
Setelah acara ulang tahun + perayaan Anniversarry pernikahan Sabilla dan Farrel 1 jam yang lalu, kediaman Yasmin dan Asep yang tadinya terlihat begitu ramai, sekarang sudah kembali sepi. Hanya keluarga merekalah yang saat ini masih tinggal di sana dan ditambah dengan Aura dan Tasya.
Aura tampak tengah duduk sendiri di teras rumah Sabilla, menatap bulan dan bintang dari sana. Entah apa yang ada dalam fikiran wanita itu. Sabilla yang menyadari akan hal itu, sejenak memperhatikan Aura dari kejauhan sebelum dirinya melangkahkan kaki mendekat pada Aura.
"Selama ini lo selalu tau ya Wa kalau gue lagi ada masalah, lo selalu peka dengan apa yang gue rasakan, lo bisa liat tanpa gue kasih tau. Tapi gue? gue selama ini bahkan nggak menyadari kalau sahabat gue ini juga lagi ada masalah. Dia selalu ngelarang gue untuk jangan mendam masalah gue sendiri, tapi dia justru yang memendam masalahna sendiri."
Aura memalingkan pandangannya ke arah belakang saat mendengar suara yang memang tidak asing bagi dirinya itu. Gadis cantik itu sejenak memperhatikan langkah Sabilla yang semakin lama semakin mendekat dan saat ini Sabilla ikut mendudukkan tubuhnya di samping Aura.
"Sekarang gue tau kenapa lo bisa ngerti dengan apa yang gue rasain selama ini Wa. Karena sekarang gue juga bisa merasakan, gue bisa lihat dari raut wajah dan mata lo."
"Setelah gue perhatiin, dan menurut prediksi gue sih lo lagi mendam sesuatu, sedih yang gue nggak tau itu kenapa. Kalau lo mau cerita, gue siap kok dengerin, dan kalaupun lo butuh bantuan gue juga siap bantuin"
Aura menoleh ke samping, tersenyum melirik Sabilla, berbeda dengan hatinya yang saat ini sesungguhnya ingin meronta-ronta, dan menangis sejadi-jadinya.
Aura memang selalu menasehati Sabilla, tapi ia sendiri tidak mampu melakukannya. Karena apa? Karena melakukan sendiri tak segampang berbicara.
Aura menatap lurus kedepan sembari memainkan jari-jarinya. "Bil, gue salah apa sih sama kak Kevin? apa segitu bencinya kak Kevin sama gue? dia bahkan nggak datang ke acara ini karena ada gue". Aura tersenyum menyeringai, kemudian menundukkan pandangannya.
"Siapa bilang kak Kevin nggak datang karena ada lo? Dia datang kok, meskipun terlambat"
Aura kembali memalingkan pandangannya pada Sabilla, matanya membulat sempurna saking tidak percayanya. "Serius lo? kenapa dari tadi gue nggak lihat?"
"Lo mau lihat?" tanya Sabilla.
"Enggak, enggak" Jawab Aura gugup dengan raut wajah yang kembali murung.
__ADS_1
"Sebenarnya lo ada masalah apa si Wa sama kak Kevin? Biasanya lo genit banget sama dia, tapi setelah gue sadari, belakangan ini lo kayak menjauh gitu dari kak Kevin. Sebenarnya ada apa sih?"
"Bukan apa-apa sih Bil sebenarnya, tapi gue sengaja menjauh karena gue sadar diri. Gue sadar, selama ini gue hanya jadi benalu buat kak Kevin, gue selalu ganggu dia hingga kak Kevin merasa risih karena sikap gue"
"Kak Kevin sedikitpun nggak pernah mengannggap gue ada. Padahal gue udah kayak wanita bodoh dan tidak tahu malu, blak- blakan menggoda dia. Tapi dia justru sedikitpun nggak ngelirik gue. Dan gue juga tau kalau kak Kevin sangat menyukai lo" Aura kembali menundukkan pandangannya.
Sabilla memegang pipi Aura dengan kedua tangannya, mendongakkan kepala sahabatnya itu ke atas agar lebih leluasa menatap dirinya.
"Jadi ini, penyebab lo menjauhi Kak Kevin? Wa, lo sadar nggak sih, semua yang ada di dunia ini butuh proses untuk mencapai atau menjadi sesuatu. Nggak ada yang instan Wa, nggak ada. Bahkan mie instan yang katanya instan aja masih butuh proses kan untuk kita bisa memakannya? Harus dimasak dulu ini ada itu."
"Lo nggak boleh pesimis gitu Wa. Siapa yang tau isi hati seseorang? nggak ada kan?"
"Lo nggak boleh berfikir dengan asumsi lo sendiri. Oke, kita anggap kak Kevin nggak suka sama lo, tapi belum tentu juga kak Kevin benci kan? Lagian hati seseorang nggak ada yang tau, gue sama kak Farrel aja nggak ada yang menyangka bakal seperti ini. Lo tau kan gimana Kak Farrel dulu sangat mencintai kak Diara? Lo tau kan, dulu kak Farrel membenci gue karena apa? hanya karena kak Diara membenci gue dia jadi ikutan benci! Padahal gue nggak ada salah apa-apa sama kak Farrel."
"Segitu cintanya kak Farrel sama kak Diara sampe dia ikut-ikutan membeci orang yang dibenci oleh orang yang dia cintai. Tapi sekarang lo liat kan? semua itu berubah dalam waktu yang singkat. Kak Farrel aja bisa gitu, apalagi kak Kevin."
"Semua itu butuh proses wa, termasuk mencintai seseorang. Nggak ada yang instan, bahkan indomie yang katanya mie instan aja butuh proses kan bikinnya?" Sabilla cengengesan.
"Apaan sih lo daritadi itu mulu" Aura mendorong Sabilla.
"Lah kan bener? emang tadi gue udah ngomong ya?"
"Udah Sabilku sayangggggggg. Iya sih Bil, gue tau. Tapi itu Kak Farrel, kak Farrel sama kak Kevin itu beda. Keputusan gue udah bulat, gue nyerah untuk ngejar kak Kevin. Gue nggak mau ganggu hidup kak Kevin lagi. Dan lebih baik gue mencari seseorang yang memang tulus menyayangi gue. Karena jatuh cinta sendiran itu sakit banget lo bil"
"Iya gue tau Wa, tapi lo nggak harus ngejauh juga. Lo masih bisa kan, temenan sama kak Kevin? nggak ada salahnya kan lo temenan lagi sama kak Kevin kayak dulu?"
__ADS_1
"Justru kalo gue temenan dan masih dekat-dekat sama kak Kevin, yang makin tersiksa itu gue Bil, gue nggak akan sanggup"
"Oke, lebih baik sekarang kita dulu, nanti lo sakit, nggak sehat angin malam kayak gini" Sabilla mengajak aura untuk segera masuk ke dalam rumah.
***
Di ruang tengah, Yasmin, Farris, Asep, dan Tasya tampak sedang beristirahat karena kelelahan. Sementara Farrel dan Kevin tampak tengah berbincang di meja yang ada di pinggir kolam renang.
Sabilla dan Aura yang baru saja datang ikut mendudukkan tubuhnya di ruang tengah bersama mertua dan iparnya itu. Hingga tak berselang lama, Farrel dan kevin datang dan juga ikut mendudukkan tubuhnya di sana.
Yasmin tersenyum. "Kenapa Mama senang banget ya liat suasana rame kayak gini? Berasa punya anak banyak" Yasmin cengengesan. "Seru kali ya kalo punya anak banyak, jadi rame kayak gini" Timpalnya lagi.
"Ya seru lah, apalagi..."
Yasmin dengan segera membungkam mulut Asep yang entah akan berbicara apa. Tapi Yasmin sudah merasa bahwa suaminya itu akan berbicara yang tidak-tidak di depan anak, menantu serta teman dari anak-anaknya.
"Papa nggak usah ngomong" Seru Yasmin menatap tajam suaminya itu, hingga membuat mereka yang ada di sana tertawa melihat tingkah sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like ya, makasih :)
Yang nanyain Tasya sebenarnya siapa, flashbacknya mana. Sabar ya kakak, nanti akan ada kok. Aku up kan cuma satu bab perhari, sementara Tasya entah ada di bab mana.wkwkwk jadi ikutin aja alurnya ya kakak-kakak. Bakal ada penjelasannya kok.