My Poor Wife

My Poor Wife
Tidak Seberuntung Yang Lain


__ADS_3

Pagi ini sinar matahari sudah mulai menampakkan diri, ia berhasil menembus celah-celah fentilasi kamar Sabilla. Namun, hal itu tetap saja tidak membuat Sabilla bangkit dari tidurnya meskipun gadis itu sudah terbangun sedari tadi.


Sabilla saat ini sudah kembali ke rumah setelah pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu. Saat ini Sabilla ditemani oleh Aura di rumahnya. Karena benar yang dikatakan oleh Farrel pada Faris ketika di rumah sakit, bahwa Sabilla tidak mau akan mau tinggal bersama Yasmin meskipun mertuanya itu sudah berusaha untuk meyakinkan Sabilla bahwa Farrel tidak akan berada di rumah.


Namun, gadis itu tetap kekeh untuk tinggal di rumahnya dan alhasi Aura lah yang menemani Sabilla hingga keadaannya kembali pulih sampai waktu yang belum dapat dipastikan. Meskipun begitu, Yasmin akan selalu mengunjungi Sabilla setiap hari dan mejaga menantunya itu.


Sebelum memutuskan untuk menemani Sabilla, Aura tentu saja sudah meminta izin kepada maminya terlebih dahulu. Ia tak lupa pula menceritakan semua yang terjadi pada Sabilla pada maminya. Hingga ibu dari 4 anak itu ikut merasa prihatin dan mengizinkan Aura menemani Sabilla untuk sementara waktu.


"Bil, lo makan dulu ya" Ajak Aura yang saat ini tengah berdiri di tepi ranjang, namun tak ada sahutan dari Sabilla yang masih berbaring membelakangi Aura.


"Bil, gue mohon, sampai kapan lo akan begini terus? lo harus makan bil. Kalo nggak lo bisa sakit!" Aura berbicara dengan sedikit pemaksaan sembari mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang Sabilla.


Sabilla menoleh ke arah belakang. "Gue nggak selera makan wa!" tegasnya.


"Bil, lo jangan nyiksa diri lo seperti ini! Lo harus ingat, masih banyak yang sayang dan peduli sama lo. Gue nggak sanggup liat lo begini terus!" Aura berbicara dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.


Sabilla mendudukkan tubuhnya. "Wa, kenapa sih hidup gue nggak seberuntung lo? kenapa hidup gue nggak seberuntung orang lain? kenapa semuanya harus pergi dari gue? gue salah apa? apa gue nggak berhak bahagia seperti mereka?" Ucap Sabilla dengan suara yang begitu berat diiringi oleh cairan bening yang ikut menetes di pipinya.


"Bil, lo nggak boleh ngomong gitu, disini masih banyak yang sayang sama lo, masih banyak yang peduli sama lo. Lo nggak boleh membandingkan hidup lo dengan hidup orang lain. Karena Allah sudah menentukan jalan hidup masing-masing umatnya. Dan lo juga harus percaya bahwa di balik yang lo hadapi saat ini pasti ada hikmahnya." Aura memgang pundak Sabilla, berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu.


"Hikmah apa? hikmah seperti apa jika semuanya harus pergi dari gue?"


"Bil, coba deh lo fikir, diluar sana masih banyak anak-anak yang udah ditinggal oleh orang tuanya, ditinggal hidup ataupun meninggal. Dan bahkan mereka hanya tinggal seorang diri terlontang lantung tanpa sanak saudara."


"Sedangkan lo? lo masih punya gue, masih punya mertua yang baik, punya kakak ipar yang baik, dan punya suami yang sayang sama lo. Lo nggak boleh membandingkan hidup lo dengan orang lain Bil, karena masih banyak anak-anak yang tidak seberuntung lo di luar sana."


"Dan kalau lo membandingkan dengan keluarga gue yang masih lengkap? Siapa yang tau tentang umur? siapa yang jamin semuanya akan tetap utuh selamanya? Karena Allah bisa mengambil semuanya kapanpun dia mau. Jadi gue mohon, berhenti untuk membandingkan hidup lo dengan orang lain bil. Karena hidup akan selalu merasa tidak adil jika lo terus membandingkan hidup lo dengan orang lain"

__ADS_1


"Lo harus bangkit, karena hidup akan terus berjalan, gue yakin, ini semua hanya masalah waktu, cepat atau lambat lo pasti bisa lalui semua ini"


Sabilla sontak kaget menoleh mendengar ucapan Aura yang terakhir kali. "Lo dapat kata-kata itu dari mana?" tanya Sabilla.


"Kata-kata yang mana? daritadi kata-kata gue banyak banget buat bikin lo sadar!" Aura cengengesan mencoba menghibur Sabilla.


Sabilla terdiam memikirkan sesuatu, ia teringat akan ucapan Gilang, ucapan yang sama persis di lontarkan oleh Aura barusan.


Benar, Gilang adalah mantan kekasih Sabilla. Kata-kata yang diucapakan Aura adalah kata-kata yang sama pernah Sabilla dengar dari mulut Gilang saat Gilang selalu memberi dirinya semangat. Dan hal itulah yang membuat Sabilla bisa kembali bersemangat menjalani hidup, karena dulu Gilang selalu ada di sisinya.


Namun, takdir justru berkata lain, Gilang juga pergi untuk selama lamanya saat hari kelulusan mereka. Pada saat itu, Sabilla dan Gilang hendak merayakan hari kelulusannya. Namun, di perjalanan menuju rumah Sabilla, Gilang kecelakaan hingga mengakibatkan meninggal di tempat.


Hal itulah yang sebenarnya membuat Sabilla menjadi murung dan pendiam saat pertama kali dirinya mengikuti ospek hingga di bentak oleh Diara. Saat itu Sabilla benar-benar merasa terpukul. Dulu, Sabilla dan Gilang juga sudah merencanakan untuk masuk ke Universitas Trisakti bersama. Namun, takdir benar-benar berkata lain dan tidak berpihak pada mereka.


"Lo kenapa Bil?" tanya Aura menyadarkan Sabilla dari lamunannya.


"Yaudah, lo makan ya" Aura kembali membujuk Sabilla, gadis tersebut mengangguk kemudian mereka keluar dari kamar Sabilla menuju meja makan. Disana sudah ada berbagai makanan yang telah di siapakan oleh Bi Mirna.


Namun, baru saja Sabilla dan Aura mendudukkan tubuhnya, tiba-tiba saja dua gadis cantik itu dikagetkan dengan Kevin yang baru saja datang tanpan permisi maupun mengucap salam. Hal itu membuat Aura memalingkan wajahnya seketika.


Kevin duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan tersebut, kursi yang berada tepat di depan Aura. Pria itu tak sengaja melirik Aura yang ia rasa sikapnya berubah belakangan ini.


"Bil, lo mau nggak jalan-jalan sama gue?" tanya Kevin tanpa basa basi, membuat Aura yang tengah meneguk air putih tersebut tersendak.


"Hm, jalan-jalan?" Sabilla mengerutkan keningnya.


"Iya, jalan-jalan. Kalo nggak main ke rumah gue" Usul Kevin.

__ADS_1


"Nggak usah kak, aku di rumah aja" Jawab Sabilla.


"Bil, mending lo ikut sama kak Kevin aja deh, biar ngilangin kesediahan lo. Lagian, gue sebenarnya juga mau pulang bentar. Berhubung di sini ada kak Kevin, mending lo ikut aja dulu. Sekalian cari udara segar biar fikiran lo bisa lebih tenang."


"Nggak mau ah, gue..."


"Udahlah Bil, nggak papa, gue ada urusan sebentar sama Mami, nanti gue balik lagi kok kesini. Mending sekarang lo jalan-jalan aja dulu sama kak Kevin."


Kevin menoleh ke arah Aura, ia benar-benar merasa ada yang aneh dengan sikap juniornya yang biasa terlihat centil terasebut. Namun, Kevin justru cuek tak peduli. Sabilla hanya diam pasrah, mengikuti apa yang diucapkan Aura.


***


Sabilla baru saja keluar dari rumah mewahnya itu bersama Kevin. Sebenarnya ia benar-benar merasa enggan untuk pergi, namun entah kenapa hatinya justru tak ingin menolak.


Kevin membukakan pintu mobil untuk Sabilla. Dari kejauhan, di tempat yang sama, Farrel juga berada di sana. Saat ini ia berada di dalam mobilnya memperhatikan Sabilla dari kejauhan. Ingin rasanya Farrel mendekati Sabilla, namun ia tak cukup berani dan tak ingin membuat Sabilla menyakiti dirinya lagi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2