My Poor Wife

My Poor Wife
Gaun Pengantin


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Di dalam kamarnya, Sabilla tengah bersiap-siap untuk pergi ke butik langganan Yasmin untuk memilih gaun pengantin yang ia suka. Dan kali ini tentu saja gadis itu tidak pergi sendirian, ia akan pergi bersama Farrel yang sudah menunggu dirinya di ruang tamu.


Sebenarnya, Sabilla sangat malas untuk pergi ke butik tersebut bersama senior angkuhnya itu, namun apa boleh buat jika hal itu adalah perintah sang Ayah, meskipun terkadang hatinya merasa dongkol, namun Sabilla tidak dapat menolaknya.


Setelah selesai berdandan dan memolesi sedikit make up yang tidak terlalu menor di wajahnya, Sabilla sejenak berdiri di depan kaca, melirik penampilannya yang saat ini menggunakan Dress pendek selutut dengan lengan panjang chiffon berwarna putih, serta rambut yang tergerai dengan begitu indah. Ia sejenak memperhatikan penampilannya dari atas sampai ke bawah. Tanpa ia sadari, satu garis melengkung membentuk senyuman di bibir mungilnya.


Sabilla berjalan perlahan mendekati Farrel yang sudah menunggunya di ruang tamu dengan secangkir kopi yang sudah disiapkan oleh Bi Mirna sedari tadi.


Dengan begitu gugup, ia mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya itu tepat di depan Farrel.


"Lama banget sih" Gerutu Farrel melirik Sabilla yang baru saja sampai. Karena memang, disana tidak ada siapa-siapa, membuat Farrel kembali seenaknya memperlakukan Sabilla.


Mengingat apa yang dikatakan Farrel pada dirinya beberapa hari yang lalu, Sabilla tidak lagi berani melawan ataupun membantah ucapan laki-laki itu. Ia hanya menunduk ciut dan ketakutan di hadapan Farrel.


"Yaudah ayok ah. Nunggu apa lagi lo? nunggu kucing di rumah gue beranak dulu?" gerutu Farrel, kemudian ia segera berdiri dari duduknya, berjalan keluar dari rumah Sabilla setelah berpamitan pada bi Mirna terlebih dahulu. Sedangkan Sabilla hanya mengikuti langkah kaki pria itu dari belakang yang berjalan menuju mobilnya.


Di depan mobil Farrel, Sabilla hanya berdiri tanpa membuka pintu mobil. Sedangkan Farrel yang sudah masuk ke dalam mobil sedari tadi sembari menunggu wanita itu dari dalam, merasa jengkel dengan Sabilla yang tidak kunjung masuk ke dalam mobil miliknya itu.


"Woi, lo nggak mau masuk? Apa perlu gue bukain pintu biar lo terlihat seperti tuan putri? jangan mimpi deh lo!" Farrel bersorak dari dalam mobilnya, menatap Sabilla dengan tatapan risih dan tidak suka.


"Emangnya udah boleh masuk nih kak?" tanya Sabilla sedikit gugup dan takut akan di bentak kembali oleh farrel.


"Ya kalau lo nggak mau, silahkan naik taksi sendiri!!!" Farrel hendak menancapkan gas mobilnya, membuat Sabilla segera memasuki mobil pria yang begitu menyebalkan itu dengan tergesa-gesa.


Namun, Farrel tetap masih terdiam menatap Sabilla dengan tatapan amarahnya.

__ADS_1


"Nggak jalan kak?" tanya Sabilla dengan sedikit gugup.


"Ck! Sialan" umpat Farrel. Ia dengan begitu kesal memasangkan seatbelt Sabilla, membuat wajah mereka menjadi begitu dekat. Sabilla yang sangat gugup, menatap Farrel dengan tatapan yang tidak dapat ia artikan. Entah kenapa, jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Tangannya menjadi dingin dengan seketika.


"Apa lo liat-liat? gue congkel nanti mata lo." Ucap Farrel setelah selesai memasangkan seatbelt gadis cantik itu dan kemudian melajukan mobilnya menuju butik langganan sang Mama"


Hening


Hening


Hening


Hening


"Ayo cepat turun, lamban banget sih jadi orang" Farrel menggertak Sabilla sembari turun dari mobilnya. Sedangkan Sabilla, hanya diam mengikuti perintah Farrel.


Sabilla berdiri sejenak, mengambil nafas perlahan sembari memejamkan matanya kemudian melangkahkan kaki mengikuti Farrel masuk ke dalam butik langganan sang Mama yang memang sudah sangat sering ia kunjungi. Berhubung Yasmin memang tidak memiliki anak perempuan, jadi tak jarang perempuan itu selalu mengajak dua jagoannya untuk menemani dirinya untuk pergi kemana-mana termasuk ke butik langganannya ini.


Sari memperhatikan Sabilla sejenak dari atas ke bawah. Bibirnyapun melengkung membentuk sebuah senyuman disana. "Ternyata benar dia anak yang manis, dan kelihatannya baik" gumam Sari dalam hati.


Sari memang sudah mengetahui alasan Farrel yang masih semuda itu lebih duluan menikah daripada Farris sang kakak. Meskipun awalnya wanita yang berusia sekitar 40 tahunan itu terkejut dan kaget dengan ucapan Yasmin yang mengatakan bahwa putra keduanya akan menikah, namun setelah Yasmin menceritakan semuanya ia pun menjadi paham.


"Farrel, ini calon istri kamu?" tanya Sari tersenyum ke arah Sabilla. Sedangkan Farrel, menatap Sabilla dengan begitu malas, sebelum kemudian mengangguk membenarkan ucapan Sari.


"Yaudah, ayok sayang. Tante udah siapin gaun yang cocok untuk kamu" Sari membimbing Sabilla masuk ke dalam butik yang cukup luas miliknya itu. Sedangkan Sabilla, matanya tak teralihakan memperhatikan tempat tersebut. Ia sedikit tidak percaya bahwa dirinya akan benar-benar menikah dan ini adalah sebuah kenyataan.


Sari memang telah menyiapkan gaun pengantin yang begitu mewah dan indah untuk Sabilla atas permintaan Yasmin.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, tante ambilin dulu" ujar Sari tersenyum ke arah Sabilla dan segera diangguki oleh gadis tersebut. Sedangkan Farrel, pria itu tengah duduk menunggu di salah satu sofa yang tersedia disana.


Sembari menunggu Sari mengambilkan gaunnya, Sabilla sejenak juga memperhatikan deretan gaun indah yang ada di sana.


"Bunda, Sabil kangen Bunda" lirih Sabilla yang masih setia berdiri di antara deretan-deretan gaun pengantin yang ada disana. Tanpa ia sadari, air mata telah jatuh menetes di pipi mungilnya.


"Sayang ini gaunnya, kamu cobain dulu ya, nanti..."


Sari yang baru saja datang dari arah belakang Sabilla, menghentikan ucapannya saat melihat air mata terjatuh di pipi mungil gadis cantik tersebut. "Kamu kenapa sayang? kamu nangis? tanya Sari lembut memegang pundak Sabilla. Ia sejenak memperhatikan raut wajah gadis itu dengan seksama.


"Ahh nggak kok tante, tadi mata Sabil kelilipan. Gaunnya yang mana tante?" tanya Sabilla melirik gaun yang masih di pegang oleh Sari. Sedangkan Sari, ia menatap gadis cantik itu dengan tatapan iba. Sari sangat mengetahui bahwa gadis cantik di depannya ini sedang berbohong.


Sebagai seorang perempuan dan juga seorang ibu, Sari jelas melihat raut kesedihan disana. Ditambah lagi dengan penjelasan Yasmin tentang Sabilla beberapa hari yang lalu. Membuat Ibu 1 anak itu memeluk Sabilla dengan tiba-tiba. Padahal mereka tidak lah dekat dan kenal pun hanya baru saat ini.


"Semoga lancar acaranya ya sayang" Sari memeluk Sabilla. Sabilla yang sebenarnya memang merasa bingung, namun tetap saja membalas pelukan wanita itu. Melebarkan senyumannya pada Sari. "Makasih ya tante" jawabnya.


"Sama-sama sayang" Kata Sari mengusap lembut pipi Sabilla. "Yaudah, sekarang kamu coba dulu deh gaunnya" Sari memberikan gaun minimalis dengan dasar Satin yang terlihat begitu mewah tersebut. Itu semua memang pilihan Yasmin, karena kain satin yang lembut dan berkilau tersebut akan membuat penampilan siapa saja yang memakainya akan terlihat glamour dan anggun.


Sabilla mengangguk mengikuti perintah Sari, iapun segera masuk ke dalam kamar ganti bersama beberapa karyawan Sari untuk mencobakan gaun pengantin tersebut.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like ya kak. Terimakasih :)


__ADS_2