
"Gini Rel, gue nyariin lo cuma untuk ngasih sesuatu sama lo" Keyla meraih sesuatu dari dalam tas miliknya. Tangan gadis itu saat ini tampak sedang menjelajahi isi tasny. Sementara Farrel dan Sabilla hanya memperhatikan gerakan Keyla dengan raut wajah yang masih bingung.
"Nih" Aura mengulurkan tangannya memberikan sebuah kertas putih yang berbentuk persegi panjang pada Farrel.
Farrel dan Sabilla menoleh satu sama lain. "Apaan nih?" Tanya Farrel.
"Itu surat dari Diara"
Deg, mendengar nama Diara, detak jantung Sabilla menjadi tidak normal seketika. Tangannya dingin. Entah kenapa, Sabilla benar-benar merasa takut jika mantan kekasih suaminya itu kembali merebut Farrel dari dirinya.
Sabilla masih mematung berdiri di samping Farrel sembari memperhatikan suaminya itu yang tengah membolak balikkan amplop berwarna putih yang ada di tangannya itu dengar raut wajah bingung.
"Ngapain Diara ngasih surat segala?" Farrel kembali bertanya.
"Iya, itu juga buat lo Sabil" Keyla melirik ke arah Sabilla yang saat ini tampak menundukkan pandangannya.
"Aku?" Tanya Sabilla bingung.
"Iya lo. Diara udah nggak kuliah lagi. Dia udah pergi."
"Pergi? kemana?" Potong Farrel sebelum Keyla menyelesaikan ucapannya. Hal itu sontak membuat Sabilla kaget dengan tingkah Farrel yang seolah tidak terima dengan kepergian Diara.
"Diara sekarang tinggal sama kakaknya. Dia udah pindah ke Jogja. Dia udah nggak sanggup lagi tinggal dengan kedua orang tuanya"
Raut wajah Farrel berubah menjadi bengong. Pria itu tentu saja paham dengan apa yang di maksud oleh Keyla. Seketika, Farrel teringat akan perlakuan orang tua Diara selama ini pada Diara. Karena memang, satu tahun menjalani hubungan, Farrel tentu saja tahu tentang kehidupan Diara. Karena memang, gadis itu tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh orang tuanya.
Papa dan Mama Diara selalu saja memarahi Diara dengan alasan yang tidak jelas dan selalu membandingkan Diara dengan kakaknya. Entah apa yang membuat orang tua Diara bertingkah seperti itu. Bahkan Diara dan Farrel juga tidak tahu alasannya apa. Itulah mengapa gadis itu selalu saja kabur dari rumah dan menginap di rumah Keyla.
"Diara bilang, dia nggak akan ganggu kalian lagi. Dia udah ikhlasin semuanya. Gue kesini cuma mau ngasih itu sama lo. Sebagau sahabat yang udah tau gimana Diara, gur harap kalian bisa memaafkan dia. Termasuk lo Sabil, gue harap lo bisa maafin sikap Diara selama ini sama lo. Kalo gitu gue permisi" Keyla segera berlalu pergi dari sana. Sementara Farrel, pria itu tampak termenung menatap kosong ke sembarang arah.
__ADS_1
Sabilla yang saat ini berada di samping Farrel, menatap pria itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Jika saja boleh berkata jujir, sebenarnya Sabilla sedikit merasakan sesak di dadanya. Ia bisa melihat bahwa Farrel tampak tidak senang dengan kepergian Diara.
Sabilla tahu bahwa sikap dirinya saat ini adalah sebuah keegoisan. Sebab, Farrel saja bisa menerima masa lalunya. Lantas kenapa dirinya harus merasa tidak senang dengan masa lalu Farrel? Sebagai perempuan normal tentu saja wajar bila Sabilla merasakan cemburu. Namun, Sabilla masih mencoba untuk bersikap lebih tenang.
"Kak Farrel" Sabilla menepuk pundak Farrel.
"I-iya" Pria itu tersadar dari lamunanya.
"Kak Farrel nggak papa?"
"Iya, aku nggak papa kok. Ayok kita pulang" Farrel kembali membuka pintu mobil dan segera menyuruh Sabilla untuk masuk ke dalam sana. Kemudian, pria itu berjalan dengan cepat masuk ke dalam mobil untuk mengemudikan mobil miliknya.
Di perjalanan, Farrel tampak lebih diam dari biasanya. Pria itu hanya terlihat fokus pada kemudinya tanpa meperdulikan Sabilla. Sesekali, Sabilla menoleh ke samping, menatap Farrel dengan tatapan sendu dan penuh tanda tanya. Tanda tanya tentang apa yang difikirkan oleh pria itu saat ini.
Namun, tanpa ingin bertanya, Sabilla justru memalingkan pandangannya. Gadis itu memperhatikan jalanan yang sangat ramai siang ini. Memperhatikan manusia yang berlalu lalang untuk melakukan aktifitas masing-masing di sekitar jalanan.
***
Farrel mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tengah rumahnya. Ia merentangkan tangannya sejenak. Kemudian, pria itu kembali meraih amplop yang tadi diberikan oleh Keyla pada dirinya. Farrel tampak memperhatikan kertas putih itu dengan seksama. Hingga, suara Sabilla yang baru saja datang mengejutkan Farrel dengan seketika. Pria itu sesegera mungkin menyembunyikan amplop itu ke dalam saku celananya. Namun, Sabilla tentu saja sudah lebih dulu melihatnya.
"Kak Farrel nggak mau ganti baju dulu?"
"Kamu duluan aja, nanti aku susul ke atas"
"Hmm yaudah deh" Sabilla sejenak menatap Farrel sebelum dirinya berlalu melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar.
"Assalamu'alaikum Pemirsa. Tasya cantik udah pulang"
Tasya baru saja pulang kuliah. Biasanya hari ini Tasya selalu pulang sore karena dirinya ada jadwal kuliah sore. Itulah sebabnya Farrel dan Sabilla pulang lebih dulu. Namun, entah kenapa tiba-tiba gadis itu pulang lebih cepat dan sampai di rumah siang hari.
__ADS_1
Farrel yang biasanya tak henti mengganggu Tasya, sekarang justru terlihat acuh pada adik sepupunya itu. Hal itu tentu saja membuat Tasya terlihat bingung.
"Si beruang kutub kenapa? Tumben dia nggak gangguin gue" Lirih Tasya sembari memperhatikan langkah Farrel yang tengah menaiki tangga menuju kamarnya. "Apa lagi berantem sama kak Sabil? Ah udahlah, bodoamat, mending gue tidur daripada ngurusin dia" Tasya berlalu pergi dari sana menuju kamarnya.
***
Di dalam kamar, Sabilla baru saja siap mengganti pakaian kuliahnya dengan piyama yang selalu ia pakai ketika di rumah. Gadis itu tampak tengah mengeringkan rambutnya di depan meja rias seusai mandi barusan. Ia melirik Farrel dari pantulan kaca. Jelas saja tampak raut wajah Farrel berubah menjadi tidak bersemangat.
Farrel merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu merentangkan tangannya sambil menghela nafas pelan.
Sabilla melangkah mendekati Farrel. "Kak Farrel nggak papa?" Tanya gadis itu saat mendudukan tubuhnya di samping Farrel.
Farrel segera duduk. "Iya nggak papa kok" Sahutnya dengan raut wajah dingin.
"Aku mandi dulu ya" Farrel sgera bangkit dari duduknya, berjalan hendak menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar kata yang keluar dari mulut Sabilla.
"Apa ini gara-gara kak Diara? Kak Farrel jadi berubah kayak gini? Apa kak Farrel masih menginginkan kak Diara? Apa kak Farrel menyesal udah ninggalin kak Diara? Apa kak farrel nggak terima kak Diara pergi?"
Sabilla melontarkan banyaknya pertanyaan yang sontak membuat Farrel menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hallo semuanya, aku mau nanya nih, setelah ini kalian maunya Aura sama Kevin apa sama Farris sih? Jangan lupo komen ya. Terimakasih🥰😍😘