
"Sekarang kamu tutup mata lagi" Perintah Farrel yang membuat Sabilla mengernyit bingung.
"Lagi?"
Farrel mengangguk. "Iya, lagi" Ucapnya tersenyum.
"Kalo aku nggak mau gimana?" Sabilla memanyun manyunkan bibirnya mencoba menjahili Farrel.
"Kalo kamu nggak mau aku cium lagi, eh nggak deng aku..."
"Iya iya aku tutup mata." Sabilla memotong pembicaraan sebelum Farrel menyelesaikan ucapannya. Karena gadis itu sudah sangat tahu bahwa suaminya itu akan kembali mencoba menggoda dirinya.
Sabilla kembali memejamkan matanya perlahan. Sementara Farrel, pria itu meraih sesuatu dari dalam saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan membuka kotak tersebut dengan perlahan. Farrel sejenak memperhatikan Sabilla yang saat ini masih menutup mata berdiri di hadapannya.
Ia tersenyum, kemudian melangkah kaki perlahan hingga kini posisi Farrel tepat berdiri di belakang Sabilla. Pria itu segera mengeluarkan sebuah benda kecil dan panjang tersebut dari kotaknya. Kemudian ia memakaikan benda tersebut di leher wanita kesayangannya.
"Hmm apaan nih?" Tanya Sabilla saat merasakan sesuatu menempel di lehernya.
"Tunggu dulu, jangan buka mata, belum selesai"
"Hmmm Kak Farrel kak Farrel" Lirih Sabilla tersenyum dengan kelakuan suaminya itu.
"Udah sekarang buka mata"
Sabilla membuka mata perlahan, ia memegang benda kecil yang tidak lain adalah mainan kalung yang ada di lehernya tersebut. Mulutnya kembali terbuka lebar tidak percaya. Sabilla membalikkan tubuhnya ke arah belakang. Ia melihat jelas wajah tampan Farrel yang tengah tersenyum merekah dengan sempurna pada dirinya.
Gadis cantik itu kembali memeluk Farrel dengan rasa syukur dan terimakasih yang tiada henti-hentinya. "Makasi kak Farrel. Ini indah banget" Seru Sabilla sembari memegang mainan kalung berlian yang diberikan oleh suaminya itu.
__ADS_1
Farrel membalas pelukan Sabilla dengan hangat, ia berkali-kali mencium puncak kepala Sabilla, mengutarakan kasih sayangnya pada istri cantiknya itu.
"Aku akan selalu buat kamu tersenyum bahagia seperti ini. Selama ini kamu udah banyak kehilangan kebahagiaan dengan kesendirian kamu, kamu udah banyak kehilangan kasih sayang yang seharusnya masih kamu dapatkan. Meskipun aku nggak akan bisa mengantikan mereka, tapi aku akan membuat kamu bahagia dengan cara aku sendiri" Farrel bergumam dalam hati, pria itu memejamkan matanya tak henti-henti mengecup puncak kepala Sabilla.
"Oiya kak Farrel" Sabilla melepas pelukan suaminya itu. "Hmmm" Farrel tersenyum menatap Sabilla dengan bingung.
"Sebenarnya aku juga ada hadiah buat kak Farrel. Tapi, ya harganya sih nggak seberapa. Nggak sebanding juga dengan apa yang udah kak Farrel berikan sama aku"
Sabilla menunduk, merasa bersalah karena dari semua kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, tapi dirinya justru hanya mempunyai kado kecil untuk Farrel.
Farrel tersenyum, ia memegang dagu Sabilla, mendongakkan kepala gadis itu keatas agar bisa lebih leluasa menatap dirinya.
"Aku nggak perlu apapun, aku nggak perlu kamu berikan kado mahal ataupun istimewa atau semacam apapun itu. Aku benar-benar nggak perlu semua itu. Tapi aku hanya ingin kamu mengizinkan aku untuk membahagiakan kamu semampu dan sebisa aku, aku hanya ingin kamu selalu berada di samping aku, aku hanya nggak ingin kamu perginya jauh-jauah dari aku. Cukup kamu selalu di samping aku, hingga tua kelak, hingha maut memisahkan kita. Itu semua udah cukup buat aku. Kamu nggak perlu membahagiakan aku, karena aku yang akan membahagiakan kamu. Jadi, kamu nggak perlu merasa bersalah. Ngerti kan?"
Sabilla mengangguk. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tas jinjing miliknya yang ia bawa dari rumah Aura barusan.
"Ini" Sabilla memberikan kota kecil yang sudah di kadokan tersebut pada Farrel dengan sedikit gugup dan ragu. Farrel tersenyum menerima kado tersebut. Ia sangat tahu bahwa Sabilla benar-benar merasa bersalah dan tidak enak hati pada dirinya.
"Sebenarnya aku udah nyiapin itu dari dua minggu yang lalu. Pada saat itu aku sangat ingat bahwa hari ini adalah satu tahun pernikahan kita. Aku bahkan nggak ingat hari ulang tahun aku sendiri. Tapi pada saat Tasya pertama kali datang, pada saat kak Farrel mendiami aku tanpa sebab, termasuk Mama, Papa, dan kak Farris, aku benar-benar merasa kecewa"
"Aku merasa diri aku udah nggak ada gunanya lagi di hidup kalian. Aku merasa selama ini aku hanya menyusahkan kalian. Karena aku juga mengakui bahwa Tasya memang lebih cantik dan lebih perfect daripada aku. Aku sengaja nginap di tempat Aura karena aku nggak sanggup jika harus merasakan kekecewaan di hari ini. Hari yang ternyata adalah hari yang membahagiakan buat aku."
"Waktu itu aku benar-benar hilang akal dan nggak tau harus berbuat apa. Aku sempat merasa percaya diri bahwa semua orang sangat menyayangi aku. Hal itulah yang membuat aku benar-benar terluka saat aku udah mencintai kak Farrel, tapi kak Farrel justru memilih perempuan lain. Jujur aku sempat berfikir seperti itu."
"Dan kemaren kemaren aku juga udah nggak tau lagi harus ngomong sama siapa. Aku udah cerita sama Aura, tapi hati aku masih merasa belum puas karena sesungguhnya aku benar-benar nggak sanggup jika kak Farrel benar-benar ninggalin aku. Aku sadar, ternyata aku benar-benar membutuhkan kak Farrel."
"Selama kenal sama Mama Yasmin, Papa Asep Kak Farrel dan Kak Farris, melihat ketulusan kalian selama ini, aku merasakan kembali sebuah kehangatan dalam keluarga. Aku seperti merasakan kembali kasih sayang yang dulu pernah hilang. Tapi semuanya terasa sirna sejak saat itu, saat semua orang mendiami aku tanpa sebab. Aku benar-benar ngerasa semuanya telah hilang"
__ADS_1
"Saat aku kehilangan Bunda, aku masih punya Ayah dan Gilang. Saat aku kehilangan Gilang, aku masih punya Ayah, dan saat aku kehilangan Ayah, Allah mengirimkan aku keluarga kak Farrel dan Aura. Tapi saat aku benar-benar merasa akan kehilangan kalian, qku nggak tau lagi harus gimana. Aku nggak bisa bayangin jika hal itu benar-benar terjadi. Aku..."
Farrel yang sudah tidak tahan melihat istinya itu. Segera memluk Sabilla dengan sangat erat.
"Maafin aku, aku benar-benar minta maaf udah ngerjain kamu sampe kamu merasakan kesedihan itu lagi. Aku minta maaf, niat aku hanya ingin membuat kamu bahagia. Tapi aku justru kembali membuat kamu terluka. Maafin aku sayang, maafin aku. Aku janji nggak akan mengulangi ini lagi. Aku nggak akan bikin kamu sedih kayak gini lagi. Maafin aku."
"Nggak ada yang membenci kamu, kita semua sayang sama kamu. Tapi cara kita terlalu kekanak-kanakan. Maafin aku, mama, papa, tasya dan kak Farris ya. Aku benar-benar nggak akan mengulangin ini lagi. Aku janji."
Farrel tak mampu lagi menahan air matanya. Laki-laki playboy dan petakilan yang biasanya cuek dan tidak peduli dengan apapun itu, saat ini benar-benar dibuat cengeng semenjak mengenal Sabilla, karena Farrel benar-benar menyayangi gadis itu. Rasanya ia juga imut merasakan sakit saat melihat Sabilla terluka apalagi sampai menitikkan air mata ketika mengenang masa lalunya. Farrel benar-benar tidak tega dan benar-benar merasa bersalah.
Sabilla melepas pelukan Farrel. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke atas. Tersenyum pada suaminya Itu. Ia mengusap air mata Farrel dengan ibu jari mungilnya.
"Kak Farrel jangan nangis, aku nggak papa kok. Aku justru bersyukur saat ini bisa bersama keluarga kak Farrel. Aku tau, kalian semua sayang sama aku. Aku yang akan janji. Aku nggak akan sedih lagi. Karena disini, aku memiliki orang-orang yang sayang banget sama aku. Aku juga minta maaf udah membuat kak Farrel merasa bersalah seperti ini. Aku niat kalian semua baik sama aku. Maafin aku ya."
"Sekarang mending kak Farrel buka dulu kado dari aku, suka nggak?" Sabilla kembali tersenyum setelah mengusap air mata yang ada di pipinya.
Meskipun Farrel sangat mengetahui bahwa gadis itu hanya berpura-pura tegar. Tapi Farrel juga tidak ingin membuat Sabilla larut dalam kesediahan. Pria itu mengikuti perintah istrinya. Ia tersenyum kemudian membawa Sabilla duduk di tepi ranjang sambil membuka kado dari Sabilla.
Kado yang ternyata telah ia siapkan dari jauh-jauh hari.
.
.
.
.
__ADS_1
Nggak tau kenapa kok aku jadi lebay banget sih, aku nulis tapi ikutan nangis ngebayangin nasib Sabilla. Hadeuh. Maafkan diriku yang terlalu alay ini ya kakak-kakak😂