
Yasmin baru saja sampai di kediaman Sabilla dan juga Farrel bersama Dokter Reyhan. Ibu dua anak itu melenggang masuk ke dalam rumah mewah minimalis tersebut dengan langkah cepat.
"Dek" Panggil Yasmin saat wanita itu sudah berdiri di pintu kamar Farrel dan Sabilla bersama Dokter Reyhan di samping dirinya.
Farrel mendengar suara ibu yang telah melahirkan dirinya itu dengan jelas dari dalam kamar. "Masuk aja Ma" Sahutnya.
Tanpa berfikir panjang, Yasmin segera membuka pintu berwarna putih tersebut. Disana, terlihat Sabilla masih berbaring dengan wajah lesunya. Yasmin mendekat, perempuan itu duduk di tepi ranjang mendekati Sabilla. Sementara Dokter Reyhan duduk bersama Farrel di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Kamu kenapa sih sayang? biasanya pernah gini nggak?" Tanya Yasmin cemas.
Sabilla menggeleng. "Nggak pernah Ma, makannya aku bingung juga tiba-tiba bangun jam 5 pagi mual-mual gitu" Sahut Sabilla. Namun, beberapa detik kemudian, mata Sabilla terbelalak kaget. "Astaga" Bibir mungil Sabilla berucap tidak percaya sembari menutup mulutnya sendiri.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Yasmin.
Sabilla mendekat pada Yasmin. "Mama bisa suruh kak Farrel keluar bentar nggak?" Pinta Sabilla dengan suara benar-benar pelan pada mertuanya itu sembari melirik Farrel yang tengah berbincang dengan Dokter Reyhan.
"Lah, kenapa emangnya?" Tanya Yasmin dengan kening berkerut.
"Nanti aku jelasin Ma. Tolong ya Ma. Pliss" Sabilla mengatupkan kedua tangannya memohon pada mertuanya itu.
"Dek, kamu tunggu diluar dulu ya. Mama mau ngomong dulu sama Sabil" Ucap Yasmin.
"Lah, kenapa aku harus keluar? Kalo ngomong ya tinggal ngomong aja" Sahut Farrel. "Kenapa aku harus keluar segala" Sambung pria itu kemudian, merasa keberatan dengan permintaan ibu yang telah melahirkan dirinya itu.
"Ya nggak bisa dong, ini urusan perempuan"
"Iya kak Farrel keluar dulu aja. Siapa tau Mama juga mau ngomong hal penting sama aku" Timpal Sabilla.
Farrel melirik istrinya itu "Aneh banget sih kamu jadi ikut-ikutan segala" Bibir pria itu tak henti menggerutu.
"Yaudah kalo kak Farrel nggak mau aku juga nggak mau di periksa sama Dokternya" Ucap Sabilla seperti anak kecil.
Kening Farrel tertaut. "Jangan gitu ih, nanti kalo kamu kenapa-napa gimana?"
"Ya mau gimana lagi?" Sahut Sabilla jutek.
"Dek, kamu nurut aja gimana sih? Ngalah sama istri juga nggak berdosa kali" Timpal Yasmin.
"Aissh terserah deh" Farrel keluar dari kamar tersebut sambil berdecak kesal. Saat dirasa Farrel sudah tidak ada lagi disana. Sabilla segera mendudukkan tubuhnya antusias.
Yasmin melirik Sabilla dengan tatapan bingung. "Kamu kenapa sih sayang?" Tanya Yasmin penasaran.
Sabilla tersenyum. Gadis itu menggenggam tangan Yasmin erat "Ma, apa mungkin aku hamil?" Kata-kata itu terlontar dari bibir Sabilla.
__ADS_1
Yasmin terpelongo. "Apa? jadi kamu beneran hamil?" Tanya Yasmin antusias.
"Bukan itu maksud aku Ma. Aku sih belum tau past. Tapi setelah aku fikir-fikir, aku baru sadar kalau udah 6 hari tamu bulanan aku telat"
"Kamu serius?"
"Iya, serius" Sahut Sabilla mengangguk.
"Kalo gitu coba Dokter Reyhan periksa dulu supaya kita tahu pastinya" Usul Yasmin.
Dokter Reyhan yang kala itu duduk di sofa yang ada di kamar Sabilla berdiri dari duduknya.
"Tapi Ma, kalau misalkan iya, Mama jangan kasih tau kak Farrel dulu ya" Sabilla mengatupkan kedua tangannya.
Yasmin tersenyum. Wanita itu mengelus lembut rambut Sabilla. "Semoga iya ya sayang. Mama pasti senang banget. Dan Mama nggak akan ngasih tau Farrel"
"Bismillah, semoga ya Ma" Sahut Sabilla tersenyum.
Dokter Reyhan baru saja memeriksa kondisi Sabilla. Dan dugaan kedua wanita itu benar, bahwa Sabilla saat ini sedang hamil. Dan untuk lebih jelasnya, Dokter Reyhan menyarankan agar Sabilla memeriksakan ke dokter kandungan.
"Selamat Yasmin. Akhirnya sebentar lagi kamu benar-benar punya cucu" Ucap Reyhan berjabat tangan dengan Yasmin.
"Makasih banyak lo Rey. Ingat, jangan kasih tau anak ku" Peringatan Yasmin.
"Iya Dok. Makasi banyak ya dok" Sahut Sabilla.
"Selamat sayang" Yasmin memeluk Sabilla erat. Wanita itu berkali kali mengecup pipi dan kening Sabilla sembari mengelus perut datar menantunya itu.
"Alhamdulillah Ma. Aku nggak nyangka aja. Tadi pagi aku sama sekali nggak kepikiran, tapi setelah liat Mama aku baru sadar dan kepikiran akan hal ini"
"Sebenarnya tadi waktu Farrel nelfon Mama, Mama udah langsung kepikiran ke sana sih. Tapi Papa malah matahin semangat Mama, katanya jangan terlalu berharap dulu. Ya Mama juga nggak mau juga sih berharap kalo ujung-ujungnya kecewa. Makannya Mama mau mastiin dulu kesini" Celetuk Yasmin.
"Iya Ma, Tapi Mama jangan lupa ya. Jangan kasih tau kak Farrel dulu"
"Iya sayang tenang aja." Yasmin tersenyum sembari mengelus lembut perut datar Sabilla.
"Kalo gitu Mama pulang dulu Ya, besok Mama kesini lagi sama Tasya." Pamit Yasmin memeluk Sabilla erat.
"Makasih banyak ya Ma"
"Sama-sama sayang. Jaga kesehatan ya. Besok Mama akan sering kesini. Tapi sekarang Mama ada urusan dulu"
"Iya Ma nggak Papa"
__ADS_1
***
Yasmin tampak menuruni anak tangga dari kamar Sabilla dan Farrel bersama Dokter Reyhan. Dari kejauhan, Farrel berdiri saat melihat wanita yang telah melahirkan dirinya itu, mendekat menanyakan bagaimana keadaan Sabilla.
"Gimana Ma? Sabil kenapa?" Tanya Farrel penasaran.
"Alah dek dek, bikin Mama jantungan aja kamu. Mama kira Sabil kenapa, taunya cuma masuk angin doang. Lebay banget pake telfon Mama segala. Bikin malu aja sama Dokter Reyhan. Itu di kasih minyak angin juga nanti mualnya hilang." Ucap Yasmin santai.
"Ya mana aku tau Ma. Namanya juga cemas takut istri kenapa-napa. Biasanya juga Sabil nggak pernah gitu" Sahut Farrel.
"Yaudah kalo gitu Mama pulang dulu. Jagain istri kamu. Hari ini nggak usah ke kantor. Nanti biar Mama bilang sama kakak kamu"
"Aduh Mamaku pengertian sekali" Farrel memeluk tubuh Yasmin layaknya anak kecil. Padahal dirinya sudah memiliki istri. "Aku tadi juga mau minta tolong itu sama Mama" Sambungnya kemudian.
"Ck! Dasar" Yasmin mengelus rambut putra kedunya itu. "Udah ah Mama balik dulu" Pamit Yasmin.
"Da Mama sayang" Ucap Farrel setelah selesai berjabat tangan dengan Dokter Reyhan dan tidak lupa berterimakasih pada teman ibunya itu.
Farrel kembali bergegas menaiki anak tangga menuju kamar. Dari ambang pintu, pria itu melihat Sabilla masih berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi dirinya.
Perlahan, Farrel mendekat, pria itu ikut membaringkan tubuhnya di samping Sabilla. Memeluk gadis itu dari belakang.
"Untung kamu nggak papa. Mungkin karena cuaca kamu jadi masuk angin." Ucap Farrel dengan polosnya. Percaya akan omongan Yasmin barusan. " Oiya sayang, hari ini aku nggak masuk kerja" Sambung Farrel kemudian.
"Lah kenapa?" Sabilla memutar tubuhnya menghadap Farrel.
"Udah diizinin Mama. Nanti aku cuma kirim data lewat email ke kak Farris."
"Hmm gitu" Sabilla menatap lekat wajah Farrel. Gadis itu tersenyum, hingga membuat kening Farrel tertaut bingung.
"Kenapa kamu senyam senyum gitu?" Tanya Farrel heran.
"Lah, aku nggak boleh senyum?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih :)