My Poor Wife

My Poor Wife
Izinkan Aku Disini


__ADS_3

Farrel, Faris, Yasmin dan Asep saat ini tengah duduk di meja makan untuk makan malam. Namun, Farrel sedari tadi tidak sedikitpun memkan makanannya. Pria itu hanya mengaduk-aduk makanan dengan tatapan yang begitu kosong.


Yasmin, Asep, dan Faris menoleh satu sama lain. Prihatin? sudah pasti iya. Karena ketiga manusia itu justru sangat tahu bagaimana Farrel. Pria itu sebelumnya tidak pernah seperti ini hanya karena seorang wanita.


"Dek, kamu kenapa sih? Itu makanannya dimakan dulu" Perintah Yasmin pada Farrel.


"Ma, aku pengen ketemu Sabil. Aku nyesel udah memperlakukan dia dengan buruk selama ini Ma. Aku mohon, mama bujuk dia, ini udah satu bulan lebih Ma" Rengek Farrel pada ibu yang telah melahirkan dirinya itu.


"Lebay banget lo sekarang dek. Nggak pernah gue lihat lo se lebay ini sebelumnya" Seru Faris mengejek adiknya itu. Namun, Yasmin malah melotot pada Farris mengisyaratkan untuk tidak bergurau pada saat seperti ini. Karena ibu 2 anak itu sangat tahu bahwa Farrel benar-benar tulus menyayangi Sabilla. Dan sesungguhnya ia juga tidak tega melihat Farrel dan Sabilla saling meyakiti diri masing-masing.


Kringggg


Dering ponsel Yasmin berbunyi. Ia segera meraih ponsel miliknya yang ada di meja makan tersebut. Yasmin segera membaca pesan yang tidak lain dari Aura.


Tanpa aba-aba, setelah membaca pesan tersebut, Yasmin segera bangkit dari sana tanpa sepatah katapun. Ia berjalan menuju kamar mengambil kunci mobil miliknya.


Faris, Farrel dan Asep menatap perempuan tersebut dengan bingung.


"Ma, mama mau kemana?" sorak Farrel


Menepuk jidat. "Oiya Mama lupa. Mama mau ke rumah Sabil. Aura bilang malam ini dia nggak bisa pulang ke sana. Karena adeknya saat ini masuk rumah sakit"


Farrel melirik kaca jendela, seketika ia teringat akan Sabilla karena hari sudah malam dan hujan saat ini turun sangat deras disertai dengan angin kencang.


"Ma, biar aku aja yang ke sana." Farrel mengambil kunci mobil yang ada di tangan Yasmin. Pria itu segera berlari menuju garasi mobil dan melajukan mobil tersebut dengan kecepatan yang sedikit tinggi. Hingga dengan waktu 15 menit, Farrel telah sampai di rumah Sabilla. Biasanya waktu menuju rumahnya dan Sabilla paling cepat adalah 30 menit. Memang sebenarnya rumah mereka tidak terlalu jauh.


Sesampai di rumah Sabilla, setelah memarkirkan mobilnya di garasi mobil, Farrel dengan segera berlari masuk ke dalam rumah tersebut setelah Bi Mirna membukakan pintu. Tanpa permisi, Farrel segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Sabilla.


Di depan kamar Sabilla, Farrel berhenti sejenak, mengambil nafas perlahan. Berharap Sabilla tidak akan mengamuk jika melihat dirinya, dan juga berharap Sabilla tidak akan mengusir dirinya untuk pergi. Karena sungguh, Farrel benar-benar merindukan istrinya itu.


Farrel mencoba mengetuk pintu dengan perlahan, namun tak ada jawaban. Hingga pria itu nekat membuka pintu yang ternyata memang tidak di kunci oleh Sabilla.


Farrel masuk dengan perlahan, ia melihat saar ini Sabilla tengah tertidur membelakangi dirinya, lebih tepatnya membelakangi pintu kamar.

__ADS_1


Farrel kembali menutup pintu tersebut perlahan, ia pun segera duduk di sofa yang ada di sana. Memperhatikan Sabilla yang masih belum menyadari adanya dirinya disana.


Hingga kaca jendela yang mulai bergetar dengan suara petir, membuat Farrel tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Sabilla. Ia jelas melihat Sabilla sudah mulai gelisah dan ketakutan.


Perlahan, Farrel mendekat ke arah ranjang. Pria itu tampak masih ragu untuk memberitahu Sabilla keberadaannya. Hingga suara petir yang begitu keras membuat Farrel refleks memluk tubuh Sabilla dengan erat dari arah belakang.


Sabilla yang merasakan adanya seseorang disana dan memeluk dirinya, refleks membuka mata perlahan. Sabilla memutar tubuhnya ke arah belakang. Hingga, matanya tepat beradu pandang dengan Farrel, gadis itu benar-benar kaget dengan keberadaan Farrel disana. Dan entah kenapa, jantung Sabilla saat ini berdetak 1.000 kali dari biasanya.


Tidak seperti dugaan Farrel, gadis itu sama sekali tidak mengamuk ataupun mengusirnya. "Kak Farrel" satu kata yang keluar dari bibir Sabilla. Gadis itu segera duduk dengan dibantu oleh Farrel.


"Kak Farrel ngapain disini?" tanya Sabilla dengan pandangan masih tertuju pada Farrel. Saat ini posisis mereka saling berhadapan duduk di atas ranjang.


"Mau nemuin kamu" jawab Farrel singkat.


Sabilla hanya diam tanpa berkata-kata. Farrel menggenggam tangan Sabila, menatap lekat kedua mata Sabilla.


"Apa lo udah maafin gue?" tanya Farrel sedikit ragu. Namun tak ada jawaban dari Sabilla.


"Hmmm. Maafin gue udah lancang kesini Bil, apalagi sampe lancang masuk kamar lo secara diam-diam. Maafi gue, mungkin lo nggak akan pernah bisa maafin gue. Kalo gitu, gue permisi pulang, nanti gue akan suruh Mama kesini"


Farrel kembali menoleh ke arah belakang, ia menatap Sabilla yang saat ini tidak berani menatap dirinya. Sabilla melepaskan perlahan tangannya dari tangan Farrel. Memalingkan pandangannya ke sembarang arah.


Farrel kembali mendekati Sabilla, pria itu medudukkan tubuhnya di tepi ranjang istrinya itu. "Kamu takut?" tanya Farrel lembut. Kata lo saat ini sudah berganti menjadi kamu.


Sabilla masih enggan untuk menoleh ke arah Farrel. Hingga Farrel memberanikan diri untuk memegang kedua pipi Sabilla, memutar kepala Sabilla agar lebih leluasa menghadap dirinya.


"Aku tau kamu takut, kalo kamu izinin aku disini, aku akan disini jagain kamu. Tapi kalo kamu nggak mau aku ada disini, aku akan telfon Mama. Setelah Mama sampai aku akan pulang" Ucap Farrel namun masih tidak medapat sahutan dari Sabilla.


Farrel berinisiatif sendiri untuk menelfon Yasmin, ia mengeluarkan ponsel miliknya yang ada di saku celana. Namun, saat Farrel hendak menekan tombol yang bertuliskan nama Yasmin di ponsel tersebut, Sabilla justru mengambil ponsel tersebut dari tangan Farrel dengan tatapan yang masih terlihat datar. Kemudian gadis itu kembali memalingkan pandangannya ke sembarang arah.


Farrel menatap Sabilla, pria itu tersenyum kecil, ia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh Sabilla saat ini.


"Yaudah, kalo kamu takut, aku akan disini temanin kamu" Farrel membaringkan tubuh Sabilla kembali. Ia menyelimuti seluruh tubuh Sabilla dengan selimut, kemudian, pria itu melangkahkan kaki hendak berjalan menuju sofa. Namun, lagi-lagi Sabilla menarik tangan Farrel.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Farrel setelah memalingkan pandangannya ke arah belakang.


"Kak Farrel mau kemana?" tanya Sabilla.


"Aku mau ke sana" Farrel melirik ke arah sofa. "Aku akan temanin kamu disini kok" Seru Farrel lagi.


"Kenapa harus disana?" tanya Sabilla.


"Biasanya kan aku tidur disana. Kamu tenang aja, aku nggak akan ninggalin kamu. Sekarang tidur ya" Ucap Farrel lembut.


"Harus banget ya disana?" Kata Sabilla lagi.


"Ya terus aku tidur dimana lagi? disini?" Farrel melirik ke arah ranjang tepat di sebelah Sabilla. Niatnya hanya ingin bercanda, namun Sabilla justru menjawab "Iya"


Hal itu benar-benar mebuat Farrel kaget bukan main. Padahal yang ia bayangkan adalah Sabilla akan mengamuk jika melihat dirinya, namun yang ia dapati justru sebaliknya. Rasanya Farrel benar-benar senang bukan main.


"Serius?" tanya Farrel dengan sedikit ragu.


"Yaudah kalo nggak mau" Sabilla memutar tubuhnya membelakangi Farrel.


Farrel tersenyum, tanpa berfikir panjang, pria itu segera ikut berbaring di sebelah Sabilla. Ia juga tidak segan-segan memeluk Sabilla dari belakang hingga membuat Sabilla kaget bukan main. Namun, entah mengapa gadis itu tidak menolak sedikitpun.


"Maafin aku Sabil" Ucap Farrel dari belakang, namun tak mendapat sahutan dari Sabilla.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan Vote ya :) Terimakasih


__ADS_2