My Poor Wife

My Poor Wife
Penuh Harap


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Farrel masih menatap Yasmin dengan penuh harap. Berharap wanita yang telah melahirkan dirinya itu memberikan izin pada untuk kembali ke rumah. Namun, dengan status saat ini yang sudah sah menjadi suami Sabilla, Yasmin tidak akan pernah mengizinkan hal itu. Bukan karena ia tidak menyayangi anaknya lagi, namun sudah kewajiban Farrel untuk tinggal dan menjadi imam yang baik untuk istrinya.


Sabilla masih berdiri di di tangga pertama menuju kamarnya. Ia masih memikirkan bagaimana memulai kata untuk mengajak Farrel segera ke kamarnya. Saat ini Sabilla benar-benar merasa malu, tangannya dingin menahan groginya.


Namun, tanpa repot-repot untuk berbicara, Faris sudah lebih dulu mendorong adik satu-satunya itu ke arah Sabilla, hal itu tentu saja sukses membuat Farrel tak hentinya menggerutu kesal menatap sang kakak dengan tatapan yang begitu tajam. Jika saja ia bisa memakan manusia, rasanya ingin sekali Farrel memakan kakaknya itu sekarang juga.


"Udah cepetan pergi sana ah" Setelah mendorong Farrel, Faris mengedipkan satu matanya menggoda Farrel. Sedangkan Farrel, belum memalingkan pandangannya yang sedari tadi melotot tajam ke arah sang kakak.


Mengehentakkan kaki layaknya anak kecil, Farrel segera mengambil paksa koper miliknya dari tangan Faris. Ia berpamitan terlebih dahulu pada para tertua yang ada di ruang tamu tersebut sebelum dirinya berjalan kembali ke arah Sabilla.


Sabilla segera menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya, diikuti dengan Farrel dari arah belakang dengan tampang yang begitu tidak bersemangat. Namun, Sabilla hanya acuh tanpa memperdulikan apalagi bertanya. Ia hanya tidak ingin kembali di bentak oleh laki-laki itu. Itulah sebabnya Sabilla memilih untuk diam, membungkam mulutnya sendiri.


"Di kamar jangan brantem ya" Sorak Yasmin menggoda kedua remaja yang saat ini sudah berstatus sebagai suami istri itu. Dan hal tersebut sukses membuat Sabilla merasa malu. Tanpa ingin meladeni mertuanya itu, Sabilla kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti menuju kamar, dan tentu saja masih diikuti oleh Farrel di belakangnya.


Langkah demi langkah, Farrel menatap sekeliling, memperhatikan suasana disekitar rumah Sabilla.


Saat mereka sampai di pintu kamar, Sabilla berhenti sejenak, menatap Farrel dengan sedikit takut. Ia tidak tahu harus memulai berbicara darimana. Namun, setelah memberanikan diri, akhirnya Sabilla berhasil menyuruh laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya, meskipun dengan raut wajah yang masih acuh.


***


Setelah masuk ke dalam kamar ala cewek yang bertemakan princess tersebut, Farrel menaruh koper miliknya di sembarang tempat. Tanpa merasa sungkan, ia segera duduk di atas sofa yang berwarna pink milik istrinya itu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Farrel menatap sekeliling kamar, ia memperhatikan kamar yang begitu mewah yang memang khusus di dekorasi ala-ala prinses oleh Ayah Sabilla. Di sana terdapat tempat tidur kanopi berkelambu dengan sangat indah. Kamar tidur Sabilla tersebut didominasi dengan warna ungu muda yang dipadukan dengan warna pink dan putih sehingga menghadirkan nuansa kalem dan ceria disaat bersamaan. Di sana juga tidak terlepas dari meja rias berwarna putih, lemari sepatu dan sebagainya. Begitu sempurna memang, namun tidak sesempurna jika Bunda dan kakaknya masih ada.


Sabilla yang saat ini tengah duduk du atas kasur, menatap Farrel dengan begitu bingung. Sedari tadi ia merangkai kata-kata untuk berbicara dengan pria itu dalam hatinya, namun tak mampu untuk mengungkapkan.


Sabilla benar-benar bingung dengan apa yang akan ia lakukan, perlahan dirinya mulai meberanikan diri untuk melangkahkan kaki berjalan menghampiri Farrel.


"Kak Farrel, ini barang-barang kak Fareel aku beresin aja gimana?" tanya Sabilla dengan begitu gugup.


"Mau lo beresin kemana barang-barang gue? ke tong sampah?" tanya Farrel dengan begitu sinis. Pria yang masih terduduk di sofa dengan tangan yang terlentang di kepala sofa itu menatap sinis ke arah Sabilla.

__ADS_1


"Ya di lemari aku, mana mungkin aku tarok di tong sampah?"


"Kenapa jadi lo yang ngegas?" Farrel berdiri dari duduknya, sontak membuat Sabilla menjadi ciut ketakutan.


Sabilla mundur perlahan "Aku nggak ngegas kok kak, serius" Sabilla menundukkan tubuhnya takut, selangkah demi selangkah dirinya mundur ke belakang karena Farrel yang mendesak melangkah ke arahnya.


Fikiran Sabilla melayang kemana-mana, ia memejamkan matanya, menyilangkan kedua tangannya di dada. Hingga dirinya merasakan tangan Farrel yang bersentuhan dengan tangannya.


"Ngapain lo?" tanya Farrel, membuat Sabilla segera membuka mata, jantungnya berdetak dengan begitu kencang saat melihat jarak dirinya dan Farrel malah semakin dekat.


"Nnggak kak. Kak Farrel jangan sekarang pliss kita kuliah dulu ya" Sabilla mengatupkan kedua tangannya memohon pada Farrel, sedangkan Farrel mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dimaksud oleh gadis itu. Namun, saat dirinya sudah menyadari, Farrel tertawa menyeringai menatap Sabilla yang saat ini berada di depan dirinya dengan jarak yang tidak begitu jauh.


"Apaan sih otak lo, gue mau ngambil koper! biar gue yang susun barang-barang gue sendiri. Ntar lo malah liat senjata rahasia gue lagi" Seru Farrel melirik kopernya yang ada di belakang Sabilla.


Sabilla menghembuskan nafas lega. Entah senang, atau malu, rasanya benar-benar bercampur aduk. Di satu sisi, dirinya senang tidak di apa apakan oleh Farrel, namun di sisi lain dirinya malu akan ucapnnya pada Farrel barusan.


Setelah menarik kopernya, Farrel sedikit menjauh dari Sabilla. "Mau ditarok dimana barang-barang gue?" tanya Farrel.


Kring


Farrel meraih ponsel miliknya yang baru saja berbunyi dari dalam saku celana. Ia segera membuka satu pesan masuk yang tidak lain dari Yasmin sang Mama. Yasmin mengatakan bahwa dirinya berserta Faris dan suami telah pulang ke rumah. Ia menyuruh putra keduanya itu untuk segera beristirahat.


Setelah membaca pesan dari ibu yang telah melahirkannya itu, Farrel tak henti-hentinya menggerutu kesal karena telah ditinggalkan oleh orang tua dan kakaknya itu. Namun, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menerima semuanya.


***


Malam harinya, pukul 20.00, setelah selesai makan malam, Farrel dan Sabilla segera pamit pada Hermawan untuk kembali ke kamar mereka. Saat ini Farrel kembali duduk di sofa yang ada di kamar tersebut sedangkan Sabilla duduk di tepi ranjang.


Malam ini, hujan deras turun membasahi bumi. Karena merasa bosan, canggung, dan tidak tau harus berbuat apa, Sabilla segera bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju balkon, menatap pemandangan dan hujan yang turun tanpa henti dari lantai dua rumahnya. Hujan turun tanpa permisi, Sabilla hanya diam menatap kosong ke sembarang arah.


Tak lama kemudian, Farrel yang juga merasa bosan, segera berdiri dari duduknya. Ia menelusuri seisi kamar Sabilla yang memang dominan terisi dengan hal-hal yang berbaur perempuan. Hingga pandangannya tak teralih dari salah satu figura dengan 3 wanita yang begitu mirip, tertawa dengan begitu bahagia.


Farrel melangkahkan kakinya menuju meja keci yang ada di samping tempat tidur Sabilla. Ia mengambil figura yanga da di sebelah lampu tidur tersebut. Farrel memperhatikan foto seorang ibu yang masih terlihat muda sedang memangku dua gadis cantik yang imut dan lucu dengan tawa yang begitu jelas dari raut wajah mereka.

__ADS_1


Karena merasa penasaran, Farrel berjalan menghampiri Sabilla menuju balkon dengan figura yang masih dirinya pegang.


Sebelum mendekat, Farrel sejenak memperhatikan Sabilla dari kejauhan, ia melihat gadis itu hanya melamun menatap rintikan hujan yang jatuh tanpa henti.


"Hei cewek budeg" panggil Farrel yang baru saja datang dari arah belakang, membuat lamunan buyar seketika. Ia segera menoleh ke arah belakang memperhatikan Farrel dengan figura di tangannya.


"Nama aku Sabilla, bukan budeg" Saut Sabilla tanpa menoleh ke arah Farrel.


"Ini Bunda lo?" tanya Farrel.


Sebenarnya Farrel memang telah mengetahui bahwa Bunda Sabilla telah meninggal dunia, tapi hanya sampai disitu saja. Ia tidak ingin dan tidak peduli lebih detailnya. Farrel juga tidak mengetahui bahwa Sabilla sebenarnya memiliki seorang kakak.


"Hmmmm" Saut Sabilla yang masih setia berdiri tanpa mau menoleh ke arah Farrel.


"Terus yang ini siapa?" Farrel menunjuk figura yang ada di tangannya. Hal itu membuat Sabilla menoleh ke arah belakang kembali. Ia memperhatikan figura yang tengah di pegang oleh Farrel.


"Itu kakak aku" Jawabnya tanpa bersemangat, kemudian Sabilla kembali memalingkan pandangannya dari Farrel.


"Terus sekarang dia mana? kenapa gue nggak pernah ketemu? kenapa dia nggak hadir di acara pernikahan lo?" tanya Farrel dengan begitu polosnya. Karena dirinya memang tidak mengetahui tentang kakak Sabilla.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukung Author dengan cara, like, komen dan Vote ya. Karena satu like dari kalian itu sangat berharga bagi Author. Terimakasih. Semoga suka💙 Kalo mau komen jangan yang pedes-pedes ya. Hehe Author baperan soalnya. Wkwk

__ADS_1


__ADS_2