
Sabilla masih mematung di depan pintu, memperhatikan banyaknya orang yang sudah hadir di rumah mertuanya itu. Suasana rumah yang terlihat indah dengan hiasan pesta ulang tahun tersebut membuat Sabilla kaget tidak percaya. Disana terlihat sebuah meja yang dihiasi dengan pernak pernik ulang tahun yang sangat lucu. Disana juga terlihat banyak vas bunga kecil dengan warna-warna yang lembut ala Shabby Chic.
Balon-balon kecil yang menghiasi seisi rumah membuat Sabilla merasa seperti anak kecil. Di meja tersebut juga terdapat sebuah cake yang terlihat sangat lucu dan manis yang diatasnya terdapat hiasan sepasang pengantin.
Sabilla tak mampu lagi berkata-kata. Tubuhnya mematung masih berdiri di tempat yang sama. Hingga seorang pria tampan yang sudah berpakaian rapi dan gagah dengan jas hitam dan sepatu kulit muncul dan tengah berjalan menuju dirinya dengan sebuah buket bunga anyelir di tangannya.
Farrel memilih bunga Anyelir karena itu adalah permintaan Yasmin ibunya. Kata Yasmin, bunga Anyelir sangat cocok untuk perayaan pernikahan yang pertama. Dan juga, bunga Anyelir tersebut memiliki makna tersendiri. Anyelir merah memberikan makna kekaguman, Anyelir putih memberikan makna cinta yang murni, dan Anyelir pink memberikan makna "Aku akan selalu bersamamu"
Yasmin sengaja memilih bunga tersebut karena Anyelir sendiri memiliki makna keseluruhan yaitu kekaguman seorang suami kepada istri serta ungkapan rasa syukur karena telah memiliki sang istri seutuhnya.
Farrel berjalan dengan bibir yang tidak henti tersenyum lebar ke arah Sabilla, bunyi tap tap yang berasal dari sepatunya itu membuat pandangan para tamu fokus tertuju pada dirinya. Hingga saat ini, posisi Farrel sudah berada di depan Sabilla. Ia sejenak menatap lekat mata istrinya yang terlihat sudah berkaca-kaca. Tanpa berfikir panjang, Farrel segera memeluk Sabilla dengan sangat erat.
Rasanya ia sangat merindukan istrinya itu. Padahal mereka tidak bertemu hanya beberapa hari. Tapi tatap saja, Farrel tak bisa menahan semua itu. Ia memeluk Sabilla dengan sangat erat. Sementara Sabilla hanya terdiam karena masih banyaknya tanda tanya dalam fikirannya.
Niat awalnya ke rumah itu hanya untuk memberikan sesuatu pada Farrel, tapi ia justru disugukan dengan pemandangan seperti ini. Sabilla merasa seperti sedang bermimpi. Tapi ini adalah nyata.
Bibirnya kaku, tak mampu lagi untuk berucap. Sabilla hanya diam meskipun banyaknya tanda tanya yang ingin ia tanyakan pada pria yang ada di depannya saat ini.
Farrel kembali menatap Sabilla setelah puas memluk istrinya itu. Ia juga mengusap lembut pipi Sabilla dengan senyum merekah dengan sempurna dari bibirnya.
"Happy Birthday Sayang. Happy Wedding Anniversarry" Ucapnya masih menatap lekat mata Sabilla sembari memberikan buket bungan yang ada di tangannya. Sabilla kaget bukan main, pasalnya dari beberapa hari yang lalu ia hanya mengingat bahwa hari ini adalah hari pernikahan dirinya dan Farrel.
Gadis itu tidak sedikitpun terfikir akan hari kelahiran dirinya sendiri. Beberapa hari ini yang menyiksa fikiran Sabilla adalah, bahwa dirinya ingin bersama Farrel saat hari dimana usia pernikahnnya menginjak satu tahun. Sabilla merasa kecewa karena Farrel dan keluarganya justru mengucilkan dirinya.
Sabilla bahkan sudah menyiapkan sebuah kado untuk Farrel meskipun harganya tidak seberapa. Melihat pemandangan tersebut semua tamu yang telah di undang Yasmin yang ada di sanapun bertepuk tangan dengan meriah, rasanya mereka ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini Sabilla dan Farrel rasakan.
Sabilla sungguh tidak percaya dan tidak menyangka. Perasaannya terasa bercampur aduk antara sedih, senang dan bahagia. Sabilla tidak menyangka akan mendapatkan kejutan semeriah sekarang ini dibalik kesediahan yang ia rasakan beberapa hari ini.
"Makasih kak Farrel. Happy Wedding Anniversarry kembali" Tuturnya pelan seraya menampipkan senyuman manisnya.
"Maafin aku ya, maafin aku udah bikin kamu sedih beberapa hari ini. Maafin cara aku memberikan kamu kejutan benar-benar keterlaluan. Aku tau kamu pasti sedih, tapi kamu masih aja berusaha kuat. Maafin aku" Farrel mengecup kening Sabilla sangat lama. Mencurahkan rasa sayang dan permintaan maafnya.
Sabilla tak mampu lagi menahan air matanya, ia benar-benar merasa terharu dengan perlakuan Farrel. Pria itu bahkan masih meminta maaf atas niat baik yang ia lakukan. Meskipun Sabilla sendiri sadar, cara Farrel memang membuat dirinya kecewa. Namun rasa kecewa itu seketika hilang saat dirinya menyadari bahwa dibalik semua itu suami dan mertuanya memiliki niat yang baik.
__ADS_1
Semua tamu yang ada di sana tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Sabilla dan Farrel. Yasmin yang juga tidak berada jauh dari sana, segera melangkahkan kaki mengahmpiri menantu kesayangannya itu bersama Tasya.
Raut wajah Sabilla berubah menjadi datar seketika saat Tasya saat ini berdiri di hadapan dirinya. Farrel jelas melihat ketidak nyamanan Sabilla pada Tasya. Pria itu tersenyum, merangkul pundak Sabilla dan kembali mengecup pipi mungil gadis tersebut dengan gemas.
"Hai kak Sabil" Sapa Tasya tersenyum melambaikan tangannya dengan raut wajah tanpa dosa pada Sabilla.
Sabilla mengernyit bingung. "H-ahai" balasnya gugup.
Yasmin segera memeluk Sabilla. "Selamat ulang tahun ya sayang. Selamat satu tahun pernikahan kalian. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan sampai tua kelak, sampai maut memisahkan. Mama berharap kedepannya kalian bisa lebih dewasa, saling melengkapi dan menerima kekurangan masing-masing. Maafin Mama juga yang ikut-ikutan ngerjain kamu ya" Tutur Yasmin cengengesan setelah melepaskan pelukan Sabilla, ia mengelus lembut pipi menantunya itu.
"Maksud Mama?" Tanya Sabilla bingung.
"Udah, kita ceritanya nanti aja. Sekarang kamu tiup lilin dulu sama kak Farrel ya" Perintah Yasmin dengan lembut. Sabilla mengangguk, kemudian ia bejalan bergandengan tangan dengan mesra bersama Farrel menuju sebuah meja yang sudah dihias secantik mungkin dengan pernak pernik acara ulang tahun dan pesta perayaan Anniversarry ke satu tahun mereka tersebut.
"Kenapa dulu kamu nggak bilang sih pada saat resepsi kita itu adalah hari ulang tahun kamu?" Tanya Farrel sembari berjalan bersama Sabilla.
"Emangnya kak Farrel lupa, dulu kakak nggak suka banget sama aku? gimana mau ngomong. Waktu itu aku cuma dikasih selamat sama Ayah, tapi nggak ada perayaan apapun karena Ayah bilang udah diwakilkan sama perta pernikahan kita waktu itu. Ya aku cuma bisa menerima aja, toh pada saat itu aku juga nggak peduli" Balas Sabilla tersenyum menaikkan bahunya menoleh ke arah Farrel.
"Berati salah aku ya?" Tanya Farrel dengan raut wajah datarnya.
"Tentu saja" Balas Sabilla cengengesan.
"Happy Birthday to you"
"Happy Birthday to you"
"Happy Birthday"
"Happy Birthday
"Happy Birthday to you"
Nyanyian selamat ulang tahun terdengar nyaring di telinga Sabilla yang dinyanyikan oleh para tamu undngan yang ada di sana. Sabilla melirik suasana sekitar, bola matanya berputar memperhatikan satu persatu tamu tersebut. Raut wajahnya yang semula tersenyum bahagia berubah menjadi murung seketika. Sabilla mengingat kilasan bayangan masa kecilnya. Saat Bunda dan Ayahnya juga merayakan pesta ulang tahunnya seperti saat ini.
Kepala Sabilla tiba-tiba terasa pusing saat bayangan tersebut tak henti menari-nari dalam fikirannya. Sabilla masih mendengarkan suara nyanyian selamat ulang tahun itu dengan seksama sembari memperhatikan sekeliling hingga saat ini pandangannya terlihat sedikit buram. Hal itu hampir saja membuat Sabilla terjatuh. Namun, Farrel yang menyadari akan hal itu dengan cepat merangkul pundak Sabilla.
__ADS_1
"Kamu gapapa?" Tanya Farrel.
Sabilla memegang keningnya sembari memejamkan mata. "Hmm gapapa kak, gatau kenapa tiba-tiba kepala aku pusing"
"Wajah kamu pucat, kamu sakit?" Tanya Farrel panik sembari mencek kening Sabilla memastikan istrinya itu demam atau tidak.
Sabilla tersenyum"Enggak kok kak, aku nggak papa" Balasnya.
"Beneran kamu nggak papa? Kalo nggak acaranya kita tunda aja" Seru Farrel.
"Enggak kak, aku nggak papa kok. Kita lanjut aja, kasian tamunya" Ujar Sabilla memaksakan.
"Hm yaudah deh" Ucap Farrel, namun ia masih terlihat ragu dan memperhatikan Sabilla dengan tatapan waswas.
"Kamu beneran gapapa sayang?" Giliran Yasmin yang juga berada di samping Sabilla bertanya.
Sabilla tersenyum. "Iya Ma, nggak papa kok" Jawabnya
"Yaudah kalo gitu, sekarang kamu tiup lilin dulu ya" Ucap Yasmin.
Sabilla tampak berdo'a sebelum dirinya meniup lilin. Sementara Farrel masih mengawasi Sabilla. Karena dirinya benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya itu yang ia sendiri melihat bahwa Sabilla tidak baik-baik saja.
Para tamu undangan yang tidak lain adalah teman-teman kampus Sabilla dan Farrel itu, tak hentinya terharu serta kagum melihat kebahagiaan yang Sabilla rasakan saat ini. Mereka tak hentinya memuji keberuntungan gadis tersebut yang telah mendapatkan mertua dan suami yang sayang pada dirinya. Padahal mereka hanya saja tidak tahu bagaimana kehidupan dan masa sulit yang telah Sabilla lalui selama ini.
"Sekali lagi selamat ulang tahun sayang" Farrel yang saat ini tengah berdiri di depan Sabilla, kembali memeluk istrinya itu. Saat ini mereka tengah berdiri di depan banyaknya tamu undangan tersebut. Farrel kemudian memakaikan sebuah mahkota indah di kepala Sabilla, ia menggenggam kedua tangan Sabilla seolah tak ingn ia lepaskan sedetikpun.
Semum manis tak berhenti terukir dari raut wajah keduanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukung author biar lebih semangat lagi nulis dengan cara like, komen, love dan vote ya. Terimakasih banyak :)