My Poor Wife

My Poor Wife
Extra Part 7


__ADS_3

Farrel baru saja pulang dari kantor. Pria itu segera masuk ke dalam rumah tempat dimana ia dulu dibesarkan sedari kecil setelah Farrel memarkirkan mobilnya di garasi terlebih dahulu.


"Sabil mana Ma? Tanya Farrel saat pria itu sudah berada di dalam rumah, lebih tepatnya di ruang tengah. Farrel bertanya pada Yasmin saat melihat wanita itu tengah sibuk menonton televisi di sana seorang diri.


Yasmin menoleh. "Sabil udah tidur di kamar kamu. Kecapekan kayaknya daritadi bantu Mama masak, bersih-bersih juga. Padahal udah dibilangin nggak usah tapi masih aja ngotot"


"Tapi udah makan kan Ma?" Tanya Farrel memastikan. Karena belakangan ini istrinya itu sangat sulit untuk makan.


"Udah lah. Ya kali Mama biarin mantu sama cucu Mama nggak makan"


"Hehe iya, iya deh. Mama memang the best. Btw makasih ya Ma, aku ketas dulu" Pamit Farrel. Pria itu segera menaiki anak tangga menuju kamar yang dulunya menjadi kamar dirinya sebelum pria itu menikah dengan Sabilla.


Farrel membuka perlahan pintu kamarnya, dari ambang pintu, pria itu melihat Sabilla tampak tertidur membelakangi pintu kamar.


Farrel menaruh tas kerja di atas sofa yang ada di kamar tersebut. Pria itu mendekat pada Sabilla. Farrel menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Farel mendekatkan wajahnya perlahan. Mencium Sabilla tanpa ingin membuat gadis itu terbangun.


"Bunda" Kata itu terlontar dari bibir Sabilla.


"Sayang, kamu bangun?" Tanya Farrel.


Sabilla membuka mata perlahan, memutar tubuhnya menghadap ke arah Farrel.


"Bunda" Kata itu kembali lolos dari bibir Sabilla.


"Sayang, kamu nangis?" Tanya Farrel saat mendapati mata gadis itu sedikit sembab dan bengkak seperti orang usai menangis.


"Hei, Sayang kamu nangis? ada apa? ada masalah?" Tanya Farrel lagi dan lagi.


"Kak Farrel" Panggil Sabilla.


"Iya sayang, kamu kenapa?"


Sabilla mendudukkan tubuhnya perlahan. Hingga kini posisi Sabilla saling berhadapan dengan Farrel yang juga sedari tadi duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Tangan Farrel bergerak menyapu bulir bening yang saat ini menetes dari kelopak mata Sabilla.


"Cerita sama aku sayang. Kamu kenapa? Mau apa? Aku beliin sekarang juga!"


Sabilla menggeleng. "Aku nggak mau apa-apa, aku cuma rindu Ayah sama Bunda" Lirih Sabilla dengan suara yang sedikit berat.


Farrel memejamkan mata diiringi helaan nafas yang terbuang dari mulutnya. Seketika Farrel terdiam tak mampu berkata-kata. Sungguh, Farrel sangat bisa merasakan apa yang saat ini Sabilla rasakan.


Farrel paham, sebanyak apapun orang yang menyayangi Sabilla saat ini, kedua orang tua serta kakaknya Nabila tentu saja tak akan pernah ia lupa sekalipun gadis itu sedang tertawa. Apalagi disaat kondisi Sabilla yang tengah hamil seperti saat ini.


Meskipun Yasmin sudah menyayangi Sabilla seperti anak sendiri, dan mengurus menantunya itu dengan penuh kasih sayang, tapi manusiawi saja jika Sabilla tetap merindukan Ayah, Bunda serta kakaknya. Bukannya Sabilla tidak tahu terimakasih, tapi tetap saja rasanya beda.


Jujur saja, dalam kesendirian, terkadang Sabilla tak henti menyendiri, menangis, membayangkan jika saat ini keluarganya masih ada, mungkin semua akan merasa bahagia.


Farrel menangkup kedua pipi Sabilla. Pria itu sedikit mendongakkan kepala istrinya agar lebih leluasan menatap dirinya.


"Sayang, liat aku" Ucap Farrel lembut.


"Bunda ada disini, di hati kamu. Jangan sedih ya. Nanti dedenya juga ikutan sedih lo kan kasihan" Bujuk Farrel dengan tawa yang ia coba paksakan. Padahal, sejujurnya pria itu juga tak mampu membendung kesedihannya.


"Barusan aku mimpi kak. Aku mimpi, aku baru aja melahirkan. Disana keluarga aku terasa lengkap. Aku punya dua ibu dan dua ayah. Disana, Mama dan Bunda terlihat sangat bahagia. Semua terasa nyata kak. Tapi seketika aku terbangun, aku sadar semua itu hanyalah mimpi yang tak akan mungkin terjadi"


"Hati aku remuk kak. Aku merindukan mereka." Sabilla berbicara dengan suara sangat berat. Tak bisa dipungkiri air mata tak henti menetes dari pipinya.


Tanpa mengucapkan apa-apa, Farrel menarik tengkuk istrinya, memeluk Sabilla dengan sangat erat serta berkali-kali mencium puncak kepala Sabilla. Sungguh, Farrel merasa tidak tega karena ia juga bisa merasakannya. Namun Farrel tidak bisa lagi berbuat apa-apa, saat ia tahu kata-kata tak akan mampu menenangkan istrinya."


Yang bisa Farrel lakukan hanyalah menenangkan Sabilla dan tak henti memberikan yang terbaik serta membahagiakan istrinya yang malang itu.


"Hai Mama. Mama kenapa nangis? Mama lagi sedih ya? Mama kesepian? Mama tenang aja. Aku lagi diperjalan menuju dunia, bentar lagi aku juga sampai disana. Mama tunggu aku ya. Setelah aku tiba, Mama nggak akan sendirian lagi saat Papa bekerja. Aku akan selalu temanin Mama."


"Mama jangan nangis. Nenek sama kakek disana baik-baik aja. Mereka juga senang kalo lihat Mama bahagia. Mama yang kuat ya, karena Papa akan selalu menyayangi Mama. Dan Papa juga nggak tega liat Mama sedih terus."


"Mama harus tetap semangat ya. Mama harus sabar nunggu aku, karena setelah ini kita akan terus sama-sama. Jangan sedih, aku sayang Mama"

__ADS_1


Farrel mengelus perut Sabilla serta membisikkan suara tersebut layaknya anak kecil. Hal itu seketika membuat bibir Sabilla melengkung membentuk sebuah senyuman.


Saat ini, kesedihan yang semula Sabilla rasakan berganti menjadi kebahagiaan saat suaminya itu berusaha untuk menghibur dirinya.


"Kak Farrel" Lirih Sabilla sambil tertawa kecil melihat tingkah Farrel yang ia rasa begitu lucu dan menggemaskan. Seketika Sabilla membayangkan jika yang mengucapakan hal itu benar-benar anaknya.


"Nah, gitu dong. Ketawa. Jangan sedih ya. Nanti kalo kamu sedih terus, babynya juga ikut sedih lo. Kan kasian" Ucap Farrel cemberut.


"Terimakasih sudah selalu ada dalam suka dan duka serta selalu membuat aku tertawa saat kesedihan melanda" Ucap Sabilla menggenggam tangan Farrel erat.


"Nggak perlu berterimakasih sayang, karna itu memang udah kewajiban aku. Dan itu juga janji aku sama diri aku sendiri. Aku akan selalu buat kamu bahagia dan nggak akan buat kamu terluka."


"Sekarang tidur ya. Aku mau mandi dulu. Malam ini kita tidur disini aja. Besok baru kita pulang. Karena udah malam nggak baik juga kamu kena angin malam."


Sabilla mengangguk. Farrel merebahkan tubuh gadis itu perlahan sebelum pria itu berlalu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak berselang lama, Farrel keluar dari kamar mandi. Pria itu mendekat pada Sabilla yang tampak masih belum tertidur. Pria itu paham, bahwa gadis itu tidak akan bisa tidur jika belum dielus kepalanya dan dipeluk oleh Farrel. Karena itu sudah menjadi kebiasaan Sabilla semenjak menikah dengan Farrel. Lebih tepatnya semenjak hubungan mereka membaik setelah terjadinya kesalahpahaman di awal pernikahan dulu.


Farrel merangkak ke atas tempat tidur, pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Tangan Farrel menumpu kepala Sabilla di lengannya. Sementara tangan kiri Farrel tampang mengelus rambut gadis itu lembut hingga Sabilla merasakan suratu kenyamanan.


"Selamat malam sayang. Tidur yang nyenyak, semoga mimpi indah ya" Ucap Farrel sambil mengecup kening Sabilla. Tanpa ia sadari, istrinya itu sudah tertidur lelap.


"Dasar" Ucap Farrel tersenyum sebelum pria itu ikut memejamkan mata sambil memeluk Sabilla erat dalam dekapannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih. Oiya, untuk cerita Aura aku sudah up dari kemaren, tapi nggak tau kenapa masih belum lolos review juga. Ditunggu aja ya. Makasih, jangan lupa share cerita ini biar makim banyak yang baca. Hehe


__ADS_2