My Poor Wife

My Poor Wife
Extra Part 5


__ADS_3

Hai semuanya. Ini adalah extra part terakhir ya. Dan untuk cerita Aura aku udah memutuskan untuk post di aplikasi ini aja. Karena ribet juga kalo pindah ke WP. Tapi nanti cerita Aura akan ada di karya baru dengan judul baru juga ya. Sekedar info, aku akan mulai publish cerita Aura tanggal 21 July. Terimakasih πŸ’•


_________________________________________


Keesokan Harinya, pukul 20.00, semenjak selesai makan malam barusan, Farrel saat ini tengah duduk di ruang tengah sambil menonton Televisi.


Tak berselang lama, Sabilla datang dari arah dapur membawa satu gelas kopi untuk Farrel. Gadis itu menaruh kopi tersebut di atas meja yang ada di sekitar sana.


"Selamat menikmati suamiku" Sabilla tersenyum kemudian mencium pipi Farrel gemas.


"Dari kemaren aku perhatiin kayaknya kamu senang banget deh sayang" Ucap Farrel sembari memeluk tubuh ramping Sabilla di pangkuannya.


"Emang iya? Tapi aku merasa biasa aja deh" sahut Sabilla sok cuek.


"Iya, nggak kayak biasanya. Biasanya mana mau manja-manja gini. Yang ada aku terus yang nyosor sama kamu" Farrel tertawa. "Tapi nggak papa deh bagus banget kalo kamu kayak gini." Sahut Farrel kemudian. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Assalamu'alaikum"


Suara itu terdengar dari ruang tamu. Benar, suara itu berasal dari suara cempreng Tasya.


Farrel dan Sabilla sama-sama menoleh ke arah belakang.


"Astaugfirullah, sering banget mata gue ternodai tiap kali kesini" Ucap Tasya kaget.


"Lebay, alay" Sahut Farrel. "Ngapain lo kesini anak manja?" Sambung Farrel kemudian.


"Eh beruang kutub, emangnya gue nggak boleh kesini?" Sahut Tasya sewot.


"Enggak" Jawab Farrel singkat.


"Dasar abang nggak ada akhlak" Tasya melototkan mata tajam seraya mendekati Sabilla dan Farrel. Gadis itu duduk di sofa yang ada di ruang tengah bersama Sabilla dan Fareel.


"Tumben lo kesini malam-malam sendirian?" Farrel kembali bertanya.


"Tumben apanya, orang biasanya juga gue sering kesini sama Mama. Pura-pura lupa lagi lo"


"Ya, maksud gue gitu. Biasanya lo kesini sama Mama. Sekarang tumben-tumben aja sendiri malam-malam gini. Mama tau nggak? Apa lo kabur dari rumah? Putus cinta?" Pertanyaan itu jelas saja mengejek.


"Yaelah sembarang aja lo kalo ngomong. Nih, gue mau nganterin ini sama lo. Udah untung gue mau berbaik hati" Tasya memberikan sebuah kotak yang sudah di kadokan pada Farrel dengan bibir yang tidak henti menggerutu kesal.


Kening Farrel tertaut, melirik benda yang saat ini pegang oleh Tasya. "Apaan nih?" Tanya Farrel.


"Ya mana gue tau." Ketus Tasya menjawab.


"Lah, kan ini dari lo?"


"Bukan dari gue, tapi dari mantan lo siapa namanya tu si Diara!"


Deg


Farrel kaget, pria itu sontak melirik ke arah Sabilla. "Apaan sih lo becandanya nggak lucu!" Farrel menolak kado tersebut dari Tasya.


"Yee siapa yang becanda, orang dia yang ngasih langsung ke rumah barusan. Makannya gue langsung kesini. Kalo lo nggak percaya lo tanya aja sama Mama"


Farrel terdiam, melirik Sabilla yang sudah menunjukkan raut wajah tidak ramah.

__ADS_1


"Sayang aku bisa jelasin, aku nggak ada apa-apa lagi sama Diara." Ucap Farrel menggenggam tangan Sabilla, dan meyakinkan gadis itu.


"Kalo nggak ada hubungan apa-apa kenapa kak Diara sampe ngirim-ngirim kado segala?" Sahut Sabilla sewot.


"Ya aku nggak tau juga kenapa" Farrel menoleh ke arah Tasya. "Mendong lo buang aja deh itu kado jauh-jauh" perintah Farrel pada Tasya.


"Yee enak aja lo main buang-buang. Dibuka dulu, siapa tau isinya berlian" Ucap Tasya cengengesan.


"Nggak mau, kalo lo mau silahkan lo ambil aja"


"Kenapa kak Farrel jadi takut gitu? Kalo bener nggak bersalah ya harus berani dong. Coba di buka, atau jangan-jangan kak Farrel takut ketahuan sama aku? gitu?"


Farrel mengacak-acak rambutnya dengan kening berkerut. "Serba salah ya" Ucap pria itu menyeringai.


"Yaudah, sini gue buka" Farrel mengulurkan tangannya pada Tasya.


"Aku mau buka ini karena cuma mau buktiin ke kamu kalau aku nggak pernah lagi berhubungan sama Diara. Dan setelah aku buka, kamu nggak boleh larang aku untuk buang apapun isinya" Ucap Farrel.


"Yakin lo mau buang?"


"Maksud lo apaan sih anak manja, nggak usah jadi kompor deh lo"


"Yang ada lo bisa jungkir balik saking senangnya" Sambung Tasya kemudian, gadis itu tersenyum licik. Sementara wajah Farrel sudah terlihat tidak ramah. Karena pria itu takut Sabilla salah paham dan marah.


"Yaudah, cepetan buka" Ketus Sabilla cemberut.


"Iya iya sayang, sabar kenapa sih"


Perlahan, Farrel membuka kotak yang berukuran sekitar 20x20 cm tersebut. Hingga mata Farrel membulat saat mendapati test pack di dalam sana.


"Enggak, apa apaan ini?" Ucap Farrel tidak percaya.


"Apaan isinya?" Tasya medekat ke arah Farrel. "Wah, gila lo Rel? Lo hamilin si Diara?" Ucap Tasya bar-bar.


"Enggak sayang, enggak, aku sama sekali nggak pernah ketemu Diara lagi" Ucap Farrel meyakinkan mencoba menggenggam tangan Sabilla.


Namun, Sabilla justru menepis tangan Farrel. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. "Ternyata kak Farrel setega ini ya sama aku? Selama ini kak Farrel bilang lembur itu kak Farrel lagi senang-senang sama kak Diara?"


"Sayang, aku berani bersumpah, semenjak Diara pergi, aku nggak pernah lagi ketemu sama dia. Tolong percaya sama aku"


"Kak Farrel pembohong" Sabilla berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Gila lo Rel" Ucap Tasya ikut mengejar Sabilla.


Farrel yang merasa di fitnah, bergegas mengejar adik dan istrinya itu.


Sedari tadi, Farrel berusaha membujuk Sabilla, namun gadis itu hanya diam dengan air mata yang tak henti menetes di pipinya. Sungguh Farrel merasa bersalah akan hal itu. Tapi Farrel juga sama sekali tidak tahu menau tentang test pack tersebut.


Hingga beberpa menit kemudian, pintu kamar terbuka.


"Hello Papa Farrel."


Sorakan heboh itu terdengar dari ambang pintu. Disana terlihat sosok Faris, Yasmin, dan juga Asep tengah memegang balon box di tangan mereka.


Hal itu tentu saja membuat Farrel kaget, serta kebingungan. "Mama, Papa, kak Farris kenapa ada disini?" Tanya Farrel.

__ADS_1


"Cieee yang mau jadi Papa" Ejek Yasmin tanpa menghiraukan pertanyaan Farrel.


Yasmin, Asep, dan Farris berlalu masuk ke dalam sana. Sementara Farrel masih terlihat bingung dengan situasi saat ini.


"Yaelah nggak asyik banget sih ngerjain lo. Lola tau nggak" Tasya membuka suara. "Jelas-jelas itu test pack nya kak Sabil ****. Masak nggak peka juga" Sambung Tasya kemudian.


Farrel terdiam sejenak, kemudian pria itu memalingkan pandangannya pada Sabilla. Manik mata Farrel beralih menatap perut rata Sabilla.


"Beneran?" Tanya Farrel tidak percaya.


"Dasar lola" Ejek Tasya.


Tanpa menghiraukan Tasya, Farrel mendekat pada Sabilla. "Beneran kamu hamil sayang?" Tanya Farrel antusias sambil memegang bahu Sabilla.


Sabilla tersenyum, perlahan kepala gadis itu mengangguk. "Iya, sahutnya"


Farrel tak mampu lagi berkata-kata, pria itu langsung berhambur memeluk Sabilla erat. Tanpa Farrel sadari bulir bening itu ikut menetes di pipinya saking merasa terharu.


"Jadi karena ini kamu tiba-tiba berubah?" Tanya Farrel.


Sabilla mengangguk. "Iya" Sahutnya tersenyum.


Farrel kembali memeluk Sabilla erat, pria itu juga tak berhenti menghujani wajah Sabilla dengan ciuman. Farrel sungguh merasa bahagia.


Saat ini, pandangan Farrel teralih ke arah Yasmin. "Ma, aku akan jadi ayah" Ucapnya.


Yasmin tersenyum, mengangguk kemudian memeluk putranya itu erat. "Iya, kamu akan jadi Ayah." Ucap Yasmin dipelukan putranya itu.


Farrel bergantian memeluk Asep, Farris dan juga Tasya lawan adu mulut pria itu. Tak berselang lama, Sabilla dan Yasmin menceritakan semuanya pada Farrel. Bahwa sebenarnya mereka sudah mengetahui hal itu dari saat Sabilla menyuruh Farrel keluar dari kamar saat akan diperiksa oleh Dokter Reyhan kemaren. Sabilla juga menceritakan bahwa alasan gadis itu mengajak Farrel jalan-jalan hanya semata-mata untuk membeli Test Pack.


Benar, waktu Sabilla meminta izik ke toilet, sebenarnya gadis itu pergi membeli Test Pack. Itulah sebabnya Sabilla tidak ingin ditemani oleh Farrel.


Semua yang ada di kamar tersebut merasa bahagia. Yasmin, sedari tadi tak berhenti memperhatikan menantunya itu. Sementara Farrel, pria itu juga sedrtikpun tak beralih dari pelukan Sabilla. Farrel benar-benar merasakan kebahagiaan yang begitu nyata. Pria itu sungguh tidak sabar menantikan buah hatinya terlahir ke dunia.


"Terimakasih sayang" Bibir Farrel berucap. Memeluk Sabilla erat, hingga semua yang adi di sana ikut merasakan kebahagiaan dan haru yang bersamaan termasuk Bi Mirna yang baru saja datang.


"Dari dulu, bibi yakin, suatu saat Non Sabil pasti akan hidup bahagia. Dan sekarang bibi menyaksikan itu semua. Non Sabil memiliki mertua, ipar, dan juga suami yang sangat menyayangi Non Sabil"


Bi Mirna bergumam dalam hati dengan pandangan masih tersenyum ke arah Sabilla dan Farrel yang sedari tadi tak berhenti bermesraan. Bi Mirna dan Yasmin menoleh satu sama lain, kemudian dua wanita itu tersenyum, saling merangkul satu sama lain melihat Sabilla yang saat ini tertawa bahagia.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Ini adalah akhir se akhir akhirnya. Nggak akan ada extra part tambahan lagi. Terimakasih banyak yang udah selalu dukung aku. Maaf jika masih banyak kesalahan dan TYPO juga. Terimakasih yang udah komen-komen positifnya, semua komen aku baca kok. Makasih banyakπŸ’•πŸ’•πŸ’• Sampai ketemu di cerita Aura tanggal 21 July. Yang mau tanya-tanya sama aku tentang kisah Aura, silahkan join ke grup chat ya. Kalo nggak bisa follow ig aku, dan bisa tanya di sana. See youπŸ’™πŸ’™πŸ’™


IG : AFRIALUSIANA

__ADS_1


__ADS_2