My Poor Wife

My Poor Wife
Nenek Lampir


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


"Bil lo yakin gapapa nih?" Aura yang sudah duduk di perahu karet tersebut menatap Sabilla yang saat ini berada di depannya dengan tatapan ragu.


Sabilla tersenyum. "Gapapa, lanjut aja" balasnya.


Namun, Aura jelas melihat kegugupan di raut wajah Sabilla. Wajahnya menjadi pucat seketika, tangannya terlihat jelas gemetaran.


"Bil, mending lo nggak usah ikut. Kalo lo maksain ikut cuma karena si nenek lampir, biar gue yang urus dia nanti" Aura hendak turun dari perahu karet tersebut, namun Sabilla menarik tangannya, tersenyum, mengangguk pada Aura.


"Ck! Dasar nenek lampir, awas aja lo nanti ya" Celetuk Aura memutar bola matanya jengah. Rasanya ia benar-benar tidak sabar untuk mencakar wajah Diara. Pasalnya, Sabilla sebenarnya tidak akan mengikuti kegiatan rafting tersebut, namun karena omelan dan celotehan Diara yang mengatakan Sabilla anak manja, membuat gadis itu nekat untuk ikut, padahal dirinya sama sekali tidak bisa berenang.


Karena merkipun sudah pakai pelampung, jika perahu karet tersebut sempat terbalik, tetap saja akan mudah terbawa oleh arus yang begitu deras jika saja tidak bisa berenang.


10 menit yang lalu.


"Kak, Teman aku nggak bisa ikut, dia nggak bisa berenang" Ijin Aura pada para senior yang ada di sana.


"Teman lo siapa? si pelakor?" Diara yang baru saja datang memotong pembicaraan Aura. Ia berdiri tepat di depan Aura seraya melipat kedua tangannya dengan begitu songong.


"Ck! dasar Nenek lampir" umpat Aura pelan menaikkan sebelah bibirnya.


"Nama dia Sabilla, bukan pelakor!" Gertak Aura melototkan matanya tajam pada Diara.


"Lo dari kemaren-kemaren belagu banget ya jadi orang" Diara mendorong bahu Aura dengan kasar.


"Udah Wa, gue ikut aja gapapa daripada ribit-ribut disini"


"Eh bocah tengik, pelakor! Nggak usah manja deh lo. Kalo mau senang-senang ya di rumah bukan disini!" Gertak Diara mengepalkan kedua tangannya pada Sabilla.


"Iya kak, aku tau" Sabilla nenarik tangan Aura untuk pergi dari sana.


***


Saat ini semua mahasiwa berkerumunan menyaksikan perahu karet yang berisikan Aura, Sabilla dan teman-temannya terbalik. Arus air yang begitu deras, membuat Sabilla terbawa oleh arus meskipun sudah mengenakan pelampung. Sabilla yang memang tidak bisa berenang, hanyut terbawa arus sedangkan yang lainnya sudah berhasil berenang ke tepi.


Farrel yang saat itu tengah duduk di atas batu besar yang ada di tepi sungai tersebut, berhambur ke dalam sungai yang begitu deras dengan bebatuan itu untuk mengejar Sabilla setelah ia mengetahui istrinya itu hanyut terbawa oleh arus.


Sedangkan Aura yang sudah berhasil menepi, menangis sesegukan, ia mengepalkan tangannya mengingat Diara yang telah memaksa Sabilla untuk ikut serta.


Melangkah begitu cepat, Aura melangkahman kakinya kearah Diara yang saat ini tengah duduk tertawa tanpa merasa bersalah bersama teman-temannya. Hingga saat dirinya tepat berada di depan Diara, Plaaakkkkkkk. Satu tamparan berhasil melayang di pipi Diara.


"Kalau sampai Sabil kenapa-kenapa, lo liat aja akibatnya! Wajah Aura merah padam, ia hanyut terbawa emosi, tidak peduli bahwa yang ia gertak saat ini adalah seniornya.


Bahkan Aura tidak lagi memanggil seniornya itu dengan sebutan kakak. Rasanya saat ini kesabaran Aura benar-benar sudah habis dengan Diara yang selalu saja menindas sahabatnya yang begitu lemah.


"Eh bocah, lo bener-bener udah keterlaluan ya. Dasar nggak punya sopan santun!" Diara berjalan mengejar Aura, membuat Aura kembali menoleh ke arah belakang, tanpa rasa takut gadis yang sudah basah kuyup itu kembali melangkahkan kaki menghampiri Diara.


"Apa? lo bilang gue nggak punya sopan santun? Di rumah lo ada kaca nggak? Lo yang nggak punya sopan santun! nggak punya hati! Nggak punya perasaan! atau mungkin, lo udah bukan manusia!"

__ADS_1


"Lo camkan baik-baik ya. Kalau lo mau dihargai orang lain, lo harus bisa menghargai orang lain juga. Jangan hanya mau dihargai tanpa mau menghargai orang lain!"


Aura kembali melanjutkan langkahnya, namun beberapa saat ia kembali menoleh ke arha belakang. "Oiya, kalo lo mau kak Farrel kembali sama lo, lo ambil aja. Lo rebut jika kak Farrel memang masih sayang sama lo!


Asal lo tau ya nenek lampir, Sabilla juga nggak pernah menginginkan pernikahan ini, jadi berhenti lo nyiksa dia dan nuduh dia sebagai pelakor!"


"Arkhhhhh" Diara berteriak sekeras mungkin, hingga seluruh mahasiswa yang ada di tepi sungai tersebut menoleh ke arahnya.


"Sabil, bangun Sabil"


"Sabil bangun"


Farrel yang sudah berhasil membawa Sabilla ke tepi sungai, mencoba menggoyang goyangkan pipi Sabilla. Ia juga memijat jantung istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri itu.


"Sabil bangun"


"Gue mohon bangun Sabil" teriak Farrel hingga membuat semua yang ada di sana hanya terdiam menyaksikan adegan yang sangat memprihatinkan namun romantis tersebut.


Pasalnya, selama ini belum pernah seorang Farrel Ananda Putra begitu panik hingga gemetaran seperti itu. Karena selama ini, Farrel hanya terkenal sebagai bad boy yang sangat cuek dan centil, ia bahkan tidak memiliki sejarah dalam hidupnya panik sepeti itu.


"Sabil" Aura yang baru saja datang, berlari menghampiri Sabilla yang terbaring tak sadarkan diri.


"Sabil"


"Sabil"


Tanpa aba-aba, Farrel meberikan nafas buatan pada Sabilla di depan banyaknya mahasiswa tersebut. Hingga membuat mereka semua terpelongo kaget. Tak terkecuali dengan Kevin yang baru saja datang saat mengetahui Sabilla hanyut terbawa arus.


"Sabil gue mohon bangun" Farrel menggenggam erat tangan Sabilla.


Hingga, satu semburan air dari mulut Sabilla mengguyur wajah Farrel. Ia batuk dan memuntahkan isi air yang ada di perutnya. Setelah sedikit tersadar, Sabilla menatap Farrel dan Aura yang terlihat sangat cemas pada dirinya.


Tanpa sepatah kata dan aba-aba, Farrel Menggendong tubuh Sabilla untuk kembali ke tenda. Setibanya di sana, Farrel mengemasi seluruh barang-barangnya ke dalam koper. Farrel meninggalkan Sabilla sendirian di tenda miliknya dan melangkahkan kaki menuju tenda besar yang dijadikan posko senior.


Disana, terlihat Diara tengah tertawa riang bersma Nayla sahabatnya. Karena setelah terjadinya perdebatan dengan Aura barusan, Diara dan Nayla memilih untuk kembali ke posko tanpa mencemaskan Sabilla.


Namun, saat tengah asyik tertawa dan berbincang-bincang, tiba-tiba saja Diara dikagetkan dengan Farrel yang tanpa aba-aba menarik kerah bajunya. Hal itu sontak membiat Diara melototkan matanya kaget.


"Gue udah bilang kan sama lo! Kalo sampe dia mati, lo juga akan mati di tangan gue! Camkan itu!"


Farrel melepaskan tangannya dari kerah baju Diara dengan kasar, ia segera mengambil sweternya yang tertinggal disana dan hendak berjalan menuju tenda Sabilla. Namun langkahnya terhenti tatkala mendengarkan jeritan Diara.


"Arrkkkhhh kenapa sih lo jadi kasar gini sama gue Rel?"


Farrel menoleh ke arah belakang . Menyeringai Menatap Diara dengan tatapan tidak ramah. Wajahnya terlihat merah padam menahan amarah. "Gini aja lo bilang kasar? gimana lo yang udah hampir bunuh istri gue?"


Farrel segera pergi dari sana.


"Dia emang sepantasnya mati" Ucap Diara pada Farrel yang sudah berjalan menjauh dari dirinya.

__ADS_1


***


Farrel mengemasih seluruh barang-barang milik Sabilla dan membawa koper milik istrinya itu menuju tendanya.


Sabilla menatap Farrel dengan bingung. Tubuhnya terasa begitu lemah hingga membuat dirinya bersdiri pun tidak sanggup.


"Kenapa kak Farrel bawa koper aku kesini?" tanya Sabilla saat melihat Farrel datang dengan mebawa koper miliknya.


"Kita pulang sekarang!"


"Tapi kak.."


"Nurut aja kenapa sih? Nanti biar gue yang berurusn sama dosen!"


"Emangnya nggak papa kak?"


Drttt


Drrtt


Tanpa menghiraukan ucapan Sabilla, Farrel meraih ponsel miliknya yang baru saja berbunyi di saku celananya. Ia terlihat berbincang-bincang dibalik sambungan telfon tersebut.


Setelah menutup sambungan telfon yang tidak lain dari Faris kakaknya, Farrel segera membawa koper milik dirinya dan Sabilla.


"Lo tunggu disini dulu, gue mau antar koper dulu, taxinya udah sampai. Ingat, jangan kemana-mana!


"Gimana mau kemana-mana, berdiri aja susah" gumam Sabilla menatap langkah Farrel yang semakin jauh dari jangkauan matanya. "Lah kak Farrel kapan manggil taxinya?" Sabilla bertanya pada dirinya sendiri. Karen dirinya memang tidak mengetahui bahwa Faris lah yang mencarikan taxi yang ada di wilayah tersebut untuk Farrel dan Sabilla. Karena jika menunggu Farris yang menjemput tentu saja akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Memingat perjalanan ke sana tidaklah dekat dan juga jalanan yang buruk.


"Kak Farrel, aku boleh ikut pulang juga nggak?" Rengek Aura yang tiba-tiba saja muncul dari balik tenda pada Farrel yang sudah kembali selesai memidahkan kopernya.


Farrel menatap Aura bingung "Nggak bisa! Kecuali lo mau ngulang KBM tahun depan sama Maba" Ucap Farrel tanpa menoleh ke arah Aura.


"Lah, kak Farrel sama Sabil kenapa boleh?"


"Lo nggak liat teman lo lagi sakit?"


"Tapi kak, aku nggak mau disini kalo nggak ada Sabil." Aura mengatupkan kedua tangannya memohon pada Farrel.


Farrel menoleh ke arah sabilla. "Terserah lo deh"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2