NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Menyatakan Cinta


__ADS_3

Erlan sudah melihat beberapa potongan video yang menampilkan wajah Bella dan Noah. Jantung Erlan berdegup dengan begitu kencang.


'Akhirnya aku menemukanmu.' ucap Noah dalam hati.


"Pak Bimo . . . . " Teriak Erlan dari dalam ruangannya.


"Ada apa Tuan Muda, apa ada masalah?" Tanya Pak Bimo khawatir.


Erlan tak dapat menahan rasa bahagianya, ia menghambur ke pelukan Pak Bimo.


"Pak Bimo, akhirnya aku sudah menemukan gadis pujaanku Pak Bimo." Teriak Erlan sambil menggoyang-goyangkan badan Pak Bimo.


"Kau tahu sendiri Pak Bimo, sudah tujuh tahun aku selalu mencarinya. Ternyata Tuhan memang menakdirkan aku untuk bertemu dengannya walaupun harus menunggu sampai tujuh tahun lamanya." Lanjut Erlan.


"Selamat Tuan Muda. Akhirnya Tuan Muda menemukan cinta pertama Tuan Muda ucap Pak Bimo."


"Ikut aku Pak Bimo." Ucap Erlan.


Erlan menarik tangan Pak Bimo menuju ruangan tempat para pegawainya bekerja.


Melihat Erlan datang, semua pegawai langsung berdiri. Mereka semua begitu kaget, karena untuk pertama kalinya Erlan datang ke bagian karyawan bekerja.


"Pengumuman semuanya, karena aku sedang bahagia hari ini, aku akan memberikan bonus pada kalian. Hari ini juga aku akan memberikan kalian semua masing-masing satu juta. Tak terkecuali para OB." Teriak Erlan menunjuk OB yang tengah berdiri di sudut ruangan.


Semua orang terdiam, meski didalam hati penuh kegirangan mereka semua tak berani mengekpresikannya.


"Bersenang-senanglah. Aku juga akan mentraktir kalian semua makan hari ini. Kalian tidak perlu keluar untuk makan siang. Akan ada kurir yang mengantar makan siang kalian nanti." Ucap Erlan lagi lalu pergi disusul Pak Bimo dibelakangnya.


Setelah Erlan tak terlihat, barulah semua karyawan bersorak sorai.


"Wah, hari ini kita ketiban durian runtuh."


"Mimpi apa aku semalam, bisa dapat bonus satu juta, plus gratis makan siang lagi."


"Tuan Erlan memang baik."


"Sepertinya dia memang sangat bahagia."


"Kira-kira apa yang membuat Pak Erlan bisa begitu bahagia ya?"


"Siapa peduli, yang penting bonus satu jutaa...."


Begitulah beberapa ucapan para pegawai saat Erlan sudah pergi meninggalkan mereka semua.


Di dalam ruangan, Erlan tengah berusaha menghubungi Noah.


Noah yang tengah berbaring di dalam kamar, langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


[Halo Noah, kamu dimana?] Tanya Erlan.


[Noah di rumah Om." Balas Noah. "Kebetulan Mama lagi keluar ke warung, makanya Noah bisa angkat telpon dari Om.]


[Om mau main ke rumah Noah.]


[Waahh jangan Om, nanti Mama Noah marah.]


Dari luar rumah, Bella yang mendengar Noah berbicara berdiri dengan mematung di depan pintu.

__ADS_1


'Noah sedang berbicara dengan siapa?' pikir Bella.


"Apa jangan-jangan ada orang di dalam?"


Bella dengan cepat masuk ke rumah lalu mendobrak kamar Noah. Noah yang tengah berbicara dengan Erlan tak menyadari kedatangan Bella hingga ia tak sempat menyembunyikan ponselnya.


"Ma-ma . . ." Noah terbata-bata.


Bella mendekat dan mengambil ponsel yang dipegang Noah.


"Ini ponsel siapa? Kenapa bisa ada pada Noah?" Tanya Bella dengan nada meninggi.


"Anu mah, itu . . . Anu . . ."


"Apa Noaaahh?"


"Itu dikasih sama Om Erlan Mah."


"Om Erlan? Siapa dia?" Tanya Bella lagi.


"Mama ngomong aja langsung, kayaknya sambungan teleponnya juga belum mati." Jawab Noah.


Bella melihat layar ponsel yang diambilnya dari Noah, dan ternyata benar, sambungan telepon dengan Erlan memang belum terputus.


Diseberang telepon Erlan hanya diam mendengar suara perdebatan antara Noah dan mamanya.


[Halo. . . . ]


Deg!


'Suaranya benar-benar indah.' ucap Erlan dalam hati.


[Halo. . . .] Ucap Bella lagi.


"Khem . . . Khem . . ." Elan mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh dengan berdehem pelan.


[Halo. . . .] Balas Erlan.


Seperti tersengat listrik, suara Erlan seketika membuat Bella mematung. Bulu kuduknya terasa merinding. Untuk pertama kalinya dalam hidup Bella mendengar suara laki-laki yang begitu berbeda. Suara Erlan benar-benar membuat Bella merasakan suatu hal yang aneh.


[Halo. Saya Erlan, apa saya berbicara dengan Mama nya Noah?]


[I-iya. . . .] Bella tiba-tiba menjadi gagap.


'Kenapa aku sampai gugup begini? Gak boleh begini, aku harus tegas.'


Tak ada bedanya dengan Bella, Erlan sebenarnya merasa begitu gugup. Tapi ia berusaha dengan keras agar suaranya tak terdengar gugup.


[Halo, Pak Erlan. Tolong ambil kembali ponsel yang anda berikan pada anak saya. Jangan pikir dengan anda memberikan Noah ponsel dapat membuat saya luluh. Meski ponsel yang anda berikan begitu mahal, sogokan anda tidak mempan untuk saya.] Ucap Bella ketus.


[Manisnya!] Seru Erlan.


[Hei, Pak Erlan . . . ]


[Aku akan ke rumah Noah, untuk menjelaskan semuanya.] Balas Erlan seraya mematikan sambungan telepon.


Setengah jam kemudian Erlan sudah berdiri di depan rumah Bella. Noah yang tengah keluar untuk membuang sampah kedepan rumah melihat Erlan tengah berdiri bersama Pak Bimo.

__ADS_1


"Om Erlaaann . . . ." Teriak Noah berlari lalu menghambur dipelukan Erlan.


Bella yang tengah duduk di ruang tamu segera keluar saat mendengar teriakan Noah.


Alangkah kagetnya Bella saat melihat Erlan adalah sosok laki-laki yang dulu ia lihat saat bangun tidur di malam petaka itu.


'Apa dia memang lelaki yang sudah . . . . '


'Mungkin memang dia. Karena Noah terlihat begitu mirip dengannya.'


Erlan berjalan mendekat ke arah Bella.


"Dari raut wajahmu, aku yakin kau sudah mengingatku." Ucap Erlan.


"Kata siapa? Maaf ya saya tidak kenal dengan anda." Balas Bella ketus.


"Aku yakin kau mengingatku."


"Tidak. Anda salah orang, saya sama sekali tidak mengenal anda." Ucap Bella berbohong.


Tanpa disangka Erlan langsung memeluk Bella.


"Aku sudah mencari mu selama tujuh tahun, dan kini kau berada dihadapanku. Aku sangat bahagia." Ucap Erlan semakin erat memeluk Bella.


Noah yang tengah berdiri bersama Pak Bimo menganga melihat adegan yang tengah terjadi dihadapannya.


Pak Bimo refleks menutup mata Noah dengan telapak tangannya.


'Aku tidak pernah menyangka bahwa wanita yang selama ini dicari Tuan Muda adalah ibu dari anak ini.' ucap Pak Bimo dalam hati.


Bella berontak dan mendorong Erlan.


"Anda jangan lancang ya. . . ."


"Aku mencintaimu sejak pertama aku melihatmu. Meski saat itu, aku tidak mengenal kamu apalagi mengetahu nama kamu."


"Anda salah orang."


"Bella, aku mencintai kamu."


Ada rasa yang bergetar di dalam dada Bella mendengar ucapan Erlan. Tapi dengan keras Bella berusaha membuat dirinya terlihat tenang.


"Tolong ambil kembali ponsel anda. Saya tidak mau berhutang budi pada anda. Dan silahkan pergi dari rumah saya." Ucap Bella seraya memberikan ponsel Noah kembali pada Erlan.


"Noah ayo masuk." Teriak Bella.


"Bella, aku benar-benar mencintaimu." Ucap Erlan.


"Tapi aku tidak." Balas Bella. "Noah, cepaaat." Teriak Bella lagi.


Bella dan Noah lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Pak Bimo hanya terdiam melihat Erlan yang berdiri mematung.


"Aku tidak akan menyerah. Mau kau cinta atau tidak, kau harus menjadi milikku." Ucap Erlan.


Bersambung . . . .

__ADS_1


__ADS_2