
Siang itu, tepat pukul 13.30, Sabilla baru saja selesai mengikuti perkuliahan hari ini. Saat ini, gadis cantik yang berkulit putih yang anggun dan feminim tersebut terlihat tengah mengemasi buku buku miliknya ke dalam tas.
Di ambang pintu kelas, Farrel yang sudah berada di sana sedari tadi, tak henti-hentinya tersenyum kecil melirik istrinya tersebut dengan satu tangan yang masih setia terletak di pinggangnya.
Sudah satu minggu, Farrel dan Sabilla sudah kembali bersama, tinggal di atap yang sama. Meskipun kecanggungan tetap masih saja ada di antara mereka, namun tidak dengan sikap Farrel.
Saat ini, pria itu tidak lagi kasar dan songong seperti dulu. Farrel justru saat ini bersikap sangat lembut dan lebih menghargai Sabilla, karena ia tau, kesempatan tidak akan pernah kita dapatkan untuk kedua kalinya. Farrel tidak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.
"Bil, lo hari ini pulang sama siapa?" tanya Aura sembari mengemasi buku-bukunya ke dalam tas miliknya.
"Hmm belum tau Wa, kalo kak Farrel ada kuliah siang kayak nya gue pulang sama Pak Jonet. Kenapa? lo mau ikut ke rumah gue?
"Nggak usah sekarang deh, besok aja gue main ke rumah lo. Soalnya gue udah ada janji sama Mami."
Sabilla mengangguk. "Oo gitu, yaudah. Beneran nih, jangan boong lo." Delik Sabilla menatap Aura dengan tatapan tajam.
"Iyaa iya, apa sih yang enggak buat lo" Aura mencubit pipi Sabilla dengan begitu gemas. "Kalo gitu gue duluan ya Bil" Aura segera bangkit dari duduknya, melambaikan tangan tersenyum bahagia tersenyum pada sahabatnya itu sembari berjalan keluar kelas.
Di ambang pintu, langkah Aura terhenti tatkala melihat Farrel sudah berdiri di sana dengan gagahnya. "Lo, kak Farrel?" Sapa Aura sedikit kaget.
Farrel tersenyum. "Hai Wa" Balas pria tampan yang ada di depan dirinya itu.
"Kak Farrel ngapain disini?" tanya Aura mengerutkan keningnya bingung, melirik Farrel dari atas sampai ke bawah dengan begitu heran. Karana ini, pertama kalinya Aura melihat pria tampan suami sahabatnya itu di kelas mereka. Karena biasanya, Farrel hanya menunggu Sabilla di parkiran sepulang kuliah.
"Jemput bini lah, ngapain lagi emangnya?" Jawab Farrel cengengesan.
"Ciee elah bini. Dulu aja.., upsss" Aura cengengesan, membungkam mulutnya sendiri tanpa ingin melanjutkan ucapannya. "Canda deng Kak. Ya, kali aja kak Farrel kesini mau cari bini baru" Goda Aura menyenggol lengan Farrel dengan genit.
"Boleh juga tuh, kalo lo mau jadi bini kedua gue" Farrel kembali menggoda Aura, melangkahkan kaki lebih mendekat pada sahabat istrinya itu dengan tangan yang sudah berada di dalam saku celananya
__ADS_1
Hal itu sontak membuat Aura kaget, pasalnya gadis tersebut awalnya hanya berniat untuk menjahili suami dari sahabatnya. Tapi justru dirinya sendirilah yang kena getahnya, membuat Aura malu dengan sendirinya.
"Apaan sih Kak Farrel, aku dulua ah. Samperin tuh bininya." Aura berbisik di telinga Farrel
kemudian berlalu meninggalkan Farrel di sana sendirian.
"Kenapa pergi woi, Aura, kan seru tuh. Mau nggak nih jadi bini kedua gue?" Sorak Farrel menjahili sahabat istinya itu. Sementara Aura, tanpa peduli terus melanjutkan langkahnya, melambaikan tangannya pada Farrel dengan bodoamat tanpa menoleh ke arah belakang.
Farrel hanya tertawa kecil setelah berhasil menjahili sahabat istrinya yang centil tersebut.
Setelah selesai mengemasi buku-bukunya, Sabilla segera menyandang tas samping miliknya, berjalan ke luar kelas dengan tatapan yang tidak terlalu fokus ke depan.
Hingga langkah Sabilla terhenti tatkala dirinya melihat Farrel yang sudah tersenyum merekah dengan sempurna berdiri di ambang pintu kelas dengan tampang cool nya.
"Kak Farrel" Lirih Sabilla pelan, kemudian gadis itu melangkah perlahan mendekati Farrel.
"Cari bini baru" Jawab Farrel dengan santainya mencoba menggoda Sabilla.
"Oo gitu" Jawab Sabilla dengan polosnya, gadis itu menundukkan pandangannya.
"Kenapa sih?" Farrel memegang dagu Sabilla, mendongakkan kepala gadis itu ke atas agar lebih leluasa menatap dirinya. "Ya nggak mungkin lah, aku disini mau jemput kamu" Imbuh Farrel melebarkan senyuman pada istrinya itu.
"Hmmm" Sabilla hanya diam tanpa menyauti, dengan cepat, Farrel merangkul pundak gadis cantik tersebut. Mengajak Sabilla berjalan segera menuju parkiran. Di sepanjang jalan koridor kampus, mahasiswa yang menyaksikan pasangan muda tersebut, terutama dengan mahasiswa yang sangat mengagumi ketampanan Farrel tidak henti-hentinya bersorak dengan histeris.
"Astaga, itu kak Farrel kenapa cekep banget sih, manis lagi, mau juga dong jadi bininya"
"Aduh My baby sweety gue"
"Kapan coba kak Farrel jadi laki gue"
__ADS_1
"Itu si Farrel emaknya dulu ngidam apaan sih bisa cakep gitu anaknya?"
"Beruntung banget tuh junior yang jadi istrinya"
Farrel pria populer di fakultas terknik tersebut hanya tersenyum sombong dan tidak memperdulikan mereka sama sekali, semanis apapun pujian mereka tidak akan membuat hati Farrel luluh. Sebenarnya, hal itu juga sudah biasa didapatkan Farrel setiap harinya semnjak ia kuliah di Universitas ini, bahkan saat dirinya masih memiliki hubungan dengan Diara.
Namun bedanya, saat bersama Diara Farrel masih suka membalas gombalan-gombalan gadis-gadis yang mengagumi dirinya itu hingga dulu seringkali membuat Diara cemburu. Tapi berbeda saat telah bersama Sabilla, pria itu tidak lagi memperdulikan gadis secantik apapun yang berusaha menggoda dirinya, karena yang Farrel fikirkan, menjaga perasaan gadis polos yang sangat ia cintai itu lebih penting daripada membalas gadis-gadis yang ujung-ujungnya akan patah hati juga oleh dirinya.
Sesampai di parkiran, Farrel segera membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya itu, mempersilahkan Sabilla masuk ke dalam mobil dengan senyum terukir lebar.
Sabilla hanya diam, bingung dengan sikap Farrel yang sungguh sangat manis dari biasanya. Gadis cantik tersebut hanya mengikuti perintah Farrel tanpa ingin bertanya sama sekali.
Di perjalanan, Sabilla hanya diam tanpa mengeluarkan suara, gadis itu tampak fokus memperhatikan jalanan padat siang ini dengan ramainya kendaraan yang berlalu lalang di pusat kota. Sesekali, Farrel melirik gadis cantik yang ada di sampinya itu dengan senyum misterisnya. Entah apa yang ada di dalam fikiran Farrel saat ini.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Sabilla saat dirinya menyadari bahwa jalanan yang ka lewati bersama Farrel saat ini bukanlah jalan menuju rumahnya. Sabilla melirik pria yang tengah menyetir mobil di sebelahnya itu dengan bingung. Namun, tak mendapat satupun jawaban dari Farrel.
Pria tampan yang berstatus sebagai suami Sabilla itu hanya tersenyum tanpa ingin menjawab sepatah katapun pertanyaan dari Sabilla, membuat Sabilla sebenarnya sedikit kesal, namun kembali lagi pada sifatnya, gadis cantik itu hanya diam tanpa banyak bicara dan menurut pada Farrel.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya :)
Terimakasih😊
__ADS_1