My Poor Wife

My Poor Wife
Terserah Ayah


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Sabilla baru saja sampai di rumahnya. Dengan raut wajah kecewa dan tidak bersemangat, gadis itu segera turun dari mobil setelah berpamitan pada Pak Jonet.


Ya, Pak Jonet. Sabilla pulang bersama Pak Jonet, bukan Farrel. Tiga jam Sabilla menunggu Farrel di taman Fakultas, namun pria itu tidak kunjung datang. Sabilla justru menolak tawaran Kevin demi menunggu Farrel yang tidak pasti, hingga Kevin yang ada kelas jam 1 siang terpaksa meniggalkan Sabilla di sana sendirian.


Farrel menyuruh Sabilla menunggu dirinya hingga jam 12.00, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, namun Farrel tak kunjung datang. Itulah sebabnya Sabilla memilih untuk pulang tanpa menunggu Farrel lebih lama. Gadis itu segera menelfon Pak Jonet untuk menjemput dirinya.


"Bodoh banget sih gue percaya sama omongan kak Farrel, udah jelas dia sayang banget sama kak Diara" Batin Sabilla sembari berjalan menuju kamar dengan raut wajah yang tidak bersemangat.


Sesampai di depan pintu kamar, Sabilla menghela nafas pelan, kemudian membuka pintu perlahan, namun matanya membulat kaget seketika saat melihat Farrel sudah duduk di atas sofa dengan santainya sembari memainkan ponsel disana. Farrel menoleh ke arah Sabilla sejenak, kemudian kembali memalingkan pandangannya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Tanpa ingin bertanya, Sabilla kembali mengunci pintu kamar dan menaruh tas kuliahnya di atas meja kecil yang ada di samoing ranjang, merasa kelelahan, Sabilla segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi membelakangi Farrel.


Suasana kamar saat itu seketika terlihat hening, tak ada yang ingin memulai berbicara. Hingga deringan ponsel Sabilla berbunyi dengan begitu nyaring, membuat Sabilla yang kala itu melamun dalam rebahannya, meraih ponsel yang ada di meja kecil sebelah ranjangnya itu.


"Ayah" Sabilla mendudukkan tubuhnya saat mengetahui orang yang menelfon dirinya adalah Hermawan sang Ayah. Sedangkan Farrel, hanya melirik Sabilla dari kejauhan.


"Ayah, kapan pulang? Sabil rindu Ayah" batin Sabilla tanpa ingin berbicara langsung pada Ayahnya.


"Sabil, hari ini Mama Yasmin yang akan bantu kamu pindah ya sayang. Ayah masih banyak kerjaan" Ucap Hermawan dari balik ponsel yang sukses membuat mata Sabilla membulat seketika.


"Pindah?"


"Iya, sekarang sudah saatnya sayang, kamu sekarang harus bisa hidup mandiri bersama suami kamu. Dulu kamu maunya cuma seminggu di rumah, tapi ini udah 1 bulan lo nak. Sekarang kamu benar-benar harus belajar mandiri"


"Ayah ngusir Sabil?" Seru Sabilla dengan nada suara sedikit meninggi, dan hal tersebut sukses membuat Farrel menoleh ke arahnya.


"Sabil, Ayah nggak mengusir kamu sayang. Tapi kamu sekarang udah punya suami. Udah seharusnya kamu..."


"Tapi Yah, apa bedanya disini sama di rumah baru? toh Ayah juga jarang pulang dan Sabil sama aja hidup mandiri di sini Yah.!"


"Itu namanya bukan mandiri sayang, di rumah masih ada Bi Mirna dan Pak Jonet"


"Ck! Alasan" umpat Sabilla.


"Nanti Mama Yasmin akan menemani kamu dan Farrel ke rumah baru ya sayang" Bujuk Hermawan.


"Terserah Ayah aja deh" Kesal Sabilla dengan tidak sopan mematikan sambungan telfon Hermawan. Gadis itu mengusap rambutnya dengan kasar, memangku lututnya di atas ranjang dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tak lama kemudian, Yasmin yang baru saja datang mengetuk pintu kamar Sabilla. Memanggil nama anak dan menantunya itu dari balik pintu.


Sabilla menoleh ke arah pintu, kemudian berdiri membuka pintu untuk Yasmin.


Di balik pintu, Yasmin tampak tersenyum pada Sabilla, dengan terpakasa Sabilla juga membalas senyuman ibu yang telah melahirkan suaminya tersebut.


"Ayah udah telfon kan sayang?" tanya Yasmin melebarkan senyumannya memegang pundak Sabilla.

__ADS_1


Sabilla mengangguk "Udah Ma" jawabnya.


"Sekarang kamu beres-beresin baju kamu dulu ya" Perintah Yasmin. Dengan berat, Sabilla mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju lemari. Sejenak, Sabilla mematung di sana, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini.


"Dek, kamu ngapain? cepat beresin baju kamu!" Perintah Yasmin saat melihat anak keduanya itu masih saja sibuk dengan ponsel di atas sofa.


"Eh ada Mama" Ucap Farrel pura-pura tidak mengetahui keberadaan ibu yang telah melahirkan dirinya itu.


Plakkkkk


"Ini anak sama bapak kelakuan sama aja" Kesal Yasmin menjitak kepala Farrel. Sedngkan Farrel justru tertawa cengengesan.


"Buruan!" Teriak Yasmin pada Farrel.


"Iya Mama ih santai aja kali beb" Ucapnya kembali cengengesan membuat Yasmin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putra keduanya itu.


***


Setelah selesai mengemasi baju-bajunya ke dalam koper, Sabilla menatap sekeliling kamar, bayangan Bunda dan Kakaknya menari-nari di ingatannya, hal itu membuat tubuhnya melemah seketika.


"Sabil, kamu kenapa sayang?" tanya Yasmin mendekat ke arah Sabilla yang sudah terdududuk lemah di lantai.


Sabilla menatap Yasmin dengan tatapan sendu. "Nggak papa ma" Sabilla menyerka air matanya. Yasmin memapah menantunya itu untuk segera berdiri dan berjalan turun ke lantai bawah rumahnya dimana Asep dan Faris sudah menunggu di sana.


"Cepetan dek! sekalian bawain barang-barang Sabil ke bawah" Perintah Yasmin pada Farrel.


"Bawa aja sendiri!" Balas Farrel yang sontak membuat Sabilla mengehentikan langkahnya. Gadis itu memalingkan pandangannya ke arah belakang, ia hendak melangkahkan kaki mengambil koper miliknya, namun Yasmin menahan Sabilla, mengangguk mengisyaratkan untuk tidak meladeni ucapan Farrel dan melanjutkan langkah mereka.


Sabilla berdiri di depan kolam renang rumahnya, melamun menatap kosong entah apa yang ia fikirkan.


"Non Sabil" panggil Bi Mirna yang baru saja datang dari arah belakang. Sabilla menoleh, tanpa aba-aba gadis itu memeluk bi Mirna dengan begitu erat. "Bi, aku nggak mau pergi dari sini Bi" Ucap Sabilla di sela isak tangisnya.


"Non, non Sabil pindah bukan berarti nggak boleh kesini lagi. Non Sabil masih bisa sering-sering main kesini" Bi Mirna mengelus lembut punggung Sabilla mencoba menenangkan gadis tersebut.


"Sekarang kita ke depan ya Non, yang lain, Bu Yamin dan Pak Asep udah nunggu Non" Ajak Bi Mirna yang segera di angguki oleh Sabilla. Sabilla pun berjalan dengan langkah tertatih menuju ruang tamu bersama Bi Mirna dengan pandangan yang masih tak terlepas dari sudut-sudut ruangan rumah mewah tersebut.


"Ayok Sayang" Yasmin meraih tangan Sabilla setelah gadis itu kembali ke ruang tamu, Ibu dua anak tersebut tersenyum mengajak menantunya itu untuk segera pergi dari sana.


Sabilla kembali menoleh pada Bi Mirna, Bi Mirna tersenyum kemudian mengangguk, kemudian Sabilla kembali memeluk asisten rumah tangganya itu dengan tangisan yang sudah memecah yang tidak mampu lagi Sabilla tahan "Sabil akan selalu merindukan bibik" ucapnya.


"Bibi juga akan selalu merindukan Non Sabil, Non baik-baik di rumah baru ya. Jaga diri" Pesan bi Mirna mengelus puncak kepala Sabilla.


Melihat pemandangan haru tersebut, Yasmin justru ikut meneterskan air mata. Ia sangat tahu pasti apa yang saat ini Sabilla rasakan.


"Udah cepetan ah! pake drama segala. Gue aja minggat dari rumah biasa aja" Farrel berucap sembari berjalan mendahului semua orang menuju mobilnya.


"Farrel" Teriak Yasmin geram melihat tingkah putrnya itu. Namun, tak ada sahutan dari Farrel. Ia berlalu berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


Saat ini Sabilla tengah berada berdua di dalam mobil bersama Farrel, karena Yasmin, Asep dan Farrel menaiki mobil Asep. Di perjalanan, Sabilla hanya diam menoleh ke arah kaca memperhatikan jalanan. Sedangkan Farrel, pria yang tengah sibuk mengendarai mobilnya itu sesekali melirik ke arah Sabilla.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***


Setelah lebih kurang enam jam di rumah baru Sabilla dan Farrel, setelah Ibu, Ayah dan anak tersebut membantu Farrel dan Sabilla untuk mengemasi barang-barangnya. Mereka kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah, karena saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.


"Mama, Papa, Kak Farris pulang dulu ya sayang" Pamit Yasmin mengelus puncak kepala Sabilla. "Kamu jangan sedih terus dong, ntar cantiknya hilang lo. Nanti kamu kan bisa ajak Farrel ke rumah Ayah, ke rumah Mama." Bujuk Yasmin tersenyum sembari memegang kedua tangan Sabilla.


Sabilla sejenak menoleh ke arah Farrel. Dengan seketika, ingatan tentang apa yang ia lihat tadi siang meronta-ronta di ingatannya. Membuat Sabilla kembali merasa sadar diri. Di tambah dengan sikap Farrel yang tidak pernah jelas. Terkadang baik, terkadang kasar. Sabilla hanya tidak ingin kebaikan Farrel justru ia salah artikan. Sedangkan hati suaminya itu masih untuk mantan kekasihnya.


Sabilla kembalin menoleh ke arah Yasmin, gadis itu hanya memgangguk tanpa bersuara, kemudian menyalami Yasmin, Asep dan Faris secara bergantian.


"Papa pulang dulu ya sayang" Ucap Asep sedikit mengacak rambut Sabilla.


Yasmin, Asep, dan Farris tak hentinya memandangi wajah Sabilla yang jelas mereka tahu bahwa terlalu banyak kesediahan yang gadis itu rasakan.


Faris mengalihkan pandangannya pada Farrel. "Lo jaga Sabil baik-baik dek. Awas kalo sampe lo macam-mcam" Ancam Faris melototkan matanya tajam pada Farrel searaya mengepalkan keduan tangannya pada adik satu-satunya itu.


"Suka-suka gue dong, mau gue apain, istri gue, bukan istri lo" Ejek Farrel.


" Eh tunggu-tunggu, macam-macamnya dalam segi apaan nih?" goda Farrel yang membuat Yasmin melototkan matanya seketika, karena saat ini bukan saat yang untuk bercanda mengingat Sabilla yang masih merasakan kesedihan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, dan Vote ya. Terimakasih 😍


__ADS_2