
Sabilla berlari ke sana kemari, menikmati desiran ombak yang kian menyapu pasir yang ada di bibir pantai.
Sementara Farrel, pria itu tampak memasang tenda tidak berada jauh dari sana. Sesekali pria itu menghentikan aktivitasnya, memperhatikan Sabilla dari kejauhan dengan bibir tersenyum membentuk sebuah senyuman.
Farrel melihat gadis itu sangat girang seperti anak kecil yang baru pertama kali menikmati suasana seperti ini. Bibir Farrel melengkung membentuk sebuah senyuman berkali kali, sebelum pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Saat ini, Sabilla dan Farrel memang sudah sampai di pulau tempat dimana mereka akan menginap malam ini dari satu jam yang lalu.
Farrel memang telah mempersiapkan segalanya tanpa sepengetahuan Sabilla.
Merasa puas bermain, Sabilla melangkahkan kaki perlahan selangkah lebih dekat pada Farrel dengan rambut panjangnya yang terkibar oleh angin. Celana jeans yang gadis itu gunakan juga terlihat basah hingga lutut.
"Kak Farrel" Panggil Sabilla.
Farrel yang saat ini terlihat membelakangi gadis itu menoleh ke arah belakang. "Hm" Sahut Farrel dengan alis terangkat.
"Main yuk" Ajak Sabilla layaknya anak kecil. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Farrel yang sedikit lagi akan selesai memasang tenda.
"Bentar" Sahut Farrel.
"Kak Farrel" Rengek Sabilla dengan suara manja.
Farrel menoleh. Pria itu melihat raut wajah Sabilla kecewa. Farrel berdiri dari duduknya, menaruh pengait tenda yang satu lagi jika ia tancapkan sebenarnya perkerjaannya akan selesai.
Namun, demi Sabilla pria itu menunda aktivitasnya sejenak. Farrel menggenggam tangan Sabilla, berjalan bersama gadis menuju bibir pandai.
Raut wajah Sabilla kembali girang, mereka sedikit berlari-lari kecil dengan tangan bergandengan tangan. Sabilla tersenyum, mereka berlarian kesana kemari sambil menyiram satu sama lain dengan air.
Tawa Sabilla memecah, gadis itu terlihat sangat-sangat bahagia saat rintikan air yang di semburkan Farrel pada dirinya mengenai tubuh Sabilla.
Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Farrel bisa Melihat Sabilla bahagia seperti saat ini.
Farrel mendekat, berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan Sabilla di bibir pantai. Desiran ombak pun berkali-kali menghantam kaki mereka. Farrel menggenggam tangan Sabilla dengan posisi saling berhadapan. Pria itu tersenyum. Perlahan Farrel mendekatkan keningnya ke wajah Sabilla hingga kening mereka tertaut.
Bibir Sabilla melengkung, gadis itu tersenyum.
"Makasih sayang" Ucap yang dapat didengar jelas oleh Farrel.
Farrel pun ikut tersenyum, pria itu perlahan mulai mendekatkan bibirnya hingga kedua benda itu bertemu. Farrel mengecup bibir Sabilla singkat sebelum dirinya memeluk Sabilla dengan erat.
***
Malam harinya, pulau tersebut tampak sunyi. Farrel dan Sabilla saat ini tengah duduk di depan api unggun yang mereka siapkan sendiri satu jam yang lalu.
Pasangan suami istri itu duduk dengan kepala Sabilla di sandarkan di bahu Farrel.
Sabilla menatap api unggun yang ada di depannya dengan tatapan lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kak Farrel" Panggil Sabilla tersadar dari lamunannya. Gadis itu menoleh ke arah Farrel, memegang bahu Farrel dengan penuh semangat.
"Coba aku lihat hp kak Farrel!" Sabilla mengulurkan tangannya di depan Farrel.
Kening Farrel tertaut, buat apaan?" Tanya Farrel.
"Udah siniin dulu" Pinta Sabilla.
Farrel pun merogoh saku celananya. Meraih ponsel, kemudian memberikan pada Sabilla dengan raut wajah masih terlihat bingung.
Sabilla meraih ponsel tersebut girang. Gadis itu tampak mengotak atik layar ponsel Farrel dengan bibir tersenyum. Sementara Farrel, pria itu hanya melirik Sabilla heran dengan kening berkerut.
"Ayok kita main" Ajak Sabilla menaruh ponsel Farrel di pahanya.
"Main apaann?" Tanya Farrel bingung.
"Ini!" Sabilla melirik ponsel yang terletak di pahanya.
"Main ludo king?" Sahut Farrel tidak percaya.
"Iya, main ludo king" Jawab Sabilla antusias.
"Oiya satu lagi" Sabilla sedikit merangkak ke dalam tenda yang tidak terlalu gelap karena adanya sedikit penerangan dari lampu cas yang sengaja dibawa oleh Farrel dari rumah.
Gadis itu megambil tas kecil yang berisikan alat make up dirinya. Mencari sesuatu hingga senyum manis terbentuk di bibir Sabilla saat ia mendapati benda yang ia cari tersebut.
"Ahaaaa" Sabilla kembali keluar dari tenda. Duduk di tempat semula di samping Farrel.
"What? Kamu mau main beginian di sini?" Tanya Farrel memastikan.
Sabilla mengangguk. "Iya" Sahutnya polos.
"Astaga Sabil. Giliran di rumah aja kamu nggak pernah kepikian yang kaya begini. Kenapa harus disini, disini gelap sayang" Ucap Farrel gemas sembari mencibit pipi Sabilla.
"Justru itu kak Farrel sayang. Karena kita nggak tau mau ngapain lagi disini, makannya aku kepikiran. Mau ya?" Bujuk Sabilla.
Sebenarnya Farrel enggan, namun melihat raut wajah Sabilla memohon ia jadi tidak tega. Menghembukan nafas pelan. "Yaudah deh" Sahut Farrel terpaksa.
Senyum merekah terbentuk dari bibir Sabilla. Hingga mereka memulai permainan.
"Satu, dua, tiga. Yahh" Wajah Sabilla melemas saat dirinya tidak bisa menyingkirkan Farrel.
"Woo kalo begini udah pasti aku yang menang" Ucap Farrel girang. Sabilla melotot tajam seolah tidak terima.
Hingga beberapa menit kemudian. "Yeeeeeees" Suara itu keluar dengan penuh semangat dari bibir Sabilla. Ia segera membuka tutup lipstik dan ingin mencoret wajah Farrel sesuka hatinya.
"Sini kak Farrel"
__ADS_1
"Nggak mau"
"Ih curang, cepat sini" Paksa Sabilla.
"Nggak mau Sabil" Tolak Farrel menjauhkan wajahnya.
"Yaudah kalo nggak mau, Sabilla merajuk hendak berlalu masuk ke dalam tenda, Namun Farrel merasa pasrah dan menarik tangan Sabilla.
"Yaudah deh, terserah kamu aja mau diapain" Ucap Fareel pasrah dengan raut wajah cemberut.
"Nah gitu do!" Girang Sabilla dan mulai mencoret wajah Farrel dengan sesuka hatinya. Gadis itu tertawa girang karena berhasil menjahili Farrel dan membuat wajah suaminya itu hancur berantakan. Sementara Farrel hanya bisa pasrah, asalkan Sabilla senang dan juga bahagia.
***
Pagi hari, sinar matahari berhasil menyelusup ke celah-celah tenda. Hal itu membuat Sabilla terbangun dari tudurnya.
Saat ini posisi gadis itu terlihat sedang berpeluk mesra dengan Farrel. Saat membuka mata, Sabilla tersenyum dengan hal yang perrama kali ia dapati yaitu dada bidang suaminya.
Perlahan, Sabilla mengangkat kepalanya. Gadis itu perlahan, perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Farrel. Sabilla menutup matanya sendiri. Hingga satu cm lagi bibir itu akan saling bersentuhan, Farrel membuka matanya.
Pria itu tersenyum melihat raut wajah Sabilla yang hendak mencoba mencium dirinya saat ini.
"Mau ngapain kamu?"
Suara Farrel menyadarkan Sabilla, gadis itu kaget. Sabilla sontak terduduk dan membelakangi Farrel yang masih tampak berbaring.
"Enggak-nggak ngapa-ngapain" Sahutnya terbata-bata.
"Yakin?" Rayu Farrel dari belakang.
Sabilla menoleh, memanyunkan bibirnya merasa kesal bercampur malu pada Farrel.
"Tau ah" Sabilla hendak bangkit dari duduknya. Namun Farrel justru menarik kembali tangan Sabilla hingga pisisi Sabilla kembali berbaring di samping Farrel.
Pria itu memeluk Sabilla erat. Sementara Sabilla hanya diam tanpa ingin melawan.
"Biarin kaya gini, gausah lepas. Gausah pergi jauh-jauh. Aku mau nikmati semua ini bersama kamu."
Farrel semakin mengeratkan pelukannya. Ia juga beberapa kali mengecup kening, pipi, dan juga bibir Sabilla beberapa kali.
Sabilla tersenyum. Bahagia? Tentu saja iya. Gadis itu pun ikut memeluk Farrel erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sanh suami. Hingga mereka kembali tertidur pulas di pagi hari di dalam tenda di sebuah pulau.
.
.
.
__ADS_1
.
.