My Poor Wife

My Poor Wife
Tidak Tahu Malu


__ADS_3

"Yaudah kak, aku ke kelas duluan" Pamit Sabilla, ia baru berjalan beberapa langkah dari Farrel, namun Farrel justru menarik tangannya kembali hingga posisi Sabilla saat ini berada tepat di depan Farrel. Sabilla mendongakkan kepalanya ke atas menatap Farrel yang memang jauh lebih tinggi dari dirinya, hingga mata mereka kini terlihat saling beradu pandang.


"Ada apa lagi kak?" tanya Sabilla mengerutkan keningnya bingung menatap Farrel dengan heran. Farrel bukannya menjawab pertanyaan Sabilla, namun ia justru mengecup bibir mungil gadis cantik itu tanpa aba-aba. Hal itu sontak membuat Sabilla membulatkan matanya kaget, malu, dan juga tidak percaya. Karena saat ini mereka berada di parkiran kampus dimana terdapat banyaknya mahasiswa yang berlalu lalang disana.


Tidak jauh berbeda dengan Sabilla, mahasiswa yang juga berada di sekitar sana, juga dibuat kaget tidak percaya dengan sikap Farrel yang selama ini mereka tahu sangat mencintai Diara justru telah berpaling pada Sabilla.


"Astaga Farrel"


"O-M-G Helloooooo itu Farrel suami gue lagi selingkuh sama wanita lain. Hikss hiksss" (Alay, Lebay)


"Omaigat, itu si Farrel sehari aja nggak bikin gue jantungan kenapa sih? Tiap hari kenapa harus menyaksikan kemesraan mereka mulu? Jiwa kecemburuan gue semakin meronta-ronta ini. Jangan sampe hilang tengah malam tuh cewek gue bikin" (Kesal, menatap tajam)


"Mama mama tolong nikahin gue aja deh, lama-lama liat beginian di kampus jiwa kejombloan gue semakin meronta ingin punya suami juga, eh ketinggian pacar dulu aja deh" (Mengkhayal)


"Ternyata nikah muda itu enak ya, bisa ke kampus bareng, tidur bareng, ciuman dimana aja pun nggak bakal ada yang marah, toh udah sah. Tinggal ilangin malu aja, ya kalo udah suami istri ngapain malu, biar orang-orang pada iri. Astaga Gea, tiba-tiba gue jadi pengen nikah muda juga. Bilangin Mama gue cariin jodoh dong." (Menjerit tidak jelas)


Lagi dan lagi, seluruh mahasiswa yang ada di sana tak henti hentinya mengoceh dengan pandangan yang masih tidak terlepas dari Sabilla dan Farrel. Hal itu tentu saja terdengar jelas di telinga keduanya.


Sabilla yang wajahnya saat ini sudah memerah padam menahan malunya, hanya bisa menundukkan pandangan di hadapan Farrel. Jika saja wajahnya bisa disembunyikan sebentar saja, maka gadis itu akan memelih untuk menyembunyimannya, tapi sayangnya itu hanyalah hal mustahil semata dan tidak akan bisa.


Sementara Farrel, pria itu sedikitpun tidak merasa malu. Justru ia merasa begitu senang juga bahagia tanpa memperdulikan semua mahasiswa yang ada di sana. Toh, semua mahasiswa Fakultas Teknik juga sudah tau bahwa dirinya sudah menikah dengan Sabilla karena antusias sang Mama dan Kakak yang dulu begitu bersemangat untuk mengundang mereka semua.


"Astaga kak Farrel apa-apaan sih bikin malu aku aja" Lirih Sabilla pelan dengan pandangan masih menunduk, rasanya ia begitu malu untuk memandang dan menampakkan wajahnya pada satu-persatu mahasiswa yang ada di sana.

__ADS_1


Farrel tersenyum melirik Sabilla yang memang lebih pendek dari dirinya, pria itu mendongakkan kepala Sabilla ke atas agar bisa lebih leluasa menatap dirinya.


"Kenapa harus malu? mereka semua juga tau kok kalau kamu istri aku" Jawab Farrel dengan santainya sembari memegang pundak Sabilla.


"Ya tetap aja aku malu Kak Farrel, ini tempat umum" Gerutu Sabilla.


"Ya terus masalahnya apa Sabil sayang? meskipun tempat umum kita udah sah sebagai suami istri" Jawab Farrel tak mau kalah.


"Aduhh kenapa sih kak Farrel nggak ngerti-ngerti juga" Celetuk Sabilla cemberut memanyunkan bibirnya. "Yaudah deh, aku ke kelas duluan" Dengan jengkel Sabilla berlalu berjalan meninggalkan Farrel dari sana. Sementara Farrel tak henti-hentinya tersenyum menatap kepergian Sabilla hingga tubuh gadis itu tidak terlihat lagi dari jangkauan matanya. Farrel pun segera berlalu dari sana berjalan menuju kelasnya.


***


Siang harinya setelah selesai kelas, Sabilla dan Aura baru saja berdiri hendak menuju kantin untuk makan siang, namun langkah mereka terhenti tatkala melihat Diara yang baru saja datang dengan emosi yang menggebu-gebu dari arah pintu tengah berjalan ke arahnya. Hingga...


Satu tamparan melayang tepat di pipi Sabilla. Aura yang saat ini berada tepat di sebelah Sabilla membulatkan matanya tidak percaya, melirik Sabilla dan Diara secara bergantian. Termasuk beberapa mahasiswa yang masih ada di kelas tersebut hanya diam tanpa berani melakukan apa-apa.


Sabilla memegang pipi bekas tamparan Diara tersebut, ia mengibarkan rambut panjangnya yang semula menutup wajahnya itu dengan kasar. Sabilla menatap Diara dengan sinis dan juga amarah yang sangat ingin ia lepaskan, jelas saja saat ini terlihat bukan seperti Sabilla yang dulu, bukan Sabilla yang lemah dan hanya ingin mengalah.


"Maksud kakak apaan ha? tiba-tiba main tampar gini aja?" Gertak Sabilla dengan suara meninggi, melangkah mendekati Diara dengan tatapan yang begitu tajam. Aura yang awalnya ingin membela sahabatnya itu sontak terdiam, terkejut dengan sikap Sabilla yang tidak seperti biasanya.


"Dasar perempuan nggak tau malu. Murahan! Lo ngapain sama Farrel di parkiran pagi-pagi ha? Lo nggak punya harga diri ya? Farrel itu milik gue!" Diara dengan begitu kesal menarik rambut Sabilla dengan kasar.


Sabilla menepis kembali tangan Diara dengan kasar juga. Gadis cantik itu menyeringai dengan tatapan amarah melirik Diara dari atas sampai kebawah. Rasanya kesabaran yang ia miliki selama ini sudah habis terhadap wanita yang satu ini. Wanita yang tidak henti-hentinya mengganggu dirinya dan justru selalu berkata tidak baik padanya.

__ADS_1


"Nggak tau malu? apa kakak bilang? nggak tau malu? Astaga Kak Diara, kakak kapan sadarnya sih kak? Kakak bilangin orang nggak tau malu, tanpa kakak sadari kakak udah mempermalukan diri kakak sendiri.!"


"Kakak marah-marah sama aku karena aku ciuman sama kak Farrel? kakak udah tau? udah ada yang ngadu sama kakak? Karena itu kakak bilang aku nggak tau malu?. Kak Diara, kakak lupa, kalau kak Farrel itu suami aku? Aku baru ciuman aja marah kakak udah kaya gini. Asal kaka tau ya, aku bahkan bisa melakukan yang lebih dari sekedar ciuman sama kak Farrel. Lantas, aku tidak tahu malu dari mana? Apa aku salah? ciuman sama suami aku sendiri?" Sabilla berbicara dengan suara meninggi dan penuh penekanan.


"Heh, asal lo tau ya, Farrel itu cuma mencintai gue! Dari dulu hingga sekarang Farrel hanya mencintai gue. Lo paham nggak sih, lo udah merebut semuanya dari gue!" Diara menunjuk Sabilla berkali-kali dengan jari telunjuknya, berteriak dengan begitu histeris tanpa memperdulikan mahasiswa yang sedari tadi menoleh ke arahnya.


"Kak Diara benar-benar udah sakit ya! Kakak lupa Kak Farrel bilang apa sama kakak pada saat kakak manas-manasin aku waktu kakak meluk-meluk Kak Farrel pada saat itu? Kakak lupa, kalau kak Farrel bilang bahwa dia lebih mencintai aku, bukan Kak Diara!"


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2