My Poor Wife

My Poor Wife
Extra Part 8


__ADS_3

Di dalam kamar, saat waktu menunjukkan pukul 21.00. Farrel dan Sabilla tampak berbaring di atas tempat tidur. Saat ini, Farrel terlihat sedang memeluk Sabilla dari belakang. Pria itu mengelus perut istrinya yang sudah tampak menonjol. Karena tanpa terasa waktu berjalan, usia kandungan Sabilla saat ini sudah menginjak bulan keenam.


Dan semakin hari, Sabilla semakin bertingkah aneh dan juga sangat manja dari biasanya. Sabilla tidak akan mau makan jika tidak disuapi oleh Farrel, ia juga tidak akan tidur jika tidak dipeluk oleh Farrel. Terkadang, gadis itu juga sering membuat Farrel harus bolak balik antara rumah dan kantor hanya karena ingin dipeluk oleh suaminya itu.


Konyol memang, tapi begitulah tingkah Sabilla semenjak gadis itu menganduang buah hati Farrel. Berbanding terbalik memang dengan Sabilla yang sebelumnya. Namun, dibalik semua itu, Farrel sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Pria itu justru memaklumi dan paham akan kondisi istrinya.


Karena yang terpenting, bagi Farrel saat Sabilla merasa bahagia dan bayi yang ada di perut Sabilla selalu sehat, itu semua sudah cukup. Bahkan Farrel sama sekali tidak mempermasalahkan Sabilla yang semakin malas semenjak wanita itu hamil.


Sabilla yang biasanya sangat rajin, dan selalu melakukan kewajibannya sebagai istri yang baik, justru saat hamil gadis itu justru berubah drastis dan berbanding terbalik. Semakin hari Sabilla semakin malas memasak untuk Farrel, tidak seperti biasnya, sebelum wanita itu hamil.


***


Pagi hari, Farrel sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya. Seperti hari-hari biasanya, pria itu selalu memanjakan istrinya sebelum berangkat ke kantor. Farrel tampak membacakan lantunan ayat suci Al-qur'an sambil mengelus perut istrinya sebelum pria itu berangkat kerja.


Tak berselang lama, Sabilla mengantarkan Farrel ke depan. "Hati-hati di jalan sayang. Ingat, cepat pulang" Ucap ibu hamil yang tidak mau jauh-jauh dan tidak mau lama-lama berpisah dengan suaminya itu. Manja sekali memang.


Farrel tersenyum. Pria itu mengacak rambut Sabilla gemas. "Iya sayang" Sahutnya.


Kemudian, Farrel berjongkok di depan perut buncit istrinya. "Papa kerja dulu ya sayang. Jangan bandel, kalo Mama selingkuh, kamu tendang aja nggak Papa ya, papa ikhlas" Ucap Farrel tersenyum sembari melirik ke atas ke arah Sabilla.


Farrel kembali berdiri. Pria itu hendak mengecup kening istrinya. Namun, Sabilla justru mengelak dan menjauhkan tubuhnya dari Farrel.


"Enak aja bilangin orang selingkuh. Biasanya ya, yang seenaknya ngomong itu yang udah berpengalaman. Nuduh orang lain, padahal kebiasaan sendiri" Ucap Sabilla cemberut.


Entahlah, rasanya Farrel justru semakin gemas dengan tingkah istrinya yang baperan, ngambekan, dan manja seperti saat ini.


"Becanda sayang" Farrel merengkuh membawa Sabilla kembali ke dalam pelukannya, pria itu mengecup singkat kening, pipi, dan juga bibir istrinya sebelum masuk ke dalam mobil.


Farrel memacu mobilnya menuju kantor dengan kecepatan minimal. Hingga tak sampai satu jam, pria itu sudah sampai di kantor. Farrel segera masuk ke dalam kantor milik Ayahnya itu. Di sepanjang jalan, beberapan karyawan lain tak berhenti tersenyum kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi Ayah itu.


"Selamat pagi Pak Farel" Sapa beberapa karyawan saat Farrel tampak berjalan menuju ruangan kerjanya.


"Selamat pagi" Sahut Farrel tersenyum ramah.

__ADS_1


Farrel baru saja sampai di ruangan kerjanya. Pria itu baru saja mendudukkan tubuhnya di atas kursi putar yang ada di ruangan tersebut. Hingga tak berselang lama, seorang sekretaris pribadi Farrel tampak menghampiri Farrel sembari memberikan beberapa berkas di meja kerjanya.


Namun, saat Farrel baru saja hendak men cek beberapa berkas tersebut, ponsel Farrel terdengar berbunyi nyaring. Pria itu segera merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih terasebut.


Farrel mengusap layar ponsel ke atas, mengangkat telfon dengan panggilan yang tertulis My lovely Wife di layar ponsel. Bibir Farrel melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Iya sayang, ada apa?" Sahut Farrel dari seberang sana.


"Den Farrel. Ini bibik" Suara itu sudah bisa Farrel tebak. Suara siapa lagi jika bukan suara bi Mirna.


Raut wajah Farrel yang semula tersenyum seketika berubah menjadi datar. Pria itu sontak mendudukan tubuhnya tegas. "Iya bik, ada apa?" Tanya Farrel.


"Ini den, Non Sabil... Non Sabil..."


"Sabil kenapa Bik?" Tanya Farrel mulai panik.


"Aduh, gimana ya den. Bibi nggak bisa jelasinnya den. Non Sabil..."


Tanpa ingin mengulur waktu untuk mendengarkan penjelasan Bi Mirna yang tidak jelas, dengan tergesa gesa dan terlihat sedikit panik, Farrel meraih kembali kunci mobil yang baru saja ia taruh di atas meja kerjanya. Farrel bergegas keluar dari ruangannya setelah pria itu memberitahukan kepada sekretaris pribadinya itu untuk melanjutkan pekerjaan nanti saja.


Hingga beberapa saat di perjalanan. Farrel telah sampai kembali di depan rumah. Setelah memarkirkan mobil, pria itu segera bergegas masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, ruang depan, ruang tengah, Farrel tidak mendapati siapa-siapa. Tanpa berfikir panjang, pria itu segera naik ke lantai atas menuju kamar dirinya dan Sabilla untuk memastikan keadaan istrinya.


Farrel membuka pintu kamar. Pria itu melihat Sabilla tengah berbaring didampingi oleh Bi Mirna yang juga tampak duduk di tepi ranjang..


"Sabil kenapa Bik?" Tanya Farrel pada Bi Mirna.


"Bibi juga nggak tau den"


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Farrel memegang bahu Sabilla dari belakang.


Sabilla memutar tubuhnya. Gadis itu seketika merentangkan tangannya.


"Dedenya kangen. Pengen peluk papanya" Ucap Sabilla dengan suara manja.

__ADS_1


Farrel menghembuskan nafas pasrah. Pria itu memegang keningnya. "Astaga sayang, harusnya aku udah tau kamu bakalan kaya gini. Tapi kenapa aku selalu panik tiap dapat telfon dari Bi Mirna"


Farrel segera merengkuh memeluk istrinya itu. Benar, ini bukanlah kali pertama Sabilla bertingkah kekanak-kanakan seperti saat ini. Harusnya Farrel sudah tau dan juga sudah sadar, tapi entah mengapa, rasa takut akan istrinya kenapa-napa membuat Farrel tak berfikir jernih. Farrel selalu terbawa suasana karena kepanikannya, tanpa ia sadari, ini memang tingkah istrinya yang memang sudah aneh semenjak Sabilla mengandung buah hatinya.


"Jangan salahin aku dong. Salahin anak kak Farrel ini"


Itu adalah kata-kata andalan yang selalu diucapkan oleh Sabilla.


"Anak mulu yang disalahin" Ucap Farrel pelan. Namun, hal itu tentu saja masih dapat didengar dengan jelas oleh Sabilla.


"Apa kak Farrel bilang? Kak Farrel pikir aku mengada-ngada? Kak Farrel nggak percaya?" Ucap Gadis itu melepaskan pelukan Farrel kemudian memalingkan pandangan dengan raut wajah cemberut.


Bukan marah dengan jawaban istrinya, Farrel justru tersenyum. "Enggak sayang, maksud aku nggak gitu. Maafiin aku ya" Farrel mencoba memeluk Sabilla kembali.


"Enggak!" Tolak Sabilla.


"Beneran nggak nih? Kalo gitu aku balik ke kantor lagi lo ini" Ancam Farrel.


"Jangan" Sabilla kembali merengkuh memeluk suaminya itu.


"Apa aku minta cuti aja sama Papa sampe kamu lahiran? Nggak bisa dibiarin kalo gini terus." Ucap Farrel di sela-sela pelukan mereka.


Sabilla tersenyum girang. "Bagus banget, itu yang aku tunggu. Akhirnya suamiku peka juga."


"Sudah kuduga" Sahut Farrel tertawa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)


__ADS_2