
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Farrel memalingkan pandangannya pada Faris, melotot tajam pada kakak satu-satunya itu. "Nggak akan pernah, jangan mimpi lo" ucapnya.
"Sekarang Sabil ada di mana Ma?" tanya Farrel. Yasmin menoleh ke atas arah kamar Sabilla "Dia ada di kamar" jawab Yasmin.
Dengan tergesa-gesa, Farrel segera berlari menaiki anak tangga menghampiri Sabilla di kamarnya. Sedangkan Faris, tersenyum kecil menatap kepergian adiknya, karena hal yang diucapkan Faris barusan adalah kesengajaan untuk memancing emosi Farrel.
Di amabang pintu kamar, Farrel berdiri mematung, menatap Sabilla dari kejauhan. Ia memperharikan istrinya itu tengah duduk memangku lututnya di atas kasur dengan mata yang benar-benar sembab, wajahnya pucat dan tidak bersemangat. Aura yang menyadari keberadaan Farrel, segera keluar dari kamar tersebut.
Setelah Aura sudah tidak ada lagi di sana, tanpa aba-aba, Farrel melangkahkan kakinya dengan cepat berhambur memeluk Sabilla, ia melontarkan kata maaf berkali-kali. "Maafin gue Sabil" ucap Farrel yang entah keberapa kali si sela-sela pelukannya.
Sabilla hanya diam mematung, mengabaikan seolah saat ini tidak ada Farrel di dalam pelukannya. Farrel memegang kedua pipi Sabilla dengan kedua tangannya, menatap mata Sabilla hingga Sabilla ikut memalingkan padangannya menatap Farrel yang saat ini tepat berada di depannya. Gadis itu menatap Farrel dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Kakak bilang, aku hanya menunggu saat yang tepat kan? Sekarang saatnya udah tepat kak. Ayah aku udah nggak ada, dan kakak bebas mau ngelakuin apa aja sama aku termasuk menceraikan aku! Lakukan kak, lakukan jika itu bisa menembus kesalahan aku yang udah merebut kakak dari kak Diara!" Sabilla berbicara dengan suara yang begitu berat, kemudian kembali memalingkan pandangannya dari Farrel.
Farrel terdiam mendengar ucapan Sabilla, seketika ia mengingat apa yang telah ia katakan pada Sabilla siang tadi.
"Nggak Sabil, nggak! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah menceraikan lo!"
Sabilla tersenyum menyeringai "Bukannya emang itu rencana kakak dari awal? aku tau kak, dari awal kita ketemu, kakak nggak pernah suka sama aku dan aku sadar diri akan hal itu. Aku tau kakak juga sangat mencintai kak Diara, sekarang nggak ada lagi yang perlu kakak takutkan. Ayah aku udah nggak ada, kakak bisa pergi dari hidup aku. Aku juga udah nggak kuat lagi hidup bersama orang yang sama sekali nggak mecintai aku. Orang yang sama sekali nggak pernah menginginkan keberadaan aku. Sekarang kakak udah bisa pergi, akan hidup sendiri" Sabilla mulai menarik rambutnya dengan kasar.
"Sabil, nggak Sabil, nggak akan!" Farrel mencoba mengalangi tangan Sabilla yang saat ini menyakiti dirinya sendiri.
"Sekarang kakak pergi dari sini, aku benci kak Farrel, aku benci semua orang. Hidup ini nggak adil, benar-benar nggak adil. Semua orang jahat sama aku."
Sabilla berteriak dengan histeris, memukul dadanya. Gadis itu saat ini benar-benar menyiksa dirinya sendiri, rasanya Sabilla sudah tidak sanggup menahan beban yang selama ini hanya ia pendam sendiri. Gadis itu berteriak sekeras mungkin hingga teriakan tersebut terdengan oleh Yasmin, Faris, Asep, Kevin, Aura dan rekan bisnis ayahnya yang ada di ruang tengah lantai satu rumahnya.
"Sabil gue mohon" Farrel sebisa mungkin menahan tangan Sabilla yang tak henti memukul dada, kepalnya dan seluruh tubuhnya, pria itu memeluk Sabilla dengan begitu erat.
"Sabil, gue mohon jangan kayak gini" Air mata Farrel menetes dengan seketika. Penyesalan itu datang dan benar-benar menghantui dirinya saat ini. "Maafin gue" Ucap Farrel yang masih memeluk Sabilla dengan erat. Hingga perlahan tubuh Sabilla melemah hingga membuat gadis tersebut tak sadarkan diri.
__ADS_1
Farrel memangku Sabilla dengan tangannya, ia memperhatikan raut wajah istinya yang malang tersebut. Kata maaf tak berhenti keluar dari mulut Farrel. Rasanya ia benar-benar menyesal karena tidak memperlakukan Sabilla dengan baik selama ini. Jika saja selama ini Farrel lebih mengetahui banyak tentang Sabilla, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Ia benar-benar merasakan penyesalan yang teramat dalam.
"Maafin gue Sabil, maafin gue." Farrel menempelkan keningnya dengan kening Sabilla yang saat ini masih tak sadarkan diri.
"Nggak ada yang pernah tau tentang hati seseorang Sabil, lo salah mengartikan sikap gue selama ini. Gue marah, mendiami lo karena gue tersiksa setiap kali melihat lo tersenyum bahagia bersama kevin. Maafin gue Sabil, maafin gue" Farrel memeluk Sabilla yang saat ini berada di pangkuannya.
Pria itu mengelus pipi Sabilla, menyibakkan rambut Sabilla yang saat ini menghalangi wajahnya.
"Lo bilang gue sangat mencintai Diara? benar, gue sangat mencnta dia, tapi itu dulu, sebelum dia mengkhianati gue dan sebelum gue ketemu sama lo. Gue tau, gengsi dan ego gue lah yang membuat lo menderita seperti ini. Selama ini gue terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaan gue yang sebenarnya, tanpa gue sadari, gue justru bikin lo makin tersiksa. Gue malu untuk mengungkapkan rasa cemburu gue karena gue pernah menghina lo saat pertama kali kita ketemu. Maafin gue Sabil, andai gue tau lebih cepat semua tentang lo, pasti hal ini nggak akan terjadi, gue pasti udah jagain lo. Maafin gue"
Yasmin, Asep, Faris, Kevin, dan Aura yang saat ini sudah berdiri di pintu kamar Sabilla hanya diam mendengar ucapan Farrel. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa perlakukan Farrel pada Sabilla selama ini hanya karena rasa cemburu dirunya pada Kevin.
"Pantas aja waktu Sabil tenggelam kak Farrel paniknya minta ampun" gumam Aura pelan. Namun tetap terdengar oleh Yasmin, Asep, Farris dan Kevin.
"Maksud kamu?" tanya Farris yang saat ini berada di belakang Aura.
"Iya, waktu KBM kak. waktu Sabilla terbawa arus pada saat ikut rafting, perahu karet kuta terbalik. Saat itu kak Farrel kelihatan panik banget. Sampe-sampe mintak pulang hari itu juga, padahal kita baru nyampe malamnya."
"Boong tuh kak Farrel, padahal mah dia panik banget saat itu"
Faris mencerna ucapan Aura. Ia memandang Farrel dengan tatapan yang tidak dapat di artikan . " Berarti selama ini lo hanya malu untuk mengakui bahwa lo menyukai Sabil dek" Batin Faris yang masih menatap Farrel.
"Dek, sekarang Sabil bawa ke rumah sakit aja" Yasmin yang tidak tahan melihat Sabilla terbaring lemah di pangkuan anaknya itu segera berjalan mendekati Farrel, membuat Farrel yang tidak mengetahui keberadaan mereka sedari tadi segera menoleh ke arah pintu kamar. Yasmin dan yang lainnya berjalan mendekati Farrel dan Sabilla hingga Farrel pun menyetujui untuk membawa Sabilla ke rumah sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Sudah tiga jam Sabilla terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit. Namun, gadis itu masih belum sadarkan diri. Farrel saat ini masih bersedia menemani Sabilla di sampingnya, pria itu duduk di kursi yang ada di samping Sabilla, menggengam tangan istrinya itu dengan erat.
Kevin yang juga berada di sana, matanya tak bergeming menatap Farrel dan Sabilla. Dadanya terasa begitu sesak. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa, karena memang status wanita yang ia sukai adalah istri orang.
Tak berbeda dengan Kevin, Aura yang sedari tadi juga tak berpaling menatap Kevin, merasakan sesak di dadanya saat melihat tatapan Kevin yang begitu tulus pada Sabilla. Hati Aura tetasa begitu sakit, dadanya terasa sesak. Namun, gadis itu hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa. Karena Aura memang telah memutuskan untuk tidak mengganggu Kevin semenjak mereka bertemu di minimarket berberapa wktu yang lalu. Saat Kevin mengatakan dirinya benar-benar terganggu dengan keberadaan Aura. Mulai pada saat itulah gadis yang biasanya centil dan cerita itu mulai sadar diri dan perlahan menjauh.
"Bunda" lirih Sabilla yang baru saja sadar, ia membuka mata dengan keget, keringat pun bercucuran di dahinya. Farrel yang kala itu tertidur di di atas kursi yang ada di samping Sabilla terbangun dengan seketika.
"Jadi ini alasan kenapa kamu selalu mengigau tengah malam, selalu memanggil nama bunda kamu? Sabil maafkan gue" Gumam Farrel dalam hati, menatap Sabilla yang masih mematung dengan nafas sesak.
Sabilla menoleh ke bawah, melihat tangannya yang saat ini di genggam erat oleh Farrel, kemudian gadis itu memalingkan pandangannya pada Farrel.
"Aku nggak butuh di kasihanin" Sabilla menepis tangan Farrel dengan kasar, melotot tajam ke arah suaminya itu.
"Sabil" ucap Farrel pelan, menatap Sabilla yang saat ini sudah memandang dirinya dengan tatapan yang begitu tidak ramah bukan seperti Sabilla yang dirinya kenal.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, jadiin favorite ya🤗🤗
__ADS_1
Terimakasih😍