
"Nih" Aura baru saja datang dari kantin, membawa dua buah minuman teh botol kotak yang barusan ia beli di kantin. Gadis itu memberikan salah satunya pada Sabilla yang masih saja sibuk dengan tugas yang sebenarnya sudah tidak ada gunanya lagi untuk di kumpulkan, namun karena gadis itu masih penasaran, maka dirinya memutuskan untuk menyelesaikan dan mencari jawaban yang benar dari soal matematika yang diberikan oleh dosen barusan.
Sabilla menoleh ke samping. Tangannya terulur menerima minuman yang baru saja di bawa oleh sahabatnya itu. Bibir Sabilla melengkung hingga membentuk sebuah senyuman. "Makasih sahabatku sayang" Lirihnya seolah mengejek.
"Hmmm" Aura menyauti dengan raut wajah yang sedikit kesal. Namun, Sabilla malah cuek karena sudah tahu bagaimana sifat sahabatnya itu. Aura masih saja marah karena barusan Sabilla tidak mau dirinya aja ke lautin. Namun tetap saja gadis itu tidak lupa untuk membelikan Sabilla minuman.
"Oiya Bil, lo nyadar nggak sih, selama semester baru ini, kita nggak pernah lagi lihat si nenek lampir." Aura membuka suara setelah mengingat sesuatu. Ia memainkan sedotan minuman yang ada di tangannya itu.
Tangan Sabilla yang semula menari menulis sesuatu itu terhenti ketika mendengar ucapan Aura. Gadis itu menoleh ke samping menatap Aura. "Bener juga ya. Tapi gue juga udah nggak pernah lihat kak Diara lagi sih lebih tepatnya semenjak semester baru ini." Sabilla menyauti dengan kening tertaut.
Aura mengangguk sembari meneguk minuman yang masih ada di tangannya. "Apa udah mati ya tuh orang" Ucap Aura dengan santainya.
"Apaan sih lo. Nggak boleh gitu ah"
"Ya nggak papa dong Bil, toh dia hidup cuma jadi benalu yang hanya merugikan orang lain. Apalagi lo. Kalo nggak ada dia lo kan bisa hidup lebih tenang, aman, tentram, bersama kak Farrel"
"Ya tapi tetap aja Auraaa, sejahat apapun orang pada kita, kita nggak boleh membalasnya dengan kejahatan juga. Balas dendam terbaik ya dengan menjadikan diri kita lebih baik"
"Udahlah ya, percuma gue debat sama orang baik kayak lo" Aura memutar bola matanya malas kemudian kembali memalingkan pandangannya dari Sabilla.
"Sttt"
"Sttt"
Suara seorang pria yang tengah berdiri dengan gagahnya dari arah pintu kelas, membuat semua mata yang masih ada di kelas Sabilla dan Aura itu tertuju kepadanya. Siapa lagi pria itu jika bukan Farrel yang masih saja menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya.
"Farrel berdiri di ambang pintu dengan raut wajah sok cool nya. Tangan pria itu diletakkan dipinggang, menatap Sabilla dari kejauhan dengan senyum manis dan sesekali mengedipkan matanya pada para gadis yang ada di sana.
"Udah punya bini masih aja genit" Gerutu dari beberapa mereka yang sebenarnya juga kesenangan karena dikedipkan oleh Farrel.
Sabilla tersenyum saat melihat Farrel sudah menjemput dirinya. Benar, setelah hubungan mereka sudah semakin membaik, lebih tapatnya sudah lebih membaik, Farrel memang membiasakan untuk menjemput dan mengantar Sabilla ke kelas jika jadwal kuliah mereka sama. Namun, jika tidak Sabilla akan lebih dulu dijemput oleh Pak jonet. Sesekali Sabilla terkadang juga menunggu Farrel dan pulang bersama.
__ADS_1
"Kak Farrel" Sabilla tersenyum dari kejauhan.
Aura menoleh ke arah Sabilla, memutar bola matanya malas. "Hmm udahlah ni, kalo udah ngebucin gue bakal jadi nyamuk lagi deh"
"Makannya, tetap semangat, kejar kak Kevin sampe dapat" Ejek Sabilla.
"Udah ah, kak Kevin mulu, capek gue" Aura bangkit dari duduknya. Meraih tas samping miliknya yang ada di kursi, kemudian gadis itu berjalan menuju pintu kelas.
Sabilla tersenyum memperhatikan langkah Aura tanpa merasa bersalah. Di ambang pintu, Aura tampak berhenti sejenak, menatap Farrel dengan tatapan tajam. Sementara Farrel, hanya mengangkat bahu dan tangannya serta menaikkan alisnya menatap Aura.
Hal itu menandakan bahwa dirinya tidak mau tahu dengan apa yang Sabilla katakan pada dirinya.
Tanpa memperdulikan, Aura segera menyelonong tanpa permisi. Hingga gadis itu dikagetkan dengan adanya Kevin saat dirinya baru saja sampai di luar pintu kelas.
Sabilla dan Farrel tersenyum sembari memberi kode satu sama lain. Setelah membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Gadis cantik itu segera menyandang tas samping miliknya dan berjalan mendekat pada Farrel.
"Udah?" Tanya Farrel merangkul pundak Sabilla saat gadis itu sudah berada tepat di depan dirinya.
"Ayok" Farrel mengajak Sabilla untuk segera pergi dari sana. Namun, langkah mereka kembali terhenti saat melihat Aura Dan Kevin hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan suara.
"Lo ngapain disini Wa? bukannya tadi ngambek?" Tanya Sabilla sedikit menjahili.
Aura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "I-iya, memang gue mau pulang kok" Jawabnya terbata-bata.
"Lo juga ngapain disini Vin?" Giliran Farrel membuka suara.
"Lah, bukannya lo yang ngajak gue kesini barusan?" Ujar Kevin dengan kening tertaut.
"Siapa juga yang ngajak lo? Kepedean banget sih jadi orang" Farrel dan Sabilla kemudian berlalu pergi dari sana tanpa memperdulikan sepasang manusia itu.
Sambil berjalan, pasangan suami istri itu tak henti-hentinya tertawa mesra. Hingga membuat pandangan di sepanjang koridor kampusnya hanya tertuju pada mereka.
__ADS_1
Seperti biasa, tak sedikit yang membicarakan kedua manusia itu, tapi Farrel seperti biasa malah memilih untuk cuek dan tidak perduli. Begitu juga dengan Sabilla yang biasanya bersikap malu, sekarang sudah lebih membiasakan diri.
Toh, hubungan mereka bukan hanya sekedar pacaran, melainkan sudah menjadi suami istri. Jika yang pacaran saja bisa lebih percaya diri untuk bermesra-mesraan di depan umum, lantas kenapa mereka yang sudah berstatus sebagai suami istri menjadi malu?
***
Sabilla dan Farrel sudah sampai di parkiran. Pria itu telah membuka pintu mobil, dan hendak segera masuk. Namun dari kejauhan terdengar suara seorang perempuan tengah bersorak memanggil nama Farrel.
Farrel dan Sabilla menoleh secara serentak, mencari dimana asal suara itu berada. Hingga akhirnya mereka menemukan sosok Keyla yang tidak lain adalah sahabat Diara tengah memanggil namanya.
Sabilla dan Farrel menoleh satu sama lain dengan raut wajah yang begitu bingung. Mereka seolah bertanya lewat tatapan mata. Hingga saling menaikkan bahunya satu sama lain karena sama-sama bingung.
Karena tidak biasa Keyla datang dan menemui Farrel sendirian seperti saat ini.
Keyla melangkahkan kaki mendekat ke arah Farrel dan Sabilla. Gadis cantik dengan rambut panjang hitam terurainya, yang saat ini memakai celana boyfriend serta dipadukan dengan kaus peach polos itu tampak berjalan tergesa gesa hingga saat ini posisi dirinya telah berada tepat di depan Farrel dan Sabilla.
Farrel menutup kembali pintu mobil. Menatap Keyla yang saat ini berdiri dengan raut wajah datarnya.
"Ada apa Key?" Tanya Farrel.
"Hmm sebelumnya gue mau minta maaf karena udah mengganggu kalian. Gue dari kemaren nyariin lo Rel, tapi baru sekarang ketemunya. Gue kesini cuma mau..."
.
.
.
.
Makasih yang masih mau baca story aku ini. Jangan lupa dukung aku terus dengan cara like, komen, dan vote ya. Terimakasih banyak 😍
__ADS_1