
Hari ini, UKM Olahraga Universitas Trisakti tengah mengadakan beberapa lomba dalam bidang olahraga antar Fakultas. Dan Farrel termasuk salah satu tim Futsal Fakultas Teknik.
Perkuliahan hari ini juga tidak efektif. Sehingga saat ini semua mahasiswa tengah berpencar menyaksikan beberapa lomba tersebut, bersorak dengan histeris mendukung idola atau Fakultas masing-masing.
"Bil, kita ke lapangan yuk, gue mau lihat tim Futsal Fakultas kita bentar lagi mulai" Rengek Aura menarik tangan Sabilla yang masih terduduk di kursi miliknya yang ada di dalam kelas dengan paksa.
Tanpa menghiraukan Aura, Sabilla menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan di atas meja. "Nggak ah, lo aja!" tolak Sabilla.
"Nggak asyik banget sih lo. Kak Farrel ikut tau! " Seru Aura. Sabilla yang baru saja memejamkan matanya, membuka mata tersebut dengan seketika. Ia teringat akan Farrel. Sudah satu bulan Sabilla tidak bertemu pria itu, pria yang masih memiliki status sebagai suaminya.
Meskipun setiap hari Yasmin selalu. mengunjungi Sabilla di rumahnya dan terkadang juga membawa beberapa makanan, namun Sabilla benar-benar tidak pernah lagi mendengar mertuanya itu satu kalipun menyebut nama Farrel di depannya.
Saat ini kedaan Sabilla sudah mulai membaik dari biasanya, ia sudah mulai menerima kenyataan. Dan dua minggu yang lalu Sabilla sudah kembali ke kampus mengikuti perkuliahan, namun tak sekalipun gadis cantik tersebut melihat ataupun bertemu dengan Farrel. Padahal mereka masih berada di Fakultas yang sama dan bahkan jurusan yang sama.
"Sabil ayokkkk" rengek Aura lagi, menarik tangan Sabilla dengan manja.
"Gue nggak mau Wa!" Sorak Sabilla menepis tangannya dari Aura dan kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan di atas meja.
"Yaudah, gue pergi sendiri aja!" Aura hendak pergi dari sana, namun saat melihat suasana kelas yang saat ini tengah kosong dikarenakan mahasiswa lainnya sudah pergi sedri tadi ke lapangan, Sabilla urung niat dan memutuskan untuk ikut bersama Aura.
"Wa tunggu gue ikut" Sorak Sabilla membuat langkah Aura terhenti seketika. Aura menoleh ke arah belakang, tersenyum kecil kemudian menggandeng tangan Sabilla dengan begitu girang menuju lapangan futsal.
Di lapangan Futsal, tak sedikit mahasiswa berada di sana, Sabilla memandang sekeliling melihat antusias mahasiswa lainnya yang bersorak dengan heboh mendukung idola dan Fakultas masing-masing.
Sabilla dan Aura saat ini tengah duduk di salah satu kursi besi yang ada di lapangan. Hingga "golllllll" sorak seluruh mahasiswa Fakultas Teknik membuat Sabilla bingung sendiri. Gadis itu hanya planga plongo menoleh sekeliling. Sedangkan Aura, gadis tersebut ikut berdiri melompat-lompat kegirangan merayakan kemenangan Fakultas mereka.
"Apaan sih Wa? ada apaan sih?" tanya Sabilla dengan polosnya, karena sedari tadi gadis tersebut tidak terlalu memperhatikan pertandingan. Di keramaian tersebut, entah apa yang di fikirkan oleh Sabilla.
__ADS_1
"Itu gol, udah 2 : 0, fakultas kita menang.! Gimana sih? dari tadi lo ngapain aja sih Bil!" Seru Aura mengerutkan keningnya. "Btw, itu yang gol in kak Farrel lo, masak lo nggak ngeh juga" Aura menyenggol bahu Sabilla setelah kembali duduk di samping sahabatnya itu.
Sabilla memalingkan pandangannya ke lapangan, hingga matanya tepat beradu pandang dengan Farrel yang sedari tadi sudah menatap dirinya dari kejauhan.
"Mantap bro mantap" ucap teman-teman Farrel memeluk dirinya.
"Heheh Iyaiyaiya" jawab Farrel cengengesan dengan pandangan yang tak terlepas dari Sabilla.
"Aduuududu ada si pelakor" Sabilla dan Aura menoleh ke belakang saat mendengar suara yang benar-benar tidak asing lagi bagi mereka. Dua orang yang bersahabat tersebut menatap sosok Diara yang saat ini tengah berjalan dengan tangan yang dilipat di dada tengah mendekat ke arah mereka.
Dari kejauhan, Farrel juga menyaksikan hal yang sama. Dan tentu saja pria itu sudah tau apa yang akan di lakukan oleh Diara pada Sabilla. Farrel yang tengah duduk di pinggir lapangan dengan air mineral di tangannya itu, hendak berdiri menghampiri Sabilla, namun niatnya untuk melangkah terhenti tatkala melihat Kevin yang sudah terlebih dahulu tiba di sana.
"Mau ngapain lo kesini?" Tanya Kevin yang baru saja datang. Menatap sinis Diara yang saat ini sedang berdiri di depan Sabilla dan Aura yang masih duduk di kursi besi yang ada di pinggir lapangan futsal.
Diara menatap Kevin dengan sinis. Gadis tersebut melirik Kevin dari atas sampai ke bawah. "Kok gue kasihan banget ya Vin sama lo" Kata Diara dengan begitu songong.
"Kenapa lo mau sih sama si pelakor kayak dia? Udah kayak nggak ada perempuan yang lebih bagus dari ini aja deh di kampus ini. Istimewa dia apa coba?" Diara berbicara seraya melirik Sabilla dengan sinis dan menjijukkan. Gadis itu menatap Sabilla dari atas sampai ke bawah.
"Lo tanya istimewa dia apa? Yang jelas dia lebih istimewa dari lo! Sabil tentu saja memiliki segalanya dari lo Ra! Dia punya hati yang baik dan bersih tentunya nggak busuk kayak hati lo!. Cantik? Sabil udah pasti lebih cantik dari lo.! Kaya? Kekayaan lo belum seberapa dibanding kekayaan yang Sabil miliki, tapi dia nggak pernah sombong dan tidak pernah menunjukkan apa yang dia punya. Nggak kayak lo! semua yang lo punya pas pasan tapi masih aja belagu! nggak sadar diri! ngatain orang pelakor padahal lo yang pelakor! . Semoga anda secepatnya sadar!"
Kevin menarik tangan Sabilla untuk segera pergi dari sana. Begitu juga dengan Aura yang ikut di tarik oleh Sabilla. Mereka bertiga segera pergi dari sana.
Diara berkali-kali berteriak kesal dan menghentakkan kakinya kesal dengan tatapan masih tertuju pada Kevin. Gadis itu tak henti menampakkan kekesalannya.
"Gue harus ngomong berapa kali sih? Kenapa lo selalu ganggu istri gue?" Farrel yang baru saja datang dari arah belakang mengagetkan Diara. Gadis itu tersenyum menyeringai.
"Apa? lo mau ikut belain istri murahan lo itu?"
__ADS_1
"Apa lo bilang? murahan?"
"Apa lagi kalo bukan murahan, udah punya suami masih aja nempel sama cowok lain. Dasar nggak punya malu."
Plakkkkk
Satu tamparan melayang di wajah Diara, perempuan yang dulunya sangat teramat sangat dicintai oleh Farrel.
"Percuma lo sekolah tinggi-tinggi kalo mulut lo nggak ikut sekolah. Harusnya lo sadar! Yang lebih murahan itu lo!. Lo sadar nggak sih? harusnya kata-kata yang sering lo ucapin ke Sabil itu justru kata-kata yang cocok dan pas buat lo. Di rumah lo masih kekurangan kaca? apa mau gue tambahin. Lo kayaknya mau remehin ancaman gue ya, lo pikir gue masih memipiki simpati sama lo? lo pikir gue masih punya rasa sayang sama lo. Bangun Ra, bangun. Semua udah hilang dan hanya tersisa buat Sabil"
"Gue udah pernah ingatin sama lo berkali kali untuk jangan ganggu istri gue. Kalo lo masih berani ganggu Sabil, lo siap-siap aja. Gue akan buktiin semua omongan gue selama ini. Gue bahkan nggak akan segan buat bunuh lo demi Sabil. Oiya, tadi lo bilang apa? Sabil murahan? Lo lupa siapa disini yang lebih pantas dikatakan murahan? Lo lupa,apa aja..."
Belum selesai Farrel melanjutkan ucapannya, Diara justru pergi dari sana setelah puas melototi Farrel dan tidak tahan dengan omongan mantan kekasihnya itu.
Farrel menatap kepergian Diara dengan sinis. Benar-benar tidak ada lagi rasa sayang yang dulu pernah ada pada gadis itu. Yang ada hanyalah sebuah kebencian!
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih :)