnya itu pasti akan memolesi make up sedikit saja.
Aura mengambil bedak yang ada di tangan Sabilla tanpa aba-aba dari arah belakang, membuat Sabilla menoleh ke arahnya. "Kenapa sih Wa?" Tanya Sablilla bingung.
"Biar gue yang make up in lo" Perintah Aura.
"Ah nggak mau, biar gue sendiri aja" Tolak Sabilla yang ingin merebut bedak tersebut dari tangan Aura.
"Enggak! Titik! Sabil ini tu acara penting, jadi lo jangan bikin gue malu. Kalo lo make up sendiri, lo sama aja gapake make up! Jadi biar gue yang make up in lo. Paham?"
"Justru kalo lo yang make up in nanti muka gue jadi tambah kayak badut. Gue nggak mau make up yang tebal Auraaaaaaaaa" Bantah sabilla.
"Enggak akan, lo tenang aja, gue bakal bikin lo secantik mungkin malam ini. Biar cowok-cowok disana pada terpesona sama lo. Biar kak Farrel tau rasa sekalian!" Ucap Aura dengan raut wajah yang tidak ramah. Sabilla hanya bisa pasrah menuruti kemauan sahabatnya itu.
Setelah selesai mendandani Sabilla, Aura tersenyum pada pantulan kaca yang ada di depan mereka saat ini. "Gue bilang juga apa, lo cantik banget malam ini Bil" Puji Aura tersenyum girang. Tak lupa pula, Aura mengambil hels yang masih terlihat di dalam kotak dan memberikan pada Sabilla.
"Kok semuanya baru sih?" Tanya Sabilla bingung.
Di perjalanan, Sabilla tampak begitu gelisah. Ia beberapa kali menoleh ke arah Aura yang saat in tengah duduk di samping dirinya sebelum kembali memalingkan pandangannya. Gadis itu seolah ingin menyampaikan sesuatu namun tampak begitu ragu. Hingga akhirnya Sabilla memberanikan diri untuk membuka suara.
"Hmmm Wa" Panggil Sabilla gugup".
Aura menoleh. "Apa?" jawabnya
"Sebelum ke tempat lo, boleh nggak gue minta tolong ke rumah Mama Yasmin dulu sekarang, gue mau ngasih sesuatu sama Kak Farrel." Ucap Sabilla dengan gugup dan ragu.
Aura tersenyum. "Boleh boleh banget malahan" Jawab Aura dengan begitu semangat. "Pak, kita ke rumah Sabil dulu ya pak" Ucap Aura pada sopir pribadinya.
Aura tak henti hentinya tersenyum. Sabilla yang menyadari hal itu, tentu saja mengerutkan keningnya bingung. "Lo kenapa Wa? dari tadi gue perhatiin senyum-senyum mulu. Kayaknya senang banget gue ajakin ke rumah Mama Yasmin?" Tanya Sabilla curiga.
__ADS_1
"Ya-ii-iiya. Tentu gue sennag banget, di-disana oiya disana kan ada kak Farris" Ucap Aura terbata-bata.
"Emangnya kenapa kalau ada kak Faris. Jangan bilang lo..."
"Ii-iiya-iya Sabil gue suka smaa kak Farris"
"What? terus kak Kevin gimana? bukannya lo suka sama kak Kevin?"
"Udah ah, sekarang lo nggak usah banyak tanya dulu, besok-besok gue ceritain deh" Elak Aura yang kemudian memalingkan pandangannya ke arah jalanan. Gadis itu menepuk keningnya sendiri. Sabilla yang menyadari akan hal itu hanya mengerutkan keningnya bingung dengan tatapan masih ke arah Aura.
Setelah sampai di halaman rumah Yasmin, Sabilla melirik ke arah Aura. Ia merasa bingung kenapa rumah tersebut terlihat gelap seperti tidak ada orang di dalam sana. Karena tidak biasanya, rumah tersebut sepi seperti yang ia lihat sepeti sekarang ini
Aura mengangguk, mengisyaratkan pada Sabilla untuk mencoba saja, siapa tahu merek memang sengaja mematikan lampu.
Sabilla turun dari mobil Aura, ia melangkah perlahan menuju pintu rumah mertuanya itu. Sementara Aura mengikuti Sabilla dari arah belakang dan juga terlihat sibuk menelfon seseorang.
Saat sampai di depan pintu rumah, Sabilla terlihat ragu untuk memencert bel. Namun, Aura selalu memberi semangat hingga Sabilla memberanikan diri memencet bel tersebut beberapa kali. Hingga...
Ceklek
Pintu terbuka dari dalam, lampu yang semula mati, sekarang hidup dengan serentak. Sabilla yang semula menundukkan pandangannya terpelongo kaget tidak percaya melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Ia menatap ke arah Aura yang berada di belakang dirinya. Sahabatnya itu tersenyum mengangguk pada Sabilla.
.
.
.
.
__ADS_1
.