
Sabilla tak mampu lagi menahan air matanya. Benar, surat itu adalah surat dari Hermawan yang ia tulis sebelum dirinya meninggal.
Cairan bening itupun berhasil menetes sangat deras di pipi mungil Sabilla, gadis itu terduduk lemas di lantai di pinggir tempat tidur.
Tangan Sabilla masih memegang surat tersebut. Rasanya gadis itu sungguh menyesal. Selama ini ia bahkan membenci ayahnya karena hanya sibuk dengan pekerjaan tanpa memperhatikan dirinya.
Tapi bahkan ia tidak tahu bahwa dibalik semua itu Ayahnya telah berjuang melawan penyakit sendrian, tanpa ada yang mendampingi, tanpa ada yang memberi semangat. Sabilla sungguh merasa bersalah dan berdosa pada ayahnya.
Sabilla memang tidak mengetahui bahwa Hermawan meninggal karena penyakit jantungnya. Yang ia tahu selama ini ayahnya meninggal tanpa sebab dan karena sudah waktunya.
Benar, pada saat itu Yasmin memang sudah memberi tahu Farrel apa yang terjadi sebenarnya. Tapi sampai saat ini Farrel bahkan belum memberi tahu Sabilla tentang Ayahnya.
Untuk memberikan surat itupun Farrel masih berfikir, karena ia tidak mau Sabilla kembali mengingat dan bersedih. Farrel sudah berniat untuk memberikan surat tersebut suatu saat nanti saat Sabilla benar-benar sudah siap untuk melepaskan semuanya.
Tapi apa boleh buat, Sabilla sudah mendapatkan surat tersebut sendiri sebelum Farrel memberitahu semuanya.
Tubuh Sabilla melemas, gadis itu menatap kosong ke depan selah memikirkan sesuatu dengan surat yang masih berada di tangannya.
Dada Sabilla terasa sesak, bahkan menangis sederas mungkin pun tidak mampu melegakan rasa sakit yang saat ini ia rasakan.
Sementara Farrel, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi seusai membersihkan diri. Farrel mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya. Namun, aktivitas pria itu terhenti saat dirinya tidak mendapati Sabilla di dalam kamar tersebut.
Farrel menoleh ke arah sekitar, mencari keberadaan Sabilla.
"Sabil"
"Sabil"
Sorak Farrel hingga langkah kaki Farrel terhenti saat pria itu mendapati Sabilla tengah terduduk lemas di lantai dengan ranjang menjadi sandaran.
Farrel mendekat. "Sabil, kamu kenapa?" Tanya Farrel lembut memegang pundak Sabilla.
__ADS_1
Sabilla menoleh, menatap Farrel dengan tatapan sendu. Mata gadis itu kembali berkaca kaca.
Farrel menangkup kedua pipi Sabilla. "Kamu kenapa sayang?" Tanya Farrel sedikit memaksa Sabilla untuk segera memberi jawaban.
"Kenapa kak Farrel nggak pernah bilang tentang ini sama aku?" Tanya Sabilla sembari mengangkat surat yang semula masih berada di tangannya.
Mata Farrel mengikuti gerak tangan Sabilla, alhasil pria itu kaget saat Sabilla sudah menemukan surat dari ayahnya sendiri.
Farrel kembali mengalihkan pandangannya pada Sabilla, menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Karena Farrel jelas tahu apa yang dirasakan oleh Sabilla saat ini.
"Sayang, kamu dengerin penjelasan aku dulu ya. Aku nggak bermaksud untuk menyembunyikan semua itu dari kamu." Sahut Farrel berusaha menjelaskan.
"Terus kenapa dari dulu ka Farrel nggak bilang tentang semua ini?" Tanya Sabilla dengan air mata yang sudah kembali menetes di pipinya.
"Sabil, kamu tenang ya. Aku nggak bermaksud untuk nggak ngasih surat ini sama kamu. Aku pasti akan ngasih tau kamu. Tapi aku hanya takut, saat kamu tau, kamu akan kembali nggak tenang. Aku nggak mau itu terjadi lagi, aku liat kamu bahagia seperti sekarang aja udah senang banget, makannya aku belum mau menghancurkan itu semua untuk saat ini."
"Aku masih ingin melihat kamu bahagia, tertawa, dan sedikit melupakan kesedihan kamu"
"Itulah sebabnya aku belum berani memberikan surat itu sama kamu."
"Aku sempat berfikir, mungkin suatu saat jika kita sudah memiliki anak, kamu akan lebih bisa menerimanya. Itulah sebabnya aku belum mau memberitahu kamu sekarang. Maafkan aku sayang, aku cuma nggak mau liat kamu bersedih lagi. aku bahkan udah janji sama diri aku sendiri untuk selalu membuat kamu bahagia."
"Sungguh, aku nggak pernah bermaksud untuk menyembunyikan semuanya dari kamu. Aku tau aku salah, tapi percayalah, aku hanya ingin melihat kamu tersenyum, dan menangis bahagia. Karena kamu udah cukup menderita selama ini. Maafkan jika cara aku salah"
Farrrel memeluk Sabilla dengan penuh kasih sayang. "Maafin aku, aku nggak ada maksud untuk menutupi semuanya dari kamu." Ucap Farrel di pelukan Sabilla. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
Air mata kembali mentes di pipi Sabilla. "Aku anak durhaka kak Farrel, aku anak nggak berguna, aku bahkan nggak tau kalau ayah aku sedang berjuang melawan penyakitnya sendirian. Aku bahkan membenci ayah aku sendiri tanpa aku tahu niat ayah semuanya baik untuk aku."
"Aku memang anak nggak berguna, anak durhaka!" Ucap Sabilla di sela isak tangisnya di dalam pelukan Farrel.
Farrel menangkup kedua pipi Sabilla. "Enggak sayang, kamu nggak salah, disini nggak ada yang salah. Semua terjadi sudah karena takdir. Kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Yang ada kamu Justru membuat ayah kamu semakin nggak tenang disana.
__ADS_1
"Tapi kak..."
"Stttt nggak ada pake tapi tapian, aku udah pernah bilang, kamu nggak boleh terlalu berlarut dalam kesedihan sayang. Sekarang kamu udah tau semuanya kan, jadi aku harap kamu bisa hidup tenang mulai saat ini. Ingat, masih ada aku yang sayang sama kamu. Masih ada Mama, Papa, Kak Faris, Aura, dan juga Tasya yang sayang sama kamu.
"Tapi aku berdosa sama Ayah kak. Aku berdosa, aku nggak bisa ngebayangin gimana perasaan Ayah selama ini saat Ayah tahu bahwa aku membenci Ayah."
"Enggak sayang, Ayah pasti ngerti. Aku mohon, jangan kayak gini, demi aku"
Farrel menyapu air mata Sabilla dengan ibu jarinya. Pria itu menempelkan keningnya dengan Sabilla.
"Aku sayang sama kamu. Aku nggak mau liat kamu kaya gini. Aku mohon, ikhlaskan semuanya. Karena aku juga sangat tersiksa liat kamu kayak gini."
Sabilla memeluk Farrel dengan sangat erat. "Maafin aku kak Farrel. Terimakasih kak Farrel sudah hadir di hidup aku. Terimakasih kak Farrel sudah mau menerima perempuan seperti aku. Terimakasih kak Farrel sudah menyayangi aku dengan tulus."
"Aku fikir, selama ini hanya Gilang satu satunya orang yang terbaik di dunia ini. Aku fikir, hanya Gilang satu-satunya orang yang paham dengan apa yang aku rasanya. Ternyata aku salah, ternyata Tuhan punya rencana lain, hingga kita dipertemukan"
"Tuhan mempertemukan aku dan keluarga kak Farrel, menjadikan aku istri kak Farrel."
"Aku bahkan merasakan kehangatan di keluarga ini. Terimakasih atas semua kebaikan kalian karena sudah menerima gadis malang seperti aku"
"Mulainsaat ini, aku janji. Aku janji sama diri aku sendiri, aku nggak akan pernah bersedih lagi. Aku akan selalu mensyukuri apa yang aku punya saat ini. Aku janji"
"Makasih sayang, makasih" Farrel mengecup puncak kepala Sabilla dengan penuh kasih sayang. "Aku akan selalu menjaga kamu, menyayangi kamu dengan tulus."
Farrel memapah Sabilla untuk segera naik ke atas tempat tidur, pria itu menyelimuti tubuh Sabilla dengan selimut sebelum dirinya ikut membaringkan tubuh di samping Sabilla.
Farrel menyandarkan kepala Sabilla di bahunya, dengan tangan Sabilla melingkar erat di pinggangnya. Pria itu mengelus rambut Sabilla lembut, menatap lekat wajah gadis yang sangat ia cintai itu. Farrel berkali-kali mengecup kening Sabilla saat Sabilla sudah terlelap akan tidurnya.
.
.
__ADS_1
.