My Poor Wife

My Poor Wife
Extra Part 6


__ADS_3

Pagi hari, saat matahari sudah mulai menampakkan diri. Terasa jelas silau matahari yang pagi ini menerangi bumi memasuki celah celah fentilasi kamar Sabilla dan juga Farrel.


Perlahan, Farrel membuka mata. Setelah mengerjap beberapa kali dan menyesuaikan penglihatannya, akhirnya Farrel berhasil membuka mata dengan sempurna. Bibir pria itu melengkung membentuk sebuah senyuman saat mendapi istri tercinta masih tertidur lelap di samping dirinya.


Tak berselang lama, pandangan Farrel beralih ke bawah, pria itu tersenyum sembari mengelus lembut perut Sabilla yang sudah mulai terlihat sedikit menonjol dari biasanya. Mengingat, usia kandungan gadis itu masih dua bulan.


Berkali-kali Farrel mengecup pipi dan bibir mungil Sabilla yang masih terlelap akan tidurnya. Benar, ia memang sengaja untuk membangunkan Sabilla.


Merasa terganggu, Sabilla perlahan membuka mata, kening gadis itu mengernyit akan silaunya matahari pagi yang menembus matanya.


Sabilla sedikit mengangkat tangannya, menghalangi silau matahari agar tidak menghalangi pandangannya.


"Selamat pagi sayang" Ucap Farrel yang saat ini tidur saling berhadapan dengan Sabilla.


Sabilla sama sekali tidak mngubrisnya. Mengernyit, gadis itu justru memalingkan pandangan, merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Farrel.


"Lah, tidur lagi?" Ucap Farrel sedikit tertawa. Memang tidak asing lagi, karena semenjak hamil, tingkah gadis itu memang kadang-kadang memang sedikit aneh dan Farrel tentu saja memakluminya.


Farrel memeluk Sabilla dari belakang. Mengusap perut Sabilla yang sudah menjadi kebiasaan dirinya sejak saat ia tahu bahwa istrinya itu tengah mengandung anaknya.


Sementara Sabilla, gadis itu kembali melanjutkan tidur nyenyaknya tanpa memperdulikan Farrel.


"Bangun yuk sayang. Aku antar kamu ke rumah Mama" Ucap Farrel, namun tak ada sahutan dari Sabilla.


"Nyenyak banget sih tidurnya, jadi nggak tega bangunin" Gumam Farrel pelan.


Tanpa ingin mengganggu tidur Sabilla, Farrel segera bangkit dari tidurnya setelah pria itu mengecup lembut kepala sang istri. Farel menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh istrinya. Kemudian, tujuan pria itu saat ini adalah kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Tak berselang lama, Farrel keluar dari kamar mandi. Pria itu masih berdiri di ambang pintu kamar mandi yang ada di kamar mereka. Tatapan Farrel tak teralih dari Sabilla yang masih tertidur lelap. Bibir Farrel tersenyum. Ia sama sekali tidak merasa marah pada istrinya itu.


***

__ADS_1


Sabilla baru saja terbangun dari tidurnya. Gadis itu meraba kasur yang ada di samping. Alhasil Sabilla kaget karena sudah tidak mendapati Farrel disana.


"Astaga, aku telat bangun lagi" Lirih Sabilla pelan. Gadis itu tampak mengacak-acak rambutnya sendiri. Tanpa berfikir panjang, Sabilla segera bergegas menuju kamar mandi. Gadis itu terlebih dulu membersihkan diri sebelum menyusul Farel ke meja makan. Karena Sabilla yakin bahwa suaminya itu pasti sudah sarapan duluan.


Dan benar seperti dugaan Sabilla. Saat gadis itu berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari meja makan, ia melihat jelas saat ini Farrel tengah menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Bi Mirna seorang diri.


Jujur saja, Sabilla benar-benar merasa bersalah. Tapi ia juga tidak tau kenapa dirinya selalu saja nyaman tertidur padahal usia kandungannya baru masih dua bulan.


Bukannya ingin bermalas malasan, tapi Sabilla sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa seperti itu.


Dari meja makan, Farel melihat Sabilla yang tengah berdiri tidak jauh dari sana. Pria itu melambaikan tangan mengajak Sabilla untuk segera bergabung dengan dirinya disana. Farrel sama sekali tidak marah. Tapi hanya saja Sabilla yang merasa bersalah. Bibir Farel justru tak henti tersenyum ke arah istrinya itu.


"Sini sayang" Panggil Farrel.


Sabilla mengangguk. Perlahan, gadis itu berjalan menuju meja makan. Sabila ikut mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di hadapan Farrel.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Farrel.


"Kak Farrel" Panggil Sabilla.


"Maafin aku" Lirihnya.


"Maaf? Maaf buat apa?" Tanya Farrel.


"Maaf karena aku nggak bisa jadi istri yang berguna. Makin lama aku cuma bisa nyusahin kak Farrel"


Farrel terdiam. "Kamu ngomong apaan sih? Siapa yang nyusahin? Nggak ada yang nyusahin. Kata siapa kamu nggak berguna? Jangan ngomong gitu ah"


"Iya tapi aku nggak bisa seperti istri yang lain-lain yang bisa bahagian suaminya. Bangun aja aku suka telat. Aku juga nggak tau, padahal biasanya aku nggak gini"


Farrel menggenggam tangan Sabilla. "Sayang, aku ngerti. Dan aku juga nggak akan menuntut kamu ini dan itu. Jadi kamu nggak perlu mikirin apapun. Selama ini kamu udah jadi istri terbaik aku. Jadi nggak usah mikir yang macam-macam ya. Kamu itu istri aku, bukan pembantu. Yang perlu kamu fikirin saat ini adalah kehamilan kamu, kesehatan kamu. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Gimanapun juga aku akan tetap menyayangi kamu"

__ADS_1


Sabilla mengangguk. Dan entah mengapa, bulir bening itu lolos begitu saja dari kelopak mata Sabilla.


"Tuh kan, kenapa aku jadi aneh gini sih?"


Farrel tertawa. Pria itu berdiri dari duduknya. "Manja banget sih sekarang. Cengeng juga" Ucap Farrel memeluk Sabilla erat. Pria itu juga tak henti memberikan ciuman di puncak kepala istrinya yang akhir-akhir ini terlihat begitu sensitif. Jadi sering menangis dengan hal sepele sekalipun.


***


"Bik, Sabil pamit ya" Ucap Sabilla setelah bersalaman dengan Bi Mirna. Benar, setelah selesai sarapan barusan, pasangan suami istri itu segera berjalan menuju mobil. Karena hari ini Sabilla akan berkunjung ke rumah mertuanya Yasmin.


Farrel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan minimal. Setiap hari, pria itu tak pernah bosan menatap istrinya yang saat ini juga tengah mengandung sang buang hati.


Farrel menggenggam tangan Sabilla erat. "Nanti pulang kerja langsung aku jemput ya. Kamu mau apa? Biar sekalian nanti aku beliin" Tanya Farrel.


Sabilla menggeleng. "Nggak mau apa-apa" Sahutnya santai.


"Sekali-kali minta apa gitu dong sayang sama aku. Masa iya tiap ditanya nggak mau apa-apa mulu?" Ucap Farrel sedikit kecewa.


"Ya gimana ya, memang aku belum mau apa-apa kak Farrel sayang."


"Hmm yaudah deh. Kalo gitu aku berangkat kerja dulu ya sayang" Ucap Farrel saat mereka sudah sampai di halaman rumah Yasmin. Farrel mengecup kening Sabilla. Kemudian, tangan pria itu teralih mengelus perut istrinya.


"Papa kerja dulu ya sayang. Cari uang yang banyak buat kamu sama Mama. Jangan Bandel, jagain Mama ya" Ucap Farrel berbicara sambil mengelus perut Sabilla. Jujur saja hal itu sedikit membuat Sabilla geli melihat tingkah suaminya itu"


"Yaudah hati-hati berangkat kerjanya. Jangan ngebut" Ucap Sabilla setelah mencium tangan suaminya. Sabilla segera turun dari mobil. Dan tentu saja kedatangan gadis itu juga di sambut hangat oleh mertua dan adik iparnya Tasya.


.


.


.

__ADS_1


.


Hai semuanya, aku kasih extra part lagi nih. Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih :)


__ADS_2