My Poor Wife

My Poor Wife
Masa Lalu Sabilla 2


__ADS_3

"Kak Farrel ingat kan, waktu kak Diara marah banget sama aku saat aku nggak berani membuaka suara saat kak Diara marah-marah sama aku? aku justru berani bicara saat Kak Kevin datang. Kak Farrel tau itu kenapa? karena sungguh, pada saat itu aku melihat sosok Gilang dalam diri kak Kevin. Tanpa aku ucapkan, dia tau aku sedang nggak baik-baik saja. Sikap Kak Kevin pada saat itu benar-benar mengingatkan aku sama Gilang"


Tiga tahun aku pacaran sama Gilang. Gilang adalah orang pertama yang mampu membuat hati aku luluh, mampu menyembuhkan rasa sakit yang selama ini aku rasakan, mampu sedikit demi sedikit membuat aku hidup lebih bersemangat, karena Gilang pernah bilang, Hidup aku akan terus berjalan, dia juga udah janji akan selalu menemani aku"


"Hari-hari aku hanya aku lalui bersama Gilang, Gilang juga selalu melakukan apapun untuk membuat aku bahagia. Gilang udah jadi Bunda, Kakak, Teman, dan segalanya buat aku."


"Satu kalipun Gilang nggak pernah membuat hati aku terluka. Namun, kebahagiaan itu hilang dengan seketika, saat Gilang pergi untuk selama-lamanya. Kak Farrel tau? sungguh, hati aku benar-benar hancur. Aku nggak tau kenapa hidup aku harus semenyedihkan ini, aku nggak tau kenapa orang-orang yang aku sayangi harus pergi ninggalin aku. Aku nggak tau salah aku apa hingga kebahagiaan yang dulunya aku rasakan lenyap dengan seketika."


"Aku punya begitu banyak mimpi bersama Gilang, termasuk untuk kuliah disini. Dulu aku udah janji akan sama-sama terus sama Gilang, Gilang udah janji akan terus jagain aku. Kita udah janji akan kuliah di Universitas yang sama, satu jurusan yang sama, dan hidup bahagia bersmaa. Dan bahkan, satu hal yang orang lain nggak pernah tau, termasuk Ayah sekalipun. Gilang udah janji akan menikahi aku saat kita kuliah nanti. Gilang udah punya rencana untuk menemui Ayah. Karena Gilang bilang, dia nggak mau biarin aku sendirian, karena hanya Gilang satu-satunya orang yang paham gimana aku. Aku memang nggak pernah berfikir untuk menikah muda, tapi setelah bertemu Gilang, hidup aku berbah dengan sendirinya."


Sabilla berbicara dengan suara yang sudah sangat berat, matanya terlihat sudah berkaca-kaca, menatap kosong ke arah lautan. Sementara Farrel, pria yang sedari tadi mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Sabilla itu, masih setia menatap Sabilla dengan tatapan iba tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ingin rasanya ia memeluk Sabilla dengan seerat-eratnya, tapi Farrel lebih memilih untuk mendengarkan Sabilla terlebih dahulu."


"Kak Farrel tau, andai aku tau apa yang akan terjadi, andai aku tau bahwa takdir nggak akan pernah menyatukan aku dengan Gilang. Aku nggak akan pernah membuka hati aku untuk dia, aku nggak akan pernah menaruh harapan yang terlalu besar."


"Aku benar-benar nggak menyangka, bahwa hari kelulusan yang seharusnya aku rasakan dengan kebahagiaan, harus tertukar dengan kesedihan yang mendalam. Karena selama ini aku nggak pernah merasakan kebahagiaan seperti itu, itulah sebabnya aku pengen banget merasakan merayakan hari kelulusan seperti orang-orang kebanyakan. Tapi takdir berkata lain, Gilang pergi untuk selama-lamanya saat diperjalanan ke rumah aku."


"Aku menyesal, seumur hidup aku, aku merasa akulah satu-satunya orang penyebab kematian Gialang. Karena sesungguhnya, pada saat itu aku yang memaksa Gilang untuk ke rumah saat itu juga. Karena entah kenapa, aku pengen sekali merasakan gimana indahnya akhir dari masa putih abu-abu bersama teman. Merasakan keinginan yang sebelumnya nggak pernah aku rasakan."

__ADS_1


"Andai aku tau, hari itu adalah hari yang akan merenggut nyawa Gilang, andai waktu dapat diputar kembali, aku nggak akan memaksa Gilang untuk ke rumah saat itu juga. Aku menyesal, akulah penyebab Gilang meninggal."


Sabilla tak mampu lagi membendung air matanya, cairan bening itu telah berhasil lolos menetes di pipi mungil Sabilla. Isakan tangispun terdengar jelas diiringi dengan suara ombak yang begitu deras dan berisik di pinggir pantai tersebut.


"Jadi, itu alasan kamu nggak pernah memiliki rasa semangat selama ini?"


Farrel merengkuh memeluk tubuh Sabilla. Rasanya ia tak kuasa lagi melihat istrinya itu bersedih seperti saat ini. Farrel benar-benar dapat merasakan apa yang diraskaan oleh Sabilla.


"Maafin aku Sabil, maafin aku yang nggak bisa paham dengan kamu selama ini, maafin aku udah kasar sama kamu. Maafin aku"


Farrel memeluk Sabilla dengan begitu erat, kata maaf pun tak berhenti keluar dari mulutnya. Pria itu mengusap air mata Sabilla dengan ibu jarinya, menatap lekat mata istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Sabilla hanya menangis tanpa membuka suara, sungguh apa yang ia pendam selama ini terasa begitu melegakan saat ia mampu menceritakan semuanya pada Farrel. Karena selama ini, Sabilla hanya bisa memendam rasa sakit itu sendiri, tanpa ingin menceritakan pada orang lain.


Farrel kembali memeluk Sabilla dengan begitu erat. Tanpa ia sadari, air matapun ikut menetes di pipinya. Pria songong dan juga belagu itu ternyata mampu dibuat luluh menjadi pria lemah oleh Sabilla.


Farrel kembali mengambil sesuatu dari saku celana miliknya. "Aku nggak pernah meminta kamu untuk melupakan Gilang, kamu boleh simpan dia di hati kamu. Aku nggak akan pernah membenci dia, justru aku sangat berterima kasih, karena dia udah menjaga kamu, menjadikan kamu wanita yang kuat hingga akhirnya kita dipertemukan."

__ADS_1


"Aku memang nggak pernah menyaksikan seperti apa kesediahan yang kamu rasakan selama ini Sabil, tapi aku bisa merasakan itu semua. Aku nggak tau apakah kita bisa dipertemukan seperti ini, jika dulu Gilang nggak berhasil menjaga kamu, karena aku tau betapa frustasinya kamu menjalani hidup seperti itu"


Farrel memberikan sebuah foto Sabilla dan juga Gilang. Foto yang sempat ia permasalahkan sebelum Ayah Sabilla meninggal.


"Kamu boleh simpan ini, kamu boleh simpan Gilang di hati kamu, tapi aku mohon, kamu nggak boleh menyalahkan diri kamu terus. Gilang meninggal bukan salah kamu, tapi ini semua udah takdir. Mulai saat ini, aku mohon kamu bisa memulai kehidupan baru bersama aku Sabil. Aku tau nggak mudah bagi kamu setelah apa yang kamu lalui selama ini, tapi aku tau kamu kuat, buktinya kamu bisa melewati semua itu hingga sampai detik ini kamu masih bisa bernafas dan masih sehat"


"Aku tau, aku nggak akan pernah jadi seorang Gilang. Tapi izinkan aku membahagiakan kamu dengan cara aku sendiri. Aku tau, aku banyak salah sama kamu Sabil, aku tau ini semua nggak mudah bagi kamu. Jadi tolong berhenti untuk larut dalam kesedihan dan berhenti menyalahkan diri kamu sendiri."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, love dan vote ya. Terimakasih :)


__ADS_2