My Poor Wife

My Poor Wife
Surat dari Ayah


__ADS_3

Farrel dan Sabilla baru saja kembali ke rumah setelah waktu sudah beranjak sore. Setelah memarkirkan mobil di garasi terlebih dahulu, Farrel dan Sabilla segera keluar dari mobil. Mereka melenggang masuk ke dalam rumah tanpa membawa barang-barang yang masih mereka biarkan di dalam mobil.


Farrel merangkul pundak Sabilla, kedua manusia itu tersenyum sambil menatap satu sama lain, berjalan mesra menaiki tangga menuju kamar.


Farrel menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tangan ia rentangkan ke samping. Sementara Sabilla, gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Farrel sebelum dirinya mengikuti suaminya itu untuk duduk di tepi ranjang.


"Kak Farrel mandi dulu sana baru istirahat" Pinta Sabilla.


"Terus kamu nggak mandi?" Tanya Farrel dengan alis terangkat dan tubuh masih berbaring di kasur.


"Iya aku mandi juga kalo kak Farrel udah selesai mandi." Sahut Sabilla.


"Mandi bareng aja gimana?" Rayu Farrel menaik turunkan alisnya menggoda Sabilla.


Pria itu segera mendudukkan tubuhnya antusias. "Gimana, gimana?" Tanya Farrel dengan tatapan rayuannya.


Sabilla menghembuskan nafas, gadis itu memutar bola matanya malas. "Nggak mau!" Tolak Sabilla, karena ia jelas bisa menebak apa yang diinginkan oleh Farrel.


Sabilla berlalu meninggalkan Farrel dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, gadis itu meninggalkan Farrel yang sudah tersenyum jahil duduk di tepi ranjang sambil menatap Sabilla.


Beberapa menit kemudian, Sabilla telah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Gadis itu duduk di depan meja rias.


Tanpa aba-aba. Farrel tiba-tiba memeluk Sabilla dari arah belakng, menyandarkan kepalanya di pundak Sabilla.


"Wangi banget sih sayang" Ucap Farrel menghirup aroma tubuh Sabilla.


"Makannya mandi dulu kalo mau wangi" Sahut Sabilla menatap Farrel dari pantulan kaca yang ada di depan dirinya.


"Aku mandi nggak mandi tetap aja kamu sayang kan" Ucap Farrel dengan percaya dirinya.


Sabilla menghembuskan nafas kasar sembari memutar bola matanya malas. "Pedean banget sih" Celetuk Sabilla pelan.

__ADS_1


"Udah kak Farrel cepetan sana mandi" Sabilla mendorong tubuh Farrel menjauh dari dirinya setelah melepaskan tangan suaminya itu yang semula melingkar di perutnya.


"Kejam banget sih jadi istri" Ucap Farrel sebelum pria itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Saat Farrel berada di dalam kamar mandi, Sabilla terlihat mondar mandir di dalam kamar tersebut seolah sedang mencari sesuatu. Gadis itu juga berkali-kali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghembuskan nafas kasar karena tidak mendapati apa yang sedari tadi dirinya cari.


Namun, tubuh Sabilla terdiam saat dirinya menemukan sebuah amplop berwarna putih yang tampak berisikan kertas di dalamnya.


Sabilla mengerutkan keningnya bingung dengan pandangan masih tertuju pada amplop tersebut. Sabilla membolak balikkan amplop yang ada di tangannya itu sambil memikirkan sesuatu.


"Apaan ini?" Guman Sabilla pelan. "Apa jangan-jangan..." Gadis itu terdiam sejenak, matanya melotot tajam. Fikiran Sabilla sontak tertuju pada Diara.


Tanpa bertanya dan menunggu persetujuan Farrel, Sabilla membuka amplop tersebut dengan tergesa gesa.


Hingga...


Jantung Sabilla berdetak kencang, tangannya menjadi dingin seketika, tubuhnya merasa lemas, mata Sabilla terlihat berkaca-kaca saat membaca surat yang terdapat pada amplop tersebut.


*To : Sabilla putri kesayangan Ayah.


Hallo sayang, apa kabar?


Pada akhirnya kamu akan membaca surat ini juga, padahal ayah sangat berharap kamu tidak akan pernah membacanya, tapi apa boleh buat, jika kamu sudah membaca ini, berarti Ayah sudah nggak ada lagi bersama kamu sayang.


Sabil, maafin Ayah...


Maafin ayah yang belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu, maafin ayah udah ninggalin kamu sendiri.


Maafin ayah, udah maksa kamu mengikuti kemauan ayah, maafkan ayah, jika selama ini kamu menganggap bahwa ayah hanya sibuk dengan pekerjaan ayah. Maafkan ayah yang tidak memberikan kamu perhatian penuh setelah bunda kamu nggak ada.

__ADS_1


Sabil, satu hal yang harus kamu tau, bahwa Ayah sangat menyayangi kamu. Ayah nggak pernah bermaksud untuk membiarkan kamu sendiri. Ayah tau selama ini kamu tersiksa, terluka. Itulah sebabnya ayah berusaha lebih kuat, menyembunyikan penyakit ayah dari kamu. Karena ayah nggak ingin kamu khawatir dengan keadaan ayah.


Sabil sayang, sebenarnya ayah mengidap penyakit jantung yang selama ini kamu nggak pernah tau. Setiap malam, Ayah hanya bisa mengunjungi kamu di kamar kala malam sudah tiba, kala putri ayah sudah tertidur lelap.


Asal kamu tau, hati ayah hancur setiap kali ayah melihat kamu tertidur lelap. Ayah nggak sanggup membayangkan kamu akan tinggal sendirian.


Sabil, maafin ayah, selama ini ayah tidak sibuk dengan pekerjaan, tapi ayah sibuk berobat, berharap bisa sembuh dan menemani kamu selalu.


Maafkan ayah tidak pernah memberitahu kamu yang sebernarnya, karena ayah nggak mau liat kamu sedih sayang.


Sabil, kamu harus kuat menjalani hidup ya sayang. Ayah tau ini berat buat kamu. Bahkan ayah juga nggak pernah menginginkan ini semua terjadi. Tapi ayah yakin, bahwa Asep, Yasmin dan putranya akan menjaga kamu dengan baik.


Maafkan ayah memaksa kamu menikah di usia yang sangat muda. Ayah tau, pada saat itu hati kamu hancur, bahkan remuk. Tapi ayah nggak punya pilihan lain. Ayah nggak akan bisa tenang jika ninggalin kamu sendirian.


Itulah sebabnya ayah memaksa kamu untuk mengikuti keinginan ayah, karena ayah nggak mau putri kesayangan ayah tinggal sendiri, karena ayah nggak bisa ngebayangin gimana terluka dan tersiksanya kamu setelah kehilangan ayah.


Sabil sayang, ayah harap kamu akan selalu semangat menjalani hidup kamu. Patuhi suami kamu, karena ayah yakin, Farrel adalah anak yang baik. Ayah yakin dia akan menjaga kamu, menyayangi kamu seperti ayah menjaga kamu. Karena ayah bisa lihat dari cara dia memperlakukan ibunya. Ayah sangat yakin Farrel adalah anak yang baik.


Dan satu hal yang harus kamu tau sayang, ayah sama sekali nggak pernah mengabaikan kamu.


Saat ayah tau bahwa penyakit ini sudah semakin parah, rasanya ayah ingin sekali lebih dekat dengan kamu, menghabiskan sisa umur ayah bersama kamu, tertawa dan bahagia bersama putri ayah yang sudah beranjak dewasa. Tapi ayah nggak bisa. Ayah nggak mau setelah kamu terbiasa bersama ayah, tapi ayah justru akan pergi ninggalin kamu. Ayah nggak mau hanya meninggalkan luka yang semakin sulit untuk kamu lupakan.


Lebih baik ayah dibenci oleh kamu, daripada kamu harus tersiksa dengan semua kenangan manis bersama ayah. Mafkan ayah mengambil keputusan seperti ini sayang.


Sabil, maafkan ayah, hiduplah dengn baik nak. Bahagiakan orang disekelilin kamu. Sayangi Yasmin dan Asep seperti kamu menyayangi ayah dan Bunda. Sayangi Faris seperti kamu menyayangi Nabila. Karena hanya mereka keluarga kamu saat ini. Dan ayah juga yakin bahwa mereka akan selalu menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Karena ayah sudah mengenal Asep dengan baik.


Sejujurnya, Ayah selalu berharap bahwa kamu nggak akan pernah membaca surat ini, Ayah selalu berharap bisa sembuh dan bisa menemani kamu.


Tapi apa boleh buat, jika kamu sudah membacanya, berarti ayah benar- benar udah nggak ada di sisi kamu lagi. Maafin ayah, ayah mencintai kamu sayang.


Hiduplah dengan damai, semangat, hiduplah demi orang- orang yang menyayangi kamu. Sampai bertemu di surga sayang. Sabil anak baik, sabil kuat dan sabil putri ayah pasti bisa. Ayah, Bunda, kak Nabila sangat menyayangi kamu.

__ADS_1


From : Ayah*


__ADS_2