My Poor Wife

My Poor Wife
Terasa Sesak


__ADS_3

"Ekhemm kak Farrel, badan aku tiba-tiba jadi nggak enak deh. Aku balik ke kamar aja ya kak, mau istirahat. Permisi" Sabilla pamit dan tidak lupa tersenyum pada Tasya, Ia kemudian melangkahkan kaki bergegas masuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Farrel dan Tasya di sana berdua.


Di dalam kamar, Sabilla tengah duduk di atas ranjang memangku lututnya dengan kedua tangan. Gadis itu tampak termenung menatap kosong ke sembarang arah seolah memikirkan sesuatu.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Sabilla memalingkan pandangannya ke arah pintu kamar. Terlihat disana Farrel tengah berdiri menatap dirinya. Farrel menutup kembali pintu kamar dan perlahan melangkahkan kakinya mendekat pada Sabilla. Pria itu ikut mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur tepat di samping Sabilla.


Keduanya terlihat sedikit canggung, tidak seperti saat sebelum adanya Tasya beberapa jam yang lalu. "Kenapa?" Tanya Farrel memegang pundak Sabilla. Ia mengerti dengan raut wajah Sabilla saat ini, Farrel tahu bahwa Sabilla tampak tidak nyaman dengan sikap Tasya barusan.


Sabilla menoleh ke samping, ia menggeleng, menatap Farrel dengan tatapan sendu. "Nggak papa" Jawabnya singkat kemudian kembali memalingkan pandangannya ke depan.


Farrel menangkup kedua pipi Sabilla dengan tangannya, ia menatap lekat mata istrinya itu yang jelas-jelas ia lihat ada kebohongan disana. "Benaran nggak papa?" Tanya Farrel sekali lagi. Sabilla mengangguk membenarkan.


"Serius nih nggak papa?" Farrel mulai merayu Sabilla dengan cara menggelitik pinggang Sabilla hingga membuat gadis itu menjerit merasa geli.


"Kak Farrel udah geli tau" Teriak Sabilla tertawa menahan geli memohon pada Farrel untuk menghentikan candaannya. Hingga nafas gadis itu juga dibuat sesak seketika.


Farrel tertawa bahagia, ia kemudian melepaskan Sabilla. Gadis itu duduk di atas ranjang dengan rambut yang sudah acak-acakan. Nafasnya ngos-ngosan.


"Udah ah Kak Farrel, aku capek" Pinta Sabilla yang saat ini telah duduk dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Mau lagi?" Tanya Farrel menggoda.


"Enggak kak Farrel udah" Pinta Sabilla memohon dengan suara yang begitu manja hingga membuat Farrel benar-benar merasa gemas pada gadis cantik itu, ia memeluk Sabilla dengan begitu erat, mengecup kening Sabilla beberapa kali kemudian mereka membaringkan tubuh masing-masing di tempat tidur sambil bercerita.


"Sabil, kamu nggak ada keinginan gitu, untuk jalan-jalan, atau apa gitu? Emangnya selama ini kamu nggak bosan cuma di rumah aja, dan keluar cuma ke kampus? Setiap hari kamu cuma putar-putar rumah, kampus, rumah kampus?" Tanya Farrel yang saat ini membaringkan tubuhnya di samping Sabilla.


"Aku mana pernah mempermasalahkan hal seperti itu kak, karena dari dulu aku juga udah terbiasa kok di rumah aja semenjak kepergian Bunda."


"Emangnya pada saat sama Gilang kamu nggak pernah pergi ke mana?"


"Kalo cuma sekedar pergi main, nongkrong di Kafe ya udah jelas pernah dong kak. Kan pertanyaan kak Farrel barusan liburan. Kalo liburan ya nggak mungkin aku pergi sama Gilang. Apalagi pada saat itu kita sekolah, masih seorang siswa, masih SMA."


"Hmmm Kalo gitu, kalo aku ajakin kamu liburan gimana? kamu mau?"

__ADS_1


"Liburan? Kemana?"


"Kemana yang kamu mau, sekalian bulan madu kita yang tidak pernah terlaksana" Goda Farrel tersenyum licik melirik Sabilla.


Mendengar kata bulan madu, fikiran Sabilla sontak melayang kemana-mana. Gadis itu benar-benar belum siap untuk itu. Yang ada di fikirannya bulan madu adalah cara pasangan yang sudah menikah untuk memiliki seorang anak. Dan Sabilla tentu saja belum siap untuk itu.


"Apa? bulan madu? nggak nggak nggak mau" Tolak Sabilla dengan lantang.


"Kenapa emangnya?"


"Aku nggak mau punya anak sekarang kak Farrel." Jawab Sabilla sambil berfikir membayangkan dirinya memiliki seorang anak di usia semuda itu. Sabilla geli sendiri membayangkannya.


Mendengar jawaban Sabilla, Farrel tertawa sekeras mungkin "Hei, aku nggak ada bilang bikin anak lo Sabil, kenapa fikiran kamu bisa sampe kesana? apa jangan-jangan kamu yang..." Farrel semakin lama semakin mendekat menggoda Sabilla.


"Enggak Kak Farrel" Sabilla menjauhkan tubuh Farrel dari dirinya, hingga pria itu hampir saja terjatuh ke belakang dari atas ranjang.


"Kenapa sih kamu nggak mau? padahal tuh ya, cewek-cewek biasanya bahagia banget tuh kalo diajak jalan-jalan, tapi kamu enggak. Aneh banget sih bocah" Farrel mengacak-acak rambut Sabilla.


"Kalo jalan-jalan ya aku pasti mau lah kak, tapi aku nggak mau aja punya anak sekarang. Boro-boro ngurus anak, ngurus diri sendiri aja masih susah"


"Emangnya kata siapa sih bikin anak? dari tadi ucapanya itu mulu. Apa jangan-jangan kamu emang pengen punya a..."


"Ya kan nggak semua, yaudah deh di ganti nggak usah bulan madu. Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan biar kita bisa berduaan. Apa kamu mau? Puas?" Tanya Farrel.


"Sedikit" jawab Sabilla cengengesan.


"Dasar bocah" Farrel mencubit hidung Sabilla dengan begitu gemas.


"Terus kamu maunya kemana?"


"Kemana aja asal sama kak Farrel"


"Cakep! Udah pintar gombal" Farrel lagi dan lagi mencibit pipi Sabilla dengan begitu gemas.


"Sebenarnya sih, aku sih pengen banget ke Korea, tapi aku juga pengen ke Paris, ke Swiss juga deng, mau main salju. Gimana dong?"

__ADS_1


"Yaudah kita kunjungi aja semua tempat yang kamu mau!" Jawab Farrel dengan santai, tersenyum merangkul pundak Sabilla seraya menaik turunkan alisnya.


"Serius? Kak Farrel nggak boong?" Tanya Sabilla tidak percaya.


"Serius, tapi setelah kamu wisuda"


"Hadeuhh lama banget harus nunggu aku wisuda" Wajah Sabilla melemas seketika.


"Sebenarnya bisa aja sih kalau kamu maunya sekarang, tapi emang siap pulang-pulangnya udah berbadan dua?" Farrel kembali mencoba menggoda Sabilla.


"Ihhh apaan sehhhh itu mulu dari tadi. Nggak mau ah, nggak usah jalan-jalan aja sekalian" Sabilla mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Farrel. Sementara Farrel tersenyum gemas melihat sikap manja Sabilla yang semakin hari sudah semakin lebih bersemangat daripada Sabilla yang dulu.


"Bocah, bocah, padahal yang bahas anak duluan dia, sekarang malah kesal sendiri" Gumam Farrel kemudian memeluk Sabilla dari belakang.


***


Malam harinya, Asep, Yasmin, Farris, Farrel, Sabilla dan Tasya sudah duduk di meja makan untuk makan malam. Mereka juga menyelipkan obrolan di sela menikmati makanannya.


"Ciee yang udah mau jadi mahasiswa" Farris membuka suara, ucapan tersebut sudah jelas tertuju pada Tasya.


"Iya dong kak" Balas Tasya dengan songong namun dengan maksud dan tujuan bercanda.


"Kuliah harus belajar yang rajin ya Sya, ingat tuh Papa kamu pengen banget liat kamu sukses, anak satu-satunya" Yasmin ikut membuka suara.


"Iya dong tante, pastinya." Tasya tersenyum membalas ucapan Yamin. Namun ia sejenak menatap ke arah Farrel dan juga Sabilla secara bergantian.


"Hmm Om, tante, kak Farrel kenapa cepat banget sih nikahnya. Sayang tau, masa muda kak Farrel terbuang sia-sia. Kak Farris bilang, kak Farrel menikah karena tante dan om yang jodohin ya? kenapa sih om tante? kenapa cepat benget? padahal kan kak Farrel bisa memilih pilihannya sendiri. Kenapa juga harus di jodoh-jodohin. Yang ada nanti hidup kak Farrel malah nggak tenang" Tasya bertanya sembari menatap Sabilla dengan tatapan yang begitu tidak suka.


Yasmin dan Asep menoleh satu sama lain. Kemudian mereka menatap ke arah Faris seolah memberi isyarat dan bertanya mengapa Faris harus menceritakan semuanya pada Tasya.


Sabilla yang awalnya sibuk dengan makanannya, menunduk seketika, entah kenapa dadanya begitu sesak mendangar ucapan Tasya. Ia seketika mengingat semua sikap Farrel dulu pada dirinya. Semua kata-kata Farrel yang dulu menyakiti perasaannya juga ia ingat saat itu juga.


"Enggak kok, Kak Farrel menikah itu memang karena keinginan dia sendiri. Emang Farrel nya aja yang ganjen, pengennya cepat-cepat nikah. Malahan kak Sabil awalnya nggak mau, tapi kak Farrelnya maksa." Jawab Yasmin berbohong, karena ia sangat mengerti dan paham dengan apa yang dirasakan Sabilla saat ini. Ia bisa melihat semua itu dari tatapan mata Sabilla. "Kamu sih mau aja diboongin sama kak Farris"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2