My Poor Wife

My Poor Wife
Pisah Kamar


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Satu minggu sudah Sabilla tinggal di rumah baru bersama Farrel. Hanya mereka berdua yang mengisi rumah tersebut tanpa adanya asisten rumah tangga. Dan selama satu minggu juga lah mereka tinggal satu atap namun sama sekali tak bertegur sapa. Sabilla benar-benar bingung dengan sikap Farrel pada dirinya. Harusnya dia yang marah pada Farrel, namun kenapa justru sebaliknya?


Hari ini adalah hari minggu, kedua manusia itu hanya berdiam diri di kamar masing-masing.


Benar, semenjak tinggal di rumah baru tersebut, Farrel memilih untuk berpisah kamar dengan Sabilla. Di sana, mereka benar-benar hidup mengurus diri sendiri dibawah atap yang sama.


Meskipun Sabilla masih menyiapkan sarapan setiap hari untuk Farrel, namun pria itu sama sekali tidak mencicipi makanan tersebut dan justru memilih untuk order makanan secara online.


Hal itu tentu saja membuat Sabilla semakin jengkel pada Ayahnya. Pasalnya, hidup Sabilla benar-benar sudah hancur semenjak kehilangan Bunda dan kakaknya. Dan sekarang, ayahnya justru tiba-tiba menyuruh dirinya menikah di usia yang masih terbilang muda dan itu bersama pria yang sikapnya benar-benar aneh dan seringkali meperlakukan Sabilla dengan tidak baik.


Meskipun Sabilla hanya diam dengan apa yang ia rasakan, namun tetap saja sebagai manusia normal gadis tersebut memendam rasa sakitnya seorang diri. Rasa sakit yang tidak dapat ia bagikan pada siapapun. Karena Sabilla lebih memilih memendam hal itu sendiri daripada harus membawa orang lain dalam masalahnya.


Sabilla saat ini tengah duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela kamar. Matanya sembab, setiap hari ia harus meratapi nasibnya yang malang. Harta dan kekayaan yang saat ini ia miliki pun rasanya tidak ada gunanya sama sekali. Yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan dan keluarga yang utuh seperti dulu. Namun, sampai kapanpun itu tak akan pernah terjadi. Karena Bunda dan Kakaknya telah tenang di alam sana.


Ceklek


Di sela lamunannya, Sabilla menoleh ke arah belakang tatkala mendengar suara seseorang membuka pintu kamar yang saat ini ia kunci. Dengan langkah berat, Sabilla melangkahkan kaki untuk membuka pintu tersebut. Dan, terlihatlah Farrel di balik pintu dengan raut wajah yang tidak begitu ramah.


"Kak Farrel" gumam Sabilla pelan.


Farrel tak sedikitpun menghiraukan sapaan Sabilla. Pria itu justru menunjukkan wajah kesal yang begitu tidak ramah. Farrrel melangkahkan kakinya dengan tatapan tajam pada Sabilla. Hal itu benar-benar membuat Sabilla bingung, dan mundur perlahan.


"Kak Farrel, ada apa?" tanya Sabilla dengan begitu takut. Tangannya terlihat gemetaran, memegang meja kecil yang saat ini ada di belakang dirinya.


"Ini siapa?" Farrel mengeluarkan sebuah foto berukuran isi dompet. Ia mengangkat tangannya menunjukkan foto tersebut pada Sabilla.


Mata Sabilla terbelalak seketika. Ia segera berjalan dengan tergesa-gesa mencari sesuatu di dalam laci meja belajarnya. Namun, tidak ia temukan. Sabilla kembali menoleh ke arah Farrel.


"Kakak dapat foto itu darimana?" tanya Sabilla hendak mengambil foto tersebut, namun Farrel menghalangi foto tersebut dengan mengangkat tangannya ke atas.


"Lo nggak perlu tau gue dapat ini darimana. Sekarang gue tanya sama lo. Ini siapa?" bentak Farrel menarik tangan Sabilla dengan kasar.


"Sakit kak" ringis Sabilla.


"Makanya orang nanya dijawab" Bentak Farrel lagi.


"Dia mantan aku" Sabilla menundukkan pandangannya. Raut wajahnya berubah menjadi murung dan sedih seketika.


Farrel tersenyum menyeringai "Mantan? apa lo bilang? mantan?" Farrel melangkahkan kaki mendekati Sabilla. "Jadi selama ini lo masih mikirin mantan lo? Lo lupa, sekarang lo udah punya suami dan itu gue!" Bentak Farrel membuat membuat Sabilla kaget.


"Tapi kak..."


"Halah, gue nggak akan terima apapun alasan lo. Jadi lo diam-diam pengen balikan sama mantan lo? apa mungkin kalian juga sering ketemu di belakang gue?. Oke kalo itu mau lo, lo tenang aja, lo tingga nunggu sampai waktunya udah tepat. Gue juga akan ceraiin lo kok!"


Deg

__ADS_1


Jantung Sabilla berdetak dengan begitu kencang, ia sontak mendongakkan kepalanya ke atas menatap Farrel. Sungguh hatinya terasa begitu remuk mendengar ucapan yang keluar dari mulut Farrel. Mata Sabilla benar-benar terlihat sudah berkaca-kaca.


"Gimana dengan kak Farrel yang juga masih sangat mencintai kak Diara?" Batin Sabilla tanpa mau mengungkapkan langsung pada Farrel.


Farrel yang sudah dipenuhi dengan emosi itu segera pergi berlalu meninggalkan Sabilla. Gadis itu sontak terduduk lemas di lantai, Sabilla menangis se jadi-jadinya. Ia juga menarik rambutnya dengan kasar. Hingga deringan ponsel yang menghentikan tangisannya. Gadis itu segera meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Sabilla mengangkat panggilan yang tak lain berasal dari Yasmin ibu mertuanya.


Sabilla merarik nafas terlebih dahulu sebelum mulai berbicara dengan Yasmin. Gadis itu masih berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya dan Farrel.


Yasmin : "Sabil, kamu dimana sayang?"


Sabilla : "Aku di rumah Ma"


Yasmin : Kamu kenapa? habis nangis?"


Sabilla : "Nggak kok Ma, aku nggak nangis"


Yasmin : "Kalau gitu kamu sekarang ke rumah Ayah ya sayang"


Sabilla : "Kenapa Ma? Ada apa?"


Yasmin : "Pokoknya kamu kesini aja dulu sama Farrel ya sayang"


Sabilla : "Tapi Ma..."


Yasmin : "Tapi kenapa?


Yasmin : "Pergi? pergi kemana? Kamu habis berantem sama Farrel ya?"


Sabilla : "Nggak kok Ma, aku sama kak Farrel baik-baik aja.


Yasmin : "Yaudah, sekarang kamu siap-siap. Biar kak Faris yang jemput kamu ya." Sabilla mengetujui perintah Yasmin dan segera siap-siap berganti pakaian.


Setelah menutup sambungan telfon, Yasmin mengusap keningnya dengan kasar. Ia benar-benar merasa kesal dan kecewa pada Farrel putra keduanya itu.


"Kak, kamu jemput Sabil sekarang ya" Perintah Yasmin pada Farris.


"Lah, si Farrel kemana Ma?" tanya Farris.


"Itu dia masalahnya. Mama nggak ngerti lagi deh sama adek kamu itu" Ucap Yasmin dengan panik bercampur kesal mengingat Farrel.


"Hmmmm" Farris sudah paham dengan apa yang di maksud oleh Yasmin. Ia sangat mengetahui sifat adik satu -satunya itu.


"Nyesel Mama kenapa dulu nggak jodohin Sabil sama kamu aja. Kasihan anak orang digituin terus. Padahal Ayahnya pengen banget liat putrinya bahagia. Tapi yang ia dapati justru kesengsaraan bersma adek kamu" Tanpa ia sadari, cairan bening itu telh berhasil menetes di pipi Yasmin. Ia mengingat akan seperti apa Sabilla saat mengetahui semuanya nanti. Ditambah lagi dengan Farrel yang tidak pernah memperlakukan Sabilla dengan baik.


Faris mengusap punggung Yasmin dengan lembut. "Mama yang sabar ya, nanti aku akan cari Farrel dan kita akan ngomong sama dia baik-baik"


Yasmin mengangguk, Faris pun segera berlalu dari rumah Hermawan melajukan mobilnya untuk menjemput Sabilla.

__ADS_1


.


.


.


.


.


***


Di dalam mobil, Sabilla tak henti-hentinya menoleh ke arah Faris yang saat ini tengah mengendarai mobil di sampingnya. Gadis itu tampak memperhatikan penampilan Faris dengan style serba hitam dari atas sampai ke bawah.


"Kak Faris, emangnya ada apa sih kak?" tanya Sabilla yang benar-benar merasa penasaran.


Faris menoleh, menatap Sabilla dengan tatapan iba. "Nanti kita bicara di rumah kamu ya" Bujuk Farris lembut, kakak ipar Sabilla itu melebarkan senyuman padanya.


Sesampai di pekarangan rumah, Sabilla tampak bingung melihat banyaknya orang berpakaian baju hitam lalu lalang dari rumahnya. Hingga sampai di depan rumah, Sabilla juga melihat bendera kuning juga tertancap di sana, gadis itu kembali menoleh ke arah Faris dengan banyaknya tanda tanya yang ingin ia lontarkan.


"Kak, ini sebenarnya ada apa sih kak?" tanya Sabilla dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Firasatnya sungguh tidak enak melihat pemandangan seperti ini. Pemandangan yang persis sama ia lihat 7 tahun yang lalu.


Faris mengajak Sabilla keluar dari mobil, ia memapah adik iparnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Dengan langakah yang sangat berat, Sabilla mengikuti titah Faris, mata Sabilla masih mengeliling memperhatikan orang - orang sekitar. Sesekali Sabilla masih menatap Faris dengan bingung.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo semuanya, jangan lupa like, komen, love, dan share ya kalau mau. hehe terimakasih 🥰🥰🥰 Oiya, ada yang tau nggak itu ada apa di rumah Sabilla?


Satu lagi, aku mau nanya nih, sejauh ini menurut kalian gimana sih ceritanya? membosankan kah atau gimana?


Ada yang mau di sampaikan nggak sama Sabilla, Farrel, Kevin, dan Aura?


Yuk komen di bawah. Cukup hati aja yang kosong, kolom komentar jangan. wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2