
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Setelah selesai membersihkan diri, Farrel segera keluar dari kamar mandi. Namun, saat dirinya masih berdiri di puntu kamar mandi, matanya tak bergeming menatap Sabilla yang telah tertidur di sofa yang ada di sana tanpa selimut dan bantal.
Farrel mengambil selimut yang ada di atas kasur, berjalan perlahan mendekati Sabilla. Ia hendek menyelimuti gadis yang telah sah menjadi istrinya itu. Namun, tiba-tiba saja Sabilla menarik tengkuknya dengan mata yang masih terpejam. Ia memeluk Farrel dengan begitu erat, membuat Farrel mengerutkan keningnya bingung.
"Bunda" Lirih Sabilla yang masih memejamkan matanya di pelukan Farrel.
Perlahan, Farrel berusaha melepaskan tangan Sabilla dari tubuhnya. Sejenak, ia memperhatikan raut wajah Sabilla dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Tanpa berbuat apa-apa, Farrel segera menyelimuti tubuh Sabilla dan berjalan ke arah tempat tidur. Karena saking lelahnya, Farrel membiarkan Sabilla tertidur di sofa sedangkan dirinya tidur di atas ranjang sendirian. Tidak punya perasaan memang.
***
Siang harinya, Asep, Yasmin, Hermawan, Farrel, Faris dan Sabilla tengah berkumpul di ruang tamu rumah Sabilla. Setelah pulang dari hotel tadi pagi, Yasmin mengantarkan barang-barangnya terlebih dahulu kerumah mereka sebelum mereka menuju rumah Sabilla untuk membicarakan sesuatu.
Dan saat ini, mereka telah berkumpul di rumah mewah milik Hermawan tersebut.
"Apa? pindah rumah?" tanya Sabilla kaget. Ia benar-benar tidak habis fikir dan merasa kecewa dengan Ayahnya yang menyuruh dirinya untuk tinggal berdua dengan Farrel.
"Iya sayang, kamu sekarang sudah memiliki suami, dan kamu harus bisa belajar mandiri." Seru Hermawan.
Tanpa Sabilla sadari, air mata telah berhasil menerobos pipi mungilnya. "Ayah kenapa sih Yah? Ayah nggak sayang lagi sama aku? kenapa sikap Ayah seolah mengusir aku dari sini sih Yah? Aku bisa tinggal disini sama kak Farrel tanpa harus tinggal berdua Yah. Lagian Ayah dirumah ini akan tinggal sama siapa? Untuk apa membuang-buang uang membeli rumah lagi Yah?" Sabilla berucap di sela isakan tangisnya.
Farrel yang sebenarnya juga ingin menolak hal tersebut hanya diam saat melihat Sabilla menangis menitikkan air mata.
Yasmin mendekati Sabilla, memegang pundak menantunya itu dengan lembut. "Sabil sayang, Ayah bukannya nggak sayang sama kamu. Tapi, Ayah, Mama dan Papa hanya ingin kamu dan Farrel belajar mandiri. Nggak mungkin seorang Ayah tidak menyayangi anaknya. Kita semua hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian, untuk anak-anak kami"
Yasmin berbicara dengan begitu lembut, memeluk Sabilla serta mengelus kepala gadis tersebut. Entah mengapa, Sabilla merasa luluh dengan ucapan Yasmin. Rasanya ia kembali merasakan pelukan seorang ibu yang telah lama ia rindukan.
"Tapi apa boleh satu minggu aja Sabil tinggal disini Ma? Karena Sabil belum siap pergi dari sini. Karena di rumah ini terlalu banyak kenangan yang tak akan bisa Sabil lupakan" ucapnya menoleh ke arah Yasmin dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja boleh sayang, nanti meskipun kamu telah tinggal di rumah baru sama Farrel, kapanpun kamu mau kesini atau ke rumah Mama juga nggak papa sayang. Kami menyuruh kamu tinggal berdua agar belajar mandiri, bukan berarti kalian nggak boleh lagi kesini atau ke rumah Mama."
Penuturan dan penjelasan Yasmin benar-benar membuat Sabilla luluh. Ia mengangguk dalam pelukan ibu mertuanya itu.
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, karena Mama yakin semalam tidur kamu pasti nggak begitu nyenyak." Seru Yasmin yang segera di angguki oleh Sabilla. Namun, ia menghampiri sang Ayah terlebih dahulu.
"Yah, maafin Sabil, Sabil..."
"Nggak papa kok sayang, nggak perlu minta maaf. Ayah ngerti kok" Hermawan tersenyum, mengelus rambut Sabilla kemudian mengecup pipi putri cantinya itu.
Setelah berpamitan pada Ayah, Ibu mertua, Ayah mertua serta kakak iparnya itu, Sabilla segera berjalan hendak menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, langkah Sabilla terhenti tatkala mendengar suara Yasmin yang memanggil namanya.
"Sabil" sorak Yasmin, Sabilla pun segera menoleh ke arah belakang.
"Apa Ma?" tanya Sabilla.
"Kamu nggak merasa ada yang ketinggalan gitu?" tanya Yasmin melirik ke arah Farrel yang masih duduk di sofa sebelah Faris.
"Astaga kamu nggak nyadar kalo suami kamu ketinggalan?" Ucapan Yasmin membuat Sabilla melongo kaget seketika, ia melirik Farrel yang duduk di atas sofa dengan angkuh tanpa mau menoleh ka arahnya.
"Astaga kenapa gue sampe bisa lupa ya, kalo gue sama kak Farrel udah nikah" Gumam Sabilla dalam hati.
"Ehh iiyyaaa Ma" jawab Sabilla terbata-bata.
"Terus kak Farrel tidurnya di kamar Sabil Ma?" Tanya Sabilla yang benar-benar merasa malu dan gugup.
Yasmin tersenyum mendengar pertanyaan dari menantunya itu. "Yaiyalah sayang, nggak mungkin kan Farrel tidur sama Ayah" goda Yasmin kemudian tertawa melirik putra keduanya itu.
Yasmin melirik ke arah Farrel, menganggukkan kepalanya memberi kode untuk segera mengikuti Sabilla. Namun, putra keduanya itu malah bengong seolah tidak mengerti kode dari sanga Mama.
"Faris, kamu ambilin koper adek kamu gih, bawa kesini" perintah Yasmin yang segera di lakukan oleh Faris.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Faris kembali dengan membawa koper yang berisikan barang-barang dan pakaian milik adiknya. Membuat Farrel membulatkan matanya bingung.
"Maksudnya apaan nih Ma?" tanya Farrel melotot tajam kearah ibu yang telah melahirkan dirinya itu.
"Maksud apaan sih?" balas Yasmin acuh tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Maksud Mama apaan bawa barang-barang aku kesini semua?" tanya Farrel dengan ekspresi wajah yang mulai kesal.
Farris segera bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Farrel dan mendorong kepala sang adik yang saat ini masih setia duduk di atas sofa berwarna biru muda tersebut. Sedangkan Sabilla masih berdiri di depan tangga menuju kamarnya, memperhatikan mereka semua.
"***** banget sih lo, mulai saat ini lo bakal tinggal disini. Ya jelas lah kita dengan senang hati bawain barang-barang lo kesini" Ucap Faris tersenyum jahil pada adik satu-satunya itu.
"Harus ya tinggal disini? nggak bisa gitu tinggal di rumah masing-masing aja?" tanya Farrel dengan sok polos dan tampa merasa bersalah sedikitpun.
Plakkkkk
Satu pukulan kembali melayang di kepala Farrel. "Dari tadi lo kemana aja dek? si Sabil sampe nangis-nangis bilang nggak mau pindah dari rumah ini? sekarang lo malah nanya. Setelah ini lo bakal tinggal berdua sama Sabil di rumah yang udah di beliin Papa dan Ayah Sabil. Dan gue akan bahagia jadi anak satu-satunya dirumah" Goda Faris tersenyum merasa dirinya telah menang dari adiknya itu.
"Apa? tinggal berdua? sama dia?" Farrel menatap Sabilla dengan tatapan begitu tidak sukanya.
"Astaga, ini anak dari tadi kemana aja sih fikirannya?" Decak Faris menepuk keningnya sendiri bingung dan juga kesal melihat tingkah sang adik. Sedangkan Yasmin, melotot tajam ke arah Farrel. "Nggak boleh gitu ah nggak sopan" serunya pelan seraya melirik ke arah Hermawan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan cara like, komen dan vote ya. Supaya Author bisa lebih semangat nulisnya. Terimakasih😊