
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
"Gue penasaran deh kenapa hubungan mereka tiba-tiba kandas gitu aja? dan kenapa Farrel malah nikah sama mahasiswa baru secepat itu?" Timpal teman-teman angkatan Farrel dan diara yang ada di sana.
"Bener banget, mendadak banget nggak sih menurut lo?" Ujar yang lainnya dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman angkatan Farrel dan Diara tersebut. Dan tentu mereka penasaran karena telah mengetahui hubungan Farrel dan Diara selama ini.
Diara yang masih merasa kesal dengan ucapan Farrel, menggepalkan kedua tangannya dengan begitu geram. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Sabilla yang tengah berdiri tidak jauh di belakang Farrel.
Plakkkkkkk
Satu tamparan berhasil melayang di pipi Sabill dengan sangat keras, membuat semua yang ada di sana tepelongo kaget bukan main.
"Rasain lo pelakor!" Gertak Diara pada Sabilla.
Sabilla memegang pipi bekas tamparan Diara, Ia sama sekali tidak meringis kesakitan. Gadis cantik itu justru melebarkan senyumannya pada Diara. Karena ia merasa pantas untuk mendapatkan ini semua, mengingat apa yang pernah diucapkan Farrel pada dirinya, bahwa hubungan mereka kandas karena Sabilla.
"Dek, itu hidungnya" Salah satu senior yang melihat darah mengalir di hidung Sabilla, berbicara seraya menunjuk hidung Sabilla.
Terpelongo, Sabilla memegang hidungnya, merasakan ada sesuatu yang mengalir dari sana. Sejenak, Sabilla memperhatikan darah yang sudah membasahi tangannya itu.
"Keterlaluan lo Ra" Farrel mendorong tubuh Diara dengan kasar menjauhi dari Sabilla. Kemudian ia menghampiri istrinya tersebut. Farrel memegang pundak Sabilla, menatap Sabilla yang masih tersenyum ke arahnya.
"Lo nggak papa?" tanya Farrel dengan begitu cemas.
Sabilla masih memegangi hidungnya mencoba menghalangi darah tersebut mengalir. "Nggak papa kok kak, jadi aku kelompok berapa kak? dan dimana?" tanya Sabilla.
Tanpa menghiraukan ucapan Sabilla, Farrel mengambil salah satu baju miliknya yang ada di dalam koper.
"Bodoh! udah kayak gini masih aja nanya kelompok berapa! Lo lagi mimisan!" Farrel mengelap darah yang ada di hidung Sabilla dengan baju miliknya.
"Kak Farrel ini baju kak..."
"Nggak usah banyak omong!"
"Hmm biar aku sendiri aja kak" Sabilla hendak mengambil baju yang ada di tangan Farrel, namun Farrel justru mengelaknya.
"Bisa diam nggak sih!"
Pasrah, Sabilla hanya diam memperhatikan Farrel yang masih memegangi hidungnya. Ia menatap lekat wajah Farrel dengan seksama. Hingga Brukkk. Sabilla terjatuh pingsan.
"Sabil"
"Sabil"
"Sabil, bangun woi"
"Lo kenapa sih?"
__ADS_1
"Sabil, buka mata lo!"
Fareel berusaha membangunkan Sabilla dengan menggoyang-goyangkan pipinya. Namun, tidak ada respon dari gadis tersebut.
Sementara yang lain sudah sangat panik melihat keadaan Sabilla, karena acara mereka memang tidak mengikut sertakan dosen untuk menginap. Dosen hanya akan datang di siang hari. Untuk malamnya, semua sudah diserahkan pada senior / panitia acara. Itulah sebebnya mereka begitu bingung harua meminta pertolongan pada siapa di tengah hutan seperti itu.
Lain hal dengan Diara, disaat semuanya merasa panik, tapi gadis yang berusia 20 tahun itu justru tersenyum menyeringai "Biar tau rasa lo! mati aja sekalian!" Ucap Diara menatap jijik dan kesal pada Sabilla yang saat ini tergeletak di tanah dalam pangkuan Farrel.
Farrel menoleh ke arah Diara, ia meletakkan tubuh Sabilla perlahan. Berdiri dan mendekat ke arah Diara.
"Kalau dia sampe mati, lo juga akan mati di tangan gue!" Gertak Farrel melotot tajam ke arah Diara seraya menunjuk mantan kekasihnya itu dengan jari telunjuknya.
Farrel kembali menghampiri Sabilla. Ia memangku kepala istrinya itu di pahanya.
"Del, lo bisa tolongin gue berdiriin tenda yang ada di dalam koper gue nggak? Malam ini Sabilla biar tidur sama gue!"
"What? Farrel lo gila" Nayla membuka suara.
"Kenapa gila? dia istri gue!"
Fadel teman kelas Farrel itupun mengangguk, mengambil satu tenda Speed LX yang memang hanya berisikan kapasitas untuk 2 orang yang ada di dalam koper Farrel.
"Wah wah wah. Itu beneran Farrel? bukannya dulu dia sayang banget ya sama si Diara? Kenapa jadi begini?"
"Gue rasa ini bukan masalah kecil deh. Makin penasaran aja gue masalah sebenarnya diantara mereka"
"Udah ah kalian ribet banget ngurusin hidup orang"
Teman-teman Farrel yang ada di sana tak henti hentinya membicarakan hubungan mereka bertiga.
Tidak butuh waktu lama, Fadel kembali setelah mendirikan tenda atas permintaan Farrel. Karena memang, mendirikan tenda yang berisikan kapasitas hanya untuk 2 orang itu sangatlah mudah dan tidak memakan waktu yang cukup lama.
"Makasih Del" Farrel berdiri sembari mengangkat tubuh Sabilla yang masih belum sadarkan diri. Ia menggendong tubuh istrinya itu menuju tenda yang sudah di dirikan oleh Fadel barusan.
"Aaaa sosweeett banget sih Farrel. Jadi pengen nikah juga gue ah!" Ucap salah satu teman Farrel yang ada di sana.
"Nikah nikah aja otak lu, kuliah lo aja belum kelar"!
"Si Farrel juga belum kelas tuh"
"Itu beda lagi bambang, dia anak orang kaya"
***
Di dalam tenda, Farrel meletakkan tubuh Sabilla perlahan, menyibakka. rambut Sabilla yang menutupi wajahnya. Ia sejenak menatap lekat wajah istrinya itu sebelum kembali keluar untuk mengambil koper dirinya dan Sabilla yang masih tertinggal di posko panitia tempat dimana teman-temannya berkumpul barusan.
"Sorry Del, malam ini gue ijin. Gue nggak bisa ikut kegiatan, gue nggak mungkin ninggalin Sabilla sendiri. Bisa-bisa dia dibunuh lagi sama setan yang ada disini" Farrel berbicara dengan penuh penekanan sembari mentap Diara dengan begitu tajam.
__ADS_1
"Santai aja kali Rel, setelah ini kita suruh junior tidur aja biar bisa istirahat. Karena kegiatan memang dilanjutkan besok juga kok." Fadel menepuk bahu Farrel.
"Oke. Thankyou" Farrel kemudian pergi berlalu dari posko panitia tersebut dengan membawa koper dirinya dan juga Sabilla.
Saat ini, Farrel duduk disebelah Sabilla yang masih belum sadarkan diri. Ia membersihkan hidung Sabilla yang masih bersisa sedikit darah yang sudah mengering. Ia juga memberi minyak angin di hidung Sabilla agar gadis tersebut segera sadarkan diri. Namun, tak kunjung sadar juga.
Merasa lelah, Farrel membaringkan tubuhnya di samping Sabilla, menatap lekat wajah Sabilla dengan mata yang masih terpejam.
"Bodoh banget sih lo!" gumam Farrel kemudian ikut memejamkan matanya.
***
Pagi hari, silau matahari berhasil menerobos celah-celah tenda, membuat Sabilla yang kala itu tertidur dengan begitu lelapnya tersadar seketika.
Saat dirinya membuka mata, Sabilla benar-benar dikaget dengan pemandangan yang pertama yang ia lihat. Pasalnya, meskipun beberapa minggu setelah menikah dengan Farrel, meskipun mereka selalu tidur satu kamar, namun mereka tidak pernah tidur satu tempat ataupun satu ranjang. Selama ini Farrel hanya tidur di atas sofa.
Sabilla masih belum berani membangunkan Farrel, ia hanya menatap pria tampan yang ada di depannta itu, memperhatikan setiap inci wajah Farrel.
Selang beberapa saat, Farrel terbangun dari tidurnya. Tak berbeda jauh dengan Sabilla, ia juga merasa kaget, saat pertama kali membuka mata, pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Sabilla. Wajah gadis yang selama ini sangat ia benci.
Tanpa mengelurkan suara, Farrel segera bangkit dari tidurnya, duduk tanpa sepatah katapun tidak ada yang keluar dari bibirnya.
Sabilla ikut beranjak dari tidurnya, ia menunduk merasa bersalah "Maaf kak, aku hanya bisa nyusahin kak Farrel, aku hany membawa sial dalam hidup kak Farrel. Aku udah hancurin hubungan kak Fareel dan kak Diara. Mulai saat ini, aku janji, aku nggak akan nyusahin kakak lagi." Sabilla melipat selimut yang membaluti tubuhnya, kemudin memberikan selimut tersebut pada Farrel.
"Makasih kakak udah nolongin aku" Sabilla berdiri dan mengambil koper miliknya.
"Lo kelompok 4, satu tenda sama teman lo si Aura"
Sabilla menoleh ke arah belakang. "Makasih kak, jawabnya kemudian segera pergi dari sana. Menelusuri banyaknya tenda-tenda yang berjejeran satu persatu. Ia telah berusaha untuk menghubungi Aura, namun berhubung saat ini mereka sedang berada di hutan, tidak ada sinyal membuat sambungan telvon Sabilla tak kunjung masuk pada Aura.
Sabilla berhenti de tengah-tengah tenda yang berjejeran tersebut, menikmati sejuknya pemandangan yang jauh dari polusi. Namun, tiba-tiba seseorang datang memanggil nama Sabilla dari arah belakang.
"Sabil"
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like nya kak. Terimakasih :)
__ADS_1