My Poor Wife

My Poor Wife
Tangisan Sabilla


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Tangisan Sabilla memecah seketika saat dirinya melihat tubuh sang ayah telah terbujur kaku di tengah rumah yang dikelilingi oleh banyak orang. Tubuh Sabilla melemah seketika, tangannya gemetar. Perlahan, gadis itu mendekati ayahnya. Yasmin yang tidak berada jauh dari sana, segera menghampiri Sabilla, memeluk, dan menenangkan menantunya itu.


"Ayahhhhhh" Sorak Sabilla mencoba menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya. Namun, itu tetap saja sia-sia. Ayahnya tidak akan bangun.


"Sabil, kamu tenang sayang" Yasmin mencoba menenangkan Sabilla yang saat ini masih meronta-ronta memanggil nama sang Ayah. Ia tidak perduli sekencang apapun suaranya pada saat itu. Yang Sabilla inginkan adalah Ayahnya segera bangun.


Semua yang ada disana, termasuk para tetangga dan rekan bisnis Ayah Sabilla yang memang mengetahui bagaimana hidup Sabilla, hanya menatap iba pada gadis tersebut.


"Kak Nabila jahatttt. Kakak udah bawa Bunda, kenapa sekarang kakak bawa Ayah juga" Teriak Sabilla dengan histeris di depan tubuh ayahnya yang terbaring kaku.


"Sabil, Mama mohon, kamu tenang ya sayang. Disini masih ada Mama, Papa, kak Farris, dan Kak Farrel yang akan selalu ada untuk kamu" Yasmin memeluk Sabilla dengan begitu erat. Mencium puncak kepala gadis tersebut beberapa kali. Sebagai seorang ibu dan juga seorang perempuan, Yasmin tentu saja bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Sabilla saat ini.


"Ayahhh"


"Ayahhh"


Sabilla tak berhenti memanggil nama sang Ayah di sela-sela isak tangisnya.


.


.


.


.


.


***


Setelah kembali dari tempat pemakaman Ayahnya dua jam yang lalu, saat ini Sabilla tengah melamun di dalam kamar, menatap foto keluarga kecilnya saat semua masih lengkap. Disana terlihat senyum manis terpancar dari raut wajah 4 manusia itu, yaitu Sabilla, Bunda, Ayah, dan Kakaknya. Lagi dan lagi, cairan bening itu kembali menetes di pipi mungil Sabilla.


Aura yang memang sudah berada di sana saat mengetahui hal tersebut, saat ini tengah duduk di samping Sabilla. Ia juga tak kuasa menahan tangis melihat sahabatnya itu menderita seperti saat ini.


"Sabil, maafin gue, maafin gue selama ini belum jadi sahabat yang baik buat lo. Bahakan gue nggak pernah tau apa yang lo rasain selama ini. Sekarang gue sadar, kenapa selama ini lo nggak pernah semangat, nggak pernah cerita. Karena lo sangat merindukan Bunda dan kakak lo. Maafin gue Sabil, selama kita kenal, gue nggak pernah tau bahwa Bunda dan kakak lo udah nggak ada. Maafin gue, gue udah jadi sahabat yang sangat tidak berguna buat lo!"


Aura memeluk Sabilla dengan begitu erat. Kata maaf berulang kali terucap dari bibir mungilnya. Namun, tak ada sahutan dari Sabilla, gadis itu hanya mematung memangku lututnya di atas ranjang.

__ADS_1


Yasmin yang juga berada di dalam kamar tesebut benar-benar tak kuasa menyaksikan Sabilla saat ini. Sebagai seorang ibu dan juga seorang perempuan, Yasmin tentu saja merasakan apa yang dirasakan oleh Sabilla.


***


Di luar kamar, Asep dan Faris tampak panik, Ayah dan anak itu beberapa kalo mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghubungi Farrel yang saat ini tidak tahu dimana. Hingga...


"Papa kayaknya tau deh adek kamu di mana?" Ucap Asep setelah sekian lama berfikir.


"Dimana Pa?" tanya Faris dengan tidak sabar.


Setelah Asep memberitahu pada Faris dimana kira-kira Farrel berada, Farris dengan segera berlari menuju garasi mobil dan melajukan mobilnya ke Apartemen milik Asep.


Asep sangat yakin bahwa Farrel saat ini sedang berada di sana. Dan ternyata benar, setelah sampai di Apartemen, saat Farrel baru saja membuka pintu Apartemen tersebut, tiba-tiba saja.


Brukkkkkk


Satu pukulan melayang di wajah tampan Farrel, hal itu tentu saja membuat Farrel bingung. Pasalnya, selama hidupnya, ini adalah pertama kali kakak satu-satunya itu memperlakukan dirinya dengan kasar.


Farrel memegang pipi bekas pukulan Farris, pria itupun segera berdiri tanpa membalas perbuatan sang kakak.


"Lo kenapa sih kak? tiba-tiba datang main pukul gue aja?"


"Karena lo emang berhak dapetin itu semua!" Bentak Farris. "Dek, siapa sih yang ngajarin lo nggak menghargai perempuan? Lo lupa, Mama kita perempuan. Kenapa sih lo nggak pernah memperlakukan Sabil dengan baik?Dia salah apa sih sama lo?..."


"Dia nggak pernah ngadu sama gue, atau sama siapapun. Tapi gue jelas tau semua tentang dia daripada lo. Asal lo tau dek, Sabil itu anak yang baik, anak yang kuat saat semua orang yang ia sayangi pergi ninggalin dia. Dan sekarang, dia sama sekali nggak punya siapa-siapa. Dia punya suami yang harusnya menguatkan dia disaat kondisi seperti ini. Tapi apa? dia justru semakin sengsara menjalani hidupnya sendiri. Mempunyai suami yang nggak pernah memperlakukan dia dengan baik. Meskipun kalian nggak tinggal satu rumah sama kita, tapi aku, Mama, dan Papa sangat tahu apa yang selama ini udah kamu perbuat sama Sabil."


"Maksu kakak apa, menguatkan dia disaat seperti ini maksudnya apa?"


"Ayah Sabil udah pergi, pergi untuk selama-lamanya. Saat ini dia benar-benar terpukul. Dia punya suami, tapi tetap aja sendiri."


"Apa?"


Mendengar ucapan Farris, Farrel tanpa permisi mengambil jaket hitam miliknya. Pria itu kemudian bergegas menuju mobil dan segera melajukan mobil tersebut ke rumah Sabilla.


Sesampai di pekarangan rumah istrinya itu, Farrel melihat pemandangan dimana tetangga berlalu lalang keluar masuk ke rumah mertuanya tersebut hanya untuk mengucapkan bela sungkawa.


Dari ambang pintu masuk, Farrel melihat ibu yang telah melahirkan dirinya itu tengah termenung dengan mata yang sudah sembab.


Perlahan, Farrel mencoba menghampiri Yasmin. Ia berhambur memeluk ibu yang telah melahirkan dirinya itu.

__ADS_1


"Ma, maafin aku udah ngcewain Mama" Ucap Farrel di sela-sela pelukannya.


Yasmin hanya diam, kemudian memegang pipi putra keduanya itu.


"Dek, kamu tau dulu Mama nggak akan pernah mau nikahin kamu saat masih kuliah gini kan? Kamu tau, Mama lebih mengutamakan pendidikan daripada pernikahan? Apa kamu nggak pernah berfikir dan penasaran, kenapa Mama tiba-tiba aja merestui hubungan kamu dan Sabil?" Farrel menggeleng, mendengarkan setiap tuturan kata yang keluar dari mulut Yasmin.


"Karena malam itu, Mama sempat marah-marah sama Papa kamu karena seenaknya mengambil keputusan yang menurut Mama benar-benar konyol karena kamu masih kuliah. Tapi hati Mama luluh seketika, saat Mama tau apa alasan Papa kamu melakukan itu semua." Farrel masih fokus mendengarkan.


"Saat itu Papa kamu bilang, ini semua adalah permintaan Hermawan, saat itu ia tahu bahwa ia mempunyai penyakit jantung dan dokter sudah memprediksi bahwa hidupnya nggak akan lama lagi pada saat itu. Mertua kamu saat itu hanya ingin melihat putrinya sudah berada di tangan orang yang tepat. Karena dia nggak mau setelah dirinya meninggal, hidup Sabilla justru terlontang lantung, ditambah Hermawan juga takut suatu saat Sabilla akan dipermainkan oleh seseorang laki-laki yang hanya menginginkan hartanya saja. Hermawan benar-benar berharap putrinya akan dititipkan dengan aman pada Mama dan Papa"


"Sebenarnya saat itu juga bisa jika Sabilla hanya kami angkat jadi anak, tapi itu benar-benar nggak mungkin. Karena Sabilla sama sekali nggak mengetahui penyakit Ayahnya. Yang ia tahu hanyalah Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan, padahal Hermawan selama ini sibuk mengobati diri. Berharap keajaiban datang."


"Dan kamu tau, hati Mama lebih hancur saat tahu Sabil itu benar-benar gadis yang kuat. Saat itu, sebenarnya Sabilla baru aja kehilangan kekasihnya. Dua bulan sebelum ospek, Gilang kekasih Sabilla yang saat itu selalu ada untuk dia, laki-laki yang mampu membuat Sabilla kembali tersenyum saat kehilangan Bunda dan Kakaknya, saat itu baru saja pergi untuk selama-lamanya. Itulah sebabnya, Hermawan nggak bisa ngebayangin jika saat dirinya pergi, Sabilla tinggal seorang diri. Itulah sebabnya ia mempercayai Papa untuk menitipkan anaknya, tidak sebagai anak angkat, namun sebagai seorang menantu. Meskipun ia tau Sabilla akan membenci dirinya, tapi Hermawan nggak peduli, yang ia inginkan hanyalah melihat putrinya menikah saat ia masih ada dan masih sanggup bernafas".


"Tapi sayang, semua nggak seperti yang dibayangkan Hermawan, putrinya yang ia titipkan agar hidup bahagia, justru semakin tersiksa bersama kamu. Dan kami, Mama dan Papa benar-benar salah pilih. Kalau aja Mama tau hidup Sabil akan lebih sengsara sama kamu, sebaiknya dulu Mama jodohkan Sabil sama kakak kamu." Ucap Yasmin yang awalnya lembut sekarang penuh penekanan, menatap Farrel dengan kecewa yang saat ini masih berlutut di hadapannya.


"Jadi, pria yang ada di foto itu udah meninggal? Jadi, saat pertama kali ospek Sabil nggak fokus karena baru kehilangan kekasihnya?" gumam Farrel pelan.


"Sekarang juga masih bisa kok Ma. Aku siap jaga Sabilla dengan baik, jadi suami yang baim untuk Sabil" Faris yang baru saja datang memotong pembicaraan hingga membuat Farrel menoleh dan melotot tajam pada kakak tertuanya itu.


.


.


.


.


.


.


Note : Jangan pernah membenci orang tua. Terkadang kita hanya tidak tau apa maksud dan tujuannya melakukan sesuatu pada kita. Mungkin terkadang terlihat egois, namun sebagai orang tua tentu saja akan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada orang tua yang melakukan sesuatu hanya untuk membuat anaknya celaka.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, Dan vote ya🤩


Ada pesan buat Farrel nggak nih? wkwkwk


__ADS_2