
Farrel menghentikan langkahnya, pria itu menoleh ke arah belakang setelah mendengar ucapan Sabilla. Sementara Sabilla, menatap Farrel dengan tatapan kecewa.
Farrel kembali melangkahkan kakinya mendekati Sabilla. Pria itu kembali duduk di atas ranjang di samping istrinya.
Farrel memegang dagu Sabilla, mendongakkan kepala gadis itu ke atas. Tanpa berkata apa-apa, Farrel memeluk Sabilla dengan erat.
"Maafin aku ya. Aku bukannya menyesal karena udah meninggalkan Diara, aku bukannya nggak terima kalo dia pergi. Tapi barusan aku hanya teringat akan nasib Diara selama ini aja. Selama ini aku sangat tau gimana perlakuan orang tua diara pada dia. Dari dulu dia memang nggak pernah di anggap oleh orang tuanya. Dan aku nggak nyangka aja dia sampe berhenti kuliah saat ini."
Farrel memegang pipi Sabilla dengan kedua tangannya. "Aku nggak pernah menyesal, dan nggak akan ada yang akan aku sesali. Aku justru bahagia banget bisa bersama kamu seperti saat ini. Tapi sebagai manusia normal yang masih punya hati nurani, apalagi aku tau gimana kehidupan Diara selama ini, aku hanya kasihan aja sama dia. Mungkin sikap aku juga terlalu berlebihan, hingga membuat kamu cemburu seperti ini. Maafin aku ya sayang. Jangan mikir yang enggak-enggak, aku sayang aku kok" Farrel kembali memeluk Sabilla, ia juga mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Cemburu? eggak ah, aku nggak cemburu" Sabilla melepaskan tangan Farrel yang tengah memeluk dirinya. Gadis itu kemudian sedikit menjauh dari Farrel dan segera berdiri menuju lemari mengambil pakaian ganti untuk Farrel.
Farrel tersenyum manis, rasanya ia merasa begitu gemas dengan gadis cantik itu. Farrel mengikuti Sabilla dan memeluk tubuh Sabilla dari belakamg. Farrel menenggelamkan kepalanya di pundak Sabilla, menghirup aroma istrinya yang sangat wangi tersebut.
"Cemburu bilang aja. Pake gengsi segala untum ngakuinnya, nanti ujung-ujungnya nangis." Ucap Farrel dari belakang.
Sabilla sedikit menoleh. "Ii apaan sih Kak Farrel? siapa yang cemburu? geer banget sih jadi cowok"
Farrel memegang pundak Sabilla, memutar tubuh istrinya itu agar menghadap pada dirinya. Ia mengusap lembut rambut Sabilla.
Pria itu tersenyum. "Sabil sayang, sorotan mata sama raut wajah kamu itu nggak bisa boong. Maafin aku ya. Kamu nggak boleh berfikir yang aneh-aneh. Karena aku hanya sayang sama kamu. Istri aku yang paling cantik sedunia." Farrel mencubit hidung Sabilla dengan gemas.
"Eleh gombal" Sabilla menaruh baju yang sudah ia pilih dari lemari itu kemudian meletakkan satu persatu di atas kasur. Sementara Farrel, pria itu selalu saja mengikuti Sabillan tanpa melepaskan pelukannya dari pinggang gadis itu.
"Gapapa gombal, yang penting jujur" Balas Farrel cengengesan.
"Idih, sejak kapan gombal jadi jujur? Gombal ya gombal, dan pada umunya gombal itu boong"
Farrel kembali memutar tubuh Sabilla menjadi menghadap dirinya. "Sejak kapan sih kamu berubah jadi ngeselin gini?" Tanya Farrel dengan gemas seraya mengecup lembut bibir Sabilla.
"Nanya sih nanya, tapi nggak usah di embat juga kali" Gerutu Sabilla yang tentunya membuat Farrel semakin merasa gemas.
"Tuh kan, makin ngeselin?" Farrel kembali mengecup bibir Sabilla.
"Ih kak Farrel apaan sih nyosor mulu."
"Ya nggak papa dong, nyosor sama istri sendiri" Balasnya tanpa merasa bersalah. "Kamu juga sejak kapan jadi ngeselin gini?"
__ADS_1
"Semenjak semangat hidup aku udah kembali karena..."
Sabilla menghentikan ucapannya.
"Karena apa? karena siapa?" Tanya Farrel dengan begitu percaya dirinya.
"Karena aku udah sadar, bahwa hidup nggak harus sedih terus. Dan aku harus bisa bahagia seperti orang-orang lainnya."
"Hmm pinter banget ngeles" Farrel menggelitik perut Sabilla hingga membuat gadis itu merasa geli.
"Kak Farrel geli ih lepasin" Ucap Sabilla meronta-ronta meminta dilepaskan oleh suaminya itu.
"Nggak mau, sebelum kamu manggil aku sayang dulu"
"Iii ngeselin banget sih"
"Yaudah panggil aku sayang dulu"
"Iya sayang lepasin"
"Nggak mau, terpaksa"
"Farrel menghentikan aktifitasnya mengganggu Sabilla. Pria itu mencium bibir Sabilla beberapa kali sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
***
Malam harinya, keluarga Asep dan Yasmin telah berkumpul di meja makan untuk makan malam.
"Ma, lusa kita kembali ke rumah Ayah Sabil ya" Ijin Farrel membuka suara setelah selesai menikmati makanannya.
Yasmin, Faris, Tasya dan Asep sontak menoleh ke arah pria itu.
"Kenapa lo cepet banget balik? Udah nggak betah lagi tinggal sama kita? Dengus Farrel asal tuduh.
"Tau tuh, kalo kak Sabil pindah terus gue temannya siapa dong?" Timpal Tasya.
"Yaelah, dulu aja pada ngotot ngusir gue dari rumah ini" Gerutu Farrel membalas ucapan keduanya.
__ADS_1
"Stttt" Yasmin memukul punggung putra keduanya itu. "Kalo ngomong tuh dipikir dulu, nggak usah asal ceplas ceplos. Siapa yang ngusir kamu ha? Enak aja! Kan memang waktu itu permintaan Ayah Sa..."
Yasmin menghentikan ucapannya ketika ingin menyebutkan kata Ayah Sabil. Karena ibu dua anak itu tidak ingin mengingatkan Sabil pada kesedihan itu.
Namun, Sabilla justru tersenyum pada ibu mertuanya tersebut. "Nggak papa kok Ma, aku udah nggak papa sekarang. Mama lanjut aja mau ngomong apa." Seru Sabilla tersenyum.
Farrel menoleh ke samping, pria itu melebarkan senyumannya pada Sabilla yang saat ini juga tengah tersenyum pada dirinya.
"Iya sayang."
"Kak Sabil, kaka nggak usah balik dong. Tinggal disini aja kenapa sih?" Tasya tampak memohon pada Sabilla seperti anak kecil.
Sabilla tersenyum. "Tasya, kalo kamu mau, kamu bisa main ke rumah kakak kok. Kakak nggak mungkin tinggal disini terus, nanti rumah orang tua kakak nggak ada yang nempatin dong"
"Hmm iya juga sih. Tapi beneran ya aku boleh main kesana?"
"Ya boleh lah. Kenapa enggak"
"Kalo tidur sama kak Sabil, boleh juga dong?" Rayu Tasya berbicara seraya melirik Farrel. Jelas saja gadis itu tengah mengusili kakak sepupunya itu.
"Enggak! apa apaan lo mau tidur sama Sabil segala?" Sambung Farrel.
"Apaan sih beruang kutub, gue nggak ngomong sama lo!" Tasya memutar bola matanya malas.
"Kalian kenapa sih, dari dulu aja nggak pernah damai" Yasmin menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua manusia itu.
"Tau tuh si beruang kutub selalu aja cari masalah sama aku ma" Adu Tasya pada Yasmin.
"Eh bukannya lo? Kok malah jadi nyalahin gue?" Farrel melotot tajam ke arah adik sepupu alisan musuh bubuyutan dirinya sedari kecil itu.
"Ya kan memang lo!" Tasya melipat tangan di dada seraya memutar bola matanya malas untuk menatap Farrel.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote seikhlasnya. Terimakasih :)