
"Uwekkk"
"Uwekkk"
Suara itu terdengar jelas oleh Farrel yang kala itu masih tertidur lelap di dalam kamar. Pria itu membuka mata perlahan. Setelah mengerjap beberapa kali, Farrel meraba kasur di sambing dirinya. Alhasil, pria itu kaget saat tidak mendapati Sabilla di samping Farrel.
Dengan cemas, Farrel beranjak dari tidurnya. Tujuan pertama yang ada di fikiran pria itu adalah kamar mandi. Karena Farrel mendengar jelas suara sesorang dari dalam sana. Dan pria itu yakin bahwa disana pasti ada Sabilla.
Hingga benar, di ambang pintu kamar mandi, Farrel dibuat kaget saat mendapati Sabilla tengah muntah dengan kondisi tubuh melemas di depan wastafel.
Wajah gadis itu tampak pucat. Tanpa berfikir panjang, Farrel melangkah mendekat pada istrinya itu. Farrel memegang bahu Sabilla. Mengusap lembut punggung istrinya yang kala itu masih muntah dengan tubuh lemas.
Setelah dirasa Sabilla sudah sedikit tenang, barulah Farrel melontarkan pertanyaan.
"Kamu kenapa? sakit? kenapa nggak bangunin aku?" Tanya Farrel dengan raut wajah cemas, pria itu melontarkan pertanyaan bekali-kali saking cemas melihat istrinya saat ini.
"Aku nggak tau kak, tadi pagi waktu aku mau bangun buat siapin sarapan, tiba-tiba perut aku mual" Sahut Sabilla dengan nada suara serah serta masih dengan tubuh melemas dan tidak berdaya.
"Terus kenapa kamu nggak bangunin aku sih sayang?" Tanya Farrel panik.
"Nggak tega, karena aku liat kak Farrel tidurnya pulas banget. Lagian semalam juga kak Farrel begadang karena kerjaan numpuk"
"Astaga Sabil. Kamu itu ya. Kalo kamu sampe kenapa-napa aku bakal nggak bisa maafin diri aku sendiri. Kalo ada apa-apa kamu harus bilang sama aku. Jangan begini sayang"
Sabilla hanya menunduk, tubuhnya saat ini sungguh terasa lemas dan tidak berdaya. Mata Sabilla juga tampak sayu. Dengan segera, Farrel menggendong tubuh istrinya itu kembali ke dalam kamar. Perlahan, Farrel membaringkan tubuh Sabilla disana.
Ia juga menyelimuti tubuh istrinya itu dengan selimut mengingat cuaca yang begitu dingin pagi ini. Karena hujan sangat deras dan waktu juga masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.
"Kemaren kamu makan apa aja?" Tanya Farrel yang sudah ikut mendudukkan tubuhnya di samping Sabilla.
Sabilla menggeleng. "Nggak makan apa-apa kok, cuma makan nasi sama ayam doang" Sahut Sabilla manja.
Farrel memegang kening istrinya itu. Tapi Farrel merasa tubuh Sabilla tidak panas sama sekali. Farrel segera bangkit dari ranjang. Pria itu berjalan mengambil segelas air putih untuk Sabilla.
"Kamu minum dulu, nanti aku tanya Mama!" Farrel memberikan segelas air putih tersebut pada Sabilla sebelum pria itu kembali membaringkan istrinya perlahan.
__ADS_1
Di atas tempat tidur, Farrel ikut berbaring. Pria itu terlebih dahulu mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Farrel tampak mengotak atik layar ponsel tersebut untuk menghubungi Yasmin sang Mama.
Setelah mencari kontak yang bertuliskan nama Yasmin. Farrel segera menekan tombol hijau untuk menghubungi Yasmin. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, ibu dua anak itu terdengar menyauti panggilan Farrel dari seberang sana.
"Halo Ma" Panggil Farrel.
"Iya dek, ada apa?" Sahut Yasmin.
"Ma, ini Sabil bangun-bangun kenapa tiba-tiba mual-mual gini sih Ma?" Tanya Farrel panik.
"Apa?" Mual?" tanya Yasmin sedikit kaget.
"Iya. Aku nggak tau kenapa ini. Apa masuk angin kali ya?"
"Kemaren Sabil makan apa aja?" Tanya Yasmin.
"Nggak ada, cuma makan ayam sama nasi aja katanya."
"Yaudah, kalian nggak usah panik dulu. Nanti Mama kesana sekalian sama Dokter Reyhan" sahut Yasmin.
"Yaudah Ma. Bye"
Farrel menutup sambungan telfon Yasmin. Pria itu kembali menaruh ponsel di atas nakas. Kemudian tatapan mata itu berpindah pada Sabilla yang saat ini juga sedang menatap dirinya.
"Nanti Mama kesini ya" Ucap Farrel lembut. Pria itu memeluk Sabilla erat, menenggelamkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Farrel mengelus lembut kepala Sabilla dengan penuh kasih sayang. Pria itu juga menghujani kening Sabilla dengan banyaknya ciuman. Tangan Farrel tampak menggenggam tangan Sabilla erat.
Sedari tadi, pria itu tak berhenti mengelus lembut kepala istrinya. Hal itu membuat Sabilla sungguh merasa nyaman, hingga gadis itu tertidur lelap di pelukan Farrel.
***
Di sisi lain, setelah menutup sambungan telfon dari Farrel, Yasmin mencoba menghubungi teman semasa sekolahnya dulu yang sekarang berprofesi sebagai Dokter. Karena biasanya keluarga mereka memang selalu mengandalkan Dokter Reyhan jika ada yang sakit di rumahnya.
Tak berselang lama, ibu dua anak itu segera mengganti baju menuju kamar dengan tergesa gesa.
"Mama mau kemana?" tanya Asep yang kala itu masih berbaring di atas tempat tidur, saat melihat Yasmin panik tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Mama mau ke tempat Farrel sama Sabil Pa" Sahut Yasmin masih sibuk memolesi wajahnya dengan sedikit make up di depan meja rias tanpa ingin menoleh ke arah suaminya.
"Tumben banget Mama ke rumah Hermawan mendadak gini?"
"Iya, barusan Farrel telfon Mama, katanya dari tadi Sabil muntah mulu nggak tau kenapa. Apa sakit perut entah..." Ucapan Yasmin seketika terhenti saat ibu dua anak itu teringat akan sesuatu.
"Astaga, kenapa Mama baru kepikiran sih" Menepuk jidat.
"Mama kenapa sih?" Heran Asep menatap wanita yang sangat dirinya cintai itu.
"Apa Sabil hamil ya Pa? Apa kita bakal punya cucu?"
Yasmin mendekat pada Asep antusias. Wanita yang tidak lagi muda itu memeluk sang suami dengan girang.
"Mama nggak usah terlalu berharap dulu, yang ada nanti malah kecewa. Lebih baik dipastiin dulu. Siapa tau juga Sabil cuma masuk angin. Yang ada Mama kecewa sendiri" Seru Asep.
Yasmin terdiam. Perlahan wanita itu menjauhkan tubuhnya dari sang suami. "Iya juga sih. Tapi Farrel bilang Sabilnya nggak kenapa-napa, nggak makan yang aneh-aneh juga" Sambung Yasmin kemudian dengan suara sedikit kurang bersemangat.
"Yaudah kalo gitu Mama pamit" Yasmin bersalaman dan mengecup pipi Asep terlebih dahulu. Tentu saja mereka tidak mau kalah dari anak muda. Tak berselang lama, wanita itu keluar dari kamar hendak menuju rumah Farrel karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 Pagi.
***
Di dalam kamar, Sabilla masih tertidur pulas di pelukan Farrel. Sedari tadi, pria itu tak berhenti menatap Sabilla lekat. Pria itu khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada Sabilla.
"Jangan sampe sakit" Lirihnya pelan dengan tatapan masih pada istri cantiknya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote ya biar Farrel makin semangat update. wkwk terimakasih :)
Untuk cerita Aura sabar ya kakak-kakak. Setelah extra part Sabilla ini tamat nanti aku akan umumin cerita Aura disini. Makannya jangan di Unfavoritkan ya💕