My Poor Wife

My Poor Wife
Aura Centil


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Sabilla baru saja sampai di kampus. Saat ini ia tengah duduk di kursi paling pojok nomor 3 dari depan. Kursi yang biasa ia duduki. Sabilla sedari tadi memperhatikan sekitar, mencari seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya Aura.


Merasa bosan, Sabilla melipat kedua tangan di meja, merebahkan kepalanya ke samping sembari menatap kosong tembok yang ada paling ujung.


"Dooorrrrrr"


"Eh dooorr doooor"


"Auraaaaaaaaaaaaa"


Sabilla berteriak dengan lantang, menggerutu kesal pada sahabat yang hampir saja membuat dirinya jantungan. Ia benar-benar kaget bukan main dengan Aura yang tiba-tiba saja mengagetkannya dari arah belakang.


Aura yang sama sekali tidak merasa bersalah, malah terkekeh tanpa henti sembari menepuk pundak Sabilla sesekali.


"Apaan sih lo nggak lucu tau nggak, untung gue nggak jantungan, kalo jantungan lo mau tanggung jawab?" Sabilla melotot tajam ke arah Aura. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Aura takut. Ia malah tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat sahabatnya itu kesal.


"Ekhheeemmm pengantin baru" Aura duduk di kursi biasa, yaitu tepat di sebelah Sabilla. Ia melirik Sabilla dengan tatapan penuh godaan.


"Apaan sih"


"Jadi gimana?" Aura memegang dagu Sabilla, tersenyum licik menggoda sahabatnya itu.


"Gimana apanya?" Sabilla menoleh ke arah Aura dengan mengerutkan keningnya.


"Ya kan lo udah nikah. Terus gimana..."


Belum selesai Aura melanjutkan ucapannya, Sabilla dengan cepat membungkam mulut gadis yang ember bocor dan tidak bisa diam tersebut dengan tangannya sendiri.


"Sttttt. Bisa diam nggak sih lo" Sabilla menjauhkan tangannya kembali.


"Kenapa gue harus diam? semua mahasiswa di kampus ini juga tau kali kalo lo sekarang udah jadi istrinya Farrel Ananda Putra Cowok populer di kampus ini."


"Ya tapi..."


"Bil, gue punya mulut. Lo tau mulut gunanya untuk apa?"


"Ya untuk ngomong"


"Lah itu lo tau, kenapa lo malah nyuruh gue diam? Kita hidup harus memanfaatkan apa yang telah diberikan Allah pada kita Bil. Kita juga..."


"Sstttt lo bisa diam nggak sih Wa? Bisa nggak, sehari aja lo nggak ngoceh?"


"Tadi lo tau kan, mulut gunanya buat apa?"


"Tau ah, capek gue ngomong sama lo" Sabilla bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki hendak menuju toilet, namun langkahnya terhenti tatkala melihat Kevin yang sudah berada di depan pintu kelasnya.


"Kak Kevin?" Sapa Sabilla yang sudah berada tepat di hadapan kevin.


"Hai Bil"


"Kak Kevin ngapain disini?" tanya Sabilla bingung.

__ADS_1


"Mau nemuin kamu lah, mau apa lagi?"


"Hmmm" Sabilla menunduk.


"Tadi pagi kenapa berangkat kuliahnya nggak sama Farrel?" Pertanyaan Kevin sukses membuat Sabilla kembali medongakkan kepalanya keatas, menatap Kevin yang saat ini berada di depannya.


"Tadi kak Farrel katanya ada urusan penting di kampus, jadi aku suruh dia duluan aja kak. Tapi kakak tau darimana?"


"Kamu nggak perlu tau aku tau darimana. Tapi kenapa aku mencium aura aura kebohongan ya?" Ujar Kevin menatap Sabilla dengan tatapan mencurigakan.


"Kak Kevin nyari aku? aku ada disini kok kak" Aura yang baru saja menyadari adanya Kevin di pintu kelas, segera bergegas menyusul pria tampan idolanya tersebut.


"Hmm maksud aku..."


"Udah lah kak Kevin nggak usah malu-malu, gitu santai aja kali. Aku nggak keberatan kok kalo kak Kevin nikahin aku. Upsss nyari aku maksudnya."


Aura tersenyum centil, sesekali mengedipkan sebelah matanya pada Kevin. Sementara Kevin hanya cengengesan tanpa membalas ucapan gadis cantik sahabat Sabilla tersebut.


"Oiya, aku mintak tolong sama kamu ya, bilang ke teman-teman kelas kami yang lain, nanti siang jangan lupa ngumpul. Senior akan ngasih pengumuman KBM (Kemah Bakti Mahasiswa) nanti. Jangan sampai ada yang nggak hadir" Kevin berpesan pada Sabilla, namun yang menanggapi justru Aura.


"Kak Kevin tenang aja, nanti bakal aku sampein kok, apa sih yang enggak buat kak Kevin" Aura kembali mengedipkan matanya ke arah Kevin, membuat pria tersebut tak henti menatap geli ke arah Aura.


Menyeringai "Hehe mkasih" Kevin hendak pergi dari sana, namun langkah kakinya terhenti saat dirinya mendengar sesorang berteriak memanggil namanya.


Kevin menoleh ke arah belakang, melirik gadis yang memanggil namanya itu dari atas sampai bawah. "Apa?" tanya Kevin singkat.


"Ngapain lo disini?" tanya senior yang tidak lain adalah Diara dan Keyla. Wanita itu melirik Sabilla dengan tatapan menjijikkan seraya melipat kedua tangan di dadanya.


"Ya... kali aja lo di goda sama pelakor, makanya lo bisa nyampe sini"


Kevin melangkahkan kakinya mendekat pada Diara. "Pelakor? siapa yang lo maksud pelakor?" tanya Kevin yang saat ini berada tepat di depan Diara.


"Ra, kalo ngomong, mikir dulu deh. Disini yang istrinya Farrel siapa?"


"Sabil" Jawab Aura dengan lantang, sontak membuat Kevin menoleh ke arahnya, kemudian kembali mengalihkan pandangan pada Diara.


"Maksud lo nanya gitu apa?" tanya Diara dengan nada suara meninggi.


"Lo ngaca nggak sama omongan lo barusan? yang istrinya Farrel Sabil, kenapa malah dia yang lo bilang pelakor? Masih nggak ngerti juga lo apa maksud gue nanya? Apa perlu gue perjelas?"


"Ck! Dari dulu lo ngeselin banget tau nggak Vin!"


"Gapapa gue ngeselin, Daripada lo, pengkhianat!"


Kevin melangkahkan kakinya pergi dari sana, meninggalkan 4 gadis cantik tersebut. Sabilla dan Aura menatap satu sama lain sebelum sama-sama menaikkan bahunya.


"Permisi kakak senior mantan terindahnya kak Farrel tapi nggak akan pernah jadi istrinya" Aura tertawa licik mengejek senior yang tidak henti mengganggu sahabatnya itu. Kemudian, Sabilla dan Aura segera pergi dari sana.


"Arkkkhhhhhh kenapa jadi gini sih?" Diara menarik rambutnya sendiri saking kesalnya. Ia mengepalkan kedua tangannya seraya memperhatikan Sabilla dan Aura yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.


"Sekarang gue percaya kalo karma itu ada!"


Keyla membuka suara, kemudian berjalan mendahului Diara.

__ADS_1


"Maksud lo apaan?" Sorak Diara.


"Nggak, daripada lo marah-marah bikin darah tinggi, mending kita makan" Keyla merangkul pundak Diara mengajak sahabatnya itu menuju kantin. Diara masih mengerutu kesal, berjalan mengikuti sahabatnya itu.


***


Di kantin, Sabilla dan Aura tengah duduk di tempat biasa. Saat ini dua gadis cantik itu tengah menunggu pesanan mereka datang. Namun, pandangan Sabilla tak teralih pada seseorang yang sedang asyik menyantap makanan di pojok kantin dengan begitu lahap seorang diri.


Hatinya hancur, ketika mengingat suami dan Ayahnya sedikitpun tidak mencicipi masakannya.


"Bil, woi Sabilla"


Teriakan Aura membuat Sabilla membuyarkan lamunannya. "Eh iya Wa ada apa?"


"Lo ngapain sih bengong disiang bolong kayak gini? Kesambet setan gabakal gue tolongin lo."


"Hmm nggak papa kok" Jawab Sabilla singkat tanpa ingin meladeni sahabatnya itu untuk bercanda.


"Bil, kenapa sih Kak Diara ganggu lo terus? gue kira dia nggak datang di acara pernikahan lo karena dia udah ikhlasin kak Farrel. Eh taunya..."


"Ya nggak mungkin juga dia secepat itu lupain kak Farrel. Dan mungkin Kak Diara nggak datang karena nggak ingin sakit hati. Tapi Wa, menurut lo gue jahat nggak sih? gue salah besar sama kak Diara. Gara-gara gue mereka jadi terpisah...."


"Bil, ini semua bukan salah lo, ini semua adalah takdir. Siapa yang tau tentang jodoh? Nggak ada! Karena jodoh terkadang datang tanpa di sangka-sangka!"


"Tapi Wa..."


"Hallo Sabil cantik" Kevin yang juga baru saja sampai di kantin, berteriak dengan penuh semangat memanggil nama Sabilla seraya melambaikan tangannya ke arah gadis tersebut. Membuat mahasiswa yang ada di sana sontak menoleh ke arahnya tak terkecuali dengan Farrel.


Pria itu tak henti melirik ke arah Sabilla, Kevin dan Aura yang tengah bersenda gurau dan sesekali tertawa oleh lelucuan Kevin.


"Kak Kevin kok perhatiannya sama Sabil mulu sih? Aku berasa jadi nyamuk lo kak. Lo juga Bil, udah ada kak Farrel juga, kasih kak Kevin buat gue kenapa sih?" Kata Aura Cemberut layaknya anak kecil.


Kevin dan Sabilla menoleh satu sama lain.


"Ra, kamu mau aku perhatiin juga?" tanya Kevin yang sontak membuat wajah Aura merah merona seketika. Dan tentu saja, gadis tersebut dibuat salah tingkah olehnya.


"Mau mau mau kak. Nggak usah ditanya lagi deh, mau banget malahan." Jawab Aura dengan penuh semangat.


"Tunggu sampai Sabil jadi milik aku dulu, setelah itu, akan aku jadiin kamu istri kedua."


Sabilla dan Aura menoleh satu sama lain. "Garing" ucap mereka bersamaan sebelum tertawa dengan keras mengejek Kevin. Sedangkan Farrel, tatapan pria itu masih tak teralih dari Aura, Sabilla dan juga Kevin. Hingga tanpa di sengaja, Sabilla juga menoleh ke arahnya, membuat mata mereka sejenak beradu pandang sebelum Farrel mengalihkan pandangannya kembali.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like ya:) Terimakasih💙

__ADS_1


__ADS_2