
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Hal itu tentu saja membuat Farrel malu, namun ia juga tidak ingin mengecewakan dan mempermalukan orang tuanya. Dengan sangat terpaksa, Farrel memilih melanjutkan pernikannya dengan Sabilla.
"Sabil, kamu kenapa sih?" di sapa dong seniornya. Bentar lagi juga jadi suami kamu" Hermawan mengedit ngedipkan matanya menggoda sang putri. Sedangkan Farrel, mendelik geli membayangkan dirinya menjadi sepasang suami istri dengan Sabilla.
"Iyyaa Yah" seru Sabilla dengan sangat terpaksa. Ia melirik Yasmin dan Asep secara bergantian, kemudian tersenyum dengan keterpaksaan ke arah Farrel.
"Jadi kapan kita akan melangsungkan pernikahan mereka?" tanya Asep membuka suara.
"Secepatnya saja" Seru Yasmin dengan begitu bersemangat, membuat Sabilla kaget. Ia menoleh ke arah Yasmin, menatap ibu dua anak itu dengan begitu bingung. Sedangkan Yasmin, melebarkan senyumannya ke arah Sabilla.
"Saya juga maunya gitu, tapi mempersiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah" timpal Hermawan melirik ibu dua anak itu dengan tatapan yang sedikit sungkan karena membayangkan bahwa Sabilla tidak memiliki sang Bunda di sampingnya lagi.
"Kalau masalah itu Pak Hermawan tenang aja. Serahkan saja sama saya. Bahkan mau menikah besok pun saya juga bisa menyiapkan semuanya" Yasmin berbicara dengan sedikit tertawa, namun hal yang diucapkannya adalah hal yang sangat serius. Karena tidak sulit bagi wanita itu menyuruh orang yang akan ia bayar untuk mempersiapkan semuanya.
"Mama sa ae ah" Faris mengedipkan matanya ke arah Yasmin dan tentu saja di balas oleh ibu dua anak tersebut dengan kedipan juga.
"Kalau gitu, gimana pernikahanya kita laksanakan satu minggu lagi aja. Biar Sabilla sama Farrel juga bisa milih-milih gaun pernikahan seperti apa yang mereka mau. Dan Mama, segera menyiapkan gedung dan segalanya" Saran Asep yang tentu saja membuat Sabilla membulatkan matanya. Ingin sekali rasanya ia menyangkal ucapan-ucapan yang keluar dari mulut orang-orang yang ada di depannya saat ini. Namun, ia tahu, bahwa hal itu tidak akan merubah apapun dan malah akan memperpanjang masalah dan perdebatan dengan sang Ayah nantinya.
Karena sekeras apapun Sabilla menolak, sang Ayah akan tetap bersikeras dengan keinginannya. Maka dari itu, daripada membuat masalah yang hasilnya sudah sangat ia ketahui, Sabilla lebih memilih diam dan menuruti kemauan sang Ayah. Meskipun ia sendiri tidak tahu akan seperti apa kehidupan dirinya untuk kedepannya.
Sementara Farrel, laki-laki itu hanya diam tanpa menerima dan menolak apa yang orang tuanya bicarakan. Menandakan dirinya juga pasrah dengan kemauan kedua orang tuanya itu. Meskipun dirinya juga memanfaatkan Sabilla untuk balas dendam pada Diara sang mantan kekasih.
"Yaudah, jadi udah fix acara pernikahan mereka akan kita laksanakan minggu depan. Biar Mama yang menyiapkan semuanya" Seru Yasmin tersenyum ke arah Sabilla dan juga Farrel. Sedangkan dua manusia yang masih bisa dibilang remaja tersebut hanya tersenyum kecil menyeringai mananggapi ucapan Yamin.
"Oiya, biar kalian lebih dekat, sebaiknya kalian jalan-jalan dulu deh, kemana gitu" saran Yasmin yang sangat disetujui oleh Asep dan Gunawan. Dan sebenarnya, ibu dua anak itu juga sengaja melakukan hal tersebut melihat kedua manusia itu masih saja terlihat begitu kaku.
Farrel yang sebenarnya memang ingin sekali pergi dari sana, sontak menyetujui ucapan sang Mama. Sedangkan Sabilla, merasa begitu malas dan enggan untuk pergi bersama senior angkuhnya itu.
__ADS_1
"Hmmm Sabil......."
Belum selesai Sabilla melanjutkan ucapannya, Hermawan lebih dulu melayangkan tatapan pada putrinya. Memberikan isyarat pada Sabilla untuk tidak menolak perintah Yasmin sang calon mertua.
Dengan teramat sangat terpaksa, Sabilla mengikuti kemauan sang Ayah. Ia segera bersalaman dengan Ayah dan juga orang tua Farrel, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Farrel dari ruang tamu rumahnya itu. Mulut Sabilla tak henti-hentinya menggerutu kesal. Jika saja ia tidak berdosa, ingin rasanya ia menyumpahi sang ayah yang sangat gila menurutnya.
Pasalnya, entah apa niat sang Ayah nekat menikahkan dirinya di usia semuda itu dan secepat itu.
Sabilla berjalan sendirian disekitar komplek rumahnya, menyusuri jalanan yang terlihat sepi sore itu.
Namun, langkah Sabilla terhenti seketika tatkala mendengar suara Farrel dari arah belakang yang tidak henti bersorak memanggil namanya sedari tadi.
"Woi bocah budeg, tunggin gue kenapa sih?" Farrel terlihat berlari-lari kecil mengejar Sabilla dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan. Pria itu tampak menunjukkan ekspresi wajah yang begitu tidak ramah pada Sabilla.
"Lo nggak denger barusan Mama gue ngomong apaan?" tanya Farrel yang sama sekali tidak diacuhkan oleh Sabilla. Karena setelah gadis itu berhenti untuk menunggu Farrel, ia kembali melanjutkan perjalanannya tanpa menghiraukan celotehan-celotehan laki-laki itu.
"Woi lo mau bawa gue kemana sih?" Farrel kembali bersorak namun masih tidak dihiraukan oleh Sabilla. Membuat Farrel begitu geram menahan amarahnya. Rahangnya sudah mengeras ingin melampiaskan emosinya saat ini juga. Jika saja Sabilla tidak seorang perempuan, Farrel pasti sudah melayangkan pukulan di wajah cantik wanita itu.
"Aku nggak budeg, emang dasarnya aja kakak sama pacar kakak yang so cantik itu nyebelin" Dengus Sabilla kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Farrel dengan cepat menarik tangan Sabilla dengan kasar dan begitu kuat.
"Dia bukan sok cantik, tapi memang cantik. Dan nggak ada tandingannya sama lo. Jangan lo fikir gue mau nikah sama lo karena gue suka sama lo. Gue mau ngelakuin ini hanya karena keinginan orang tua gue. lo ngerti nggak? jadi nggak usah berlagak sok cantik di depan gue. Karena bagi gue lo itu nggak ada apa-apanya ! bentak Farrel memaki Sabilla, kemudian ia melepaskan tangan gadis itu dengan sedikit menghentakkannya, menbuat Sabilla sedikit meringis kesakitan.
Tanpa memperdulikan Sabilla, Farrel segera pergi meninggalkan gadis cantik tersebut entah kemana, sedangkan Sabilla masih mematung di tempat menatap kepergian Farrel yang semakin lama semakin jauh dari jangkauan matanya. Ia sejenak melirik tangannya yang sedikit merah akibat cengkraman tangan Farrel barusan. Kemudian, gadis cantik itu juga segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.
***
Di dalam kelas, Sabilla hanya melamun menatap kosong ke sembarang arah. Ia masih memikirkan nasibnya yang 4 hari lagi akan berubah status menjadi seorang istri. Dan yang lebih parah lagi ia akan menjadi istri dari senior sombong yang telah menghina dirinya berkali-kali.
"Selamat pagi Sabilla Natasya Arsi yang cantik, imut, manis manjah cetar membahana ulala badai, tapi belum se badai Aura. Karena kecantikan Aura sudah jelas tidak ada tandingannya oleh siapapun termasuk Sabilla yang meskipun menjadi Queen angkatan tahun ini"
__ADS_1
Aura yang baru saja datang, membuyarkan lamunan Sabilla, gadis centil itu mengibar-ngibarkan rambutnya sok cantik di depan Sabilla, berbicara dengan suara yang begitu alay membuat Sabilla menggeleng-gelengkan kepalanya melirik gadis yang belakangan ini sudah menjadi teman dekatnya.
"Apaan sih lo" seru Sabilla tersenyum melihat tingkah konyol Aura.
Aura segera duduk di kursi miliknya yang tepat berada di sebelah Sabilla. Ia mengeluarkan tas makup dari dalam tas miliknya. Dengan begitu centil, Aura memolesi beberapa make up dan lipstik yang ia bawa dari rumahnya. Sabilla hanya menatap gadis itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa? lo mau juga?" tanya Aura yang melihat aura sedari tadi hanya memperhatikan dirinya.
"Nggak nggak usah, gue tanpa make up juga udah cantik"
"Jadi lo bilang kalau gue nggak cantik?" Sorak Aura begitu lantang membuat semua mahasiswa yang ada di kelas menoleh ke arahnya.
"Aduhh wa, suara lo pelanin dikit bisa nggak sih" Sabilla membungkam mulut Aura dengan tangannya.
"Ya habis lo bilang gue nggak cantik. Nanti kalo kak Kevin nggak mau sama gue gimana?" Tanya Aura dengan begitu manja memanyun-manyunkan bibirnya pada Sabilla.
"Ya kalau itu sih derita lo!"
"Sabilllaaaaaaaa"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like ya😂