
Aura baru saja sampai di depan rumah sakit yang ada di pusat kota. Gadis itu segera menuruni Taxi online yang semula ia tumpangi dan segera berjalan menusuri koridor rumah sakit untuk mencari ruang perawatan Sabilla.
Setelah memastikan dimana Sabilla saat ini di rawat, Aura segera berjalan bergegas untuk menemui sahabatnya itu.
Sesampai di pintu ruang perawatan Sabilla, Aura menoleh ke atas sejenak, memastikan kembali bahwa ruangan itu benar ruangan dimana sahabatnya di rawat. Karena jika tidak memastikan terlebih dahulu, bisa malu sendiri Aura jika dirinya memasuki kamae yang salah.
Setelah dirasa benar, Aura segera membuka pintu ruangan itu perlahan. Hingga, benar. Disana terlihat Sabilla tengah terbaring di atas brankar. Di dalam ruangan itu juga terlihat Yasmin, Faris dan Tasya tengah duduk di atas sofa yang ada di sana.
Aura tersenyum, gadis itu melenggang masuk dengan membawa buah-buahan di tangannya. Ia mendekati Yasmin terlebih dulu untuk bersalaman.
"Sama gue nggak salaman juga?" Faris mengulurkan tangannya di depan Aura. Gadis itu mengernyit bingung, menoleh ke arah Sabilla sejenak. Sementara Sabilla hanya bisa tersenyum dari atas brankarnya.
"Dosa lo, durhaka sama calon suami" Sambung Faris kemudian.
Aura membulatkan matanya kaget mendengar ucapan Faris.
"Oo jadi temannya kak Sabil ini pacarnya kak Faris?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Tasya.
Aura semakin mengerutkan keningnya bingung, ingin sekali rasanya gadis itu menjawab tidak. Bibirnya sudah bergerak ingin sekali bersuara, namun Aura sungkan karena ada Yasmin di sana.
Aura hanya tersenyum canggung, kemudian gadis itu berjalan mendekati Sabilla setelah permisi terlebih dahulu pada Yasmin. Sementara Faris, pria itu melirik tangannya yang sedari tadi terulur namun tidak di sentuh sama sekali oleh Aura. Faris menaikkan alisnya, sebelum pria itu kembali menurunkan tangannya.
"Sakit apaan sih lo Bil? Bikin kaget gue aja tau nggak sih?" Aura menggerutu sambil menduduki kursi yang ada di samping brankar Sabilla.
"Lah gue juga nggak tau bakal sakit kayak gini Auraaaaa"
"Apa jangan-jangan..." Aura mentap Sabilla curiga.
"Jangan-jangan apa? ha? jangan-jangan apa?" Sahut Sabilla melototkan matanya.
"Apa jangan-jangan lo hamil lagi" Goda Aura terkekeh.
"Hah? Sabil hamil?" Yasmin refleks berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Aura yang sebenarnya samar-samar terdengar di telinganya.
"Kok Farrel nggak bilang? keterlaluan tuh anak" Gerutu Yasmin.
Aura menoleh, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia lupa, bahwa disana ada mertua Sabilla. Padahal niatnya hanya bercanda.
__ADS_1
"Enggak kok Ma, enggak. Sabil nggak hamil. Kata dokter Sabil cuma kelelahan, karena waktu nyampe rumah Sabil bantu bi Mirna bersih-bersih dan kurang istirahat" jelas Sabilla menyakinkan.
"Terus yang dibilang Aura barusan maksudnya apa?"
Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe - em anu tante tadi aku cuma mau becandai Sabil doang" Sahut Aura terlihat gugup dan juga malu sendiri karena menggoda Sabilla di saat yang tidak tepat.
Sementara Farris yang duduk di samping Yasmin tertawa kecil saat memperhatikan gerak gerik Aura.
Tak berselang lama, seseorang datang dari arah pintu hingga semua yang ada di sana menoleh ke arah pintu.
Deg
Jantung Aura berdetak sangat kencang saat mendapati Kevin yang baru saja datang di ambang pintu.
Gadis itu dengan segera memalingkan pandangannya ke arah Sabilla. Sabilla yang memahami akan hal itu melirik Aura dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Karena ia tahu apa yang saat ini dirasakan dan difikirkan oleh Aura.
Setelah bersalaman dengan Yasmin, Kevin mendekat pada Sabilla.
"Gimana kabar kamu Bil? udah mendingan?" Tanya Kevin.
"Udah kok kak" Jawab Sabilla tersenyum.
Dari sofa yang tidak berada jauh dari brankar Sabilla pun Faris tak berhenti memperhatikan gerak gerik Aura sedikitpun. Pandangannya sedari tadi tak teralih dari Aura.
"Oiya Farrel mana?" Tanya Kevin saat tidak mendapati Farrel disana.
"Kak Farrel tadi pulang kak, mau mandi katanya. Semalam kak Farrel buru-buru bawa aku ke sini, jadi kak Farrel nggak bawa baju."
"Ooo gtu" Kevin mengangguk paham. Satu detik kemudian, pria itu menoleh ke bawah, dimana terlihat Aura sedang duduk membelakangi dirinya dengan jarak yang begitu dekat. Namun, ia tak sedikitpun menyapa gadis tersebut. Sementara Faris masih memantau dari kejauhan.
"Aura lo ikut gue bentar"
Faris menarik tangan Aura dari arah belakang. Hal itu membuat Aura kaget. Sementara Kevin, Sabilla, dan Yasmin menatap mereka dengan raut wajah bingung.
Kevin memutar lehernya mengukuti langkah Aura dan Faris yang semakin lama semakin menghilang.
Sementara Sabilla, gadis itu mengamati tatapan Kevin pada mereka berdua.
__ADS_1
***
Di sebuah restoran yang tidak berada jauh dari rumah sakit, Faris dan Aura duduk di sebuah kursi dengan minuman yang ada di depan mereka.
Aura terlihat bengong menatap kosong ke sembarang arah sambil memainkan sedotan yang ada di depan dirinya.
"Kalo mau cerita, cerita aja, gue siap jadi pendengar" Suara Faris membuyarkan lamunan Aura. Gadis itu menoleh, menatap Faris dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Gue tau, mencintai tanpa dicintai itu menyakitkan, gue paham, jatuh cinta sendiri itu menyiksa, karena gue juga merasakan. Apalagi saat melihat orang yang kita cintai lebih melirik orang lain"
Aura masih menatap Farris tanpa mengeluarkan suara.
"Mencintai seseorang memang nggak pernah salah, tapi mengharapkan orang yang kita cintai untuk membalas perasaan kita, itu salah besar."
"Tapi rasanya gue nggak bisa, rasanya gue pengen banget maksa orang itu buat mencintai gue. Meskipun dia masih mengharapkan orang lain. Gue sadar, gue egois, tapi gue nggak bisa lihat dia dia terus-terusan tersiksa."
"Gue pengen meluk dia, nenangin dia, buat dia bahagia, tapi gue nggak bisa apa-apa. Dia bahkan nggak menganggap gue ada."
"Maksud kak Farrel ngomong kayak gitu apa?" Aura membuka suara.
"Gue tau lo pasti ngerti tanpa gue jelasin maksud gue apa Ra"
Aura mengernyit bingung, menatap Faris dengan tatapan tanda tanya.
"Tapi aku beneran nggak ngerti maksud kak Faris apa? Kak Faris lagi patah hati? Barusan kak Faris suruh aku curhat, tapi sekarang malah kak Faris yang curhat." Tutur Aura entah memang polos, entah pura-pura polos.
"Apa lo mau gue perjelas Ra? Lo fikir waktu itu gue becanda? Gue serius! Gue nggak tau sejak kapan rasa ini ada buat lo. Tapi semenjak gue sering liat lo sama Sabil, gue suka sama lo. Masih nggak paham juga maksud gue apa? Dan gue tau, lo lebih menyukai Kevin daripada gue"
Deg
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih :)