My Poor Wife

My Poor Wife
Makasih


__ADS_3

Setelah semua orang yang ada di kediaman Yasmin dan Asep telah bubar, Aura dan Kevin juga memilih untuk segera pulang ke rumah setelah Sabilla dan Farrel juga telah kembali ke kamar mereka. Sebelumnya Sabilla sudah menawarkan pada sahabatnya itu untuk bermalam di sana saja. Namun Aura justru menolak dan ingin menelfon supir pribadi dirinya untuk menjemput saat waktu sudah larut malam seperti saat ini.


Setelah berfikir panjang dan berbincang sesaat dengan Farrel, Sabilla lebih memilih jika Aura diantar pulang oleh Kevin atau dirinya tidak boleh pulang malam itu juga.


Aura awalnya menolak untuk pulang setelah Sabilla mengatakan bahwa dirinya harus pulang bersama Kevin. Namun Kevin yang justru memberikan tawaran tersebut pada Aura hingga dirinya tak bisa lagi menolak saat Sabilla selalu saja memberi kode pada dirinya.


***


Sudah 15 menit Aura dan Kevin hanya berdiam diri di dalam mobil. Suasana mobil dan perjalanan mereka hanya ditemani dengan kesunyian. Kevin masih terlihat fokus mengendarai mobilnya, sementara Aura sibuk memperhatikan jalanan tanpa berniat untuk memalingkan pandangannya sedikitpun pada Kevin.


Sesekali Kevin mencoba mencuri pandang pada Aura. Ingin sekali dirinya melontarkan banyaknya pertanyaan pada gadis yang ada di samping dirinya itu. Pertanyaan kenapa sifat Aura berubah.


Karena terkadang, seseorang akan merasa kehilangan saat orang yang biasa terlihat banyak omong, dan sekarang justru berubah dan tidak lagi sama seperti sebelumnya.


Dan mungkin seperti itulah hal yang saat ini Kevin rasakan. Mungkin dirinya dulu merasa risih dengan sikap Aura yang centil dan selalu saja menggoda dirinya, namun siapa yang tahu isi hati Kevin saat ini. Karena boleh jadi pria itu merasakan kehilangan hal-hal kecil yang dulunya hanya ia anggap remeh.


Aura masih tak mau memalingkan pandangannya sedikitpun ke arah Kevin. Jangankan ke arah Kevin, ke depan saja gadis itu tidak mau. Aura hanya memperhatikan jalanan yang sudah sangat sepi malam itu dari kaca samping mobil.


"*Kau, diam-diam aku jatuh cinta, kepadamu"


"Ku, bosan sudah ku menyimpan rasa"


"Kepadamu, Tapi tak mampu ku berkata di depanmu*"


Aura memalingkan pandangannya saat dirinya mendengarkan lantunan lagu yang keluar dari dashboard mobil milik Kevin.


Ia menatap sejenak pria yang masih terlihat fokus ke arah depan mengemudikan mobil miliknya itu.


"*Aku tak mudah mencintai"


"Tak mudah bilang cinta"


"Tapi mengapa, kini denganmu"


"Aku jatuh cinta"


"Tuhan tolong dengarkanku"


"Beri aku dia"


"Tapi jika, belum jodoh, aku bisa apa*"

__ADS_1


Aura tak henti memandang Kevin dengan tatapan yang tidak dapat diartikan, entah apa yang ada dalam fikiran gadis cantik itu saat ini.


Kevin yang menyadari akan hal itupun ikut memalingkan pandangannya pada Aura. Hingga membuat mereka sejenak beradu pandang. Aura yang bisa dibilang tertangkap basah tengah menatap Kevin pun merasa malu, gadis itu segera memalingkan pandangannya ke depan.


***


"Aku masuk dulu kak Kevin" Pamit Aura saat dirinya sudah sampai di depan rumah. Aura benar-benar terlihat canggung. Bahkan ia tidak lagi seperti Aura yang dulu Kevin kenal.


Gadis itu segera keluar dari mobil Kevin, ia sejenak berdiri di samping pintu mobil untuk sekedar mengucapkan kata terimakasih dan berlalu pergi dari sana. Aura sedikitpun tidak mengajak Kevin untuk masuk ke rumahnya meskipun hanya untuk sekedar basa basi.


Kevin masih belum beranjak dari sana, memperhatikan langkah Aura yang semakin menjauh dari pandangannya. Setelah ia rasa Aura sudah masuk ke dalam rumah dengan aman, Kevin segera melajukan mobilnya pergi dari halaman rumah Aura tersebut.


Aura menghembuskan nafas dengan kasar, beberapa kali gadis itu kembali menarif nafas hanya untuk ia hembuskan kembali. Aura masih berdiri di belakang pintu, masih memegang tas jinjing miliknya dengan kedua tangan. Aura memejamkan matanya perlahan sebelum dirinya berjalan dengan langkah yang sedikit berat menuju kamarnya.


***


Setelah semua orang telah pergi dari ruang tengah, dan kini hanya tinggal Sabilla dan Farrel, pasangan suami istri itu juga segera menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Namun, di tengah-tengah perjalanan, Farrel menarik tangan Sabilla, menghentikan langkah gadis tersebut.


Sabilla menoleh ke arah belakang, menatap Farrel dengan raut wajah bingung. "Kenapa?" tanya Sabilla dengan kening berkerut, ia melirik tangannya yang dipegang oleh Farrel.


Farrel segera berdiri di belakang Sabill, pria itu segera menutup mata Sabilla dengan tangannya. Hal itu tentu saja membuat Sabilla merasa bingung.


"Kak Farrel, kenapa sih? ada apa?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Sabilla tidak membuat Farrel untuk segera menjawabnya.


"Kak Farrel kenapa sih? aneh banget" Lirih Sabilla.


"Udah kamu diam aja sayang, ikutin aja apa yang aku bilang." Perintah Farrel.


"Hmm yaudah deh"


Sesampai di depan pintu kamar. "Saat aku lepas tangan aku, kamu belum boleh buka mata ya, ingat belum boleh!" Peringatan Farrel. Pria itu mencoba melambaikan tangannya di depan wajah Sabilla untuk memastikan bahwa istrinya itu tidak akan membuka mata dan tidak bisa melihat untuk saat ini.


"Iya iya kak Farrel bawel"


Farrel membuka pintu kamar dengan perlahan, tangannya bergerak menekan stop kontak untuk mematikan lampu.


"Kamu buka mata kamu dalam hitungan ketiga, oke?"


"Heeem" Sabilla mengangguk mengiyakan perintah Farrel.


"Satu Dua Tiga"

__ADS_1


Sabilla membuka matanya perlahan. Tubuhnya mematung melihat pemandangan yang ada di depan dirinya saat ini, mulut Sabilla terbuka dengan sempurna membentuk huruf O sebelum dirinya kembali menutup mutut tersebut dengan kedua tangannya. Menandakan bahwa gadis itu merasa kaget dengan apa yang ia lihat saat ini


Sabilla menatap lurus ke depan, menatap Farrel yang sudah berdiri di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lilin-lilin kecil yang berserakan di lantai tersebut. Pria itu tampak tersenyum lebar dan merentangkan tangannya pada Sabilla.




Sabilla memperhatikan setiap inci ruangan tersebut yang dipenuhi dengan balon-balon yang berserakan di lantai dan ikut menghiasi kamar. Sabilla berjalan perlahan di atas kelopak bunga mawar merah yang berserakan di lantai tersebut. Ia tidak percaya akan mendapatakan kejutan lagi seperti yang ia rasakan saat ini. Gadis itu memperhatikan setiap inci kamar yang sudah dihias oleh Farrel dan tentunya juga dengan bantuan orang tua dan kakaknya.


Sabilla berhambur memeluk Farrel saat dirinya sudah berada tepat di depan pria itu.


Ia benar-benar merasa terharu dengan apa yang ia rasakaan saat ini. Sabilla tidak menyangkan bahwa Farrel akan se romantis ini pada dirinya.


Farrel memegang kedua pipi Sabilla dengan posisi mereka yang masih berhadapan setelah selesai berpelukan. Pria itu tersenyum, mengahapus air mata kebahagiaan yang keluar dari mata istri cantiknya itu dengan ibu jarinya.


"Gimana? Bagus nggak? kamu suka?" Tanya Farrel.


"Banget" Balas Sabilla yang kemudian kembali memeluk Farrel dengan sangat erat.


Bibirnya tak henti melontarkan ucapan terimakasih pada suaminya itu.


"Makasih sayang" Lirih Sabilla dalam pelukan Farrel.


"Apa tadi? kamu ngomong apa?" Tanya Farrel pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Sabilla.


"Emm nggak, nggak ada" Balas Sabilla juga pura-pura tidak tahu.


"Bener nggak ada? bener?" Farrel mendekatkan wajahnya lebih dekat pada Sabilla. Hingga membuat pipi Sabilla memerah padam. Ia tentu saja tahu apa yang dilakukan oleh pria tampan yang ada di depannya itu.


Hingga Cup. Farrel mengecup lembut bibir Sabilla, gadis itu hanya diam menikmati kecupan lembut yang diberikan oleh suaminya itu.


"Makasih sayang" Sabilla mengulangi kata-katanya setelah Farrel menyelesaikan aksinya. Bibir Farrel melengkung membentuk sebuah senyuman dengan sempurna. Karena memang, sebuah hal mustahil bagi dirinya jika Sabilla memangnggil Farrel dengan sebutan sayang.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2