
Farrel yang kala itu memang hendak menyusul Sabilla, segera mempercepat langkahnya saat mendengar suara teriakan Sabilla yang terdengar sedang minta tolong. Farrel benar-benar merasa khawatir dan takut jika sesuatu terjadi pada Sabilla.
Namun, pada saat baru saja sampai di pinggir kolam, Farrel terlihat sangat kaget saat melihat Tasya yang sudah hampir kehabisan nafas di dalam kolam yang tingginya 2 meter tersebut. Tanpa berfikir panjang, Farrel segera berhampur melompat ke dalam kolam tanpa menghiraukan Sabilla yang terlihat basah saat mencoba menolong Tasya barusan.
Farrel membawa Tasya ke tepi kolam renang, hingga saat ini, Tasya sudah dibaringkan di tepi kolam tersebut oleh Farrel. Berkali-kali pria itu menepuk pipi Tasya, memanggil namanya berharap Tasya segera sadar. Namun perempuan tersebut belum juga terbangun.
"Tasya... Tasya"
Sorak Farrel nenepuk pipi Tasya dengan raut wajah yang begitu panik.
Ia juga mencoba memijit dada Tasya beberapa kali hingga Tasya tersadar dan memuntahkan air yang ada dalam mulutnya.
Saat Tasya membuka mata, Farrel menghembuskan nafas pelan, ia tidak lagi menghiraukan Sabilla yang sedari tadi hanya diam menatap Farrel dan Tasya. Tanpa memperdulikan Sabilla, Farrel segera menggendong Tasya, membawa gadis itu untuk segera masuk ke dalam rumah. Ia tak lagi menghiraukan istrinya yang juga berada di sana saking paniknya.
Sabilla segera berdiri dari duduknya. Ia mematung menatap punggung Farrel yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan matanya. Sabilla bisa melihat dengan jelas bagaimana kepanikan Farrel saat melihat Tasya tidak sadarkan diri barusan, entah kenapa dadanya terasa begitu sesak. Apalagi Sabilla tahu bahwa mereka memang sudah mengenal lama. Farrel bahkan tidak lagi memperdulikan Sabilla yang sedari tadi juga sedang berada di sana.
Dengan langkah tertatih, Sabilla melangkahkan kakinya perlahan dengan begitu berat masuk ke dalam rumah. Gadis itu masih menunduk tanpa memperhatikan jalan.
Di kamar tamu kediaman Yasmin, yang saat ini dijadikan sebagai kamar Tasya, tampak beberapa orang telah berkumpul di sana setelah Yasmin selesai mengganti pakaian Tasya. Mereka terlihat fokus mendengarkan penjelasan yang saat ini keluar dari mulut Tasya.
Sabilla baru saja sampai di ambang pintu kamar tersebut. Ia berniat hendak masuk ke sana untuk memastikan kondisi Tasya, namun niatnya terurung tatkala melihat Yasmin, Asep, Farris dan Farrel yang bahkan tidak menyadari keberadaan dirinya disana saking sibukny mengurusi Tasya.
__ADS_1
Hingga beberapa menit kemudian, Suami, mertua dan kakak ipar Sabilla itu baru menyadari adanya dirinya di sana. Dari kejauhan, Yasmin, Faris, Farrel dan Asep yang saat ini berada di sekitar Tasya, menatap Sabilla dengan tatapan tidak begitu ramah. Mereka sedikitpun tidak menyuruh Sabilla untuk masuk. Saat ini Sabilla benar-benar merasa seperti orang asing di sekitar mereka.
Farrel yang semula terlihat duduk di tepi ranjang di samping Tasya tersebut, segera bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kaki mendekat pada Sabilla dengan tatapan tidak seperti biasanya. Tatapan yang sama saat Farrel yang dulu masih bersikap kasar pada Sabilla.
Sabilla menunduk takut, karena sebagai manusia normal dan memiliki perasaan, Sabilla pasti menyadari adanya perbedaan dari sikap mereka.
"Aku nggak nyangka kamu ternyata sejahat ini!" Hanya itu yang keluar dari mulut Farrel saat dirinya berpapasan dengan Sabilla sebelum Farrel pergi berlalu meninggalkan Sabilla dari sana.
Sabilla menatap Farrel dengan tatapan bingung, kemudian ia memalingkan pandangannya pada Yasmin, Faris dan Asep, namun kakak ipar dan mertuanya itu justru memalingkan pandangannya acuh. Hal itu benar-benar membuat Sabilla bingung. Entah apa yang sudah dikatakan Tasya pada mereka hingga sifat suami, mertua dan iparnya tersebut berubah begitu drastis dalam sekejap.
Tanpa ingin melanjutkan memasuki kamar Tasya, Sabilla lebih memilih untuk mengejar Farrel. Ia ingin menanyakan langsung apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
Sabilla segera menghampiri Farrel setelah berpamitan pada Yasmin, Asep dan Faris meskipun tidak di respon oleh mereka seperti biasanya.
Sabilla mendudukkan tubuhnya tepat di samping Farrel. "Maksud omongan kak Farrel barusan apa?" Tanya Sabilla gugup. Bukannya menjawab, Farrel justru lagi dan lagi memalingkan pandangan tidak suka pada Sabilla. Ia menaruh kembali remot TV di sembrang tempat, beridiri dan berlalu M
meninggalkan Sabilla di sana.
Sabilla masih mamatung bingung, banyak sekali pertanyaan yang terlintas di otaknya. Apa salah dirinya? Sabilla kembali berfikir sejenak, mengingat kembali penyebab Tasya jatuh ke dalam kolam.
"Apa gara-gara Tasya? semua orang jadi marah sama aku?" Gumam Sabilla dalam hati. Ia sejenak memejamkan mata sebelum kembali menyusul Farrel ke dalam kamar. Hingga sebelum menaiki anak tangga menuju kamar Farrel, Sabilla berpapasan dengan Yasmin yang saat ini juga terlihat begitu acuh pada dirinya.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, ibu mertua yang selalu bersikap baik pada dirinya kini ikut berubah tanpa tau dirinya salah apa.
Sabilla kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Saat membuka pintu, Sabilla tidak melihat adanya Farrel disana. Namun dirinya melihat pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut tertupup. Itu menandakan bahwa Farrel tengah membersihkan diri.
Sabilla menutup pintu kamar kembali. Ia melangkahkan kaki menuju lemari pakaian menyiapkan pakaian ganti untuk Farrel. Sabilla menaruh dengan rapi pakaian tersebut di atas kasur.
Namun, saat Farrel keluar dari kamar mandi, pria itu justru tidak melirik sedikitpun ke arah pakaian yang sudah disiapkan oleh Sabilla. Farrel justru membuka sendiri lemari dan memilih baju sendiri.
Sabilla yang saat ini masih setia duduk di atas sofa yang ada di kamar tersebut, yang tadinya berniat untuk menunggu Farrel selesai mandi, justru saat ini hanya bisa memperhatikan pria itu mondar mandir ke sana ke mari mengambil pakaian dan mengganti baju di dalam kamar mandi tanpa menghiraukan pakaian yang sudah ia sesiakan.
💦💦💦
Sudah satu jam, kamar tersebut masih terlihat hening. Sabilla tidak mampu lagi untuk membuka suara. Karena sungguh, ia kembali meraskan Farrel yang dulu, Farrel yang sama sekali tidak pernah memperlakukan dirinya dengan baik. Hingga kata-kata manis Farrel terngiang-ngiang di telinga Sabilla. Matanya terlihat berkaca-kaca. "Apa semua itu hanya kebohongan?" batin Sabilla.
"Apa benar ucapan manis kak Farrel hanyalah sebuah kebohongan? kenapa aku sangat bodoh percaya begitu cepat? apa maksud kak Farrel memperlakukan aku seperti ini? apa salah aku sama Mama Yasmin? Papa Asep? Kak Farris? kenapa mereka mendiamiku?"
Sabilla yang saat ini tengah berbaring membelakangi Farrel sudah tidak mampu lagi menahan air matanya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu saja terlintas di dalam benaknya. Sabilla tidak tahu alasan kenapa seisi rumah berubah pada dirinya. Namun firasatnya berkata bahwa ini adalah akibat jatuhnya Tasya ke kolam barusan. Tapi yang pasti, Sabilla tidak mengetahui apa saja yang sudah di sampaikan oleh Tasya pada mereka.
.
.
__ADS_1
.