
Pagi hari matahari sudah kembali menampakkan diri. Saat ini, Sabilla baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, setelah mengerjap beberapa kali, akhirnya gadis cantik tersebut berhasil membuka mata dengan sempurna.
Sabilla menoleh ke samping, meraba kasur di sebelahnya, gadis itu terlihat sedang berfikir sejenak. "Bukannya semalam disini ada kak Farrel ya? Apa semalam gue mimpi?" Batin Sabilla sembari memperhatikan seisi kamar yang sama sekali tidak terlihat keberadaan Farrel disana.
Tanpa mengambil pusing, Sabilla segera berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Selang beberapa lama, gadis cantik itu keluar dari kamar mandi dan segera mengambil piyama hello kitty berwarna pink yang ada di dalam lemarinya.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Sabilla segera duduk di meja rias, memolesi wajah cantiknya hanya dengan sedikit bedak dan lipstik saja, itupun bukan lipstik yang merah mencolok untuk di bawa ke luar rumah.
Berhubung hari ini adalah hari minggu, Sabilla segera berjalan keluar kamar, menuruni satu persatu anak tangga hendak menuju dapur berniat untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.
Namun, tidak beberapa jauh dari sana, langkah Sabilla terhenti tatkala melihat Farrel sudah duduk dengan pakaian yang begitu rapi di meja makan. Di sana juga sudah tersedia beberapa makanan yang sangat lezat.
Sabilla mengerutkan keningnya bingung, kemudian melangkahkan kaki perlahan dengan tatapan yang masih banyaknya tanda tanya pada pria tampan yang tengah duduk manis menununggu kedatangan Sabilla di meja makan tersebut.
"Kak Farrel ternyata beneran ada di sini?" Ucap Sabilla dengan wajah polosnya.
Farrel tersenyum. "Kan memang dari semalam aku disini, nemenin kamu"
"Hmmmm ini semua kak Farrel yang masak?" mata Sabilla terkesiap saat melihat semua makanan yang sudah tertata rapi di meja makan dan sudah jelas terlihat sangat lezat.
Farrel tersenyum mengangguk. "Iya" Jawabnya singkat.
"Terus Bi Mirna mana?" Sabilla menatap sekeliling mencari keberadaan Bi Mirna yang sedari tadi belum ia lihat.
"Bi Mirna ada kok di taman belakang."
Farrel menarik tangan Sabilla untuk mendekat ke meja makan, pria itu menarik satu kursi, tersenyum mempersilahkan Sabilla untuk duduk di salah satu kursi tersebut.
Sabilla masih terlihat bengong planga plongo memperhatikan Farrel dengan sikap manis misteriusnya. Gadis tersebut tidak marah dan juga tidak menolak sama sekali. Sabilla mengikuti perintah Farrel dan segera duduk di kursi yang sudah di tarik terlebih dahulu oleh suaminya itu.
"Sekarang kamu makan dulu ya" Farrel dengan begitu semangat mengambil sebuah piring, pria itu mengisi nasi dan beberapa lauk dan sayuran yang barusan ia masak.
"Selamat menikmati" Ucap Farrel tersenyum sembari memberi satu piring makanan tersebut pada Sabilla yang saat ini berada tepat di depan dirinya.
Sabilla mengambil piring tersebut dengan raut wajah yang masih bingung, ia juga tidak mengeluarkan sepatah katapun pada pria tampan yang ada di depannya itu. Pria yang dulunya terlihat angkuh, sombong, belagu, namun sekarang mendadak menjadi manis.
"Maafin aku ya Bil..."
__ADS_1
Belum selesai Farrel melanjutkan ucapannya, Sabilla terlebih dahulu memotong pembicaraan pria tersebut.
"Mending kita makan dulu kak, nggak baik makan sambil ngomong" Ucap Sabilla kemudian dengan segera melahap makanan yang di masak oleh suaminya tersebut. Sedangkan Farrel, pria itu hanya terdiam menatap Sabilla kemudian ikut menyantap makanannya dengan begitu lahap.
"Selamat pagi Sabilla sayangku cintaku yang imut, manis, manja, cetar, membahana ulala bad..."
Langkah Aura terhenti seketika tatakala dirinya melihat Sabilla dan Farrel tengah menikmati sarapan berdua di meja makan.
"Wow indahnya pemandangan, romantis-romantisan. Kasian banget jomblo. Hikss" Aura yang saat ini memegang satu kantong kresek yang berisikan makanan tersebut, kembali berputar arah, urung niat untuk mendekati Sabilla, karena ia tidak mau mengganggu sahabatnya tersebut.
Namun, selang beberapa langkah, Aura kembali berhenti saat dirinya melihat Kevin yang baru saja datang. Gadis cantik itu dengan cepat memalingkan pandangannya dari Kevin. Aura juga segera berjalan dengan cepat melewati pria yang dulunya sangat dirinya kagumi itu. Namun, Kevin justru menarik tangan Aura dengan cepat.
Aura kembali menoleh ke arah belakang, melirik tangannya yang saat ini di pegang oleh Kevin. "Ada apa kak?" tanya Aura dengan santainya.
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini kayak menghindar gitu dari gue?" tanya Kevin mengerutkan keningnya.
"Nggak kok kak, biasa aja, nggak ada yang menghindar. Aaa aku lagi buru-buru kak Kevin, aku pergi dulu ya kak" Aura menepis tangannya dari Kevin, gadis tersebut dengan cepat berlari keluar dari rumah Sabilla meninggalkan Kevin disana sendirian. Kevin dengan raut wajah yang begitu bingung menatap kepergian Aura dari sana.
Tanpa ingin memperpanjang, Pria itu justru kembali melanjutkan langkahnya hendak menghampiri Sabilla, namun langkahnya terhenti tatkala melihat Farrel dan Sabilla tengah sarapan bersama di meja makan. Dari kejauhan, Kevin hanya bisa menatap Sabilla dengan keberadaannya yang tidak diketahui oleh Sabilla dan Farrel. Selang beberapa lama kemudian, Kevin justru memilih pergi dari sana, meninggalkan Sabilla dan Farrel di rumah tersebut.
***
"Bil, aku mau ngomong sama kamu boleh nggak?" tanya Farrel membuka suara dengan sedikit gugup.
"Kakak mau nanya apa?" tanya Sabilla.
"Kita ngomongnya di kamar aja gimana?" ajak Farrel. Sabilla mengangguk, kemudian sepasang suami istri muda tersebut berlalu berjalan menuju kamar.
Di dalam kamar, Farrel dan Sabilla tengah duduk di atas sofa dengan masih canggung satu sama lain.
"Bil, aku mau minta maaf sama kamu. Sebenarnya selama ini aku sama sekali nggak pernah membenci kamu. Aku juga minta maaf karena aku nggak tau kalau sebenarnya yang udah meninggal bukan hanya Bunda kamu, tapi kakak kamu juga."
"Maafin aku udah mengabaikan kamu selama ini, maafin aku udah bersikap kasar sama kamu. Sebenarnya hubungan aku sama Diara berakhir bukan karena kamu. Sebenarnya hubungan aku dan dia memang udah berakhir sebelum kita di jodohkan."
"Maafkan aku Bil, sebenarnya aku udah nggak pernah mencintai Diara, karena semenjak dia mengkhianati aku, semua rasa yang pernah ada sudah hilang dengan seketika. Di tambah lagi saat aku dipertemukan dengan kamu, membuat semua apa yang udah terjadi antara aku dan Diara hilang seketika."
"Sebenarnya, dari awal aku tinggal di rumah ini, dari saat aku sah menjadi suami kamu, dan lebih tepatnya lagi saat kita waktu itu tinggal di atap yang sama dan kamar yang sama, sebenarnya saat itu aku udah mulai tertarik sama kamu. Tapi selama ini aku hanya malu, aku bungkam dengan perasaan aku, aku malu untuk mengungkapkan semuanya karena aku pernah mencaci maki kamu."
__ADS_1
"Maafkan karena ke egoisan aku, tanpa aku sadari aku justru menyiksa kamu. Selama ini aku sering marah-marah sama kamu hanya karena rasa cemburu, aku sakit saat selalu melihat kamu tertawa dan bahagia bersama Kevin."
"Aku selalu ingin mendekati kamu, merebut kamu dari dia, tapi aku hanya nggak punya keberanian untuk itu. Aku hanya bisa melihat kamu dari kejauhan, aku hanya bisa marah sama kamu tanpa alasan yang jelas, aku bahkan tidak pernah menghargai usaha kamu yang berusaha untuk menjadi istri yang baik di usia yang masih semuda ini. Setiap pagi, aku tau kamu selalu nyiapin sarapan buat aku, dan sebenarnya aku pengen banget bisa menikmati itu bersama kamu. Tapi aku egois, dan hanya mikirin diri aku sendiri."
"Asal kamu tau, saat pertama kali aku memberanikan diri untuk sarapan sama kamu, pada saat itu aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa Sabil. Tapi semua itu kembali hancur seketika saat aku melihat kamu pelukan sama Kevin di taman Fakultas pada saat aku meminta kamu buat nunggu aku pulang kuliah waktu itu"
"Nggak tau kenapa, rasanya dada aku begitu sesak. Aku sadar aku salah, seharusnya pada saat itu aku ngomong sama kamu, tapi aku justru mendiami kamu. Aku nggak bisa mengungkapkan perasaan aku yang sebenarnya sama kamu. Aku hanya bisa marah tanpa alasan yang jelas dan mungkin hal itu juga selalu membuat kamu bingung.
"Maafin aku Sabil, aku hanya seorang laki-laki bodoh yang hanya bisa memendam rasa tanpa mau mengungkapkan. Dan tanpa aku sadari, aku justru melukai seseorang yang aku cintai."
Sabilla yang semula menunduk, saat ini menatap Farrel dengan seksama, mendengarkan dengan jelas setiap tuturan kata yang keluar dari mulut Farrel.
"Mencintai?" Ucap Sabilla pelan.
Farrel menoleh pada Sabill yang saat ini tengah duduk di samping dirinya. Pria itu mulai menggenggam tangan Sabilla. "Iya, mencintai. Sebenarnya, selama ini aku hanya mencintai kamu Sabil, bukan Diara. Karena semenjak aku mengenal kamu, semua tentang dia sudah hilang dengan sendirinya. Tapi selama ini aku hanya tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasa."
"Dan sekarang, aku sudah tau semuanya, aku sudah tau semua tentang kamu. Aku nggak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku sadar, hal yang bisa aku ucapkan saat ini hanyalah kata maaf. Dan aku juga tau nggak semudah itu kamu untuk memaafkan semua kesalahan yang udah aku perbuat."
"Sabilla Natasya Arsi, apakah kamu mau memaafkan aku? Apakah kamu bersedia memberikan aku kesempatan untuk menjaga kamu dan menjadi suami yang baik untuk kamu?"
"Aku tau, usia kita memang masih terbilang sangat muda dalam status kita yang saat ini sebagai suami istri. Aku tau, mungkin aku belum tau banyak tentang bagaimana cara menjadi suami yang baik dan yang sepantasnya itu seperti apa untuk seorang istri. Tapi aku akan berusaha sebisa aku untuk memberikan yang terbaik untuk kamu, menjaga kamu, dan selalu ada buat kamu. Apa kamu mau, memaafkan aku? Apa kamu bersedia hidup bersama aku? dalam suka maupun duka? Aku janji, aku nggak akan pernah nyakitin kamu. Aku akan selalu menjaga kamu, hingga kita tua, hingga maut memisahkan kita."
"Aku janji, aku akan menjadi Ayah kamu, Bunda kamu, kakak kamu, bahkan aku akan berusaha untuk menjadi Gilang mantan kekasih kamu. Aku akan menjaga kamu dan nggak akan membuarkan kamu sendiri lagi. Apa kamu mau, menerima semua itu, dari aku suami kamu yang memiliki salah yang begitu banyak sama kamu?"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. :)
Terimakasih💕