
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Farrel yang sedari tadi memperhatikan Sabilla dan Kevin dari kejauahan, segera melangkahkan kakinya menghampiri mereka berdua. Ia menarik paksa tangan Sabilla hingga pelukan Sabilla terlepas dari Kevin, membuat mereka kaget bukan main. Sabilla melototkan matanya dengan sempurna, tidak percaya bahwa orang tersebut adalah Farrel.
"Ngapain lo disini? dari tadi gue cariin malah asyik pacaran" geram Farrel yang masih mencengkram tangan Sabilla dengan kasar.
"Kak Farrel lepasin, tangan aku sakit" seru Sabilla. Sedangkan Kevin, hanya diam tak bergeming entah apa yang ia fikirkan.
Farrel pun segera melepaskan tangan Sabilla, ia menatap tajam kearah Sabilla membuat gadis tersebut sedikit takut, namun tidam menghalangi niatnya untuk bertanya.
"Ada apa kak? tumben kakak nyariin aku?" tanya Sabilla mengerutkan keningnya.
Farrel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kemaharan yang semula terpancar dari raut wajahnya berubah menjadi kebingungan. "Oo itu anu gue disuruh Mama jemput lo" Seru Farrel dengan sedikit gugup.
"Disuruh tante Yasmin?" ada apa emangnya?" tanya Sabilla bingung. "Tapi kenapa Ayah nggak ngabarin aku?" imbuhnya lagi.
"Alah, alasan lo! Bilang aja lo cemburu!" Kevin membuka suara, tertawa sinis melirik Farrel.
"Apa cemburu? kurang kerjaan banget gue cemburu sama dia!" Farrel melirik Sabilla dengan tatapan menyeringai menandakan ketidaksukaannya.
"Ya kalau lo nggak suka kenapa harus lo nikahin Sabil secepat ini? kalo lo nggak mau biar Sabil sama gue aja!"
"Lo pikir gue mau nikah sama dia? kalo lo bisa ambil ya ambil aja. Dipersilahkan dengan segala hormat!" Ujar Farrel yang kemudian pergi dari sana, meninggalkan Sabilla dan Kevin yang masih berdiri menatap kepergian dirinya.
"Lah kak, katanya kakak disuruh jemput aku? Tanya Sabilla dengan sedikit bersorak, namun tidak sedikitpun disahuti oleh Farrel. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan suara Sabilla yang jelas terdengar nyaring ditelinganya. Karena Alhamdilillah sampai saat ini telinga Farrel masih sehat wal'afiat.
__ADS_1
Setelah tubuh Farrel tidak lagi terlihat, Kevin menoleh ke arah Sabilla, menatap gadis tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya yang terlihat begitu jelas dari raut wajahnya.
"Sabil, maksud Farrel apaan sih? kamu menikah sama dia bukan karena keinginan kalian berdua?" tanya Kevin yang sudah kembali duduk bersama Sabilla.
Sabilla menundukkan pandangannya, menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit bersedih.
"Terus kenapa bisa? " tanya Kevin mengerutkan keningnya bingung.
Sabilla mendongakkan kepalanya, menatap Kevin seolah banyak sekali hal yang ingin ia sampaikan pada pria tersebut.
"Aku nggak tau kak, waktu hari pertama ospek, saat aku baru aja sampai di rumah, tiba-tiba Ayah bilang kalau Ayah mau jodohin aku sama anak rekan bisnisnya. Dan saat aku bertemu dengan orangnya, ternyata orang itu adalah kak Farrel" Sabilla menjelaskan semua yang terjadi pada Kevin. Ia juga mengatakan bahwa sampai kapapun ia tidak akan bisa menolak keinginan Ayahnya tersebut.
Kevin menatap Sabilla dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. "Sabil, dari awal aku ketemu sama kamu pada saat ospek, aku jelas lihat dari binar mata kamu kalau kamu sedang nggak baik-baik aja. Sebenarnya kamu ada masalah apa sih? Kamu boleh cerita sama aku, aku siap dengerin apapun itu." Ujar Farrel menatap Sabilla dengan tatapan yang sedikit iba.
"Nggak kak, aku nggak kenapa-kenapa kok kak, tapi sejujurnya aku nggak sanggup menerima semua ini, aku pengen kuliah kak. Meskipun ayah bilang aku akan tetap bisa kuliah, tapi aku nggak mau kuliah dengan status sebagai istri orang. Aku ingin menikmati masa muda aku. Tapi semua hanyalah keinginan semata, karena semua itu nggak akan pernah aku dapatkan. Setelah ini, aku akan hidup sebagai mahasiswa dan seorang istri, aku nggak tau akan seperti apa kehidupan aku kedepannya. Aku nggak tau akan seperti apa kehidupan aku sama kak Farrel nantinya. Kakak juga tau sendiri kan, gimana bencinya kak Farrel sama aku? dan aku sama sekali nggak tau itu kenapa."
"Yang bersikeras untuk menjodohkan semua ini kan hanya Ayah kamu, memangnya Mama kamu nggak ada membela kamu sedikitpun?" tanya Kevin. Ia benar-benar merasa tidak tega melihat gadis yang ada di sampingnya saat ini bersedih. Gadis yang telah mencuri perhatiannya saat pertama kali ia menjadi panitia ospek tahun ini.
"Bunda aku udah meninggal, Bunda aku udah nggak ada di dunia ini. Kalau Bunda masih ada, udah pasti Bunda nggak akan bolehin aku menikah diusia semuda ini."
Sabilla menjawab pertanyaan Kevin tanpa menoleh ke arah pria tampan tersebut. Seketika ia mengingat kembali sang Bunda yang memang teramat sangat ia rindukan. Sedangkan Kevin, mendengar ucapan Sabilla, ia menjadi merasa bersalah. Kevin melirik Sabilla yang masih setia menundukkan pandangannya. Ia menyibakkan rambut Sabilla yang menutupi wajahnya.
Dan ternyata benar, gadis itu sedang menangis. Tanpa berfikir panjang, Kevin memeluk Sabilla dengan begitu erat, ia tidak memperdulikan apapun. Sekalipun ada mahasiswa lain yang menoleh ke arah mereka. Tapi untungnya, tidak ada mahasiswa disana yang terlalu sibuk mengurusi urusan orang. Karena mereka terlalu sibuk belajar dan berlomba-lomba untuk menaikkan IPK masing-masing.
"Aku sudah bisa menduga, saat pertama kali kamu di bentak oleh Diara, aku tau, kalau kamu sedang nggak baik- baik aja. Sekarang kamu boleh nangis, kamu boleh nangis sepuas puasnya. Aku tau, aku tau sebenarnya kamu sangat terluka. Tapi kamu berpura-pura kuat didepan semua orang." Kevin masih memeluk Sabilla dengan begitu erat, membiarkan gadis itu mencurahkan segala kesedihannya di dalam pelukan dirinya.
__ADS_1
"Makasih ya kak, makasih kakak udah baik banget sama aku, dari awal aku masuk ke kampus ini, kakak orang pertama yang paham dengan apa yang aku rasain."
Sabilla mengusap air mata yang masih tersisa di pipi mungilnya itu.
"Andai aja kamu nggak akan menikah Bil, aku pasti akan selalu ada buat kamu. Karena nggak tau kenapa, rasanya aku pengen banget lindungin kamu, menjaga kamu. Tapi itu semua sepertinya benar-benar mustahil untuk terjadi." gumam Kevin dalam hati. Matanya tak teralih menatap Sabilla.
"Bil, meskipun nanti kamu udah jadi istri Farrel, kamu masih mau kan temenan sama aku? Kamu bisa kok anggap aku sebagai kakak kamu. Aku akan menjaga kamu seperti aku menjaga adik aku sendiri, kamu bisa mencurahkan segalanya sama aku. Karena nggak baik jika harus dipendam sendiri. Dan aku juga nggak yakin kalau Farrel akan menjaga kamu dengan baik. Karena yang aku tau, dia sangat menyayangi Diara, dan Diara juga nggak mungkin melepaskan Farrel semudah itu"
Kevin memegang pundak Sabilla, menatap Sabilla dengan tatapan meyakinkan. Ia berusaha meyakinkan gadis tersebut. Entah kenapa, rasanya Kevin ingin sekali menjaga Sabilla. Karena dia bisa membaca dari raut wajah dan tatapan gadis tersebut menunjukakn bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Meskipun ia tidak bisa menjadi kekasih Sabilla, namun Kevin hanya ingin menjaga Sabilla walaupun hanya sebagai seorang kakak.
Sabilla mengangguk mengiyakan ucapan Kevin. "Makasih ya Kak" Seru Sabilla pada Kevin yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh pria tersebut tanpa mengeluarkan suara.
"Udah jangan nangis lagi, ntar cantiknya hilang lo"
"Kak Kevin bisa aja" Balas Sabilla sedikit malu.
.
.
.
.
__ADS_1
.