My Poor Wife

My Poor Wife
Panik


__ADS_3

Di tengah tertidur lelap, pukul 01.00 malam, Farrel terbangun saat merasakan tubuh Sabilla yang tampak gemetaran. Pria itu sontak membuka matanya. Farrel kaget saat melihat tubuh Sabilla yang saat ini sudah bergetar kedinginan, keringat dingin bercucuran dari tubuh istinya itu.


"Sabil, sayang, Sabil, kamu kenapa?"


"Hey, Sabil." Farrel menepuk pipi Sabilla pelan, namun gadis itu masih saja tidak mengeluarkan suara. Tubuh Sabilla masih bergetar menahan dingin yang menggerogoti tubuhnya.


Farrel tampak terlihat panik. Ia menyelimuti seluruh tubuh istrinya itu dengan selimut. Farrel juga mencoba memeluk Sabilla dengan erat. Menggenggam kuat tangan Sabilla yang masih bergetar.


Namun, tidak ampuh dengan cara seperti itu, Farrel segera mengambil jaket milik Sabilla dengan tergesa gesa. Pria itu memakaikan jaket tersebut pada tubuh istrinya yang masih saja tidak mengeluarkan suara. Tangan Sabilla masih terkepal menahan dingin yang menggerogoti tubuhnya.


Mengambil kunci mobil di atas nakas, Farrel segera menggendong tubuh Sabilla menuju mobil. Pria itu bahkan lupa untuk mengabari Bi Mirna karena dirinya sudah panik dan hilang akal.


Benar, Farrel sudah kembali ke rumah Hermawan dua hari yang lalu setelah dirinya meminta izin pada Yasmin dan Asep.


Farrel mendudukkan Sabilla di jok kemudi, setelah memasang sealt belt dan membalut tubuh Sabilla dengan selimut, pria itu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sungguh Farrel tidak tau harus berbuat apa, karena ini pertama kalinya pria itu melihat Sabilla seperti ini.


Farrel tampak mengemudikan mobil dengan gelisah, dan beruntung jalanan malam itu sepi, hingga tidak ada kendaraan yang berlalu lalang karna hari sudah malam.


Farrel tak sedetikpun melepaskan genggaman tangannya dari Sabilla. Ia tampak menyetir dengan rasa gelisah sembari melirik Sabilla sesekali.


"Sayang kamu kenapa sih" Lirihnya dengan raut wajah yang begitu panik.


Sesampai di rumah sakit terdekat, Farrel segera menggendong istrinya itu ke ruang IGD.


Sembari menunggu Sabilla diperiksa, Farrel mengabari orang di rumah terlebih dahulu.


***


Sabilla telah dipindahkan ke ruang perawatan, gadis itu sudah tampak lebih tenang. Saat ini Sabilla tengah tertidur pulas dengan Farrel yang juga tertidur di kursi samping brankar Sabilla sambil menggenggam tangan gadis itu.


Pagi harinya, Sabilla lebih dulu tersadar dari Farrel. Gadis cantik itu melirik suaminya yang masih tertidur sambil duduk menggengam tangannya.


Sabilla mengelus rambut dan wajah Farrel dengan tangan kirinya. Gadis itu tersenyum. Ia bisa merasakan betapa tulus Farrel menyayangi dirinya.


Tak berselang lama, Farrel terbangun dari tidurnya, pria itu sontak melirik ke arah Sabilla.


"Sayang kamu udah sadar?" Tanya Farrel


Sabilla tersenyum sambil mengangguk.


"Kak Farrel kenapa nggak tudur disofa aja sih? Kenapa tidur sambil duduk gitu?" Tanya Sabilla.

__ADS_1


"Aku nggak akan ninggalin kamu. Kamu itu udah bikin aku panik setengah mati semalam. Aku kaget aja tiba-tiba kamu begitu.


Sabilla tersenyum. "Aku juga nggak tau semalam tiba-tiba aja seluruh badan aku kedinginan. Aku udah coba bangunin kak Farrel, tapi nggak tau kenapa lidah aku kaku aja gatau harus ngomong apa."


Farrel mengelus lembut pipi Sabilla. "Sekarang udah nggak papa kan?"


"Udah nggak papa kok"


Farrel mencium tangan Sabilla, kemudian ciuman itu berpindah pada kening, pipi dan bibirnya.


"Jangan kayak gini lagi. Aku panik setengah mati kalo liat kamu gini" Lirihnya.


Sabilla tersenyum dengan wajahnya yang terlihat pucat.


"Kak Farrel"


"Hmmm" Saut Farrel.


"Kak Farrel nggak capek? ngantuk ya?"


"Enggak sayang, kenapa?"


"Gapapa"


"Pengen peluk" Sabilla merentangkan tangannya dengan manja.


Farrel tersenyum. "Tumben banget sih" Pria itu justru ikut berbaring di atas brangkar Sabilla. Hal itu membuat Sabilla kaget.


"Kak Farrel mau ngapain?"


"Katanya mau dipeluk, yaudah ini aku peluk"


Farrel memeluk Sabilla dengan sangat erat.Ia menenggelamkan kepala istrinya itu di dada bidang miliknya.


"Peluk sih peluk, tapi nggak gini juga kali kak Farrel"


"Ya nggak papa dong sayang. Biar lebih romantis."


"Tapi kalo dokter atau suster nya nanti lihat gimana?


"Ya nggak papa"


"Kok nggak papa?"

__ADS_1


"Kan kamu istri aku, jadi gapapa dong. nggak ada undang-udang yang ngelarang kan? aku gabakal masuk penjara juga meluk istri sendiri"


"Ya bukan itu maksud aku. Emangnya Kak Farrel nggak malu?"


"Ngapain malu?"


"Hadeuhh ngomong sama kak Farrel memang susah ya"


"Udah kamu nggak usah banyak omong. Mending tidur." Farrel memejamkan matanya sambil memeluk Sabilla.


Gadis itu tersenyum. Ia sejenak menatap Farel, mengelus lembut rambut suaminya itu. Farrel yang memang belum tertidur itu justru malah mengeratkan pelukannya dari Sabilla.


***


Yasmin, Tasya dan Farris baru saja datang. Sementara Asep hanya singgah sebentar pagi hari sebelum dirinya berangkat kerja. Setelah memastikan menantunya itu tidak kenapa-kenapa, Asep segera pamit untuk berangkat ke kantor.


"Astaga ini anak kelakuan nggak ada bedanya sama bocah" Yasmin menepuk pantat Farrel yang tampak tertidur pulas di samping istrinya itu.


"Heh beruang kutub, kalo lo kayak gitu, yang ada kak Sabil malah makin sakit, bukan tambah sehat" Timpal tasya.


"Keknya ini bukan Farrel deh Ma, jiwa sok col anak Mama yang dulu udah hilang. Yang ada mah sekarang gatau malu" Faris ikut menambahi.


"Aduh berisik banget sih? ini rumah sakit apa temapat karaoke sih?" Gerutu Farrel dengan suara sereknya sambil mengucek matanya sendiri.


"Karaoke, karaoke, bangun cepet.! Itu istri kamu lagi sakit malah digangguin!" Yasmin menjewer telinga Farrel, menyuruh putranya itu untuk segera turun.


"Aduhh mama, kenapa sih semua orang nggak senang banget keknya lihat aku bahagia?" Bibir Farrel tak henti menggerutu sembari pria itu bangkit dari brankar Sabilla. Farrel menatap Yasmin, Tasya dan juga Farris dengan tatapan tidak ramah. Ingin rasanya pria itu menerkam keluarganya itu saat ini juga.


.


.


.


.


.


**Hallo semuanya, terimakasih buat yang masih nunggu aku up, makasih juga buat yang udah selalu kasih aku dukungan.


Mohon maaf beberapa waktu ini aku nggak bisa up rutin, karena aku lagi me revisi cerita aku yang judulnya Ternyata Dia Jodohku. Terus aku juga lagi sibuk banget ngurus KKN. Karena pandemi ini, semua jadi serba online, jadi agak lebih ribet juga ngurusnya.


Oiya, bagi kakak-kakak semua mohon bantu aku untuk naikin level ini ya, dengan cara komentar. Yang mau ngasih vote juga makasih banget. Kalo level aku naik kan aku juga lebih semangat nulisnya. Wkwk

__ADS_1


Yang merasa ada yang aneh dan janggal sama cerita ini aku nggak ngelarang kok buat ngasih saran atau yang lainnya, tapi jangan dengan cara menghujat ya. Semua bisa di omongin baik-baik kok. Hehe Terimakasih banyak semuanya. 💕**


__ADS_2