My Poor Wife

My Poor Wife
Panik


__ADS_3

"Hmm tapi tetap aja sayang banget kan tan kalo kak Farrel harus menikah muda seperti sekarang ini" Tasya tak henti-hentinya menatap Sabilla dengan tatapan tidak suka dan risih. Gadis yang hanya tertaut usia satu tahun dengan Sabilla tersebut tidak merasa takut sedikitpun pada Yasmin, Asep, Farris dan Farrel atas perlakuan dirinya pada Sabilla saat ini.


Yasmin tidak tau harus berkata apa. "Udah-udah ayok di lanjutin makannya. Kamu makan yang banyak Sya biar besok ospeknya lebih semangat" Tutur Yasmin mengalihkan pembicaraan.


***


"Tasya pamit ya tante" Ucap Tasya setelah cipika cipiki dan mencium punggung tangan Yasmin karena gadis itu akan segera berangkat ke kampus. Hari ini adalah hari pertama Tasya mengikuti kegiatan ospek. Begitu juga dengan Farrel, saat ini pria itu sudah berada di tingkat ketiga yaitu semester 5. Saat ini Farrel masih menjadi panitia ospek untuk tahun ini.


Farrel pun ikut berpamitan pada Yasmin dan juga Sabilla untuk segera berangkat ke kampus. Benar, Farrel hari ini akan berangkat bersama Tasya karena perkuliahan pada tahun ajaran baru ini akan dimulai pada saat ospek hari ke tiga, jadi untuk dua hari ke depan Farrel hanya akan berangkat ke kampus bersama Tasya karena Sabilla belum kembali mengikuti perkuliahan.


"Aku berangkat ya" Tutur Farrel tersenyum sembari mengecup kening Sabilla dengan penuh kasih sayang. Sabilla segera mencium punggung tangan Farrel sebelum pria itu masuk ke dalam mobil bersama Tasya.


"Hati-hati kak Farrel bawa mobilnya, jangan ngebut" Peringatan Sabilla saat Farrel sudah duduk di jok kemudi mobil miliknya dan Tasya yang sudah duduk manis di samping dirinya.


Farrel tersenyum, ia melambaikan tangannya pada Sabilla dan Yamin. Seperti orang yang akan pergi jauh saja, padahal dirinya hanya ke kampus dan nanti siang juga kembali lagi. Ah biasalah anak muda yang lagi kasmaran. Meskipun status mereka adalah sepasang suami istri, tapi tentu saja jiwa mereka masih jiwa remaja yang lagi kasmaran seolah baru pacaran bukan?


Sabilla mematap mobil Farrel tanpa berniat memalingkan pandangannya sedikitpun. Setelah ia rasa mobil tersebut sudah tidak terlihat lagi oleh jangkauan matanya, Sabilla dan Yasmin segera kembali masuk ke dalam rumah bergandengan tangan dengan mesra layaknya ibu dan anak.


***


Malam harinya, Sabilla tengah duduk melamun menatap kosong ke sembarang arah di sekitar kolam renang yang ada di rumah mewah milik keluarga Yasmin tersebut. Pandangannya kosong, entah apa yang ia fikirkan, hingga langkah kaki yang jelas terdengar nyaring di telinga Sabilla membuyarkan lamunannya. Gadis itu segera menoleh ke arah belakang.


Dari kejauhan, Sabilla melihat seorang gadis cantik yang saat ini tengah memakai celana pendek dan juga baju kaos lengan pendek tengah berjalan ke arahnya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Tasya.

__ADS_1


Tanpa permisi, Tasya segera duduk di kursi yang ada di pinggir kolam tersebut tepat di depan Sabilla. Gadis yang memang terlihat cantik tersebut tak hentinya menatap Sabilla dari atas hingga bahwa. Sabilla yang menyadari akan hal itu, sejujurnya merasa risih dengan sikap Tasya. Namun, apa boleh buat, gadis itu lebih memilih diam daripada mencari masalah, mengingat ini adalah rumah mertuanya dan Tasya juga adalah menantu dari mertuanya.


"Kak Sabil, gimana sih rasanya jadi istri kak Farrel?"


Sabilla memalingkan pandangannya yang semula terfokus ke dalam kolam menjadi ke arah Tasya. Bukannya menjawab, Sabilla justru menatap Tasya sedikit heran. Ia merasa bahwa gadis yang berada di depannya saat ini sungguh sangat tidak menyukai dirinya. Jelas saja terlihat dari setiap ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut Tasya tidak ada yang baik sedikitpun setelah di cerna oleh Sabilla.


"Maksud kamu apaan?" Tanya Sabilla masih dengan nada suara lembut, memandang wajah Tasya yang memang ia aku kecantikannya, tapi sayang sepertinya hati gadis itu tak secantik wajahnya.


"Ya, seperti yang aku tanya barusan? Gimana rasanya jadi istri kak Farrel? menyenangkan kah? apa kak Farrel bahagia sama kakak? Apa kak Farrel udah pernah cium kakak? secara kan kakak menikah karena dijodohkan. Dan selera kak Farrel sudah jelas lebih berkelas dan tinggi, jadi apa kakak merasa bahagia menjadi istri kak Farrel? Pasti kak Farrel nggak mau mencium kakak, jangankan mencium, mendekat aja mungkin kak Farrel cuma terpaksa karena Tente Yasmin."


"Ucapan Tasya benar-benar membuat Sabilla merasa geram. Pasalnya, sejak awal gadis ini datang, dia selalu bersikap seolah ingin mencari masalah dengan Sabilla.


"Jangankan udah nikah, sebelum menikah aja dia udah berani cium gue" Gumam Sabilla dalam hati dengan tatapan masih tertuju pada Tasya.


"Kenapa diam?" Tanya Tasya dengan tidak tahu sopan santun. Meskipun Sabilla hanya tua satu tahun dari dirinya, bukankah Sabilla memang patut untuk di hargai? Bahkan jika seandainya Sabilla lebih kecil dari dirinya sekalipun bukankah ia memang pantas untuk di hargai? Toh Sabilla juga tidak pernah mencari masalah dengan siapapun.


Tasya tersenyum menyeringai. Gadis itu beriri dari duduknya, melangkahkan kaki mendekat pada Sabilla, hingga kini, posisi Tasya berada tepat di samping Sabilla. Tasya mendudukkan dirinya di atas meja bulat yang ada di depan Sabilla tersebut tanpa merasa segan sedikitpun. Ia melipat kedua tangannya di dada, lagi dan lagi menatap Sabilla dari atas hingga baawah dengan tatapan sinis.


Menyeringai, Tasya mendorong bahu Sabilla dengan jari telunjuknya. "Kenapa sih lo harus merebut kak Farrel dari gue? Dasar cewek pembawa sial! Lo tau nggak, gue udah suka sama kak Farrel dari dulu, dari kecil. Gue selalu berharap bisa bersama sama kak Farrel hingga dewasa. Tapi impian gue justru hancur karena lo. Lo kan yang maksa bokap lo buat jodohin lo sama kak Farrel? secara kak Farrel kan idola di kampusnya. Dan nggak mungkin cewek kayak lo nggak jatuh cinta sama kak Farrel! Pasti lo yang maksa pernikahan ini kan?


Sabilla mendongakkan kepalanya ke atas, ia benar-benar meras kesal dan geram mendengar setiap penuturan kata yang keluar dari bibir Tasya. Tanggannya mengepal menahan amarah.


"Kenapa? Mau marah? lo mau marah sama gue? Silahkan! Gue nggak takut!" Bentak Tasya.

__ADS_1


Tidak ingin mencari masalah, Sabilla segera bangkit dari tempat duduknya, berniat hendak meninggalkan Tasya di sana sendirian. Karena bagi Sabilla, meskipun Tasya hanya lebih muda satu tahun dari dirinya, namun tetap saja tidak ada gunanya melawan bocah yang lebih kecil dari dirinya.


Namun, baru beberapa langkah Sabilla berjalan di pinggir kolam, Tasya menarik tangan Sabilla dari arah belakang hingga tubuh Sabilla berbalik menjadi menghadap Tasya saat ini.


"Mau kemana lo ha? Lo takut sama gue?" Bentak Tasya tanpa rasa takut, melototkan matanya tajam sembari mencengkram tangan Sabilla.


Sabilla masih mencoba menahan emosinya. Ia menepis tangan Tasya yang saat ini mencengkram tangannya. Tasya yang tidak ingin kalah, lagi dan lagi menarik tangan Sabilla, hingga terjadilah tarik menarik antara mereka berdua hingga membuat Tasya terjatuh ke dalam kolam.


Gadis itu mencoba melambaikan tangannya ke atas meminta pertolongan. Sabilla yang juga tidak bisa berenang mendadak panik seketika, ia bingung harus melakukan apa pada Tasya. Kepanikan yang ia rasakan membuat akalnya tidak bisa berfikir dengan sempurna. Ingin menolongpun rasanya ia tidak bisa karena dirinya juga tidak bisa berenang.


Tanpa berfikir panjang, Sabilla sontak berteriak sekeras mungkin meminta pertolongan, berharap ada yang mendengar teriakannya. Meskipun ia tahu bahwa sikapnya tersebut tidaklah sopan, tapi Sabilla tidak tahu harus berbuat apa lagi sebelum Tasya benar-benar kehabisan nafas di dalam sana.


"Kak Farrel, Mama Yasmin, Papa Asep, kak Farris tolong" Sorak Sabilla dengan histeris. Sebenarnya gadis itu bisa saja berlari ke dalam rumah meminta pertolongan, namun ia takut akan terjadi apa-apa pada Tasya.


Itulah sebabnya Sabilla memilih berteriak. Sembari bersorak meminta pertolongan, Sabilla juga berusaha mengulurkan tangannya dari pinggir kolam untuk membantu Tasya. Namun gadis itu tidak mampu menjangkau tangannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2