My Poor Wife

My Poor Wife
Berpisah


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian sukaπŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Kak Farrel ngapain masih disini? Aku nggak butuh belas kasihan dari kak Farrel. Aku nggak butuh belas kasihan dari kalian semua, aku udah muak dengan semua ini.! Sekarang kak Farrel pergi.! Pergi tinggalin aku sendiri" Sabilla mengamuk, berteriak dengan histeris, memukul kepalanya sendiri, bahkan gadis yang masih berusia 18 tahun tersebut hendak mencabut selang infusnya sendiri, namun Farrel dengan cepat menghentikan.


"Sabil, aku nggak kasihan sama kamu. Tolong jangan seperti ini Sabil aku mohon" Farrel mencoba menenangkan Sabilla, memeluk istrinya itu dengan begitu erat meskipun Sabilla masih meronta ronta mencoba menjauh dan ingin dilepaskan oleh Farrel."


"Aku nggak butuh kalian semua, aku bisa sendiri, biarin aku hidup sendiri. Kalian semua pergi dari sini pergi!" Teriak Sabilla dengan histeris. Membuat Yasmin yang juga ada di dalam sana tak kuasa menyaksikan amukan menantunya yang selama ini hanya diam tersebut.


"Kak Farrel mau ninggalin aku kan, silahkan pergi, tinggin aku sekarang juga!" Teriak Sabilla.


"Nggak, aku nggak akan pergi ninggalin kamu Sabil. aku mohon jangan seperti ini" Farrel meyakinkan dengan suara yang begitu berat.


Yasmin melangkah mendekati Sabilla. "Sabil" Yasmin memeluk menantunya itu dengan air yang bercucuran di pipinya. "Mama mohon, maafin anak Mama, izinkan Mama menjaga kamu, karena Mama sayang sama kamu tulus melebihi anak Mama sendiri sayang. Mama mohon kamu tenang ya" Yasmin memeluk Sabilla dengan lembut, mengusap keringat yang bercucuran di dahi Sabilla.


Entah kenapa, Sabilla terdiam di pelukan Yasmin. Ia sangat tahu bahwa wanita yang memeluk dirinya itu sangat tulus menyayanginya. Rasanya Sabilla benar-benar tidak tega untuk menyakiti hati perempuan itu. Apalagi sampai membuatnya menangis.


"Tapi Sabil nggak kuat hidup seperti ini Ma. Sabil nggak kuat dengan perlakuan kak Farrel. Sabil nggak kuat selalu dituduh sebagai pelakor. Sabil hanya ingin hidup tenang. Hidup Sabil udah sengsara dari kecil. Sabil nggak sanggup lagi Ma. Sabil mohon, Sabil nggak mau lagi liat wajah kak Farrel."


"Sabil, kamu nggak pernah merebut aku dari Diara. Maafin aku..."


"Udah kak, aku nggak butuh lagi penjelasan kakak, aku mohon, kakak pergi dari hidup aku. Karena setiap kali aku lihat wajah kak Farrel, hati aku terasa sakit kak" Sabilla berbicara dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


Farrel terdiam sesaat. "Baiklah, kalau itu mau kamu, aku akan pergi dari hidup kamu, tapi satu hal yang nggak akan pernah aku lakukan. Aku nggak akan pernah menceraikan kamu. Aku hanya berharap semoga suatu saat kamu bisa maafin aku Sabil. Aku akan pergi, kamu jaga diri kamu baik-baik. Biar aku menyimpan semua penyesalan ini sendiri. Aku berhak mendapatkan ini semua."


Farrel berbicara dengan suara yang begitu berat. Yasmin menoleh ke arah Farrel, ia sangat tahu apa yang di rasakan ole Farrel saat ini, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena ia juga tidak ingin Sabilla semakin menyakiti dirinya sendiri. Saat ini Yasmin hanya bisa mengikuti kemauan Sabilla.


"Apa aku boleh peluk kamu sebelum aku pergi?" pinta Farrel menatap dalam mata Sabilla.


Sabilla hanya diam tanpa menoleh ke arah Farrel, tanpa menunggu persetujuan dari Sabilla, Farrel merengkuh tubuh gadis cantik tersebut. Memeluk dengan begitu erat. "Maafkan aku" Bisiknya di telinga Sabilla.

__ADS_1


Farrel melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Sabilla dengan langkah tertatih. Hatinya remuk, batinnya sungguh tersiksa saat ini. Namun, Farrel sadar bahwa ini semua terjadi juga karena kesalahan dirinya yang memperlakukan Sabilla dengan tidak baik selama ini. Karena Farrel tau, setiap kesabaran manusia itu ada batasnya.


πŸ’•


Farrel tengah duduk di kursi tunggu yang ada di sekitar rumah sakit, pria itu hanya diam, melamun menatap kosong ke sembarang arah.


Dari kejauhan, Farris memperhatikan Farrel, perlahan, pria itu melangkahkan kaki mendekati adik satu-satunya tersebut.


"Makannya, kalo suka itu dibilang! Jangan nyakitin! Karena nggak setiap orang pendiam itu akan diam selamanya dek"


Farrel menoleh ke arah Farris yang saat ini telah duduk di sebelahnya. Pria itu hanya diam tanpa ingin menyauti.


"Lo beneran Farrel nggak sih! Belum pernah gue lihat seorang Farrel Ananda Putra se galau ini" Farris cengengesan, mencoba menghibur adiknya yang saat ini sangat ia tahu sangat tersiksa dengan penyesalan. Ia juga tahu bahwa cinta Farrel untuk Sabilla benar-benar tulus, bahkan lebih tulus dari cinta Farrel pada Diara sebelumnya.


"Sekarang lo sabar aja dek, perempuan itu emosinya hanya sesaat. Sebaiknya lo beri Sabil waktu buat nenangin diri dulu. Nanti kalo keadaan dia udah mulai membaik, lo bisa coba jelasin ke dia perasaan lo yang sebenarnya." Farris tersenyum menepuk pundak Farrel.


"Gue bisa nunggu kak, karena gue sadar gue salah. Tapi setelah ini Sabil udah pasti nggak akan mau tinggal sama Mama. Gue cuma mikir gimana dia akan tinggal di rumah itu sendiri. Gue tau, Sabil itu takut petir. Dia pernah bilang, biasanya kalo hari hujan dia selalu tidur sama Ayahnya. Sekarang? siapa yang akan jagain dia di rumahnya?"


Farrel mengusap rambutnya dengan kasar, ia benar-benar merasa frustasi dan tidak tau harus berbuat apa saat ini. Farrel benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga saat hari-harinya masih bersama Sabilla.


.


Sabilla saat ini tengah berbaring di ruang perawatannya. Gadis itu hanya diam semenjak kepergian Farrel dari sana. Yasmin, Aura, Kevin, dan Asep yang masih menunggu disana hanya diam memperhatikan Sabilla dari sofa yang ada di rumah sakit tersebut.


"*Bunda"


"Kalau Bunda masih ada, apa hidup Sabil akan masih seperti ini? Apa Sabil bisa bahagia kalau sama Bunda? Kenapa hidup benar-benar nggak adil buat Sabil Bunda? Kenapa semua harus pergi dari Sabil? Apa Sabil jahat sama kalian? Kenapa Bunda sama ayah lebih milih kak Nabila? Kenapa Bunda hanya menjemput Ayah? Sabil rindu Bunda, Ayah, kak Nabila. Sabil pengen bersama kalian*" Batin Sabilla.


Gadis itu melamun menatap kosong ke arah depan dengan fikiran-fikiran akan tentang nasibnya. Air mata tak berhenti mengalir di pipi mungil Sabilla.

__ADS_1


***


"Sekarang lo mending pulang dulu dek, lo istirahat dulu, tenangin hati dan fikiran lo juga. Saat ini Sabil biar gue sama Mama dulu yang jagain dia" Ucap Faris pada Farrel yang saat ini masih bengong menatap kosong ke sembarang arah.


Farrel menoleh ke arah Faris kemudian mengangguk, setelah itu ia berjalan dengan tidak bersemangat dan raut wajah yang begitu murung, keluar dari rumah sakit menuju parkiran untuk mengambil mobil miliknya.


Di perjalanan, fikiran Farrel tak sedetik pun terlepas dari Sabilla, bayang-bayang gadis polos itu tak henti menari-nari di fikirannya. Bayangan dari saat pertama kali mereka bertemu pada saat ospek, pertemuan kedua saat Farrel tidak sengaja mencium Sabilla di kampus, pertemuan ketiga di rumah Sabilla saat mengetahui bahwa mereka akan di jodohkan. Dan hari-hari selanjutnya setelah pernikahan mereka. Hari dimana dirinya selalu melihat sarapan di meja makan yang sama sekali tidak pernah ia makan. Hari dimana dirinya selalu mengabaikan keberadaan Sabilla.


Semua itu benar-benar menghantui fikiran Farrel saat ini. Penyesalan itu benar-benar nyata untuk ia rasakan. Jika saja bisa, ingin rasanya Farrel mengembalikan waktu yang telah ia sia-siakan tersebut. Namun sayang, hal itu benar-benar benar mustahil adanya.


Waktu yang sudah berlalu memang tidak akan pernah dapat diputar kembali, apalagi diulang, Namun Farrel masih bisa memperbaiki semua kesalahannya dengan waktu yang masih tersisa untuk kedepannya.


.


.


.


.


.


.


.


**Hallo semuanya, sesuai dengan judulnya, cerita ini itu memang cerita sedih yang mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis yang bernama Sabilla.


Terus nggak ada bahagianya dong thor? Tenang aja, pasti ada kokπŸ˜„ tapi untuk episode-episode kali ini sedih-sedih dulu ya. Nanti pasti lah ada bahagianya karena aku nggak akan bikin cerita sad ending. Cukup kisah nyata aku aja yang sad. Sabilla jangan wkwkwk.

__ADS_1


Oke. Intinya nikmati dulu ya prosesnya, karena semua butuh proses kan, ini masih proses Sabilla menuju bahagia kok. Jadi sabar dulu ya. wkwkwk


Terimakasih yang masih setia ikutin kisah Sabilla. Semoga kalian suka ya. Jangan lupa, ah bosan ngomong itu mulu, kesannya kek maksain banget buat like cerita yang alakadar ini ya. Yaudah kalau gitu siapa yang mau like, komen, dan vote aja deh. Terimakasih banyak semuanyaπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•**


__ADS_2