My Poor Wife

My Poor Wife
Kenapa Malu?


__ADS_3

"Happy Wedding Anniversarry Istriku tersayang. Ini adalah tahun pertama pernikahan kita, aku harap kita bisa seperti sekarang ini selamanya, seterusnya. Semoga kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah-masalah yang akan menimpa kita nantinya. Meskipun usia kita masih muda, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa status kita sudah sah menjadi suami istri tepat saat aku mengambil alih dirimu dari Ayahmu satu tahun yang lalu."


"Aku tahu, fikiran kita terkadang masih labil, egois, dan cuma pengen dimengerti sendiri hingga mungkin akan menghadirkan sebuah pertengkaran-pertengkaran nantinya. Meskipun aku berharap itu semua tidak akan pernah terjadi, tapi ya nggak bisa dipungkiri bahwa hidup memang nggak akan pernah luput dari masalah. Kita juga nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya."


"Tapi aku berharap, apapun itu, semoga kita bisa melewatinya. Aku sangat bersyukur bisa seperti sekarang ini bersama kamu. Menjadi suami dari wanita cantik dan juga baik hati. Aku bersyukur Mama dan Papa telah memilihkan kamu untuk menjadi pendamping hidup aku, meskipun aku sempat membencinya."


"Aku menyiapkan ini semua sebagai rasa syukur , terimakasih aku pada kamu. Aku juga sengaja menyiapakan ini semua untuk menebus semua kesalahan yang udah aku perbuat pada kamu. Karena aku sadar, di hari pernikahan kita satu tahun yang lalu, aku tidak membuat kamu bahagia, melainkan membuat kamu sengsara dan menderita."


"Aku melakukan ini semua karena aku merasa lebih baik terlambat untuk menebus semua kesalahan aku, daripada aku tidak menebusnya sama sekali."


"Aku udah pernah bilang, aku akan membahagiakan kamu dengan cara aku sendiri. Aku harap mulai detik ini kamu bisa memaafkan semua kesalahan aku yang dulu. Aku akan bikin kamu bahagia. Dan aku janji nggak akan bikin kejutan-kejutan yang keterlaluan seperti ini lagi."


Farrel mengusap lembut rambut Sabilla, ia berbicara dengan tatapan yang sedikitpun tak teralihkan dari Sabilla. Dalam hatinya, Farrel juga tak henti mengucap kata syukur pada sang pencipta karena sudah menghadirkan wanita polos itu untuknya. Senyum manis pun masih saja terukir di raut wajah Farrel sebelum dirinya memeluk Sabilla dengan penuh kasih sayang.


"Dari dulu aku juga udah maafin kak Farrel. Harusnya aku yang sangat-sangat berterimakasih karena Ayah telah menititipkan aku pada keluarga yang sangat baik dan menyayangi aku seperti Mama, Papa, kak Farrel, dan Kak Faris"


"Aku percaya kak Farrel akan selalu membuat aku bahagia. Dan jujur aku nggak tau harus ngomong apa lagi. Aku hanya bisa bilang terimakasih pada Kak Farrel, Mama, Papa, dan Kak Farris, dan juga Aura sahabat aku."


"Karena aku nggak tau, dan aku nggak bisa ngebayangin kalau seandainya aku nggak ketemu sama kalian, aku nggak tahu sekarang hidup aku akan seperti apa. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi saat ini selain kalian semua. Aku nggak bisa ngebayangin kalau dulu aku menolak perjodohan yang diinginkan Ayah, mungkin aku sekarang hanya hidup sendiri, kesepian, tanpa keluarga, tanpa orang-orang yang sayang sama aku. Jujur aku nggak tau lagi harus bilang apa selain kata terimakasih pada kalian semua."


Sabilla tak mampu lagi menahan kesedihannya. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa kesedihan itu masih bisa ia raskan meskipun Sabilla sudah mulai melupakan. Namun ia juga tak berhenti mengucapkan rasa syukur dengan apa yang ia raskan dan miliki saat ini. Karena benar yang pernah dikatakan Aura pada dirinya, bahwa tidak semua orang diluar sana yang memiliki keberuntungan seperti Sabilla.


Melihat kesedihan Sabilla, semua yang ada di sana tentu saja ikut merasakan haru melihat gadis cantik yang malang itu termasuk Yasmin, Aura, Tasya, Faris dan Asep. Mereka semua sangat menyayangi Sabilla.


Farrel mengusap lembut pipi Sabilla. Kemudian ia memeluk istrinya itu dengan sangat erat. Farrel juga sesekali mengecup bibir mungil Sabilla hingga membuat mahasiswa yang tidak lain adalah para tamu disana bersorak dengan histeris.

__ADS_1


Farrel tentu saja bisa merasakan kesedihan yang diraskan oleh Sabilla. "Sekarang kamu nggak perlu sedih-sedih lagi, sekarang kamu udah punya keluarga yang utuh, kamu punya Mama, Papa, aku dan masih banyak orang yang sayang sama kamu. Sekarang kita akan hidup bahagia."


"Aku berbicara seperti ini bukan berarti menyuruh kamu untuk melupakan Ayah, Bunda dan Kakak kamu. Kamu boleh mengingat mereka kapanpun, tapi kamu nggak boleh berlarut dalam kesedihan. Karena mereka pasti saat ini juga bahagia melihat kamu dari atas sana"


Sabilla mengangguk, tersenyum pada suami tampannya itu. Namun, seketika Sabilla teringat akan sesuatu.


"Bi Mirna" Lirihnya. Ia mengingat sosok asisten rumah tangga yang juga sudah ia anggap sebagai ibunya itu.


"Kak Farrel nggak ngajak bi Mirna kesini?"


Tanya Sabilla mendongakkan kepalanya ke atas kenatap Farrel dengan kening berkerut.


Farrel tersenyum. "Tuh" Ucapnya menoleh ke arah belakang Sabilla.


"Selamat ulang tahun ya non Sabil. Maaf kali ini non nggak ngasih apa-apa karena semuanya udah disiapin oleh suami non"


"Nggak papa kok Bik, dengan adanya Bibi disini aja aku udah senang banget" Sabilla tersenyum bahagia, hal itu tentu saja membuat Farrel ikut bahagia.


Farrel memang sengaja membawa Bi Mirna ke rumahnya karena ia sangat tahu bahwa istrinya itu pasti akan menanyakan Bi Mirna. Sebab, Farrel tentu saja sudah tahu bahwa Sabilla sangat dekat dengan Bi Mirna apalagi setelah Bundanya tidak ada.


"Yaudah Non Sabil nikmati pestanya sama den Farrel dulu ya, bibi mau ke belakang sebentar" Pamit Bi Mirna mengedipkan sebelah matanya menggoda Sabilla. Hal itu tentu saja membuat Sabilla malu, apalagi Farrel yang saat ini menatap dirinya jelas mengetahui keusilan Bi Mirna.


"Bibi apaan sih" Jawab Sabilla malu-malu sembari memperhatikan langkah Bi Mirna yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya.


Namun, saat Sabilla hendak kembali menoleh ke arah Farrel, pria itu sudah lebih dulu menopang pipi Sabilla dengan kedua tangannya, Farrel mengecup lembut bibir Sabilla di depan banyaknya orang yang ada di sana. Hingga membuat mereka kembali bersorak histeris dan ada yang sampe kejang-kejang saking tidak kuat melihatnya.

__ADS_1


Sementara Sabilla, gadis itu masih saja merasa malu meskipun status Farrel yang sudah menjadi suaminya. Sabilla memejamkan matanya bukan karena menikmati ciuman Farrel, namun karena malu jika harus menatap mereka semua satu persatu apalagi Yasmin dan Asep.


"Udah santai aja sayang, ini bukan yang pertama juga kok" Ucap Farrel tersenyum menatap Sabilla yang masih tidak berani membuka matanya.


"Tapi tetap aja aku malu kak Farrel" Ucapnya.


"Udah ah nggak usah pake malu-malu" Farrel langsung menarik tangan Sabilla dan memeluk istrinya itu dengan sangat erat di depan semua tamu yang ada di sana. Sungguh saat ini Farrel merasakan bahagia yang begitu nyata.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like. Terimakasih :)


Yang mau berteman sama aku di Ig juga boleh. Silahkan Follow Ig aku @Afrialusiana


@Lusiafriaa . yang satu akun pribadi, yang satu lagi akun khusus info-info karya dan promosi karya😊


Yang merasa nggak puas dengan cerita aku ini, aku minta maaf ya, karena aku hanya bisa menulis semampuku dan sebisaku. Dan aku bisa hanya seperti itu. Terimakasih bagi yang masih mau membaca story recehku ini. Hehe😊

__ADS_1


__ADS_2